Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 71 ( Menjemput Kayla )


__ADS_3

Gilang dan Zahra sudah berada di Rumah Sakit Jiwa Ibukota. Rencananya ia akan memohon pengajuan untuk membawa pulang Kayla.


Sementara Zahra menyelesaikan urusannya di ruang administrasi bersama dokter ahli, Gilang menyusuri lorong lantai dua. Ia ingat betul kamar dimana Kayla selalu mengintipnya dari jendela saat ia pulang.


Ia ketuk pintu kamar yang tertutup rapat itu. Ia tau sang wanita ada di dalam sana. Karena informasi mengatakan jika Kayla tak keluar kamar sama sekali sejak selesai mandi pagi.


Tok tok tok!


Gilang mengetuk pintu kamar Kayla dengan sangat hati - hati. Namun sama sekali tidak mendapat jawaban dari sang empunya kamar. Giang mencoba untuk menekan handle pintu, dan kamar tidak di kunci. Perlahan ia dorong pintu kayu itu, dan terlihatlah Kayla yang sedang duduk termangu di kursi dekat jendela.


Gilang biarkan pintu terbuka lebar hingga menyentuh dinding. Dan ia terdiam di ambang pintu, menatap punggung Kayla yang menghadap jendela kamar. Postur tubuh Kayla sangat mirip dengan Zahra. Bahkan wajah pun sangat mirip. Itulah yang membuat Gilang shock saat pertama kali melihat Zahra di kantor.


Gilang melangkahkan kakinya mendekati Kayla. Ia masuk dengan dada yang menahan gemuruh. Sudah lama ia tak berkomunikasi dengan Kayla secra intens. Dan kali ini ia akan menjelaskan tentang maksud dan tujuannya mendatangi Kayla, menggunakan hati.


"Hai?" sapa Gilang saat sudah sampai di samping tempat duduk Kayla.


Kayla melirik ke samping, dan mendapati tubuh Gilang yang ada di sampingnya. Tanpa menjawab, Kayla kembali melihat luar jendela. Dimana tadi ia melihat Gilang keluar salah satu sebuah mobil berwarna hitam bersama Zahra, sang saudara kembar.


"Kay?' panggil Gilang lebih halus lagi. "Kenapa tidak keluar?" tanya Gilang sembari bersandar pada dinding, menghadap Kayla yang tak juga menoleh pada dirinya. Padahal ia menatap lembut wajah cantik dengan rambut berantakan itu.


Yang  di tanya hanya diam saja. Tatapannya lurus ke depan. Gilang mencoba untuk mengikuti kemana sorot mata Kayla pergi. Dan ia ikut menerawang keluar jendela, hingga ia menemukan satu obyek yang menjadi titik akhir pandangan Kayla.


Sebuah gedung menjulang tinggi, yang merupakan bangunan sebuah hotel bintang lima. Entah, kenapa Kayla terus saja menatap bangunan hotel itu. Seperti sda sesuatu yang sangat menarik perhatiannya.


"Kenapa kamu melihat bangunan itu tanpa berkedip?" tanya Gilang lembut sekaligus penasaran.


"Apa kamu pernah datang ke sana?"


Lagi - lagi Kayla hanya berdiam diri, tak berniat sedikitpun menjawab pertanyaan Gilang.


"Baiklah, aku tidak akan tanya macam - macam lagi..." ucap Gilang merasa tidak akan mendapat jawaban dari sang wanita.


Gilang mengambil sebuah sisir d meja kamar Kayla. Kemudian dengan telaten ia sisir rambut Kayla yang tergerai. Terlihat jika gadis itu belum sisiran setelah mandi tadi. Perlahan, rambut bergelombang itu kini sudah rapi.


"Kay?" panggil Gilang sembari berjongkok di depan Kayla. "Kamu mau ya? ikut aku pulang bersama Zahra?" tawar Gilang menatap lekat gadis pujaannya.


Sontak Kayla menunduk, menatap Gilang dengan tatapan yang sulit di artikan. Namun sangat menyayat hati Gilang. Dari sorot itu, sepertinya Kayla akan menolak ajakannya.


"Kamu gila!" ucap Kayla seperti orang linglung. "Kamu orang gila! hahahaha!" tawa Kayla sekencang mungkin.


Gilang tersenyum tipis. Ia sama sekali tidak tersinggung dikatai gila oleh Kayla.

__ADS_1


"Kamu benar...." jawab Gilang santai, "aku mungkin akan benar - benar gila kalau kamu tidak mau ikut aku pulang, Kay!" jawab Gilang dengan tatapan serius.


"Dasar gila!" celoteh Kayla lagi. "Hihihihi!" tawanya lagi seperti orang gila yang tertawa tak jelas.


Menghela nafas panjang, Gilang meraih kedua tangan Kayla. Meremas lembut menggunakan kedua tangan kekarnya. Ia tarik nafas panjang, sebelum bercerita.


"Kamu tau, Kay! dunia itu luas. Ada banyak negara yang bisa kita kunjungi untuk berlibur dan bersenang - senang. Dunia tidak hanya ada di sini, Kay ..." ucap Gilang seolah sedang bercerita.


"Kamu pasti masih bisa mengingat, saat kamu sekolah dulu. Bahwa dii jepang gunung Fujiyama. Di Paris ada menara Eiffel. Di Maldives ada pantai yang sangat indah untuk bisa kita kunjungi. Dan kamu tau, di London ada menara jam dinding yang sangat terkenal. Namanya menara Big Ben, salah satu ciri khas kota London. Dan di London juga ada London Eye, tak jauh dari menara Big Ben. Dari London Eye, kita bisa melihat indahnya kota London. Kiya pasti akan sangat bahagia jika bisa menaiki London Eye bersama - sama. Semua orang ingin sekali ke sana, Kay!"


Jelas Gilang dengan sangat lembut namun menggambar keseruan yang sangat menarik. Ia seperti tengah bercerita pada seorang anak kecil, untuk mengantar mereka tidur dan mengarungi malam beserta mimpi - mimpinya.


Dan ajaibnya, sikap Kayla pun memang seperti anak SD yang antusias mendengar banyak cerita dari orang tuanya, terutama tentang luasnya dunia. Tentang kehidupan di luar sana yang katanya sangat menarik untuk di jelajahi.


"Kamu sudah tau, kan? kalau aku bisa gila, jika kamu tidak mau ikut aku dan Zahra pulang?" tanya Gilang, "kalau aku gila, aku akan tinggal di sini bersama kamu. Lantas siapa yang akan mengajak kita keliling dunia?" tanyanya lagi.


"Zahra?" tanya Gilang memprediksikan nama yang mungkin ada dalam pikiran Kayla, "kamu tau bukan? Kalau Zahra adalah seorang single parent yang harus bekerja keras untuk menghidupi gadis kecil bernama Felia? keponakan kamu..."


Kayla yang semula menatap luar jendela, kini kembali menunduk. Menatap lekat wajah tampan seorang Gilang Adhitama yang tampannya setara dengan sang Kakak, Kenzo Adhitama.


"Hem?" Gilang mengangguk, berharap Kayla mengerti apa yang ia inginkan. Meski kenyataannya membujuk orang gila tidaklah semudah itu.


***


Jika di Rumah Sakit Jiwa Ibukota ada GIlang yang sedang membujuk seorang wanita. Maka di sebuah Apartemen, ada seorang bos yang sedang membuka pikiran seorang karyawannya. Bukan sembarang karyawan, karena karyawan satu itu cukup bagus prestasinya di dalam bekerja.


Meski sangat buruk di bidang percintaan!


Mendengar kalimat terakhir Kenzo, yang mengatakan jika seorang istri pergi dari rumah dengan membawa air mata, sudah pasti itu karena ia sudah tak sanggup menahan beban yang di buat oleh sang suami.


"Apa kamu tidak pernah berfikir? Bagaimana bahayanya seorang wanita berkeliaran di jam 2 malam?" lanjut Kenzo semakin membuat Zio diam seribu bahasa.


Menarik nafas panjang, dan ia hembuskan dengan sangat pelan dan teratur. Zio berusaha untuk kembali berucap.


"Bukankah, saat itu aku sudah mengatakan bahwa aku meminta maaf, Cal?" tanya Zio menatap lekat pada Calina.


"Aku tau, Mas! Tapi kamu tidak pernah tau seperti apa perasaan ku. Kamu selalu egois dengan mendahulukan apa yang kamu inginkan." jawab Calina.


Zio menunduk, dan berfikir ulang. Kembali menyadari kesalahan demi kesalahan yang ia buat.


"Baiklah, aku kembali meminta maaf secara tulus kepadamu untuk kesalahan yang tak aku sadari di masa itu, Cal... Dan aku sudah mendapatkan hukuman atas perlakuan ku pada mu di masa lalu." ucap Zio kemudian dengan sangat gentleman.

__ADS_1


"Sekarang aku benar - benar hanya ingin tau, kenapa pernikahan kalian di sembunyikan? Kenapa tak satu orang pun di kantor siapa istri anda, Pak Kenzo?" tanya Zio dengan nada yang masih belum ikhlas mendapati Calina adalah istri bosnya.


Kenzo dan Calina kembali saling bertatap mata. Calina kembali mengangguk, agar dia saja yang menjawab.


"Semua orang di kantor tentu mengenalmu, Mas!" jawab Calina. "Dan sebagian dari mereka juga pasti mengenalku sebagai mantan istrimu. Selama kamu belum kembali dan kita benar - benar berdamai, aku tidak ingin semua orang mengira kami melakukan kesalahan..."


Tersenyum tipis dan sedikit mengejek, "Melakukan kesalahan?" tanya Zio seolah tak percaya. "Seperti hadirnya Nona Clarice di antara kalian?" tanya Zio membuat Kenzo dan Calina mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu?" tanya Kenzo yang tak paham dengan jalan pikiran Zio.


"Ya! Jika kalian baru menikah empat tahun lalu, kenapa kalian sudah memiliki anak yang baru saja berulang tahun yang ke lima tahun?" tanya Zio, "itu artinya Nona Clarice lahir 5 tahun lalu. Di tambah masa kehamilannya, jadi kemungkinan besar kalian memang sudah lama berselingkuh! Jauh sebelum perceraian kita, Cal!" ucap Zio dengan raut wajah yang sangat emosi. "Dasar pelac*r!"


"JAGA BICARAMU, BRENGSEK!!" teriak Kenzo dengan sangat keras. Dada kembang kempis menahan emosi.


Sontak suara langkah kaki berlari terdengar dari dalam. Dan Mama Shinta tiba - tiba sudah berada di perbatasan ruang.


"Ada apa ini?" tanya Mama Shinta pada Kenzo dengan sangat panik. Ia terlihat terengah setelah berlari.


Tak ada satu pun yang menjawab. Zio dan Calina menatap Mama Shinta, dan Kenzo masih menatap tajam mantan suami istrinya.


Gemuruh di dada masih terus bertalu. Rasa tak terima karena Calina di katai sebagai pelac*r, benar - benar merobek harga dirinya.


Kenapa pula Zio sangat bodoh, dan tak menimbang kalimat dan berfikir ulang terlebih dahulu sebelum mengatai.


Apa dia tidak berfikir, jika bisa jadi Clarice adalah putrinya?


Kenapa harus mengatai Calina sebagai pelac*r?


Melihat sorot mata Kenzo yang sangat tajam, seketika Mama Shinta ikut melihat objek yang menjadi titik akhir sang menantu.


Dan seketika itu sepasang mata Mama Shinta membulat lebar melihat siapa yang ada di depan anak dan menantunya.


Sorot mata Mama Shinta bertemu dengan sorot mata mantan menantunya. Mantan menantunya yang dulu menangis di pangkuannya.


"Zio!" pekik Mama Shinta.


"Ya! Mama mertua!" jawab Zio sedikit ketus.


Zio masih begitu marah mendapati kenyataan yang sangat tidak ia inginkan.


...🪴 Bersambung... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2