
Memutuskan untuk beristirahat setelah sesi latihan pertama, Cla dan Arsen duduk di tempat berjemur setelah berenang. Menikmati minuman dan cemilan yang di siapkan oleh pelayan, keduanya tampak santai berdua.
Hanya saja terlihat seperti teman biasa, bukan sepasang kekasih. Karena sejatinya mereka bukan lah teman lawan jenis yang bisa membuat orang berfikir jika mereka sepasang kekasih. Berbeda dengan hubungan Clarice dan Naufal.
Meski sudah berlatih mengatur nafas di dalam air, tak lantas membuat Arsen merasa tenang dan senang ketika berada di sekitaran kolam renang setinggi 175 cm itu. Meskipun hanya berdiri di tepi kolam renang.
Sejak tadi ia masih resah membayangkan betapa dalam kolam renang di depannya itu? Yaa... meskipun hanya beberapa cm lebih tinggi darinya.
Tapi tadi Clarice bisa melewati dengan mudah dan santai-santai saja. Seolah ia adalah ikan. Sementara jika itu dirinya pastilah ia akan pingsan, kemudian tenggelam, dan ... Ya, begitulah.
"Sudah, jangan di lihat dulu!" ujar Clarice yang tau maksud dari tatapan Arsen pada kolam renang itu.
Menghela nafas resah, Arsen menoleh pada Clarice yang berbaring dengan santai di pembaringan sisi meja satunya. "Bagaimana caranya kamu bisa bertahan di kedalaman yang bahkan lebih tinggi dari kamu?"
"Setelah kamu bisa menganggap air adalah sahabat mu, aku akan mengajari mu bagaimana caranya untuk tetap bisa bertahan di kedalaman. Dan bagaimana caranya bisa bertahan di kedalaman dengan kepala tetap bertahan di permukaan." jawab Clarice serius.
Arsen mengangguk pasrah. Untuk saat ini sebaiknya ia cukup mengangguk, tanpa protes. Toh ia belum tentu akan paham jika di jelaskan Cla sebelum pernah mencoba untuk masuk ke perairan dalam.
"Yang terpenting untuk saat ini adalah... hilangkan rasa trauma kamu, dan jadikan air seperti aku, teman mu yang akan mengajari kamu banyak hal!" ucap Clarice datar dan santai.
Namun apa yang di katakan oleh Clarice membuat Arsen menoleh dan menatap lekat pada sang gadis yang masih basah oleh air kolam renang. Dimana wajah Clarice benar-benar terlihat cantik natural untuk saat ini. Kulit putih bersih memancar dengan keanggunannya di luar ruangan seperti ini.
Ia tau, jika Clarice memang tidak pernah memakai riasan make up saat ke sekolah. Hanya polesan pelembab atau sun screen saja. Kemudian lip gloss berwarna bibir yang natural.
Tapi siapa sangka, walau tanpa make up sedikitpun wajah itu tetap memancarkan kecantikan yang laur biasa menghanyutkan pandangan matanya.
"Kamu menganggap aku ini teman mu?" tanya Arsen menatap Clarice dengan kedipan yang lembut. Bahkan jika bisa, mungkin melihat tanpa berkedip.
"Ha?" Cla menoleh dan menatap Arsen dengan tatapan yang tidak ia pahami. "Kalau bukan teman lalu apa?" tanya Cla bingung.
Tersenyum dengan sedikit ingin tergelak. "Selama ini kamu selalu ketus dan cuek pada ku, aku pikir kamu menganggap aku ini hanya sebatas kenalan, tapi sesungguhnya tidak ingin kamu kenal sama sekali..." jawab Arsen tersenyum miris.
Menghela nafas kasar, Clarice tau apa yang di ucapkan Arsen sedikit banyak memang ada benarnya. Ia memang selalu ketus, tapi bukan itu maksudnya.
"Bukan aku tidak mau menganggap mu sebagai teman ku atau sahabat ku seperti Naufal. Sesungguhnya sejak awal aku memang tidak suka dengan mu. Bukan karena 100% apa adanya dirimu. Tapi karena kamu yang terlalu banyak fans saat di sekolah." jawab Clarice jujur.
"Apalagi saat di arena balap. Banyak sekali gadis yang ingin mendekati kamu. Dan aku tidak suka berteman ataupun dekat dengan lelaki yang dengan mudah bergaul atau berbaik hati dengan gadis-gadis di luar sana." jawab Clarice jujur.
"Kenapa?" tanya Arsen dengan nada serius juga. "Takut cemburu?" tanya Arsen membuat Cla mengerutkan keningnya.
"Cemburu?" tanya Clarice tidak paham. "Apa hubungannya?"
"Yaa... bisa saja kan kamu cemburu kalau aku punya banyak teman perempuan?"
"Cih!" Cla berdecih kesal. "Siapa yang cemburu?" tanya Clarice tidak terima. Menatap Arsen dengan tatapan jengkel.
"Kamu tau sendiri kan? bagaiman jika berteman atau bersahabat dengan mu yang punya banyak fans?" tanya Cla. "Kamu posting satu foto saja, itu sudah menjadi masalah besar untukku!" ucap Cla dengan nada memprotes yang menggebu.
"Iyaa..iya... aku tau dan aku minta maaf atas masalah kemarin..." jawab Arsen penuh penyesalan.
Namun Cla tidak menjawab secara langsung, meski dalam hati ia sudah tidak peduli lagi. Toh, nasi sudah menjadi bubur. Marah pada Arsen juga percuma. Ia hanya tidak tu haus menjawab seperti apa supaya tidak terlihat lebay.
"Kenapa kamu tidak punya pikiran untuk membuat mereka justru semakin panas?" tanya Arsen.
"Maksudnya?" tanya Cla menoleh pada Arsen dengan tatapan semakin bingung.
__ADS_1
"Ya... tunjukkan saja kalau kita dekat! aku akan selalu membela mu di mana pun kamu berada jika ada yang mencari masalah dengan mu seperti Zuria kemarin!" jawab Arsen memberi usul.
"Lalu aku akan masuk ruang BK berulang kali! Aku 2 hari skors dan kamu hanya 1 hari skors seperti masalah bersama Zuria kemarin!" sahut Clarice cepat karena tak ingin jatuh di lubang yang sama. "Hahaha!" gelak nya sumbang dan miris. "Aku tidak mau lagi berurusan dengan yang namanya guru BK, hanya karena masalah yang bermula dari kamu, Arsenio Wilson!" lanjut Clarice dengan sedikit semburan kesal.
"Hahaha!"
Bukannya marah karena selalu saja di jawab dengan kata-kata pedas oleh Cla, Arsen justru tertawa lantang. Bagi Arsen cerewetnya Clarice itu sangat lucu dan menggemaskan. Dan itu juga yang membuatnya selalu merindu.
"Soal yang kemarin itu karena aku tidak tau asal muasalnya. Aku hanya merasa Zuria hanyalah anak teman Papa ku, aku juga tidak pernah bersikap berlebihan padanya. Dia saja yang besar kepala!"
"Apapun itu, apapun hubungan kalian, yang jelas aku tidak mau lagi masuk ruang BK karena berurusan dengan kamu dan fans mu di sekolah!" jawab Cla tanpa menoleh Arsen.
"Jadi kalau di rumah seperti ini kamu mau berurusan dengan ku, kan?" tanya Arsen. "toh teman-teman tidak akan ada yang tau aku datang ke rumah kamu..."
Deg!
Pertanyaan Arsen benar-benar sebuah jebakan untuk Clarice. Ia lupa, benar-benar lupa jika saat ini saja mereka sedang berada di rumah. Dan baru saja melatih Arsen untuk menghilangkan traumanya. Dan usahanya itu tida sia-sia.
' ARSEEEENN! '
Jerit Clarice di dalam hati. Ingin sekali ia menjerit tepat di telinga sang pemuda. Pertanyaan ini sungguh menjebak dirinya sampai lubang telinga terdalam.
"Mau atau tidak?" tanya Arsen memastikan. "Ingat! kamu sudah berjanji untuk membantuku menghilangkan trauma ku!" ujar Arsen tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berdua bersama sang gadis. Dan bantuan yang di tawarkan Clarice ternyata bisa ia jadikan senjata terbaiknya.
Menghela nafas berat, Clarice mau tak mau harus menepati kesepakatan. "Ya, hanya untuk menghilangkan trauma. Itupun di rumah ku! Aku tidak mau ke rumah mu, ataupun mengajari mu di waterpark. Aku juga tidak mau mengajari mu selain di kolam renang ini."
"Baiklah!" jawab Arsen. "Yang penting kamu mau mengajariku!" jawab Arsen.
"Hmm..." jawab Cla datar.
"Cla?" panggil Arsen dengan suara yang sendu.
"Aku beri saran terakhir!"
"Apa?"
"Kalau kita berpacaran, tidak akan ada yang berani yang mengganggu kita lagi!" ucap Arsen tiba-tiba, mencoba untuk mencari peruntungan.
"BRRPPP!!" pekik Clarice menyemburkan sedikit isi dalam mulutnya. "Apa maksud mu?" sembur Clarice pada Arsen dengan menatap sang pemuda dengan tatapan singa lapar.
"Ya, kita benar-benar berpacaran. Jadi kita bebas mau posting foto berdua sekalipun! Itu hanya saran saja... Kalau kamu tidak setuju juga tidak masalah!" jawab Arsen tanpa rasa bersalah. "Kita bisa pakai cara lain." lanjutnya salah tingkah karena idenya di tolak mentah-mentah.
"Mau memberi saran silahkan saja! Tapi tidak dengan berpacaran juga kali!" seru Clarice emosi.
"Hahahaha! Aku kan hanya memberi saran, Cla... Kalau tidak suka ya sudah..." jawab Arsen terkekeh dengan idenya yang sejak awal sudah bisa di duga jika akan di tolak mentah-mentah oleh sang gadis.
Inilah Clarice yang sesungguhnya di mata Arsen. Selalu berkata ketus dan memarahi dirinya seenak jidat sang gadis. Tapi tak sedikitpun ia sakit hati, jika yang bersikap demikian adalah Cla. Karena ia menganggap itu adalah cara Cla untuk berjual mahal, menjaga diri dari lelaki yang di anggap brengsek. Supaya tidak pula di anggap murahan seperti Zuria kemarin.
Clarice menyebikkan bibirnya. "Saran mu benar-benar tidak berkelas! Aku tidak mau mengkhianati Mommy dan Daddy, juga Papa ku! Ingat itu!"
Menghela nafas panjang, mengakhiri gelak tawanya. "Kamu memang anak yang sangat penurut, Cla."
"Kalaupun kamu ingin menjadikan seorang gadis sebagai kekasih mu, tidak seperti itu caranya, bocah tengil!"
"Iya...iya... aku tau..." jawabnya terkekeh sejak tadi dapat amukan seorang Clarice.
__ADS_1
"Mau berlatih lagi atau tidak?" tanya Cla mengalihkan pembicaraan. Ia malas sekali jika sampai mendengar saran-saran asal yang keluar dari bibir pemuda satu ini.
"Ya, tentu saja!" sahut Arsen.
"Di kedalaman 150 cm!" ujar Cla sembari beranjak dari tempatnya berbaring.
"HAH!!" pekik Arsen. "Jangan gila ya, Cla!" hentak Arsen.
"Kita harus mencoba sesuatu yang baru, Sen..." jawab Clarice berdiri di hadapan Arsen dengan seringai yang tidak jelas.
"Sesuatu yang baru apanya?" tanya mendongak menatap Cla dengan tatapan tak percaya. "Bilang saja, kamu ingin membunuhku secara perlahan, hah?" tanya Arsen.
"Hai, jangan berburuk sangka! Sudah ayo!" ajak Clarice menepuk-nepuk pundak Arsen supaya lekas beranjak dari posisinya yang masih duduk di pembaringan.
"Tidak! Aku tidak mau kalau di kedalaman 150 cm!" jawab Arsen. "Di 1 meter, titik!"
Menarik nafas panjang dan menghelanya pelan, Cla berucap sambil membelakangi Arsen. "Ya, baiklah anak manja! kita berenang di kedalaman anak-anak..." ucap Cla dengan sedikit mencibir.
Arsen berdiri dari duduknya, namun ada ekspresi yang sulit untuk di tebak oleh siapa saja yang melihatnya, termasuk Clarice sendiri.
Arsen menatap lekat wajah Cla sejak ia memutuskan untuk berdiri. Kini keduanya berdiri dengan Cla yang menghadap ke arah kolam, sedang Arsen menghadap ke arah Clarice. Berdiri tepat di sisi kiri sang gadis. Arsen tak bergerak, ia hanya diam dan membeku menatap Cla, dengan jarak lengan Cla dan dada Arsen yang hanya 5 cm saja.
Namun sepasang mata Arsen memancarkan sesuatu yang membuat Cla merasa ada yang tidak beres dengan Arsen. Namun Cla tak berani menoleh ke sisi kiri, meski ia yakin mata Arsen mengarah pada dirinya yang berubah menjadi patung dan salah tingkah ini.
Arsen menunduk sedikit, karena ia memang lebih tinggi di banding Clarice. Deru nafas Arsen terdengar oleh pendengaran Clarice. Ketika karbondioksida keluar dari hidung sang pemuda, terasa lah di daun telinga Clarice dan kulit pipi bagian belakang, juga setengah lehernya yang tidak tertutup baju renang.
Dan itu membuat tubuh Clarice merinding tidak karuan. Aliran darah di dalam tubuhnya terasa sangat aneh hingga mengganggu pernafasan dan detak jantungnya. Dada mulai bereaksi dengan kembang kempis. Namun sungguh ia tak ingin terlihat gugup di hadapan sang pemuda.
Bibir Arsen mulai bergerak semakin dekat dengan sisi kiri kepala Clarice, kemudian terbuka secara perlahan seolah ingin berucap sesuatu.
Satu yang di tunggu Cla, sebenarnya apa mau Arsen bertingkah seperti ini. Sampai ia ragu untuk menoleh ke sisi kiri. Takut terjadi hal-hal seperti di drama korea yang sering ia tonton bersama Felia.
Di mana jika ia menoleh ke sisi kiri di saat posisi sang pemuda sedekat itu, maka yang terjadi adalah mereka berciuman secara tidak sengaja, namun menimbulkan sesuatu tumbuh di hati mereka.
' Oh no!!! Aku dak mau itu terjadi! '
Pekik Clarice di dalam hati. Namun ia sungguh tak sabar menunggu apa yang akan di lakukan Arsen dengan jarak sedekat ini.
Menarik nafas panjang, Arsen kemudian menghelanya dengan sengaja di dekat telinga Clarice yang detak jantungnya sudah tidak karuan. Dengan sangat dekat Arsen berbisik di telinga Clarice yang hanya berjarak 3 cm saja dari bibirnya.
"Jangan pernah memanggilku anak manja.... Jika kamu tidak mau aku panggil dengan panggilan Sayang di depan teman-teman satu sekolah, Brighta Clarice Agasta!" desis Arsen sangat lirih namun sangat mengintimidasi Clarice yang membeku mendengar suara Arsen.
"Dengarkan itu baik-baik... Sayaang..." bisik Arsen sembari membalikkan badan dan melangkah menuju kolam renang yang kedalamannya hanya 1 meter saja.
Ucapan Arsen, dan panggilan Arsen di akhir kalimat membuat tubuh Clarice semakin membeku. Baru kali ini ada pemuda yang berani memanggilnya Sayang. Meski itu terdengar seperti sebuah ancaman yang mengintimidasi.
Clarice menoleh ke sisi kiri dengan perlahan, menatap punggung Arsen yang semakin menjauh. Di benar-benar di buat mati kutu oleh aksi Arsen yang entah bagaimana bisa membuat tubuhnya jadi seperti ini. Merinding tidak karuan.
' Arseen.... '
Lirih Clarice tidak jelas di dalam hatinya, melihat setiap gerak gerik Arsen.
Arsen menurunkan kakinya ke dalam kolam, tanpa melihat Clarice lagi. Ia sengaja untuk tidak menoleh pada gadis yang ia yakini tengah salah tingkah akibat apa yang ia lakukan.
Meski dalam hati ia mengakui, jika sebenarnya ia sangat gugup saat melakukan hal itu pada Clarice. Dan lagi, baru kali ini ia mengintimidasi seorang gadis dengan cara demikian. Walaupun sebelum ini, ia sudah pernah memiliki kekasih saat di Bandung.
__ADS_1
Tapi masa itu adalah masa ABG yang ia anggap hanya karena iseng dan cinta monyet semata.
...🪴 Bersambung ... 🪴...