
Memasuki gedung sekolah yang megah, empat orang tua itu berjalan beriringan dengan pasangan masing-masing. Kenzo dan Calina berjalan di depan. Sedang Rania dan Nathan berjalan di belakangnya.
Tujuan mereka sama, yaitu karena di panggil oleh pihak sekolah, untuk satu kasus yang menyangkut anak-anak mereka. Sekaligus mereka ingin tau, awal mula masalah yang menjerumuskan mereka ke dalam perselisihan di area kantin, dan berakhir di ruang BK.
Ruangan yang sesungguhnya sangat di hindari oleh Clarice dan anak-anak introvert lainnya.
"Di mana ruang BK?" tanya Kenzo dingin pada seorang petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai.
"Lewat jalan sana, Tuan!" jawabnya. "Setelah melewati lorong, bisa belok kiri, tepat sebelah ruang administrasi."
"Hem.." jawab kenzo datar lagi.
Dan empat orang itupun memasuki lorong seluas 2 meter yang menghubungkan antara gedung sekolah dengan gedung kantor sekolah.
Dada Kenzo sungguh bergemuruh, ingin segera melihat kondisi sang anak gadis. Sekaligus ingin segera melihat secara langsung seperti apa wajah pem-bully istri dan anaknya.
Sepanjang jalannya menuju ruang BK, tangan Kenzo sibuk dengan ponsel nya. Ada sesuatu yang harus ia gali dari sang Asisten pribadi yang sudah belasan tahun bekerja untuknya.
Sampai akhirnya Calina melihat papan kecil bertuliskan RUANG BK.
"Itu ruang BK!" ujar Mommy Calina.
Dan tiga orang lainnya mengikuti langkah Calina termasuk Kenzo yang langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Calina menggandeng tangan sang suami, melintasi jendela kaca yang bisa memperlihatkan setengah ruangan di dalam sana. Dan dari jendela itu, dua pasang orang tua itu bisa melihat dengan jelas, jika anak-anak mereka duduk bersanding bersama Kakak kelas yang di incar oleh Kenzo.
Mereka bertiga tampak menunduk dan sesekali melirik satu sama lain. Seolah saling ancam dalam diam, juga saling serang kalimat di dalam hati.
Daddy Kenzo dapat melihat jelas jika sang putri sesekali melirik jengah pada Zuria yang juga melirik kesal pada Clarice. Apapun alasan perselisihan ini, Daddy Kenzo pasti akan tetap membela sang putri sulung.
Tidak ada yang boleh menyakiti anak gadisnya! pikir sang CEO.
' Jadi itu yang namanya Zuria anaknya Afrizal? sudah merasa menjadi ratu, hah? '
Gumam sang Daddy dalam hati dengan sangat jengah.
' Rupanya Arsen memang cukup tampan! tapi aku tetap tidak yakin, kalau putri ku memperebutkan bocah tengil itu! '
Daddy Kenzo melirik ke dalam ruang BK. Mengakui dalam hati jika Arsen memang cukup tampan. Dan jika melihat dari siapa orang tuanya, Kenzo pun mengakui jika Arsen memang pantas untuk di perebutkan para gadis seusianya.
Sedikit banyak, Kenzo pun pernah mendengar nama belakang Wilson. Dimana mereka bergerak di bidang batu bara dan minyak Bumi. Hanya saja Kenzo tak pernah mengenal sosoknya secara langsung.
Dan jika melihat dari Rania sendiri, Kenzo sangat mengenal Rania. Rania berasal dari keluarga kaya raya yang memiliki pabrik minyak goreng terkemuka. Meski Rania tidak terjun ke dalam dunia bisnis secara langsung. Karena sebelum ini, Rania adalah seorang model yang sudah sering berseliweran di dalam event besar bahkan dunia.
Dan Kenzo tau, pertemuan Janne dengan Rania di Amerika juga pasti berurusan dengan pekerjaan mereka, yang menggeluti dunia desain dan modeling.
Seperti halnya Kenzo, begitu juga dengan yang lain. Mereka semua langsung menoleh ke dalam ruang BK. Dan memperhatikan anak masing-masing.
Calina berucap dalam hati, semoga tidak ada hukuman yang berat untuk sang putri. Biarlah setelah ini ia saja menghukum Clarice, jika memang Clarice benar melakukan kesalahan. Dan menasehati dari hati ke hati.
Sedangkan Nathan melihat anak bungsunya seperti melihat dirinya puluhan tahun yang lalu. Ketika ia duduk di sofa dan di ruangan yang julukannya sama, RUANG BK.
Jika Arsen baru kali ini masuk ke dalam ruangan itu, maka dulu dirinya bisa di katakan keluar masuk ruang BK. Sampai sang Ayah merasa bosan menerima panggilan dari sekolah.
Namun keluar masuk BK di masa sekolah dulu tidak menurun pada Arsen. Melainkan pada sang sulung yang kini menjadi seorang pembalap nasional.
Meski tidak terlalu terkenal di negeri sendiri, namun sang sulung sering beradu di arena balap di luar negeri di usia yang baru memasuki dua puluh tahun.
Dan sebagai orang tua, kini ia menyadari... Tidak harus menjadi juara kelas untuk bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang pembalap. Dan tidak harus juara kelas untuk bisa menjadi penerus perusahaan seperti dirinya.
__ADS_1
Karena usia sekolah memang masih di dominasi dengan dunia main-main. Kehidupan yang sesungguhnya, akan mereka pelajari setelah mereka lewat usia 20 tahun. Ketika sudah menyadari bahwa hidup tidak hanya untuk main-main.
Maka saat ini, Nathan mempersiapkan dirinya untuk kembali berhadapan dengan guru BK putranya. Tanpa harus membuat sang putra memberontak atau bahkan malu dengan jati dirinya yang sudah ia bangun sebagai anak remaja dengan darah muda yang berapi-api.
' Ternyata Afrizal belum datang... '
Gumam sang pengusaha batu bara dalam hati.
' Apa yang akan di lakukan Kenzo pada Afrizal nanti? '
' Aku dengar pemimpin Adhitama Group bukanlah orang yang mudah untuk di kalahkan... '
Sementara untuk Rania, wanita itu menggelengkan kepalanya melihat sang putra duduk di antara dua gadis yang sama cantiknya. Bedanya sudah cukup lama ia mengenal Zuria, dan yang satu lagi baru pertama kali ia melihat. Meskipun ternyata anak teman sekolahnya dahulu.
' Clarice ternyata memang cantik... Sangat mirip dengan Ibunya. Dan benar kata Janne, anak sambung Kenzo memiliki garis wajah Kenzo yang entah berasal dari mana. '
Gumam sang mantan model.
Daddy Kenzo dan Mommy Calina yang pertama kali mengetuk pintu ruang BK yang tertutup, karena memang ruangan ber-AC jadi harus tetap tertutup.
Mr. Faiz berdiri untuk membuka pintu, dan tentu saja Mr. Faiz menyambut hangat kedatangan para konglomerat Ibukota.
"Selamat siang, Sir..." sapa Calina.
"Selamat siang, Tuan Kenzo dan Nyonya Kenzo... silahkan masuk!" ucap Mr. Faiz menyambut orang tua Clarice.
"Selamat siang, Mr.!" sapa Papa Nathan pada sang guru olah raga.
"Selamat siang, Tuan Jonathan dan Nyonya Jonathan! Silahkan masuk!" ucap Mr. Faiz menyambut orang tua Arsen yang berada di belakang Kenzo dan Calina.
Tiga remaja yang sedang di sidang di ruang BK, sontak menoleh ke arah pintu, begitu mendengar pintu di ketuk dari luar. Sudah bisa menduga, pasti yang datang adalah orang tua dari mereka.
"Daddy!!!" seru Clarice langsung berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah pintu untuk memeluk sang Ayah sambung. "Daddy, maafkan Cla! Cla terpaksa menyiram muka anak itu!" ucap Clarice memeluk lengan sang Ayah sambung dengan manja dan sedikit rengekan. Tanpa peduli jika bajunya yang kotor oleh spaghetti mengenai celana sang Daddy.
"Dia mengatai Mommy wanita murahan! dan juga menganggap Cla menggoda anak itu!" Cla menunjuk Arsen sontak menghela nafas panjang. "Daddy harus percaya kalau Cla tidak pernah menggoda lelaki manapun!" tegas Cla. "Dan Mommy bukanlah wanita murahan!" tegas Clarice menatap tajam pada Zuria yang hanya menunduk.
Melepas lengannya yang di peluk sang putri, Kenzo kini beralih untuk memeluk sang putri. Mengusap lengan sang anak gadis, agar emosinya lebih terkendali. Tanpa peduli jas mahalnya terkena kotoran bekas spaghetti yang sedikit mengering di baju Clarice.
"Please, jangan marahi Clarice!" rengek Clarice memeluk sang Ayah lebih erat. Seolah menunjukkan pada si pem-bully jika dirinya adalah anak tiri yang di sayangi. Dan tidak untuk di ejek dengan berbagai intonasi yang tidak menyenangkan.
"Mana mungkin Daddy memarahi mu, my baby girl..." jawab Daddy Kenzo mencium puncak kepala putrinya. Rambut hitam yang di biarkan tergerai itu di belai lembut oleh sang Ayah sambung.
Semua orang tau, jika Clarice adalah anak sambung Tuan Kenzo Adhitama, CEO sekaligus pewaris utama Adhitama Group. Perusahaan yang kekuasaannya tidak main-main. Sahamnya tersebar di mana-mana tanpa banyak orang tau.
Jika Naufal pernah bilang orang tua Arsen memiliki private jet. Maka keluarga ini pun tak kalah dari keluarga Arsen. Daddy Kenzo pun sudah memiliki kuda terbang itu sejak sepuluh tahun terakhir. Murni milik sang Daddy, bukan milik Opa Adhitama. Karena beliau tentu punya sendiri.
Untuk itu Clarice tampak biasa saja ketika mendengar cerita Naufal tentang latar belakang keluarga seorang Arsenio Wilson. Karena ia sudah terbiasa dengan kemewahan semacam itu sejak ia bayi. Dan semua itu tentu dari sang Daddy sambung yang sudah merawatnya sejak di dalam kandungan.
Dan ketika melihat orang dengan kekuasaan yang tidak main-main memperlakukan anak sambung sedemikian sayang dan hangat, apa yang bisa di lakukan oleh orang-orang seperti Zuria. Contoh orang-orang yang menganggap jika Clarice hanyalah sekedar anak tiri. Anak tiri yang sudah pasti di perlakukan berbeda oleh Ayah maupun Ibu tirinya.
Kini semua tau, seperti apa sosok Daddy Kenzo Adhitama secara nyata. Di hadapan semua orang, beliau menunjukkan kasih yang luar biasa kepada putri sambungnya.
"Daddy justru akan membuat orang-orang yang menghina kamu dan Mommy bersujud di kaki mu, Sayang!" desis Daddy Kenzo dengan sangat lantang. Menatap tajam pada bocah 17 tahun yang baru saja menoleh dan menatap ngeri pada dirinya. Dan membuang muka setelahnya.
Namun gadis 17 tahun dengan bet lengan warna kuning itu seketika menunduk dengan jantung yang berdebar hebat. Nafasnya bahkan tidak beraturan. Selain ia takut di minta untuk bersujud di kaki Cla, ia juga takut akan kemurkaan kedua orang tuanya.
Sedikit banyak ia tau tentang siapa Kenzo Adhitama. Siapa keluarga Adhitama. Ia juga tau, setinggi apa kantor pusat Adhitama Group. Dan ia juga tau, jika Adhitama Group memiliki saham di ARL Ekspress. Perusahaan ekspedisi yang di dirikan oleh sang Ayah.
Ia mulai sadar, jika ia bisa akan dengan mudah di tendang dari sekolah International itu jika sampai sang Ayah tidak bisa berbuat apapun lagi untuk menyelamatkan dirinya, dan juga harga diri yang mau tak mau harus di pertaruhkan hari ini.
__ADS_1
Selain malu untuk bersujud di kaki Clarice, gadis itu tentu juga karena malu jika harus di keluarkan dari sekolah akibat kasus yang di dasari rasa cemburu ala anak remaja.
' Mommy... Daddy... kenapa kalian tak kunjung datang? Mereka semua akan segera menyerang ku jika kalian tidak kunjung datang... '
Rintih Zuria di dalam hati. Ia meremas jemarinya dengan kuat. Tangannya benar-benar gemetar. Arsen dan Clarice sudah di datangi oleh orang tua mereka. Tapi orang tuanya tak kunjung datang.
Jika Zuria terbelalak mendengar kalimat yang keluar dari bibir Daddy Kenzo dengan jantung yang berdebar kencang. Maka Mommy Calina mendelik ketika mendengar Daddy kenzo berucap demikian.
Haruskah sampai bersujud sungguhan? Bukankah hanya Tuhan yang boleh di sembah?
Manusia hanyalah serpihan debu yang dosa-dosa nya bagaikan kumpulan debu. Sangat tidak pantas untuk di sembah.
Dan lagi, tidak ada manusia yang sempurna di muka Bumi ini.
Sedikit banyak itulah yang ada di dalam benak Mommy Calina. Ketika mendengar kalimat suaminya, ia langsung menyentuh punggung sang suami. Seolah berkata, jangan sembarangan dalam berucap.
Namun Kenzo adalah Kenzo. Pria yang sudah sejak muda selalu bersikap dingin dan tegas pada siapapun juga yang mengusik hidupnya.
Clarice menyeringai penuh kemenangan dengan melirik Zuria sembari merebahkan kepalanya di dada bidang sang Ayah sambung, salah satu lelaki yang menjadi cinta pertamanya selain Papa Zio. Bahkan jauh lebih dekat dari Papa Zio.
Inilah yang menjadi alasan dirinya langsung menghampiri sang Ayah sambung dan mengadukan apapun yang sedang ia hadapi dengan manja tanpa ragu. Ia sangat mengenal Daddy Kenzo, lelaki yang tidak akan pernah marah padanya.
Bukan berarti Papa Zio sering marah padanya. Tapi yang di bandingkan oleh Clarice adalah Daddy Kenzo dan Mommy Calina.
Jika tadi yang ia hampiri pertama kali adalah Mommy Calina, maka kalimat pertama yang di dapat Clarice pastilah bukan dukungan ataupun pembelaan. Melainkan ceramah sepanjang jalan kenangan. Bukan berarti pula Mommy Calina itu cerewet.
Clarice hanya mencari perlindungan dari yang satu frekuensi dengan dirinya saat ini. Toh ia berada di jalan yang tidak salah. Ia hanya ingin membela sang Ibu dengan cara yang ia bisa.
Sementara itu, Arsen yang merasa bersalah karena membuat orang tuanya datang ke sekolah dan meninggalkan segala kesibukan Papanya di kantor, hanya bisa menunduk dalam. Benar-benar takut melihat mata orang tuanya sendiri.
Orang tuanya itu selalu memiliki cara yang unik ketika marah dengan nya. Tidak banyak bicara, namun tiba-tiba ATM terblokir, dan tak mau di ajak bicara sampai ia menemukan cara dan kalimat yang tepat untuk meminta maaf pada kedua orang tuanya. Dan barulah ATM miliknya aktif kembali. Dan dunianya kembali terasa indah. Karena segala sesuatu butuh uang.
"Silahkan duduk, Tuan, Nyonya.." ucap Mr. Faiz mempersilahkan tamu panggilannya duduk di sofa yang tersedia.
Ruang BK memiliki 4 buah sofa panjang, dan dua sofa single. Sehingga masih banyak tempat kosong yang bisa mereka gunakan untuk duduk.
"Duduk dengan Daddy saja..." ucap Kenzo mengajak sang putri untuk duduk.
Dan ia memposisikan Clarice untuk di duduk di tengah-tengah antara dirinya dan sang istri di sofa yang sengaja ia pilih tepat di depan Zuria yang duduk dengan tegang.
Sementara Rania menarik tangan putranya untuk duduk bersamanya di sofa yang berbeda. Dan Arsen pun hanya bisa menunduk di antara kedua orang tuanya.
"Maafkan Arsen, Pa.. Ma.." ucap Arsen masih menunduk. "Papa sampai harus meninggalkan pekerjaan penting di hari senin..." lirihnya.
"It's okay... Karena Papa memang perlu mendapat penjelasan terlebih dahulu dari sini..." jawab sang Papa.
Arsen hanya bisa menghela nafas panjang.
Sementara Kenzo, Daddy tiga anak itu kini menatap Zuria dengan tatapan mengintimidasi sambil sesekali melihat ponsel untuk membuka pesan-pesan chat yang ia dapat dari Venom, sang Asisten kepercayaan.
Tok tok tok!
Pintu yang di ketuk, membuat Mr. Faiz kembali membuka pintu.
"Selamat siang! Maaf kami terlambat!" suara laki-laki terdengar dari arah pintu. Membuat semua yang ada di dalam menoleh ke arah yang sama.
Inilah satu-satunya manusia yang sedang di tunggu oleh Daddy Kenzo. Seorang pria berusia sekitar 55 tahun, berdiri di ambang pintu bersama seorang wanita berusia sekitar 52 tahun.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1