
Apa yang kita tanam, maka itu yang kita tuai. Lantas bagi remaja seperti Zuria yang menanamkan kebenciannya pada Clarice sejak sabtu malam, kini harus menuai hasil dari perbuatannya.
Sesungguhnya bukan sesuatu yang penting bagi Clarice, jika itu menyangkut urusan laki-laki. Karena Clarice tidak peduli dengan semua itu. Tapi yang menjadi masalah sampai Clarice harus tersulut emosi adalah... Zuria yang menyebut sang Ibu sebagai wanita murahan yang beruntung.
Awalnya Clarice hanya meminta untuk Zuria menanyakan saja pada Arsen, tentang apa yang menjadi masalah sang kakak kelas. Tapi yang terjadi berikutnya adalah adu argumen dengan menarik-narik segala sesuatu yang tidak seharusnya.
Dan adegan saling siram pun akhirnya terjadi. Hingga wajah dan baju Zuria cemong oleh jus Jambu. Sedang Clarice kotor oleh spaghetti miliknya yang sudah di campur jus alpukat oleh Zuria yang menyebalkan.
Dan kini, keduanya harus berakhir di ruang BK untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah mereka lakukan.
Bukan hanya berdua, karena Arsen memilih untuk ikut serta mempertanggung jawabkan masalah yang timbul akibat postingan dirinya di akun media sosial.
Siapa yang menyangka, jika hanya dengan satu postingan saja, bisa berlanjut dan merembet sampai ke ruang BK.
Arsen yang sesungguhnya ingin menemani Clarice pun memilih untuk bergabung, dengan cara mengangkat tangan, dan mengatakan jika dirinya ikut terlibat. Sekaligus bentuk tanggung jawabnya kepada Clarice yang ia rasa tidak seharusnya di datangi oleh Zuria.
Sempat heran, tapi Clarice membiarkan Arsen untuk ikut menghadap ke ruang BK. Karena secara tidak langsung, Arsen memang menjadi tokoh utama dalam tragedi kantin di jam istirahat pertama itu.
Sementara Mr. Faiz meminta untuk semua bubar dan kembali melanjutkan jam istirahat yang tersisa. Dan beliau kini mengikuti langkah orang-orang yang sudah berjalan menuju gedung sekolah. Menatap heran pada kenakalan remaja yang sudah beliau tangani, sejak beliau masuk dalam jajaran daftar guru.
***
"Siapa yang ingin menjelaskan duluan?" tanya Mrs. Maria yang duduk dengan anggun di balik meja kerjanya di ruang BK.
Sementara Clarice, Arsen dan Zuria duduk di sofa panjang. Dengan Arsen yang duduk di tengah. Sedangkan Mr. Faiz duduk di sofa single untuk ikut memantau tiga anak remaja yang sedang bermasalah. Sudah tugas beliau menjadi pendamping Mrs. Maria menyelesaikan masalah yang terjadi antar murid.
Mendapat pertanyaan itu, ketiga siswa yang sedang menjadi terdakwa hanya bisa menunduk. Dua gadis di sisi Arsen duduk dengan risih, karena baju mereka yang kotor pula. Sementara Arsen ingin memulai berbicara, tapi ia tidak tau awal ceritanya tadi seperti apa.
Alih-alih ada yang akan berbicara dan bercerita, Ruang BK justru terasa sangat sunyi dan sepi. Tidak ada satupun yang ingin memulai bicara. Bahkan Zuria yang di ketahui sebagai siswa dengan tingkat tertinggi di antara mereka bertiga, justru diam dan menunduk.
"Baiklah! Karena tidak ada yang mau berbicara, sebaiknya kita putar saja rekaman CCTV nya!" ucap Mr. Faiz segera berpindah ke meja di mana ada layar monitor yang menunjukkan rekaman CCTV. Kemudian mengotak atik mouse yang ada di meja.
Di saat itu, semua yang ada di ruang BK menatap layar CCTV yang bisa terlihat dengan jelas dari posisi mereka duduk. Begitu juga dengan Mrs. Maria.
Rekaman CCTV di mulai ketika Clarice duduk berdua bersama Hanna yang sedang asyik makan siang sambil mengobrol, kemudian datanglah Zuria. Apa yang mereka obrolkan di saat itu, sungguh terdengar dengan sangat jelas. Tapi dua guru yang sedang menjadi hakim tidak ingin hanya bukti dari rekaman CCTV.
Tapi mereka juga mengharapkan kejujuran dari anak-anak murid yang sedang bermasalah. Mengenai alasan dan tujuan awal Zuria mendatangi Clarice.
Klik!
Mr. Faiz menghentikan rekaman CCTV yang bergerak. Kemudian menatap ketiga terdakwa di sofa. Dan ketiga siswa itu reflek kembali menunduk.
"Zuria?" panggil Mr. Faiz pada Zuria. "Bisa di jelaskan ada urusan apa kamu mendatangi Clarice?" tanya Mr. Faiz menatap datar pada Zuria.
Yang di panggil, mau tak mau akhirnya mendongakkan kepalanya, menatap Mr. Faiz dan Mrs. Maria secara bergantian. Kemudian menoleh Clarice sekilas, kemudian memasang wajah cemberutnya.
Dalam kasus ini, dia bohong pun percuma, karena semua sudah mendengar apa yang sedang mereka obrolkan di kantin. Terutama ketika mereka berbicara cukup keras.
"Saya hanya mau bertanya, Sir!" jawab Zuria lirih.
"Tanya apa?" sahut Mrs. Maria dengan masih bersikap datar.
Dua guru itu selalu dan terus berusaha untuk bersikap dingin saat menghadapi kenakalan remaja di masa kini. Meski sekolah berstandar international, dan semua sisi sekolah di pantau oleh CCTV, belum tentu semua siswa berpikir panjang untuk menghindari atau tidak melakukan kesalahan ataupun pelanggaran.
Berulang kali Zuria menggigit bibirnya bagian dalam. Sungguh malu untuk mengatakan semua di hadapan Arsen dan juga guru.
"Cepat di jawab, Zuria..." ucap Mrs. Maria lagi.
Menghela nafas kasar, "Saya hanya bertanya, kenapa bisa foto Clarice di buat story oleh Arsen. Bahkan sampai di posting di akun Instagram milik Arsen!" jawab Zuria menunduk, karena malu.
__ADS_1
"Jadi karena Arsen?" gumam Mrs. Maria yang heran. Pertengkaran terjadi karena status WA seorang anak laki-laki.
"Iya, Mrs!" sahut Clarice tidak suka karena harus berurusan di ruang BK hanya untuk laki-laki. Sebenarnya satu masalah yang sangat ia hindari. "Dan bagi saya itu sangat tidak penting!" gerutu Clarice membuang muka dari Arsen yang menolehnya.
"Lalu, kenapa sampai bisa berakhir dengan saling mengotori baju satu sama lain?"
"Dia mengatai Ibu saya wanita murahan!" sahut Clarice menoleh pada Zuria dan menatap tajam sang Kakak kelas tanpa rasa takut. "Tentu saja saya sebagai anak tidak terima!"
"Karena memang iya!" sahut Zuria. "Sama seperti kamu, yang menggoda Arsen dengan segala tipu daya yang kamu miliki!" sembur Zuria membalas tatapan tajam Clarice dengan tatapan yang tak kalah tajam.
"Jangan sembarangan kamu kalau bicara!" sahut Clarice mulai memposisikan diri untuk bisa menyerang Zuria kapanpun jika di butuhkan.
"Kamu yang jangan sembarangan!" seru Zuria. "Dasar anak tiri!" hentak Zuria lebih kencang.
"Brengsek!"
Clarice berdiri dan hendak merangsak Zuria yang ada di sisi kanan Arsen. Dikatai anak tiri dengan cara demikian rasanya sangat menyakitkan. Meskipun ia memang benar anak tiri, dan semua orang tau akan hal itu.
"Cla! jangan bertengkar di sini! setidaknya jangan menyerang duluan!" ucap Arsen yang seketika ikut berdiri dan menghalangi Clarice untuk menyerang Zuria.
"Apa kamu! berani? maju sini!" tantang Zuria yang juga sudah berdiri dari duduknya. Ia berada di belakang punggung Arsen yang menghalangi jalan Clarice.
"Minggir kamu!" hentak Clarice pada Arsen.
"Tidak! jangan serang dia duluan, Cla! hukuman kamu akan lebih berat kalau kamu menyerang dia duluan..." lirih Arsen. "Apalagi di ruang BK!"
Pemuda pembalap itu berdiri tepat di depan Clarice yang ingin menyerang Zuria. Berulang kali Cla mencoba untuk menyingkirkan tangan Arsen yang merentang dan berulang kali mendorong pelan tubuh Clarice ke belakang.
Namun pemuda itu terlalu kuat untuk di singkirkan Clarice yang notabene nya bertubuh lebih kecil dari Arsen.
"Mulut gadis itu benar-benar tidak bisa di ampuni! Minggir Arsen! ini semua gara-gara kamu!" teriak Clarice tepat di depan wajah Arsen.
"Sampai kapanpun aku tidak akan terima ada yang mengatai Ibuku murahan! Mommy ku adalah wanita terhebat yang pernah aku kenal! Aku tidak akan membiarkan gadis tidak tau malu itu mengatai Mommy ku wanita murahan!"
Clarice terus berapi-api setiap melihat Zuria yang seolah mencibir dirinya. Terlihat dari bibir gadis itu yang bergerak dan miring ke kiri, di ikuti dengan tatapan yang merendahkan dirinya.
Sementara dua guru yang berada di ruang BK masih menikmati sajian di depan mata. Tapi tujuannya bukan untuk di jadikan tontonan. Tapi dua guru itu sesungguhnya sedang menilai, masalah apa sebenarnya, yang membuat dua gadis sampai harus saling mengotori baju satu sama lain. Dan saling meneriaki satu sama lain, untuk menemukan biang keroknya.
"Aku tau, Cla! aku minta maaf akan hal itu!" ucap Arsen mencoba mendinginkan emosi Clarice. "Aku tidak tau jika bisa jadi sepanjang ini.." lirih Arsen dengan nada memohon. "Please! kamu jangan menyerang duluan!" ucap Arsen lagi penuh pengharapan.
"Dia pantas untuk di serang duluan! Mulutnya benar-benar menjijikkan! Sama sekali tidak menunjukkan jika dia adalah murid siswa sekolah sebesar ini!" jawab Clarice dengan menghentikan aksinya untuk mencoba menyingkirkan Arsen. Namun matanya tidak lepas dari sang Kakak kelas.
Tersenyum culas, "Ternyata hanya sampai di situ keberanianmu, hah?" ejek Zuria seolah sengaja membuat Clarice semakin terpancing emosi. "Dasar anak sambung tidak tau diri! sengaja sekali kau menggoda Arsen! lihat caramu untuk mendapatkan perhatian Arsen, sangat murahan!"
"DIAM KAMU!" teriak Arsen membalikkan badan dengan cepat, dan meneriaki Zuria yang sontak terlonjak kaget hingga reflek mundur dua langkah.
Teriakan Arsen benar-benar seperti raungan Harimau yang siap menerkam buruannya. Apalagi tatapan Arsen benar-benar seperti tatapan binatang buas itu, yang ingin menelan manusia hidup-hidup.
Ia tak menyangka jika Arsen pun ternyata bisa meneriaki dirinya. Padahal selama dua bulan ini kedekatannya dengan Arsen terlihat normal. Dan sikap Arsen pun terlihat manis dan baik. Seolah bukan tipe laki-laki yang suka memarahi ataupun mengasari perempuan.
"Sudah, stop!" ucap Mr. Faiz dengan tegas dan tidak ada lagi yang berani membantah.
Semua kembali diam, dan hanya bisa menunduk. Menelan kembali amarah yang sesungguhnya ingin masing-masing ledakkan saat ini juga.
"Duduk!" sahut Mrs. Maria memerintahkan.
Semua pun kembali duduk dan menunduk, sembari menghela nafas resah.
"Sembari menunggu orang tua kalian semua datang, tidak ada yang boleh berisik lagi!" ucap Mrs. Maria.
__ADS_1
"Orang tua?" pekik ketiga siswa sekaligus bersamaan.
"Ya!" jawab Mrs. Maria dengan datar.
"Kenapa sampai memanggil orang tua, Mrs.?" tanya Arsen.
"Karena kesalahan kalian fatal!" jawab Mrs. Maria. " Dan yang lebih parah adalah... Zuria yang sudah membawa-bawa orang tua dalam permasalahan! Jadi orang tua wajib untuk datang!" jawab Mrs. Maria dengan tegas.
"Tapi, Mrs!" Zuria tampak paling panik di sini.
"Tidak ada tapi-tapian, Zuria! Kalian wajib mempertanggung jawabkan kericuhan yang kalian ciptakan! Terutama kamu yang jelas terlihat menghampiri lebih dulu!" ucap Mrs. Maria. "Bisa di katakan kericuhan ini adalah sesuatu yang di rencanakan"
"Oh my God!" lirih Zuria merasa sangat takut orang tuanya akan datang ke sekolah untuk pertma kali karena suatu kasus.
"Dan lagi, rekaman Video sudah di kirim kepada wali murid masing-masing!" sahut Mr. Faiz menunjukkan ponsel miliknya. "Jadi kalian bertiga tidak perlu memberi penjelasan saat mereka semua datang."
"WHAT!!!"
Pekik tiga remaja yang di anggap sang guru sedang mengalami tragedi cinta segitiga. Ketiga remaja itu membulatkan mata mereka lebar. Benar-benar tidak menyangka masalah akan sampai ke tangan orang tua masing-masing.
"Untuk Arsen!" ucap Mrs. Maria membuat semua menoleh pada sang guru wanita. "Sesungguhnya kami tidak perlu memanggil orang tua kamu. Tapi karena kamu yang menjadi sumber pertengkaran dua gadis itu, maka orang tua kamu perlu tau, jika anaknya tidak bisa mendamaikan dua gadis yang memperebutkan kamu!" lanjut Mrs. maria dengan santainya.
"HAH!" pekik Clarice terbelalak. "Siapa yang memperebutkan dia!" ucap Clarice tidak terima karena di anggap memperebutkan cowok tengil yang sejak awal ia anggap sebagai buaya darat.
Pernah berangan jika Arsen akan membuat banyak gadis bertengkar, tapi kenapa justru dia sendiri yang di anggap bertengkar karena memperebutkan Arsen.
"Kamu dan Zuria, Clarice." sahut Mr. Faiz.
"No, Sir! Saya bahkan rela jika Arsen mau berpacaran dengan belatung betina itu!" lanjut Clarice melirik Zuria. Menyebut sang kakak kelas dengan julukan yang menjijikkan.
Ucapan Clarice membuat perasaan Arsen bertabrakan sedemikian kencang. Ketika Clarice berkata rela ia berpacaran dengan gadis lain, rasanya ia sangat kecewa. Tapi ketika Clarice menyebut Zuria sebagai belatung betina, ia sungguh ingin tertawa. Setengah mati ia menahan rasa geli itu hanya di perutnya yang datar.
"Belatung betina..." gumam Zuria mulai kembali tersulut emosi. "Kamu menyebutku belatung betina!" henta Zuria menatap Clarice yang berada di sisi kiri Arsen.
"Ya! kamu memang belatung betina! menjijikkan!" jawab Clarice dengan nada yang sungguh tak pernah di dengar oleh Arsen selama ini.
"Beraninya kau menyebutku belatung betina!" teriak Zuria mencoba untuk meringsek pada Arsen, agar bisa meraih rambut atau apapun dari bagian tubuh Clarice. Ia ingin menjambak atau menarik rok Clarice.
Namun dengan sigap Clarice menggeser duduknya sampai ke ujung sofa. Ia tau, Arsen tidak akan membuatnya semudah itu tertangkap. Karena sang pemuda itu justru berusaha menyingkirkan tangan Zuria yang berada di punggung Arsen untuk meraihnya.
"Cukup, Zuria!" hentak Arsen setengah mendelik.
"Kamu terus saja membela dia!" protes Zuria memukul lengan kanan Arsen.
"Ingat! itu karena kamu yang salah!" Clarice memukul lengan kiri Arsen. Mengingatkan sang pemuda, jika itu kesalahan sang pemuda. Dan ia wajib melindungi Clarice. Setidaknya seperti itulah jalan pikiran Clarice untuk Arsen yang terlihat membela dirinya.
Posisi Arsen di rasa benar-benar sulit.
"Kamu payah, Arsen!" tandas Zuria kembali mendorong lengan kanan Arsen.
"Harusnya kamu sadar diri, woy!" sahut Clarice pada Zuria. "Itu artinya apa yang aku katakan padamu tadi benar! Arsen tidak menganggap mu lebih dari seorang Kakak kelas! Dan aku yakin, Arsen tidak peduli pertemanan Papa kalian!" ejek Clarice.
"Diam kamu!" seru Zuria tidak terima.
"Saya bilang sudah! STOP!" seru Mr. Faiz membuat Zuria reflek kembali pada posisinya, dan Clarice membungkam mulutnya untuk tidak membalas lagi.
...šŖ“ Bersambung ... šŖ“...
NB : Spesial julukan saya ambil dari salah satu julukan yang di berikan Reader, yang menurut Author lebih lucu dari yang sudah saya sematkan sebelumnya...š¤©
__ADS_1
Thank You, Kak Erni š