Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 168 ( Holiday )


__ADS_3

"Terus... jadi ambil kuliah yang mana?" tanya Mommy Calina setelah Clarice dengan bangga menyampaikan kelulusannya setelah makan malam. "Aussie atau Indo?"


Clarice diam untuk sesaat. Sang gadis terlihat tengah berpikir keras untuk menentukan kampus yang sudah ia ajukan. Satu kampus di Aussie. Satu lagi di Indonesia.


Sesungguhnya ia sudah menimbang ini sejak setengah tahun yang lalu. Sejak mulai mendaftarkan diri di dua kampus yang ada di dua negara yang berbeda. Dan juga jurusan yang berbeda pula.


Namun sampai detik ini sepertinya ia belum juga menemukan pilihan yang tepat. Du negara dan dua jurusan ini sangat berpengaruh pada masa depannya, dan juga pada... Ya, satu hal yang membuat sang gadis tidak bisa bebas memilih.


Ada satu hal yang sangat membuatnya sangat berat meninggalkan Indonesia. Dan itu berhubungan dengan...


"Uncle Gilang bilang batas akhir kamu mengkonfirmasi kampus yang di sana adalah besok, Sayang!" sahut Daddy Kenzo menatap lekat pada sang putri sambung yang duduk di samping istrinya.


Clarice menarik nafas panjang dan kembali mengingat banyak hal terlebih dahulu untuk keputusan satu ini. Berat, sangat berat rasanya harus memilih yang mana.


Dalam hati kecilnya, ia ingin menempuh pendidikan di Aussie. Cita-citanya sebagai seorang desainer gaun handal sangat mudah di wujudkan di sana. Dukungan kedua orang tua dan sang Uncle juga sangat bagus.


Sedang profesi kedua yang ingin ia lakoni adalah sebagai psikolog seperti sang Paman yang ia ajukan di salah satu kampus di Indonesia. Yaitu di Bina Nusantara Jakarta.


Kenapa di Binus? Tentu kita semua tau kenapa Cla memilih Binus. Karena seseorang pernah mengatakan kampus itu bagus.


Jika menuruti keinginan, maka menjadi desainer akan menjadi pilihan utamanya untuk melanjutkan pendidikan. Namun ada satu yang membuatnya enggan meninggalkan Indonesia.


' Kalau di negeri sendiri sudah ada kampus yang baik, untuk apa sampai harus keluar negeri? '


' Mungkin di BINUS! Di sana memiliki jurusan Teknologi dan Informasi yang sangat bagus! Dan aku sangat tertarik dengan ilmu itu. '


Kalimat ini, ucapan ini pernah di dengar oleh Clarice saat mereka tengah berjalan di koridor sekolah. Saat kenaikan kelas XI.


Dan Cla sudah tau jika pemilik nama yang mengatakan hal itu sudah tertera sebagai calon Mahasiswa di BINUS. Berada di Fakultas Teknik Informatika. Sesuai dengan keinginannya.


"Cla lebih condong untuk tetap di sini bersama Daddy dan Mommy..." jawab Clarice kemudian.


"Kamu yakin, Cla?" tanya sang Mommy.


"Yakin, Mom.."


"Kenapa?" selidik sang Ibu.


"Kalau Cla rindu Daddy, Mommy, Papa, Mama dan yang lain bagaimana?"


Tergelak, "Alasan kamu..." sahut sang Ibu.


"Sebenarnya kamu tetap bisa menemukan kampus yang terdapat Fakultas desain yang kamu inginkan jika kamu mau, Cla.." ucap sang Daddy.


"No, Dad... Kalau di Indo Cla mau nya kuliah psikolog saja." jawab Clarice.


"Begitu, ya?" tanya sang Daddy.


"Ya, Dad..." jawab Clarice yakin. "Cla akan menghubungi Uncle Gilang nanti. Untuk membatalkan kuliah Clarice di sana."


"Di mana pun kamu kuliah, Daddy dan Mommy akan selalu mendukung!" ucap sang Mommy.


"Thank you, Daddy! Thank you, Mommy!" ucap Clarice.


"Jadi kapan ke Bali?"


"Lusa!" jawab Clarice.


***


Maka lusa yang di maksud oleh Clarice telah tiba. Hari itu hari Jum'at menjelang subuh. Hari yang di tentukan untuk berangkat merayakan kelulusan satu tingkat kelas XII dengan cara berlibur bersama di pulau dewata.


Dan seluruh siswa kini dalam perjalanan menuju pulau Bali dengan menempuh jalur darat. Menaiki sleeper bus berjumlah 6 armada dengan fasilitas bak pesawat first class. Satu bus berisi murid satu kelas dengan di dampingi beberapa guru pembimbing.


Sleeper bus yang di gunakan untuk menempuh perjalanan satu hari satu malam untuk bisa menginjak pulau dewata itu terdiri dari beberapa bilik pribadi yang di desain sangat mewah. Satu bilik untuk satu orang siswa. Sehingga semua siswa bisa bebas untuk tidur dan sebagainya. Tanpa perlu terganggu ataupun sungkan dengan kursi sebelah seperti pada bus biasa.


Bilik yang di tempati Clarice berdampingan dengan bilik Hanna. Sahabat terbaik sejak kelas X itu selalu bersama-sama, entah sampai kapan. Yang jelas saat ini keduanya adalah sahabat terbaik.


Sesuai perkiraan Sabtu pagi rombongan telah tiba di lokasi pertama. Dan yang menjadi tujuan pertama untuk di datangi adalah pantai Sanur. Menyaksikan sunrise ketika baru menginjak pelabuhan Gilimanuk sekitar jam 1 malam dini hari.


Dan kini, Menggunakan sendal tipis Clarice turun dengan mengenakan kaca mata hitam yang ia letakkan di atas kepala, terselip di antara telinga dan rambut hitam panjang ia biarkan tergerai dengan rapi. Dan Cla tetap terlihat cantik meski belum mandi sekalipun.


Whatever lah! Orang cantik mah walau bangun tidur juga tetap terlihat menarik. Apalagi kulitnya mulus dan seputih susu.


Berjalan berdampingan dengan Hanna, jika yang melihat adalah orang yang jeli dan paham dengan brand fashion, pasti bisa dengan mudah membaca perbedaan dua anak remaja ini. Meski Cla tidak pernah membandingkan dirinya dan apa yang ia kenakan dengan orang lain.


Soal wajah, kedua gadis ini memiliki nilai kecantikan masing-masing. Karena cantik itu relatif. Beda mata beda penilaian. Yang membedakan keduanya hanya Hanna memiliki kulit sedikit gelap. Profesinya sebagai Atlit voli putri yang membuatnya mau tak mau harus terbiasa berteman dengan sinar matahari.


Clarice mengenakan celana pendek berwarna mocca 10 sampai 15 cm di atas lutut. Di padu dengan baju putih lengan panjang dan berkerut membentuk bunga di bagian pergelangan tangan, berbahan ringan yang akan mudah tertiup angin, dan juga cukup mudah untuk di tembus hawa dingin. Apalagi angin pantai di pagi hari.


Hanya saja bagian bawahnya di masukkan ke dalam celana pendek yang ia kenakan. Tampilan Clarice semakin menarik dengan sling bag kecil berwarna pink muda yang hanya berisi uang cash dan ponsel menyilang di depan dadanya.


Syal kecil dan panjang berwarna biru wajib melingkar di leher atau di bagian tubuh manapun. Karena akan menjadi tanda jika mereka berada di dalam satu rombongan yang sama. Untuk mempermudah pencarian dalam satu tim.

__ADS_1


Selain syal, ada kamera bermerk S*NY menggantung di lehernya. Benda satu ini tidak mungkin tertinggal selama mereka berlibur di pulau Bali.


Dingin... pagi yang teramat dingin di tepi pantai. Tapi Clarice justru turun tanpa membawa jaket atau penghangat apapun juga.


Awalnya mungkin terasa biasa, tapi entah dengan nanti atau bahkan beberapa menit ke depan. Ketika sudah berulang kali tertiup angin pantai di kala senja.


Sepanjang perjalanan dari tempat parkir bus menuju pantai, Cla berusaha untuk menemukan dimana keberadaan Arsen dan kawan-kawan di tengah teman-temannya yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Baginya, tidak ada teman laki-laki seseru mereka di kelasnya kali ini.


Sehingga tidak lengkap rasanya berlibur tanpa Naufal dan Arsen.


"Nyari siapa?" tanya Hanna.


"Tidak ada..." jawab Clarice salah tingkah ketika sang sahabat menyadari gerak geriknya yang tidak wajar.


Beruntung, di depan mata langsung terpampang hamparan pantai yang luas dan indah. Sehingga topik Hanna beralih pada pantai yang mulai terpapar sinar senja itu.


"Oh my God! ini kali pertama aku melihat sunrise di pulau Bali, Cla!" seru Hanna ketika kakinya mulai menginjak pasir pantai, dan langit mulai terlihat orange bercampur putih yang berasal dari sinar matahari yang hendak terbit. Kemudian berangsur kuning. Dan matahari mulai terlihat sebagian.


"Bukannya kamu pernah ke Bali juga sebelum ini?' tanya Cla.


"Iya, tapi Papa tidak mengajakku ke sini!" jawab Hanna.


Clarice mengangguk. "Sesuai rencana! aku mau menggenggam matahari!" ujar Clarice mencari spot terbaik untuk ia bisa berfoto dengan seolah menggenggam matahari.


"Came on!" seru Hanna sangat antusias.


Tidak hanya dua anak ini yang tampak antusias. Tapi semua siswa terlihat sangat antusias dan senang berada di sini bersama dengan sahabat, bukan hanya dengan keluarga.


"Kamu dulu!" ujar Cla meminta untuk sang sahabat mengambil pose di depan sana.


Dengan background pantai di pagi hari, dan matahari yang hendak muncul dari tengah lautan. Matahari terlihat seolah terlahir dari belahan laut yang dalam.


"Okay!" seru Hanna segera mengambil posisi dengan sangat cantik membelakangi lautan, juga menghadap lautan.


Menggunakan kamera mahal miliknya, Clarice mengambil pose terbaik Hanna yang terlihat sangat bagus dari posisi Cla mengambil gambar. Menghadap kamera, dan berubah membelakangi kamera, Hanna terlihat sangat santai berpose.


"Ganti aku!" seru Clarice menyerahkan kamera pada Hanna.


"Okay!"


Sesuai keinginan yang sudah ia rencanakan sebelumnya, Cla berfoto dengan beberapa pose, sampai matahari mulai muncul dan terlihat sangat kecil di kejauhan sana.


Cla membelakangi kamera, dan ia lingkari matahari dengan kedua tangannya tepat di atas kepala dengan memperhatikan aba-aba Hanna. Sangat sederhana, tapi hasil jepretan Hanna sesungguhnya menarik untuk di posting di media sosial.


Dengan membelakangi kamera, foto Cla seolah tengah menceritakan jika ia adalah seorang jomblo tulen. Sejak ia lahir, sampai kini lepas dari pendidikan Senior High School.


"Buruan, Hann! Semakin lama semakin dingin, Hann!" seru Clarice dengan gemas. "Udah pas belum?"


"Iya! Iya udah!"


Hanna mengambil satu foto. Dan saat mengambil foto kedua, tiba-tiba ujung jemari tangan Clarice merasa ada yang menyentuhnya.


"Hah?" pekik Clarice.


"Harusnya seperti ini..."


Suara ini... suara yang sangat ia rindukan hampir setiap waktu. Suara yang berhasil membuat dirinya yang ketus menjadi dirinya yang selalu salah tingkah ketika bersama sang pemuda.


"Arsen..." lirihnya menoleh pada sang pemuda.


Untuk sesaat Clarice terpaku menatap pada Arsen yang justru menatap jauh ke tengah lautan. Jarak wajah yang sangat dekat, bahkan lengan keduanya bersentuhan, membuat Clarice semakin lemas tak berdaya.


"Cla! Buruan!" sembur Hanna. "Katanya dingin!" celetuk Hanna memprotes.


"Eh, iya!" jawab Clarice kembali menghadap ke depannya dengan gugup.


Bagaimana tidak gugup, ujung jarinya bersentuhan dengan ujung jari tangan kiri Arsen. Membentuk satu bentuk love dengan matahari yang terlihat kecil di tengahnya.


"Sudah! good!" teriak Hanna.


Clarice menurunkan tangannya, menjauhkan dari tangan Arsen. Karena perasaannya berubah kacau ketika berdekatan dengan Arsen.


Arsen hendak melepas hoodie yang ia kenakan, untuk kemudian di berikan pada Clarice yang Hanna bilang kedinginan. Namun belum sampai hoodie nya terlepas dari tubuh, suara seseorang membuatnya mengurungkan niatnya.


"Tidak usah repot-repot!" ucap Vino yang sudah lebih dulu memberikan jaket pada Clarice. Dna bahkan memakaikan pada pundak sang gadis jelita.


Arsen melihat itu semua, dan ia membatalkan niat untuk melepas hoodie yang sedang ia kenakan untuk Cla.


Hanna melihat bagaimana Vino terlihat perhatian dengan Clarice pagi ini. Untuk pertama kali sang gadis merasa ada yang tidak wajar dengan perlakuan Vino pada Clarice. Apalagi ia juga sempat mendengar apa yang di ucapkan pada Arsen.


Keadaan ini, kecurigaan Hanna berlangsung selama mereka di Bali. Karena setiap hari mereka bertemu. Dari pagi hingga setelah makan malam. Sehingga sangat mudah bagi Hanna untuk bisa menelisik dn mencari kebenaran.


"Sabtu depan kamu datang ke prom night dengan siapa, Sen? Shandy?" tanya Hann ketika malam terkahir mereka di Bali dan secara tidak sengaja mereka bertemu di lobby hotel setelah membeli minuman di mini market 24 jam.

__ADS_1


Dan kini keduanya duduk di salah satu kursi tamu, dengan meninggalkan teman sekamar mereka. Hanna meninggalkan Cla yang sudah tertidur. Dan Arsen meninggalkan Naufal yang juga sudah tertidur pulas.


"Aku tidak tau..." jawab Arsen menggeleng pelan kemudian menenggak minuman kaleng dengan tulisan B*nt*ng 0% Alcohol.


"Lah! kok bisa tidak tau? Tidak ajak Shandy saja, Sen?"


"Aku belum menawarinya..." jawab Arsen datar, menatap kosong ke arah dinding kaca yang menunjukkan halaman hotel yang luas dan di penuhi dengan tumbuhan dan bunga-bunga yang indah.


"Kenapa?" tanya Hanna. "Tapi kalian benar berpacaran, kan?" kejar Hanna dengan pertanyaan yang sejak awal-awal mereka terlihat sudah sangat ingin ia pertanyakan.


Arsen menaikkan sebelah ujung bibirnya. Tersenyum smirk yang susah untuk di artikan oleh Hanna yang tengah menatapnya lekat dengan penuh tanda tanya.


"Jawab, Sen!" sentak Hanna. "Dari dulu di tanya tidak pernah mau menjawab."


Tersenyum datar, Arsen berucap, "Kami memang pernah mencoba..."


"Mencoba?" tanya ulang Hanna.


"Ya..." jawab Arsen kembali menenggak minuman kaleng di tangannya.


"Lalu?"


"Gagal!" jawab Arsen.


"What!" pekik Hanna tak percaya.


"Kenapa bisa gagal?"


"Karena kami tidak cocok!"


"Tidak cocok dalam hal apa?"


"Semuanya!" jawab Arsen masih menatap kosong ke arah depan.


Tergelak, Hanna merasa konyol dengan cerita Arsen. "Berapa lama kalian mencoba?"


"Dua bulan..."


"Kapan?" tanya Hanna.


"Setelah kita pulang dari Dufan."


"Jadi sudah lama kalian putus?"


"Iya..."


"Tapi kalian terlihat masih sering bersama..."


"Hanya untuk menghargai dia, setidaknya sampai kita lulus..."


"Menghargai yang bagaimana?"


"Dia masih menyukai ku..."


"Dan kamu suka rela mau setiap hari bersikap demikian...? Bagaimana kalau ada yang menyukaimu?"


"Tidak ada cara lain..."


"Apa maksudmu?"


"Yang aku suka tidak bisa aku miliki...." jawab Arsen menoleh Hanna sekilas lalu kembali menatap pada taman hotel. "Dan lagi, aku malas di dekati oleh gadis manapun juga."


"Siapa?"


"Kamu tidak perlu tau, Han..."


"Tapi kita sama..."


"Oh ya?"


"Ya..."


Tersenyum datar. "Semoga kamu segera mendapatkan apa yang kamu inginkan, Hann... Selamat malam!" pamit Arsen beranjak dari duduknya dan meninggalkan Hanna yang masih terbengong menatap punggungnya di kursi.


***


Langkah kaki meninggalkan lobby dengan cepat tanpa menggunakan alas kaki. Kembali menuju kamarnya, sebelum teman satu kamarnya kembali setelah terlibat dalam obrolan yang menurutnya cukup menarik untuk di kuping dari jarak sekian meter.


Suasana lobby yang sepi memudahkan dirinya untuk mendengar apa yang sedang di bicarakan satu sama lain.


🪴 Bersambung ... 🪴


Next...

__ADS_1


Malam prom night.


__ADS_2