Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 49 ( Tentang Zio )


__ADS_3

Bertemu kembali dengan teman - teman lamanya di kantor, wajah lelaki yang baru saja menghadap bosnya terlihat tak secerah dahulu kala.


Dialah Zio Alfaro!


Lima tahun telah berlalu. Ia kembali ke Ibukota beberapa bulan lalu. Namun baru hari ini ia muncul kembali di perusahaan setelah mendapat panggilan.


Wajah tampan seorang Zio tak memudar, masih tetap sama seperti dulu. Hanya saja wajah itu tak secerah dahulu. Seperti banyak luka yang di pendam. Atau bahkan banyak air mata yang coba untuk ia tahan agar tidak sampai jatuh.


Entahlah... Wajah tampan itu terlalu masam untuk di artikan oleh orang - orang sekitarnya. Tapi ia pun enggan untuk membahasnya pada siapapun.


Pintu lift terbuka, sebuah ruangan yang lima tahun lalu setiap hari ia datangi kembali ia lihat di depan mata. Ada beberapa perubahan. Mulai dari penataan meja, juga pemasangan dinding kaca untuk pembatas. Membuat ia pangling untuk sesat.


Langkah kaki berjalan maju, ia berbelok ke kanan, mendekati pintu kaca dimana di dalam sana adalah ruangan untuk bekerja divisi yang ia pimpin lima tahun lalu.


Dada bergemuruh, rasa rindu dan rasa bersalah kembali bergelayut di dalam dada. Tangan kanan mendorong handle pintu, terlihat di sana orang - orang yang sama. Orang - orang dulu selalu di bawah kendalinya saat meeting bulanan berlangsung.


"Selamat datang kembali, Pak Zio!" sapa semua orang di dalam ruangan dengan riuh tepuk tangan sembari semua berdiri dari duduknya.


Entah, itu tepuk tangan ejekan atau tepuk tangan gembira. Apapun itu, Zio tetap tersenyum tipis. Menatap satu persatu wajah karyawan yang masih ia ingat namanya. Dan mata berhenti tepat di sebuah meja yang mana ia tak mengenal siapa gadis itu.


Itu adalah meja yang dulu di tempati oleh Naura. Meja yang dulu selalu menjadi sasaran utama sorot matanya. Yang ada di meja itu semua berubah. Aksesoris yang ada sama sekali tak ia kenali.


Jantung Zio berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Ia pejamkan matanya untuk menahan segala gejolak di dalam dada.


Zio berjalan, melintasi meja yang dulu di tempati Naura. Gadis yang ada di balik meja itu menunduk hormat pada Zio, selaku manager di lantai itu.


"Siapa namamu?" tanya Zio.


"Titania Azzahra, Pak!" jawab perempuan berusia sekitar 28 tahun itu.


"Siapa aku memanggilmu?" tanya Zio.


"Zahra..." jawabnya tersenyum manis.


Zio mengangguk paham, "baiklah, lanjutkan pekerjaanmu..." ucapnya kemudian berlalu dari depan meja perempuan yang menggantikan posisi Naura. Semenjak Naura di pecat oleh Kenzo.


Zio memasuki sebuah ruangan yang di tunjukkan sekretarisnya. Sekretaris yang sama saat ia masih menjabat di sana.


"Selamat bekerja kembali, Pak Zio!" ucap Sekretarisnya.


"Hem.." jawab Zio tersenyum lesu.


Sekretaris Zio kembali keluar. Sementara Zio membeku di dalam ruangan yang sebenarnya tak asing untuknya. Hanya beberapa benda saja yang tampak baru dan berubah posisi.


Zio menatap meja kerja, dimana dulu ia berkutat dengan urusan bisnis Adhitama Group. Dan di meja itu pula dulu ia sering mendudukkan Naura. Kemudian bercumbu mesra, tanpa takut ada yang mengganggu. Tentu saja selama tidak ada CEO maupun Presdir di kantor.


Sedangkan di kursi berputar itu, dulu ia sering memangku Naura yang sedang bermanja. Atau bahkan ia sendiri yang kadang ingin di manja oleh istrinya.


Zio memejamkan matanya dalam. Merasakan debaran yang dulu selalu ia rasakan saat bersama seorang wanita cantik nan anggun bernama Naura Azalea. Wanita yang berhasil membangkitkan cinta di hatinya. Hingga akhirnya setetes bulir air mata jatuh di pipinya.


Dengan langkah gontai, Zio mendekati meja kerjanya. Menyisir setiap sudut meja menggunakan jemari kokohnya. Ia putar kursi kerja yang menunjukkan jabatan pemiliknya di perusahaan itu.

__ADS_1


Kemudian dengan perlahan ia duduk di sana. Menyandarkan punggung pada kursi hitam nan empuk. Terakhir ia pejamkan matanya dalam. Merasakan kembali momen - momen indah yang pernah terukir beberapa tahun yang lalu.


Ia buka mata yang masih basah oleh sisa air mata. Ia menatap lurus ke depan. Di pintu sana, terlukis sosok anggun nan cantik dengan baju kerja yang membuat wanita itu terlihat sangat pintar.


Bibir tipis Zio tersenyum samar. Menyambut kehadiran bayangan sosok istri yang selalu mencintainya dengan penuh ketulusan.


Namun kemudian sosok indah itu menghilang. Mengakhiri sesi lamunan dan bayangan akan masa lalunya.


Kini Zio beralih pada jendela kaca yang menunjukkan betapa luas Ibukota. Saat melihat keluar sana, barulah ia kembali mengingat sosok lain.


Wanita cantik alami yang pernah membuat hatinya tersiksa oleh perasaan menyesal. Wanita yang pernah ia saikiti, hingga akhirnya menyerah oleh keadaan.


"Calina... Dimana kamu sekarang?" gumamnya menatap kosong ke arah gedung menjulang tinggi di luar sana.


Tak ada jawaban dari siapapun. Termasuk pikirannya sendiri. Zio sudah pasrah akan Calina. Ia tak mungkin mendapatkan wanita itu lagi.


Si bunga desa yang kini berusia 31 tahun.


Menghela nafas berat, kini Zio melihat tumpukan map di atas meja. Serta laptop yang sudah siap untuk ia gunakan.


Sebelum memulai kembali aktivitas itu, ia menoleh pada papan nama yang tertera. Nama, gelar serta posisinya kembali tersemat di meja itu. Setelah lima tahun di gantikan oleh seseorang yang entah siapa.


"Welcome back, Zio!" gumamnya menyemangati diri sendiri.


Ia nyalakan laptop di meja kerjanya. Ia buka email khusus manajer yang sejak dulu juga ia gunakan. Ada banyak email masuk yang sudah selesai di kerjakan oleh manajer pengganti. Dan di bagian atas, ada beberapa email yang kini kembali menjadi tugasnya.


Jemari kokoh, serta otaknya yang pintar kembali bekerja. Soal pekerjaan Zio memang seratus persen pintar dan jujur.


Waktu terus berjalan. Siang yang menjadi hari pertama bekerja untuk Zio bekerja telah berakhir. Lelaki yang kini berusia 34 tahun itu berjalan meninggalkan ruang kerjanya.


Tampak ruang kerja di bawah kepemimpinannya mulai sepi. Beberapa karyawan tampak sudah pulang. Menyisakan beberapa saja. Salah satunya adalah Zahra.


Perempuan itu tampak masih berkutat dengan komputer di depannya. Zio menoleh sekilas. Ia ingat, dulu juga Naura sering menunggunya di meja itu untuk pulang kerja bersama.


"Selamat sore, Pak Zio!" sapa Zahra ketika tau jika Zio menoleh dirinya.


"Hem.." jawab Zio kembali menghadap depan, dna meninggalkan ruang kerja divisinya berada.


Zio siap turun ke lobby menggunakan lift khusus petinggi. Dan saat memasuki lift, ia bertemu dengan Beni yang juga baru selesai dengan pekerjaannya. Beni adalah teman lama yang juga seorang manajer.


"Zio!" sapa Beni tersenyum senang.


"Hai, Ben!" jawab Zio.


"Aku senang kamu kembali!" ucap Beni bersaman dengan lift yang bergerak turun.


"Aku juga senang bisa kembali ke sini! Perusahaan yang membuatku bisa mencapai posisi yang ku impikan!" jawab Zio tersenyum.


"Jangan sia - sia kan Zi! Aku kesepian tidak ada kau di akhir pekan!" kekeh Beni.


"Ya..yaa.. Aku tau! Dan aku sudah menyesalinya!"

__ADS_1


"Bagus!" ucap Beni. "Bagaimana rasanya kembali ke sini? Tidak ada yang berubah, kan?"


"Ada!" jawab Zio cepat.


"Apa?"


"Aku baru tau, kalau Pak Kenzo sudah memiliki anak sebesar itu!" ucapnya, "padahal saat aku pergi, dia belum menikah, kan?" tanyanya pada Beni.


Beni mengangkat kedua pundaknya, "sebenarnya kami pun tak tau, Pak Kenzo itu sudah menikah atau belum!" jawab Beni. "Tiba - tiba saja sekitar 3 tahun lalu, Pak Kenzo datang bersama Nona Clarice dan seorang baby siter ke kantor," jelasnya, "yang membuat kami semua bingung, Nona Clarice memanggil Pak Kenzo dengan sebutan Daddy!" lanjut Beni mengisahkan.


"Jadi Pak Kenzo sudah menikah atau belum?" tanya Zio penasaran.


"Aku sudah bilang! Tidak ada yang tau soal itu!" jawab Beni ketus. Kesal karena Zio mengulang pertanyaan yang sama. "Bahkan kami tidak pernah tau siapa Mommy nya Nona Clarice!"


"What!" pekik Zio tak percaya. "Kenapa bisa begitu?"


Tak terasa keduanya sudah keluar daei lift dan berjalan di lobby untuk keluar dari gedung.


"Sepertinya Pak Kenzo menyembunyikan rapat - rapat tentang kehidupan pribadinya! Termasuk siapa istrinya! Semua hanya menjadi teka teki."


"Lagi pula kalau memang Pak Kenzo beristri, pastilah istrinya itu tidak mau di sembunyikan! Siapa yang tidak bangga menjadi istri seorang Kenzo Adhitama!"


Zio mengangguk - anggukkan kepala tanda paham. Meskipun dalam benaknya masih tersimpan berjuta pertanyaan tentang teka teki bosnya.


"Pak Kenzo benar - benar misterius!" gumam Zio.


"Memang!" sahut Beni datar.


"Jadi anak Pak Kenzo namanya Clarice?" tanya Zio.


"Ya... Katanya sih begitu."


"Kata siapa?"


"Tidak ada yang bilang! Hanya saja kami sering mendengar Pak Venom memanggilnya Nona Clarice!"


"Oohh..." Zio kembali mengangguk.


Mereka pun sampai di parkiran mobil. Beni ke arah mobil Pajero hitam miliknya. Sementara Zio ke arah mobil barunya yang berwarna merah.


Zio duduk di belakang kemudi dengan menghela nafas panjang. Ia kembali mengingat saat sorot matanya bertemu dengan gadis kecil yang di sebut sebagi anak Kenzo.


Namun setelah itu ia gelengkan kepalanya. Ia kembalikan kesadaran dirinya penuh. Dengan semangat baru, ia keluarkan mobil dari area parkir. Untuk kemudian pulang ke rumah yang baru ia beli beberapa bulan yang lalu.


...🪴 Happy Reading 🪴...


✍️ Kehidupan manusia tidak pernah ada yang tau akan seperti apa alurnya.


Yang terpenting, semakin hari kita berusaha untuk menjadi diri yang semakin baik.


Salam, Lovallena 🥰

__ADS_1


__ADS_2