
Lift berhenti tepat di lantai teratas gedung, dimana ruang kerja Kenzo berada. Selama itu pula Gilang terus menatap gadis itu melalui pantulan dinding lift, meski sesekali ia membuang muka. Tapi keberadaan Zahra benar - benar menjadi magnet tersendiri untuknya. Ia bahkan tak sedikitpun mengajak Clarice bicara sejak tadi.
Pintu lift kembali membelah diri, menjadi dua bagian, dan bergeser sesuai jalurnya masing - masing.
Gilang keluar lebih dulu dalam lift, dengan masih menggendong Clarice di lengannya. Namun kemudian gadis kecil meronta untuk di turunkan. Gilang pun menuruti. Dan ia hanya bisa mengikuti langkah kecil Clarice yang kini berlari ke arah pintu ruang kerja Daddy Kenzo berada.
Di belakang Gilang, ada Zio dan Zahra yang mengikuti langkah Gilang. Ketiganya tujuannya adalah sama. Mendatangi ruang kerja Kenzo.
Pintu di buka oleh Venom, dan Clarice menjadi orang pertama yang memasuki ruang kerja Kenzo.
Segera, gadis kecil itu berlari dan menghambur memeluk Kenzo yang menunggunya dengan senyum manis dari balik meja kerjanya.
"Daddy.....!" seru Clarice hingga tubuh mungilnya di angkat oleh Kenzo yang segera berdiri.
"Seru hari ini?" tanya Kenzo menunggu cerita seru sang anak tiri.
"Seru sekali, Daddy!" jawab Clarice yang kini bermanja di lengan Daddy Kenzo. "Uncle membawa ku masuk ke playground!"
"Terus apa lagi?"
"Makan siang, lalu makan ice cream!"
"Banyak?" tanya Kenzo seperti menyelidik putrinya.
"Emmmm...." Clarice melirik kanan kiri tanpa berani menjawab. Ia sudah hafal, Mommy dan Daddy nya akan berceramah jika dia terlalu banyak makan ice cream.
"Lalu? Apalagi?" Kenzo tau sang putri sedang takut bercerita, tapi juga takut berbohong. Maka ia alihkan pada pembicaraan yang lain.
"Pulang!" jawab Clarice kembali ceria.
Bersamaan dengan itu, pintu kembali terbuka. Gilang masuk dengan wajah datarnya.
"Ada apa denganmu?" tanya Kenzo pada Gilang yang sudah sangat hafal watak adiknya itu.
Belum sempat Gilang menjawab, Pintu yang belum tertutup sempurna memperlihatkan Zio dan Zahra yang hendak memasuki ruangan, atas panggilan Kenzo sendiri.
"Masuk!" perintah Kenzo pada Zio dan Zahra.
"Clarice? Clarice main dulu, ya? Daddy harus segera menyelesaikan pekerjaan, supaya kita bisa segera pulang.
"Okay, Daddy!" jawab Clarice melorot dari gendongan sang Daddy.
__ADS_1
Clarice segera berlari ke sofa, mengambil kotak mainan berisi barbie yang di simpan di dalam laci meja. Kemudian duduk di samping Gilang yang sudah lebih dulu duduk di sofa.
Setiap gerak gerik Clarice, benar - benar menyedot perhatian semua mata di ruangan itu.
Kenzo dan Gilang menatap dengan rasa sayang pada gadis kecil itu. Zahra menatap dengan gemas. Sedangkan Zio menatap dengan perasaan yang sulit untuk di artikan. Ingin mendekat, tapi siapalah dirinya. Ingin tak melihat, tapi gadis kecil itu sungguh menarik pandangannya.
Kenzo yang menyadari arah mata Zio, seketika membuang pandang dan menghela nafas. Kemudian ia panggil lelaki yang merupakan Ayah kandung anak tirinya itu.
"Zio! Berikan laporan yang aku minta!" perintah Kenzo sedikit menghentak. Guna menutupi gemuruh di dalam dada.
"Ya, Pak!" jawab Zio segera menyerahkan map bening berwarna hijau di atas meja.
"Kamu!" ucap Kenzo meminta Zahra menyerahkan apa yang ia butuhkan.
"Ini, Pak!" Zahra menyerahkan map merah yang berisi berkas dari meja kerja divisi pemasaran.
Kenzo kembali duduk di kursinya. Meraih dua map yang berisi berkas penting milik klien itu. Ia sangat cepat membaca dan memahami isi dari file - file itu. Ia ingin momen Zio dan Clarice dalam satu ruangan segera berakhir.
Kenzo tau, ia salah dengan menjauhkan anak dari ayah kandungnya. Tapi hati kecilnya belum siap jika harus kehilangan cinta Clarice padanya.
Cinta pertama anak perempuan adalah Ayahnya. Maka ia sudah merasakan cinta itu dari Clarice. Ia bisa merasakan, jika Clarice sudah menjadikan dirinya sebagai cinta pertamanya. Ia tak mau posisinya tergantikan oleh siapapun.
Jika Kenzo fokus dengan file - file penting perusahaan, maka tidak dengan Gilang. Lelaki 31 tahun itu sesekali mencuri padang Zahra. Bukan untuk mencari perhatian, melainkan ada pertanyaan besar yang ingin sekali ia tanyakan.
Kenzo selesai dengan apa yang ia butuhkan, segera ia menyerahkan kembali map - map itu untuk di tindak lanjuti oleh para staf yang bertugas.
Bersamaan dengan itu, adalah jam pulang kerja bagi Kenzo dan seluruh karyawan yang tidak lembur.
"Clarice, kita pulang." ucap Kenzo pada Clarice yang tampak masih asyik dengan bonekanya.
"Okay, Daddy!" jawab Clarice antusias.
Akhirnya, empat orang dewasa dan seorang anak kecil keluar dari ruang kerja Kenzo secara bersamaan.
Kenzo menggenggam posesif jemari mungil Clarice. Dan membawa gadis itu untuk berjalan paling depan menuju lift. Di ikuti Gilang dan Venom yang berjalan sejajar di belakang Kenzo.
Dan di barisan paling belakang, ada Zio dan Zahra yang dengan sabar mengikuti langkah para petinggi perusahaan, yang posisinya lebih tinggi dari mereka.
Kini lima orang dewasa dan seorang anak kecil, berjajar di depan pintu lift. Dua pintu lift untuk umum, dan satu lift khusus untuk petinggi perusahaan.
Venom menekan lift khusus petinggi, yang akan muat di tempati 5 orang sekaligus. Namun Zahra menekan lift untuk umum. Karena merasa tak enak hati jika harus berbaur dengan para petinggi di dalam ruang yang sempit. Terutama dia adalah seorang perempuan yang statusnya... janda.
__ADS_1
Tentu ia tak ingin namanya tercemar akibat kecerobohan kecil yang ia perbuat tanpa sengaja.
Lift umum yang di tekan Zahra, terbuka lebih dulu. Karena bersamaan dengan seorang Cleaning Service yang siap membersihkan lantai teratas di gedung itu.
"Saya duluan, Pak. Permisi!" sapa Zahra sebelum memasuki lift.
"Hem..."
Hanya Venom dan Zio yang menjawab sapaan Zahra. Sementara Kenzo, memang begitulah CEO Adhitama group. Sedangkan Gilang, ia masih belum fokus 100%. Meski ia tau Zahra juga sedang menyapanya.
Zahra masuk ke dalam lift, kemudian ia menekan tombol angka 4, untuk kembali ke lantai dimana ia bekerja. Bersamaan dengan itu lift khusus petinggi terbuka. Membuat semua para petinggi bergantian masuk satu persatu.
Saat pintu lift umum hendak tertutup, tiba - tiba sebuah tangan menyelinap di antara keduanya. Tentu Zahra reflek menekan tombol darurat, agar pintu batal tertutup.
"Pak Gilang?" gumam Zahra melihat Gilang lah yang menyodorkan tangan agar pintu tidak tertutup otomatis.
Setelah dua sorot mata bertemu untuk beberapa detik, Gilang masuk ke dalam lift yang di tempati Zahra seorang diri.
Kini lift tertutup sempurna. Menyisakan Gilang dan Zahra yang ikut bergerak turun bersama lift umum.
Mengingat apa yang terjadi sebelumnya, Zahra memilih untuk menundukkan kepalanya. Tidak ingin terlihat terlalu mengakrabkan diri dengan anak bos, pikirnya.
"Siapa namamu?" suara Gilang terdengar begitu saja di telinga Zahra yang menunduk di belakangnya.
Sontak Zahra mendongak Gilang yang tingginya sekitar 20 cm lebih tinggi darinya.
"Bapak tanya nama saya?" tanya Zahra memastikan.
"Ya!" jawab Gilang dengan ekspresi yang sedikit dingin. Lebih tepatnya menahan deburan yang aneh untuk di rasakan.
"Nama saya, Zahra.." jawab Zahra.
"Lengkap!" perintah Gilang dengan hanya melihat Zahra melalui pantulan dinding lift.
Zahra mengangkat kalung name tag di lehernya. Seolah menunjukkan pada Gilang.
"Titania Azzahra..." jawab Zahra dengan suara lembutnya.
DUUAAARR!!
Ledakan itu seolah nyata di hati Gilang. Tubuhnya seketika membeku, namun detak jantung terasa semakin cepat. Nafas pun ikut terengah meski samar dan tak terlihat oleh Zahra. Tatapan matanya sama sekali tak berkedip melihat pantulan wajah Zahra yang kebingungan.
__ADS_1
Nama yang ...
...🪴 Happy Reading 🪴...