
Pagi itu dunia yang awkward menyambut Calina yang menangis semalaman. Ia keluar dari kamar, dan menemukan sosok Kenzo yang seolah sudah lama berada di sana.
Obrolan kaku dari seorang Kenzo seolah membuat Calina yang kikuk, semakin kikuk dan kaku.
Namun akhirnya Calina terdiam beberapa saat, akibat satu pertanyaan yang setara dengan kilat cahaya petir di siang hari. Kemudian di susul dengan dentuman keras yang menggelegar.
"Kamu hamil?"
Pertanyaan datar, namun langsung pada pokok permasalahannya.
Calina menggeleng pelan, "saya tidak tau, Pak! Saya hany baru menyadari jika saya tidak datang bulan 3 bulan lamanya."
Aku Calina, hanya bisa menunduk menjawab pertanyaan yang membuat diri ini bagai di sambar petir.
"Kamu baru menyadari semalam?"
"Iya, Pak!" jawabnya lesu, "saya tidak tau harus berbuat apa..." lanjutnya semakin terlihat memilukan.
"Kamu tetap ingin anak itu lahir?'
Calina kembali menggeleng, "saya tidak tau, Pak! pikiran saya serasa buntu. Semalaman saya hanya bisa menangis. Sangat miris jika anak ini harus lahir tanpa seorang Ayah."
Calina menghela nafas berat, "semua ini terasa begitu berat.." gumamnya. "Baru kemarin siang aku merasa lega, karena berhasil berpisah dengan Mas Zio. Tapi malam harinya aku seperti di jatuhi kulit durian satu truk!" gerutunya kesal.
Kali ini Kenzo tersenyum samar. Tak akan ada yang tau jika dia tengah mengulum senyuman. Akibat wajah yang masih terlihat dingin.
"Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah, temui Ibu mu, dan ceritakan semuanya dari awal!" ucap Kenzo. "Sudah cukup kamu bersembunyi dari Ibumu, Cal! Sedikit banyak saran dari Ibumu akan membawamu pada keputusan yang benar!" lanjutnya menasehati.
"Tapi bagaimana kalau aku bertemu Mas Zio di sana?" tanya Calina ragu. "Aku tidak mau bertemu dengannya apapun alasannya!"
"Kamu belum bisa melupakannya?" tanya Kenzo.
"Aku hanya malas berhadapan dengan dia!" keukeh Calina.
"Itu artinya kamu belum ikhlas! Belum legowo!"
"Eiitz! Setengah bule juga tau legowo, kah?" gumam Calina.
"Kita bicara serius, Cal!" ujar Kenzo tegas.
"Iya.. iyaa.. Aku tau!"
"Senin besok, aku akan membuat Zio sibuk di kantor!" ucap Kenzo. "Dan saat itu kita akan pergi ke rumah Ibumu di kampung!"
"Kita?" tanya Calina tak percaya. "Saya pergi sendiri bisa kok, Pak!"
"Jangan membantah!" sahut Kenzo tak ingin di bantah lagi!
"Baiklah..." jawab Calina pasrah dengan raut wajah lesunya.
"Sekarang kita harus memastikan terlebih dahulu, kamu hamil atau tidak!"
"Caranya?" tanya Calina.
"Tentu saja menemui dokter kandungan!" jawab Kenzo menahan kesal. Pertanyaan semudah itu, masih saja di tanyakan, batinnya.
Calina kini mulai berani untuk terkekeh. Kenzo sudah tak sedingin sebelumnya. Maka segera ia mandi dan bebersih. Supaya tidak terlalu lama tampil seperti buruk rupa.
__ADS_1
***
Sebagai pemilik Rumah Sakit, tentulah Kenzo tak perlu antri. Ia bisa datang dan pergi kapan saja yang ia mau. Termasuk hari Sabtu begini. Saat banyak orang memilih periksa di hari Sabtu, karena bertepatan dengan hari libur kerja atau alasan lainnya. Tak terkecuali antrean di poli kandungan yang tutup jam 12 siang.
Kenzo dan Calina ada di dalam ruangan yang di peruntukkan khusus untuk keluarga pemilik jika datang. Sebuah ruangan yang di desain seperti ruang santai. Ada sofa, tempat tidur super nyaman berukuran standar, ada meja kerja beserta kursinya. Menghadap jendela kaca berukuran cukup besar dan berada di lantai tiga Rumah Sakit.
Ya, mereka memilih untuk menunggu semua antrean selesai. Karena tak mau menjadi pemimpin yang semaunya. Tentunya kenyamanan pasien lebih di utamakan.
Sebelum ini, kehadiran Kenzo dan Calina tentulah menarik perhatian seluruh pegawai Rumah Sakit. Dimana semua pegawai tau, jika Kenzo adalah bujang berusia 30 tahun. Usia dimana kebanyakan laki - laki Ibukota akan memilih untuk menikah di usia itu. Usia yang di anggap cukup pas, dan mapan untuk mengikat janji.
Namun Kenzo belum pernah sekalipun terlihat memperkenalkan seorang gadis untuk di nikahi. Bahkan tak pernah terlihat menjalin cinta pada siapapun.
Semua semakin ramai berkasak kusuk karena poli yang di minta Kenzo adalah poli kandungan. Tentulah semua di buat heran. Kapan bos muda mereka menikah? Tak ada yang mendengar sama sekali.
Dan yang lebih membuat heran ialah, gadis yang di antar Kenzo sama sekali tak terlihat jika dia anak orang kaya. Atau bisa di bilang setara dengan derajat keluarga Adhitama. Meski semua tak memungkiri jika Calina memiliki cantik natural yang tak di buat - buat seperti kebanyakan orang sekarang.
Lalu siapa gadis itu?
"Pak Kenzo, kenapa saat kita lewat tadi banyak yang melihat ke arah kita?" tanya Calina heran.
"Lalu kamu mau aku tanya mereka satu persatu?" jawab Kenzo sembari fokus menatap laptop di depannya. Ia duduk di balik meja kerja. Memeriksa pekerjaan Rumah sakit yang hanya sesekali ia cek laporannya.
Calina terkesiap, "bukan begitu maksudnya, Pak! Apa karena saya terlihat seperti pembantu yang mengikuti Tuannya?"
"Memangnya kamu merasa seperti pembantu?" tanya Kenzo balik tanpa menoleh sedikitpun pada Calina yang duduk di sofa empuk berwarna cream.
"Em... Tidak juga sih...." kikik Calina. "By the way... Apa Rumah Sakit ini milik keluarga Adhitama juga?" tanya Calina, "aku melihat lambang Adhitama tadi di madding!"
"Bisa jadi!"
"Kamu bisa diam tidak?" sembur Kenzo, pelan namun terdengar sangat serius. "Aku butuh waktu serius! 15 menit saja kamu diam."
"Oh... Ok, Ok... Baiklah!" jawab Calina tersenyum kikuk.
Sementara itu Kenzo kembali fokus pada laptopnya. Sungguh lah seorang Kenzo terlihat sangat tampan saat sedang serius dengan pekerjaannya.
Tok tok tok!
Pintu di ketuk seseorang dari luar, Calina sigap mendekati pintu dan membukanya pelan.
"Ada apa?" tanya Calina setelah melihat seorang perempuan berpakaian perawat.
"Selamat siang, Bu!" sapanya, "Pak Kenzo dan Ibu sudah di tunggu di Poli Kandungan..." ucapnya sopan.
"Oh, baiklah! Terima kasih!" jawab Calina dengan ragu.
Calina kembali menutup pintu. Kemudian ia sandarkan punggung pada daun pintu. Menatap lurus ke arah depan, ke arah dinding putih yang kosong.
Bagaimana jika ia benar - benar hamil?
Bagaimana ia akan merawat anaknya nanti?
Tanpa ayah, tanpa seseorang yang membantunya mencari nafkah. Bahkan ia sendiri kini masih pengangguran. Tak ada penghasilan sedikitpun, selain memanfaatkan dengan baik kebaikan seorang Kenzo Adhitama. Satu - satunya lelaki yang ikhlas memberinya uang 15 juta / bulan.
Tapi tak mungkin ia mengandalkan seorang Kenzo, bukan?
Belum lagi... Apakah Mama Shinta akan bersedia membantunya untuk merawat seorang bayi?
__ADS_1
Dimana ia bahkan belum pernah sekalipun menggendong bayi mungil yang banyak di idamkan para pengantin baru.
Pikirannya terus melayang. Membuatnya tak lantas memberi tahu Kenzo tetang pesan sang Perawat.
"Ada apa?" tanya Kenzo menoleh Calina yang tampak tegang di pintu utama ruangan.
"Em... Katanya aku...aku sudah di tunggu di ruang periksa kandungan!" jawab Calina ragu.
"Lalu?"
"Aku takut..."
"Takut kenapa?" Kenzo memandang lurus pada Calina yang memang jelas terlihat gugup.
"Sesungguhnya... Aku malu periksa tentang ini, tanpa ada suami..." lirih Calina. "Apa kata mereka nantinya? Aku hamil di tengah status ku sebagai Janda Muda!" ucapnya menatap lantai di bawah.
Kenzo menghela nafas kasar. Segera ia berdiri dan berjalan cepat mendekati Calina. Ia raih pergelangan tangan Calina. Sementara tangan satunya membuka pintu dengan kasar. Ia tarik tangan Calina keluar dari ruang pribadinya. Melewati lorong yang masih ada beberapa petugas Rumah Sakit, maupun pengunjung.
"Pak Kenzo!" pekik Calina merasa malu di tarik oleh seorang Kenzo. Yang mulai bisa ia duga, jika Kenzo adalah pemilik Rumah Sakit.
"Diam!" desis Kenzo, lirih namun sangat tegas.
Kenzo terus menarik tangan Calina. Dan membawanya ke poli kandungan, dengan langkah yang sedikit lebar. Sedikit banyak ia berusaha untuk menyamai kecepatan langkah yang bisa di jangkau oleh Calina.
Hingga sampailah mereka di depan sebuah pintu bertuliskan Poli Kandungan. Tanpa basa - basi, Kenzo langsung membuka pintu dengan sedikit kasar. Dan masuk masih dengan menarik paksa Calina.
"Selamat siang, Pak Kenzo!" sapa seorang dokter wanita segera berdiri dari duduknya.
"Periksa dia!" perintah Kenzo tanpa menjawab sapaan sang dokter.
"Baik, Pak!" jawab dokter itu memendam rasa bingung.
Namun segera ia meminta Calina untuk berbaring di atas ranjang pasien. Bersiap untuk melakukan USG pertama.
"Kok kamu di situ?" tanya Calina pada Kenzo yang tak keluar dari ruangan.
"Memangnya kenapa?" tanya Kenzo datar.
Menghela nafas berat, "tentu saja aku malu!" gerutu Calina kesal.
"Why?" tanya Kenzo merasa tak bersalah dengan ulahnya.
Calina dan Dokter Kandungan yang bertugas pun akhirnya saling tatap. Sang Dokter tak berani memerintah Kenzo keluar, sementara Calina bingung dengan sikap Kenzo yang di rasa... Tak tau malu!
"CEPAT PERIKSA! TUNGGU APA LAGI!" sembur Kenzo dengan suara menggelegar.
Sontak dua wanita beda usia tersentak kaget. Nyaris Calina melompat dari atas ranjang pasien saking kagetnya.
Sementara sang dokter kandungan hampir saja kursinya bergeser akibat suara Kenzo yang membuat jantungnya hampir melompat.
"I...iya..iya, Pak!" jawabnya tergagap.
Calina mengusap dadanya yang hampir kehilangan jantung. Menatap Kenzo kesal, namun ia tahan. Siapalah dirinya berani membenci Kenzo.
Namun yang membuat onar, sama sekali tidak merasa bersalah. Ia tetap memasang wajah dingin khas miliknya.
...🪴 Happy Reading 🪴...
__ADS_1