Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 153 ( Tiga Pemuda Idaman )


__ADS_3

Jam dinding menunjukkan pukul 12.15 WIB, jam istirahat Alexander International School sudah berlangsung sejak 15 menit yang lalu. Dan tersisa 15 menit lagi.


Arsen, Hanna dan Naufal duduk bertiga di meja kantin. Hanna duduk sendirian, sedangkan Arsen dan Naufal duduk berdampingan di depan Hanna.


Selesai dengan makan siang masing-masing, Arsen memberi ide untuk melakukan video call dengan Clarice, dan mengajak Naufal dan Hanna untuk main ke rumah Clarice. Dengan dalih belajar bersama. Lebih tepatnya untuk membahas masalah materi yang di ajarkan hari ini yang terlewat oleh Clarice.


Arsen sengaja meminta agar Hanna saja yang menghubungi, karena khawatir jika melalui ponselnya akan di tolak oleh sang gadis. Namun ketika berhasil tersambung, maka Arsen lah yang lebih menguasai ponsel Hanna.


Setelah berhasil mendapat ijin oleh Cla untuk datang, kini ketiganya mencari dan berhasil menemukan Vino yang berjalan sendirian menuruni tangga. Tampaknya sang pemuda baru kembali dari menghampiri Neha di depan kelasnya.


"Vin!" sapa Naufal dengan gestur memanggil sang atlit.


"Ada apa, Fal?" tanya Vino yang kini sudah berjalan sejajar.


"Ikut ke rumah Clarice, yok?" ajak Hanna.


"Untuk apa?" tanya Vino.


"Sepertinya akan seru kalau hari ini kita belajar bersama." jawab Naufal.


"Iya, Vin! ayok ikut!" sahut Arsen. "Belajar sambil bermain!"


"Kayak anak TK aja kamu!" ujar Hanna.


"Tapi..." Vino tampak berfikir keras dengan ajakan ini.


Ikut atau tidak? Jika ikut, itu artinya dia akan mendatangi rumah teman sekaligus rumah bos Ayahnya. Sopan, kah? Boleh, kah?


"Aku tidak enak kalau main ke rumah Clarice..." jawab Vino.


"Kenapa?" tanya Arsen.


Menghela nafas panjang, Vino menatap mata teman-temannya satu persatu-persatu. "Kalian tau, Papa ku adalah manager di perusahaan milik Daddy nya Clarice." jawab Vino ragu.


"Lalu?" tanya Naufal tak paham.


"Aku tidak enak saja main ke rumah beliau, bos nya Papa." jawab Arsen.


"Memangnya kamu pernah melihat Clarice membeda-bedakan teman?" tanya Arsen penasaran.


"Tidak, sih.... Tapi aku hanya tidak enak saja..."


"Papa nya Clarice saja GM di sana. Lagi pula Cla berteman tanpa memandang bulu. Aku sudah mengenalnya sejak tiga tahun lebih!" jawab Naufal.


"Kalau dia pilih-pilih, dia tidak akan mau berteman dengan ku!" sahut Hanna.


"Aku tau itu..." gumam Vino.


"Jadi ikut, ya?" tanya Hanna. "Kapan lagi kita pulang sekolah lebih awal..." rayu Hanna yang sudah merindukan teman kaya rayanya itu.


"Ya, sudah lah. Aku ikut!" jawab Vino setelah berfikir sesaat.


"Good!" ucap Naufal menepuk pundak Vino dengan sedikit keras.


***


Sementara yang terjadi pada Clarice setelah mendengar kabar jika teman-temannya akan datang tadi, ia segera kembali turun dan masuk ke kamarnya. Setelah melempar ponsel ke atas tempat tidur, Cla langsung membuka pintu lemari empat pintu besarnya dengan lebar.


Mencari baju yang tepat untuk menyambut kedatangan teman-temannya. Lebih tepatnya antisipasi jika seandainya Vino benar-benar akan ikut datang.


Beberapa menit telah berlalu, lima set baju sudah terdampar di atas tempat tidurnya. Namun ia belum menemukan baju yang sesuai dengan seleranya untuk menyambut teman-teman.


Eh, bukan! Tapi... Malvino Lubis.


Jika Hanna dan Naufal yang datang, ia sudah terbiasa dengan baju yang biasa ia gunakan sehari-hari. Jika Arsen, pemuda itu baru kemarin datang ke rumahnya. Dan pada saat itu ia sedang berpakaian ala kadarnya. Jadi tidak perlu lagi terlihat WOW di depan Arsen.


Lebih tepatnya tidak peduli juga dengan sang pemuda. Toh, dalam keadaan basah kuyup saja sudah tau sama lain. Meskipun itu mungkin hanya alibi sang gadis.


"Oh my God, kenapa kehadiran satu orang saja bikin pusing begini?" gerutunya kesal.


Ia sedang menghadap cermin yang memenuhi empat pintu almari. Mengenakan baju rumahan yang sedikit rapi. Berupa dress jeans overall dengan model rok selutut. Kemudian sebuah kaos ketat berwarna kuning melekat di tubuhnya.


Baju model yang umum itu terlihat sangat cantik di tubuh Clarice, karena memang memiliki brand yang tidak umum digunakan oleh kaum menengah ke bawah seperti ini. Tapi sang gadis seperti kurang puas dengan apa yang sudah melekat di tubuhnya.


Ia kembali mengoyak seisi almari besarnya. Menemukan baju yang lebih bagus untuknya. Sampai akhirnya ia menemukan rok ala Korean style di atas lutut, dengan lipatan yang memutar, dengan motif kotak-kotak bergaris dengan warna biru muda dan putih yang bersusun rapi.

__ADS_1


Setelah merasa rok ini cocok untuknya, ia segera mencari atasannya yang berbentuk seperti jaket hoodie, dengan lengan panjang. Bedanya baju Cla berbahan lebih tipis di banding hoodie pada umumnya.


"Baiklah! mari kita coba!" gumam Clarice kembali mengganti bajunya dengan model yang baru saja ia ambil.


Beberapa menit berselang, ia sudah kembali di depan cermin dengan baju yang baru saja ia pilih. Namun lagi-lagi sang gadis merasa tidak puas. Mencibir rok yang tidak jauh berbeda dengan rok sekolah, meski berbeda model, warna dan motif.


Ia kembali membuka lemari besarnya. Menggeser pintu almari dengan dinding kaca yang memenuhi. Belum sempat ia menemukan baju yang menurutnya pas dari sekian ratus baju yang terpajang dan tersusun, pintu kamar sudah di ketuk oleh seseorang.


Cepat-cepat Clarice mendekati pintu dan membukanya. "Ada apa, Mbak?" tanya Cla pada seseorang dengan baju pelayan berusia sekitar 23 tahun.


"Ada teman-teman Mbak Clarice di bawah..." lapornya.


"What!" pekik Clarice. "Mereka sudah datang?" seru Clarice.


"Ya, Mbak Cla..." jawab sang pelayan.


"Berapa orang?" tanya Clarice dengan mata terbuka lebar.


"Empat, Mbak Cla." jawab sang pelayan.


Menghela nafas gugup, Cla berucap dalam hati, benar dia jadi ikut!


"Ya sudahlah... Tolong Mbak siapin minuman dan makanan apa saja untuk mereka, ya? dan bawa ke rooftop saja! Aku akan segera turun." jawab Clarice tergopoh-gopoh.


"Baik, Mbak Cla..." jawab sang pelayan muda.


Jrett!


"Cepat sekali mereka datangnya!" gerutu Clarice sembari menutup pintu kamarnya dengan sedikit menghentak.


Clarice menoleh jam dinding, yang menunjukkan pukul 13.15 WIB. "Pulang jam berapa sebenarnya mereka? Jam segini sudah ada di sini!" gerutunya mendekati meja rias.


Sudah tidak ada waktu lagi untuk dirinya memilih baju yang menurutnya cocok di gunakan. Mau tak mau, siap tak siap, cocok tak cocok akhirnya baju yang sedang ia kenakan yang di gunakan untuk menyambut teman-teman.


"Semoga Vino tidak mempermasalahkan baju apa yang aku kenakan!" gerutunya di depan cermin sembari menyisir rambut hitamnya yang panjang dan bergelombang di ujung.


Namun detik berikutnya, gadis cantik itu tertawa miris. "Kamu terlalu percaya diri, Cla!" gumamnya. "Padahal dia tidak pernah tertarik untuk melihat dirimu mau pakai baju apa, mau seperti apa!" gumamnya sembari mengembalikan sisir di meja riasnya.


Menghela nafas kasar, Cla melihat dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki melalui pantulan cermin yang ada di depannya.


Menuruni tangga menggunakan lift, Clarice di landa kegugupan yang luar biasa. Untuk pertama kali pemuda yang ia idolakan di sekolah muncul di rumahnya. Jantung berdetak bagai genderang perang yang di tabuh untuk bersiap bertempur.


Cla melihat ruang tengah yang biasa yang ia gunakan bersama Naufal dan Hanna kosong, tampaknya teman-teman di terima di ruang tamu khusus. Maka kini ia sudah berdiri di ambang pintu.


"Hai..." sapa Cla pada ke empat temannya yang duduk berdampingan di sofa besar.


"Hai, Cla!" balas Hanna dan Naufal bersamaan.


Yang pertama kali ia lihat adalah Vino, tampaknya sang pemuda terlihat cukup kaku berada di rumahnya. Dan Cla mencoba untuk membuat semua terasa lebih rileks.


Kemudian ekor matanya selalu saja tertarik pada sosok murid terbaru di kelasnya. Arsen, sang pemuda tersenyum miring melihat dirinya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Jika hanya berdua, rasanya Cla ingin melempar bantal ke muka Arsen.


"Eh, jadi kesini untuk belajar atau..."


"Harusnya sih dua-duanya!" sahut Naufal yang paham ke mana arah bicara Clarice.


"Hehehe!" gelak Clarice yang di ikuti oleh gelak tawa Hanna yang juga sudah hafal dengan sifat Clarice. "Kalau begitu kita ke rooftop saja!" ujar Cla.


"Ide bagus!" sahut Arsen yang teramat setuju dengan ide ini.


Rooftop, ia kembali mendapatkan kesempatan untuk bisa mengukir kenangan bersama Cla di rumah Clarice. Inilah yang ia kejar untuk bisa mendatangi rumah Clarice.


***


Maka kini kelima anak remaja sudah berada di rooftop setelah menyapa Mommy Calina dan Eyang Shinta yang sedang berada di ruang keluarga lantai bawah.


Kelimanya sampai di rooftop yang ada di lantai 3 dengan naik menggunakan lift, agar tidak terlalu mengeksplore lantai dua yang di isi oleh kamar-kamar para penghuni rumah.


Duduk di sofa yang semula di tempati oleh Cla saat melakukan video call, kelimanya kini sesuai dengan rencana awal, yaitu belajar bersama. Mulai dari semua duduk di sofa, hingga kini kelima-limanya duduk di bawah. Memutari meja kotak yan berukuran cukup besar.


Hidangan sudah tersedia di meja luar. Guna menunggu matahari tertutup bangunan rumah, agar bisa bersantai di rooftop setelah belajar usai.


Dan waktu yang di tunggu benar-benar datang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore. Rooftop sudah mulai tertutup bangunan meski belum sempurna. Tapi sudah cukup untuk membuat mereka ingin pindah ke sana dan mengakhiri sesi belajar bersama.


"Aku ingat! saat pertama kali aku main ke sini! Aku hampir jatuh di sana!" ujar Naufal mengingat peristiwa lama saat masih Junior High School.

__ADS_1


Posisi rooftop yang dekat dengan pohon mangga besar, membuat Naufal iseng memetik mangga yang di anggap dekat dengan rooftop. Tapi nyatanya tangan tak sampai. Dan ia pun terjungkal melewati pagar kaca setinggi 1 meter itu.


"Dan kamu berhasil menggemparkan satu rumah!" sahut Clarice mengingat masa itu.


Kala itu... Meskipun sudah sangat akrab dengan Naufal seperti sahabat, tapi sesungguhnya sang gadis masih mengidolakan Naufal. Mengagumi dalam hati dan berharap kelak Naufal juga akan memiliki kekaguman yang sama dengan dirinya. Saat ia sudah di izinkan untuk berpacaran kelak.


Namun seiring berjalannya waktu, rasa kagum itu berubah menjadi rasa saling melengkapi sebagai sahabat. Hingga rasa cinta itu tergerus oleh keakraban yang sangat dekat.


Dan kini, ada sosok lain yang ia kagumi. Yaitu Vino yang kini berdiri bersandar pada pagar kaca tebal dan menghadap pada halaman samping rumah yang di tunjuk oleh Naufal.


Sesekali Cla menatap pada Vino. Tak banyak obrolan yang terjadi di antara keduanya. Sejak tadi justru Arsen yang aktif bercanda dengannya juga dengan yang lain.


"Sepertinya kau memang terllau aktif, Fal!" sahut Hanna.


"Sejak saat itu, ranting pohon mangga yang mengarah ke sini, wajib di potong oleh tukang kebun!" sahut Clarice. "Dan itu benar-benar karena kamu, Fal!" celetuk Clarice.


"Hahaha!" gelak tawa Naufal di ikuti pula oleh yang lain.


Cla dan Hanna duduk di pelataran rooftop, di atas rumput sintetis yang berwarna hijau. Sedangkan tiga anak laki-laki berdiri dengan menikmati angin sore di pagar kaca. Dengan seragam atasan yang sudah di lepas. Menyisakan celana sekolah, dan kaos yang di gunakan untuk rangkapan seragam sekolah.


Dan entahlah... dengan mereka yang seperti itu membuat ketiganya bagai pangeran yang jatuh dari langit. Ketampanan ketiganya menguar begitu saja. Bagai parfum yang keharumannya sampai merasuk ke dalam relung hati terdalam. Dan menancap di dalam ingatan.


Dan tanpa di sadari, dua gadis remaja yang sedang mengupas buah untuk di cocol bumbu rujak itu terbawa oleh perasaan masing-masing. Naluri mereka sebagai anak remaja tumbuh semakin nyata.


Lantas siapa yang berhasil mengusik relung hati kedua gadis itu?


Pemuda yang sama, kah?


Atau yang berbeda?


Entahlah, takdir belum bisa mengungkap isi hati Hanna. Selama ini Hanna tak pernah bercerita apapun pada Cla tentang cinta. Sehingga Cla menganggap Hanna seperti dirinya, yang di larang untuk berpacaran selama masih sekolah.


Dan Clarice sendiri juga masih di landa bingung ketika melihat ketiganya seperti ini. Sungguh berbeda dengan saat di sekolah. Aura mereka muncul dengan nyata mengoyak hati yang masih bimbang. Mengusik relung hati yang sempat di hinggapi rasa untuk Naufal, namun akhirnya menghilang. Dan kini di hinggapi rasa untuk Vino, namun juga si bocah tengil ikut mengoyak tempat itu.


Jika Naufal sudah biasa membonceng dirinya dan berdekatan bagai sepasang kekasih, maka Arsen adalah satu-satunya pemuda yang pernah berpelukan dengan dirinya. Apalagi itu terjadi di kolam renang, dan baru kemarin siang.


Hati remaja yang labil memang sulit untuk di tebak, bukan? Dan di posisi inilah Clarice sekarang berada. Tak tau, jika harus memilih ia memilih yang mana.


***


Meninggalkan hari itu... hari di mana 5 anak muda berkumpul di rooftop kediaman pengusaha kaya raya, maka hari ini adalah hari pembagian nilai raport setelah ujian tengah semester berakhir sekitar satu minggu lalu.


Pengumuman rangking setiap tingkat juga akan di tempel di mading-mading yang tersedia di sekolah pada hari ini.


Di sekolah sebesar Alexander International School, ada sekitar 5 mading yang selau berisi informasi yang sama, dan tersebar di beberapa titik tertentu.


Seperti di lobby gedung sekolah, di depan gedung sekolah, di dekat kantin, di dekat lapangan olah raga dan juga di taman yang biasa di gunakan oleh para siswa bersantai di jam istirahat.


Lantas peringkat berapakah Cla di kelas?


Dan peringkat berapakah Cla di tingkat kelas X?


Lalu bagaimana dengan nasib Zuria Agatha?


Semua duduk di bangku masing-masing. Sang guru memunculkan satu persatu nama yang berhasil mendapatkan ranking secara acak.


Di layar proyektor, ada 20 angka yang sudah berbaris. Namun angka-angka itu masih kosong. Belum ada satu nama pun yang di munculkan.


"Perhatikan... Miss akan mengeluarkan nama secara acak!"


"Yes, Miss!" jawab 20 murid yang hadir hari ini.


Ke lima pemeran utama memperhatikan dengan seksama. Selain ke lima pemeran utama, ada Lia dan Carren yang juga menunggu hasil ujian tengah semester.


Angka nomor 10 menyala lebih dulu, dan detik berikutnya nama Lia muncul di sana. Suara tepuk tangan bergemuruh di ruang kelas. Begitu seterusnya.


Sampai akhirnya nama Naufal muncul di peringkat 4. Di susul nama Hanna di peringkat 12, Clarice di peringat 7, Vino di peringkat 9, Arsen di peringkat 8, dan Carren di peringkat 14.


Hingga 20 angka yang kosong kini sudah penuh dengan nama-nama siswa di kelas, dan di akhiri dengan riuh tepuk tangan para siswa.


Meski kelima pemeran utama tidak ada yang mendapat juara 1, setidaknya mereka puas dengan hasil yang mereka kerjakan sendiri. Dan tidak menempati posisi 5 terakhir.


"Istirahat nanti, ranking sekolah di masing-masing tingkatan, bisa di lihat lihat di Mading yang tersebar..." ucap Miss Tiara.


"Yes, Miss..."

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2