Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 150 ( Kolam Renang 5 )


__ADS_3

Ucapan Clarice yang mengatai dirinya anak manja, secara tidak langsung membuat Arsen merasa sangat tidak nyaman dan tidak suka. Sejak kecil ia sangat benci dengan julukan itu. Karena ia merasa sama sekali tidak manja. Sejak kecil segala sesuatu selalu ia usahakan sendiri.


Jika bisa di bilang, tinggal bersama nenek dan kakek adalah tempat tinggal ternyaman yang pernah di tempati oleh para cucu. Karena sepasang suami istri yang mendapat julukan itu selalu memanjakan cucu-cucunya melebihi orang tua kandung mereka sendiri. Tidak pernah  marah, juga tidak pernah menolak keinginan cucunya, apalagi menyalahkan apa yang di lakukan oleh para cucu.


Terkadang mereka justru menyalahkan orang lain atau anak lainnya jika sampai cucu mereka menangis ataupun melakukan kesalahan.


Dan karena itulah terkadang banyak sifat dan sikap anak yang pada akhirnya menjadi tidak sesuai dengan harapan orang tua ketika harus ada Kakek dan Nenek yang ikut campur dalam cara orang tua mendidik anaknya.


Tapi Arsen si bocah tengil dan Kakaknya itu selalu berusaha menyelesaikan masalah merek sendiri. keduanya memang memiliki kenakalan masing-masing yang tidak selalu sama dan tidak bisa di samakan. Tapi keduanya selalu berusaha untuk menyelesaikan masalah itu tanpa membawa-bawa Kakek dan Nenek mereka.


Maka ketika ada yang mengatai dirinya anak manja, rasanya ada yang tergores di dalam hati kecilnya. Ada sesuatu yang sedang di sentil dengan sengaja.


Hanya saja kali ini yang mengatai dirinya adalah Clarice, gadis yang sedang ia kejar hatinya, gadis cantik yang sedang ia usahakan agar kelak bisa membuka hati untuk dirinya. Ketika kebebasan sudah di dapatkan oleh sang gadis. Yang entah kapan datangnya.


Sehingga ketika ia ingin marah pun rasanya tidak bisa. Tapi ia punya cara lain untuk mengungkapkan jika dirinya tidak suka di sebut sebagai anak manja tanpa menjelaskan kenapa, kenapa dan kenapa.


"Dengarkan itu baik-baik, Sayaang..."


Siapa sangka penekanan kata Sayang yang di bisikkan Arsen adalah cara bagi Arsen untuk mengatakan jika ia tidak suka di panggil anak manja, tanpa perlu terlihat marah ataupun benci.


Clarice menatap punggung Arsen dengan perasaan yang sangat aneh. Sesungguhnya ia tak suka jika ada lelaki yang berani memanggil dirinya dengan julukan sayang. Karena merasa sangat terintimidasi. Ta[i kali ini... entahlah.


Tau sang pemuda tak lagi menoleh padanya, Clarice pun bingung harus berbuat apa. Rasanya sangat malu untuk berjalan mendekati Arsen.


Menarik nafas panjang dan menghelanya pelan adalah cara terbaik untuk Clarice menetralkan dirinya yang teramat gugup ketika merasakan hembusan nafas Arsen di telinga dan lehernya.


Arsen kembali menurunkan kakinya ke dalam kolam renang sedalam 1 meter, sementara Cla masih membeku di tempat.


' Kenapa cara Arsen selalu saja berbeda dengan anak muda lainnya...? '


Tanya Cla dalam hati.


' Aku pernah mengidolakan Naufal, dan kini pun aku mengagumi sosok Vino. Aku tak pernah berfikir untuk mengidolakan pemuda satu ini. Tapi kenapa dia selalu berbeda? '


Clarice kembali menghela nafas panjang sembari membuang pandangan dari sosok sang pemuda yang memang memiliki daya pikat tersendiri.


' No, Cla! Hentikan pikiran bodoh mu! '


Gerutunya.


"Jadi atau tidak?" suara bariton terdengar menyadarkan Clarice dari lamunan.


"Hah!" pekik Clarice menoleh pada Arsen.


"Jadi melatih ku lagi atau tidak?" ulang Arsen.


"Iya!" jawab Clarice datar di tengah kegugupan yang masih ada. "Aku ambil stopwatch dulu!" ujarnya berlari menuju bangunan ruang ganti.


Mau tak mau sang gadis harus melepas semua kegugupan yang ia rasakan karena ulah Arsen. Dengan langkah pelan sang gadis kembali mendekati Arsen yang kini mulai menurunkan badannya ke dalam air dengan perlahan.


Di tengah kegugupan itu, Cla cukup lega ketika melihat Arsen sudah mau masuk ke dalam kolam tanpa paksaan darinya.


' Aku yakin, tidak lama lagi trauma mu akan hilang, Sen! Dan aku tidak akan memanggilmu dengan anak manja lagi! '


Gumam Cla dalam hati.


"Ayo! cepat turun..." ujar Arsen mendongak Clarice yang masih berdiri di tepi kolam.


"Iya iya, anak manja!"


"Kamu sengaja menggoda ku, Sayang?" tanya Arsen tersenyum miring.


' Duuuhhh! kelepasan! '


Pekik Clarice dalam hati memukul pelan kepalanya. Kemudian turun ke kolam renang mengikuti cara Arsen masuk ke dalam kolam. Yakni dengan duduk di tepi kolam terlebih dahulu, menurunkan kaki dan barulah memasukkan tubuhnya ke dalam air setinggi pusar itu.


"Kamu memang sengaja memanggilku anak manja, karena kamu suka aku memanggilmu Sayang, kan?" tanya Arsen ketika Cla mendarat di sampingnya.


"Jangan ngawur kamu, ya!" tandas Clarice sedikit menghentak.


"Kalaupun iya juga aku tidak masalah. Aku tidak keberatan memanggil mu Sayang di manapun kita berada..." ucap Arsen menatap sang gadis dengan tatapan yang menusuk relung hati terdalam sang gadis. "Dengan  senang hati aku akan memanggilmu... Sayang."


"Jangan mimpi!" sembur Clarice menyangkal semua yang berhubungan dengan perasaan dan hati terhadap sang pemuda.

__ADS_1


"Atau jika perlu aku akan memanggilmu Baby... Honey... atau Blondie..." ucap Arsen dengan senyuman menggoda.


"ARSEN!" teriak Clarice tepat di depan wajah Arsen.Ia sangat risih mendengar panggilan Blondie yang ia ketahui panggilan itu sangat seksi di luar negeri sana.


Dan Arsen pun tergelak dengan candaannya sendiri. Yang mana ia dapat melihat jika Clarice salah tingkah dengan apa yang ia ucapkan itu.


"Teruslah tertawa! Dan aku akan menyeret kakimu ke sana!" Cla menunjuk kolam 200 cm.


"Peace! Aku masih ingin hidup!" sahut Arsen langsung mengacungkan dua jari tangan kanannya, dan menatap penuh penyesalan pada Clarice.


"Kita mulai seperti tadi!" ucap Clarice. Masih ada nada-nada ketus di kalimatnya akibat kesal pada Arsen tadi.


"Hemm.." jawab Arsen sembari menata hati, pikiran dan nafasnya. Tatapan matanya sangat menghindari kolam yang dalam.


"Satu...dua..tiga!"


Maka apa yang tadi sudah di ajarkan Cla kembali di ulang oleh Arsen. Di ulang dan terus di ulang sampai tak lagi terhitung berapa kali Arsen mengulangi satu bab pembelajaran ini. Clarice tak bosan memberi semangat dan cara-cara yang bisa di lakukan Arsen untuk melepas ingatan itu.


Diantara dua anak muda yang sedang berada di dalam kolam renang. Di antara dua remaja yang menghadapi situasi berbeda, Ada Matahari yang terus berputar. Ada waktu yang terus berjalan. Juga ada momen yang harus di akhiri.


Dan juga ada perasaan yang tak di sadari, oleh keduanya...


"3 menit!! YEEAAAYY!!!" teriak Clarice ketika Arsen berhasil bertahan di dalam air selama tiga menit lamanya.


Tanpa di sadari sang gadis melompat untuk memeluk Arsen. Saking senangnya apa yang ia ajarkan berhasil, Cla memeluk pemuda yang di anggapnya buaya darat itu dengan suka cita.


Apalagi Arsen yang berhasil untuk berani tanpa berpegangan pada pipa besi itu membalas pelukan Clarice. Saking senangnya ia pun tak sadar jika mereka tengah berpelukan di dalam kolam renang.


Tertawa bahagia, seolah baru saja mendapat jack pot.


Berpelukan dengan lawan jenis? Hal biasa!


Di jaman sekarang lelaki dan perempuan apalagi teman akrab mungkin akan menjadi hal biasa jika berpelukan. Tidak harus menjadi sepasang kekasih untuk bisa berpelukan di saat momen-momen bahagia seperti ini.


Tapi tidak biasa untuk ...


"Apa yang kalian lakukan!" suara seorang perempuan yang sedikit menghentak dari tepi kolam renang membuat keduanya mengakhiri tawa bahagia dan melepas pelukan juga tanpa sadar.


"Mama! ini rekor baru untukku!" seru Arsen berbahagia dengan pencapaian terbarunya yang di anggap sangat luar biasa. Hingga ia menatap sang Ibu dengan wajah berbinar. Tanpa ia sadari jika sang Ibu tampak terbengong-bengong melihat dirinya dan Clarice bergantian.


Dua remaja yang baru saja tanpa sadar berpelukan itu berhadapan dengan dua orang Ibu yang terbelalak menatap apa yang baru saja di lakukan anak-anak mereka.


Ya... mereka memang sering melihat hal ini di lakukan oleh remaja-remaja di luaran sana. Dan mereka juga bersikap biasa saja pada pelaku, karena memang negeri ini sudah terlalu terbawa budaya barat.


Tapi ketika melihat anak-anak mereka sendiri yang berpelukan dengan lawan jenis di depan mata, dan yang lebih parah terjadi di dalam kolam renang dengan baju mereka yang serba basah, membuat dua Ibu hampir saja kehilangan nafas. Terutama Mommy Calina.


Di usia mereka yang masih 16 tahun, rasanya terlalu dini untuk mereka bersikap demikian, meskipun di luaran sana sudah banyak yang melakukan ini. Padahal keduanya sudah terbiasa melihat hal ini ketika mereka menonton film. Terutama film drama korea yang menjadi favorit anak remaja jaman sekarang.


Bedanya budaya mereka dengan negeri ini berbeda. Sehingga sebagian orang akan tabuh dengan hal semacam ini.


Beberapa menit yang lalu, Mommy Calina dan Mama Rania merasa obrolan mereka sudah mulai membosankan, dan kemudian berfikir untuk mendatangi anak-anak yang mungkin sedang berenang atau entah sedang apa di halaman belakang yang memiliki cukup banyak fasilitas untuk bisa di gunakan. Hal ini akan di rasa lebih seru dari pada membicarakan tentang kehidupan para Nyonya.


Berjalan berdua sembari mengobrol santai, keduanya di kejutkan dengan apa yang menjadi pemandangan tak biasa ketika mereka sampai di sisi belakang rumah. Di mana anak mereka sama-sama melompat dan berpelukan sambil tertawa penuh suka cita.


Apa yang terjadi?


Kenapa mereka berpelukan?


Pikir mereka berdua dengan kompak, namun tanpa terucap di bibir masing-masing.


Jika Mommy Calina menatap dengan ekspresi mendelik melihat putrinya memeluk laki-laki yang bukan Daddy, Papa ataupun kedua adiknya.


Maka Mama Rania juga mendelik melihat anak laki-lakinya memeluk seorang gadis. Dan yang semakin membuat beliau terkejut adalah sang bungsu tampak nyaman berada di kolam renang sedalam 100 cm itu. Sungguhlah pemandangan yang pertama kali ia dapatkan sejak sepuluh tahun terakhir.


Kedua Ibu itu menghampiri dengan melangkah cepat menuju tepian kolam yang paling dekat dengan posisi keduanya. Tidak ingin momen aneh di depan mata itu berlangsung terlalu lama.


Ketika mengetahui pencapaian yang di dapat Arsen, Mama Rania merasa sangat bahagia dan perlu berterima kasih pada Clarice. Sedang Mommy Calina merasa sangat bangga, karena putri nya berhasil membantu Arsen sedikit demi sedikit terlepas dari trauma yang di deritanya. Saat baru saja di beri tahu oleh Mama Rania jika Arsen trauma dengan kedalaman saat di ruang tamu tadi.


Tapi yang jadi masalah di sini adalah...


"Kenapa harus ada acara berpelukan?" tanya Mommy Calina pada sang putri.


"Hah?" pekik Clarice menatap bingung pada sang Ibu. "Berpelukan?" tanya Clarice.

__ADS_1


"Ya!" jawab Mommy Calina dengan sorot mata serius dan khawatir. "Kenapa harus pakai acara berpelukan?" tanya Mommy Calina lagi.


Kesadaran dua remaja itu akhirnya kembali. Setelah sama-sama tidak sadar jika mereka berpelukan.


Sontak Clarice menoleh pada Arsen yang ada di sisi kananya, menatap tajam dengan sepasang mata yang terbuka lebar.


Arsen sadar jika di tatap sedemikian menyeramkan oleh Clarice mencoba untuk memberanikan dirinya melihat mata Clarice, yang ia yakini akan seperti sepasang mata yang hendak melompat dari sarangnya. Arsen sungguh hafal dengan emosi Clarice  yang sering tidak jelas, dan terkadang justru meledak-ledak.


"Kamu memelukku?" tanya Clarice dengan berseru kesal.


"Enak saja!" sembur Arsen. "Kamu yang memeluk aku duluan!" jawab Arsen yang tak sadar pula jika mereka berpelukan.


"Pasti kamu curi-curi kesempatan!" seru Clarice tak mau kalah begitu saja.


"Kamu yang memang sejak tadi sudah gemas pada ku! Dan saat aku bisa kamu langsung mengambil kesempatan untuk memelukku!" balas Arsen tak kalah ketus.


"Hai! jangan terlalu percaya diri ya, kamu!" seru Clarice mendelik. "Aku tidak akan sudi memelukmu!"


"Sudahlah mengaku saja... sudah terlanjur terjadi." jawab Arsen datar.


Byurr! Byurr! Byurr!


Clarice melempari wajah Arsen menggunakan air yang ia dorong menggunakan kedua telapak tangannya berulang kali. Sehingga wajah Arsen kembai basah kuyup oleh air kolam renang.


Tak mau kalah, Arsen pun melakukan hal yang sama. Ia melakukan dengan jauh lebih kuat karena ia menggunakan tenaganya sebagai laki-laki.


Sehingga keduanya kini saling menyiramkan air ke wajah satu sama lain. Sama-sama tidak merasa jika mereka berpelukan sebelum ini. Namun keduanya teringat memang benar jika mereka berpelukan, bahkan sedikit melompat-lompat saking senangnya.


"HEI! HEI! HEI! STOOPPP!!!" teriak Mama Rania membuat keduanya berhenti sekita.


Cla dan Arsen mengakhiri aksi mereka dengan sama-sama mengusap wajah masing-masing.


"Lihat! baju Mama dan Mommy Calina basah gara-gara kalian!" ucap Mama Rania melihat bajunya yang sebagian basah oleh cipratan air dari anaknya sendiri dan anak sahabatnya.


"Maaf, Mommy, Aunty! Cla tidak sengaja!" ucap Cla segera berjalan menepi.


"Sorry, Mama! Maaf juga, Aunty. Arsen benar-benar tidak sengaja."


Arsen pun ikut jalan menepi. Dan keduanya naik ke tepi kolam secara bergantian menggunakan tangga kolam renang.


"Yaa ampun... kalian benar-benar menggemaskan!" ucap Mama Rania meremas tangannya sendiri sembari melihat dua remaja kini berdiri di antara dirinya dan Calina. Di mana sesungguhnya ingin mengatakan jika keduanya menjengkelkan.


"Bagaimana bisa, kalian berpelukan tapi tidak sadar kalau sedang berpelukan?" tanya Mommy Calina menatap marah yang tertahan, pada Clarice yang berdiri di dekatnya. Tatapan matanya sedikit tajam, tapi sudah cukup untu membuat Cla merasa sangat bersalah.


"Maaf, Mommy!" jawab Cla penuh penyesalan. "Tapi Cla benar-benar tidak sadar tadi..." lirih Clarice.


"Arsen juga minta maaf, Aunty. Arsen sungguh tidak menyadarinya." ucap Arsen menunduk. "Semua itu karena Arsen terlalu bahagia dengan pencapaian Arsen yang menurut Arsen sangat luar biasa..." terang Arsen, berharap Clarice tidak akan kena marah ataupun hukuman lagi yang berhubungan dengannya setelah ini.


"Lain kali Mommy tidak mau lagi mendengar ada alasan tidak sadar!" ucap Mommy Calina. "Bagaimana kalau tidak sadar kalian kelewat batas?" tanya Mommy Calina sedikit menghentak. "Mommy bisa mati berdiri, naak... Kalian belum genap 17 tahun!" ucap Mommy Calina memelas menahan gemas yang sesungguhnya adalah amarah.


"Maaf, Mommy..." lirih Clarice.


Mommy Calina, selaku pemilik anak gadis merasa sangat di rugikan dalam hal ini. Tapi Mommy Calina mencoba untuk menahan emosi yang sesungguhnya ingin meledak di tempat. Karena kenyataannya mereka terlalu bahagia dengan apa yang di dapatkan Arsen. Sesuatu yang di tunggu sejak sepuluh tahun lebih oleh sang pemuda dan keluarganya.


"Lain kali, Mommy tidak ingin melihat seperti ini lagi, okay?" ucap Mommy Calina tegas.


"Ya, Mommy..." jawab Clarice menunduk dalam.


"Iya, Aunty..." jawab Arsen.


Mommy Calina tampak menggelengkan kepalanya resah. Dadanya bergemuruh saking khawatirnya sang putri terbawa arus pergaulan bebas. Beliau tidak bisa berdiam saja menghadapi pergaulan remaja di jaman sekarang.


Sementara Mama Rania, beliau tampak lebih tenang menghadapi semua ini. Mungkin karena Mama Rania sudah terbiasa tinggal di luar negeri, ataupun pulang pergi keluar negeri. Sehingga apa yang di lakukan anaknya terlihat masih wajar selagi tidak lebih dari itu. Meskipun sempat shock saat pertama kali melihatnya tadi.


Sehingga omelan Mommy Calina sudah di anggap cukup untuk membuat sang putra menyadari kesalahannya.


"Sekarang ganti baju, dan kita makan siang bersama..." ucap Mommy Calina menatap mata Clarice dan Arsen bergantian. "Mommy dan Aunty Rania menunggu di ruang makan."


"Baik. Mommy..." jawab Cla.


"Iya, Aunty..." jawab Arsen.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2