Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 24 ( Dua Nama )


__ADS_3

Fajar telah menyapa area Rumah Sakit. Suara adzan subuh berkumandang, membangunkan mata - mata yang masih terlelap dalam tidur serta mimpi indahnya.


Calina mengerjapkan matanya malas. Rasanya tak pernah bisa tidur dengan nyaman setiap malam. Karena tidur beralaskan kursi, serta setiap ada orang yang lewat, naluri mengatakan orang itu pasti menoleh ke arahnya. Membuat tidur tidak bisa nyenyak.


Ia buka buka mata sayunya, hal pertama yang ia lihat adalah Zio yang masih tidur dengan posisi duduk di kursi sebrang. Kepala menunduk ke bawah, tangan saling melilit di depan dada.


Calina beranjak dari kursi, sebelum pergi ke mushola ia sempatkan untuk menengok sang Mama mertua di dalam ruang ICU.


"Apa belum ada tanda - tanda Mama akan sadar, Sus?" tanya Calina pas Suster yang berjaga.


"Belum, Bu." jawab Suster ikut merasa sendu. Ia tahu seperti apa lelahnya seseorang yang harus berjaga 24 jam di Rumah Sakit.


Calina lanjut ke musholla untuk menunaikan sholat subuh. Kemudian kembali pada Zio yang masih terlelap.


"Mas, sudah pagi. Bukankah kamu harus bekerja?" ucap Calina memukul pelan lengan Zio.


Seketika Zio terkesiap, mengusap beberapa kali matanya yang masih terasa lengket. Menoleh ke kanan kiri untuk menyadarkan diri lebih jauh. Ia lihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Jam lima?" gumamnya lirih.


"Iya, Mas!" sahut Calina. "Perjalanan ke kantor dari sini lebih dari satu jam, bukan?"


"Hem..." jawab Zio menoleh Calina yang duduk di kursi sebrang. "Aku akan mandi di kantor!"


"Tidak ganti baju?" tanya Calina.


"Naura membawa baju ganti untukku."


"Oh!" jawab Calina datar.


Calina beralih pada ponselnya, memasang wajah ketus pada Zio yang berdiri dan berjalan masuk ke dalam ruang ICU. Sepertinya untuk berpamitan.


***


Jarum jam terus berputar, Calina mandi di kamar mandi Rumah Sakit setelah Zio pergi. Lalu sarapan dan kini ia hanya sibuk dengan ponsel setelah mengecek keadaan ibu mertuanya.


Ibu jarinya lincah menari di atas layar benda pipih miliknya. Bergerak ke atas, ke bawah, kemudian menekan - nekan sesuatu. Hingga ia masuk ke salah satu aplikasi berbagi foto dan vidio.

__ADS_1


Ia mengingat dua nama yang masih menancap sempurna dalam ingatannya. Dua nama yang ia kenal beberapa waktu lalu. Ya, nama Kenzo dan Gilang.


Iseng ia memasukkan nama Kenzo terlebih dahulu dalam link pencari pengguna aplikasi. Cukup banyak nama Kenzo yang muncul di layar ponselnya.


"Kenzo Reza... Kenzo Alfian... Kenzo siapa dia?" gumamnya. "Tak ada foto yang mirip dengannya!" gerutunya mengamati satu persatu nama Kenzo.


Ia buka satu persatu akun tanpa foto profil wajah seseorang. Hingga ia menemukan sebuah akun dengan nama @kenz_1 dengan foto profil bergambar Sydney Harbour Bridge.


Teringat jika Kenzo sebelumnya tinggal di Australia, ia yakin jika akun itu milik seseorang yang ia cari.


Tap!


Ia menyentuh nama itu, dan sinyal langsung menunjukkan beranda yang empunya nama. Calina menggeser layar terus ke bawah. Guna menemukan foto sang pemilik akun.


Namun yang ia temukan hanyalah foto keindahan alam. Dan hanya ada satu foto yang menunjukkan sang pemilik. Yakni foto anak kecil berusia sekitar 5 tahun yang berdiri di belakang bayi yang tengkurap di atas meja.


"Sepertinya ini benar akun miliknya..." gumamnya lirih.


Setelah yakin menemukan akun Kenzo, Calina mengganti nama dalam link pencari akun. Ia ketik nama Gilang di sana.


Sebuah foto laki - laki berkaca mata hitam, dengan topi putih yang berdiri di tepi pantai, menunjukkan keindahan pantai di jadikan foto profil sang pemilik akun.


Meski foto orangnya kecil, Calina bisa mengenali gestur tubuh itu. Sangat mirip dengan postur tubuh Kenzo. Apalagi namanya sangat tidak asing.


Segera saja ia buka nama akun dengan nama @gilang_adhitama.


"Benar - benar mirip!" ucapnya lirih setelah mengamati banyaknya foto yang terpajang. "Eksis juga rupanya si Gilang ini..." gumamnya tersenyum lucu.


Berbagai pose terpampang nyata di layar. Dari pose cool, keren, macho hingga kocak ada di sana.


"Sepertinya mereka memiliki kepribadian yang berbeda!"


Lagi - lagi Calina di buat terkekeh oleh postingan Gilang. Berbagai reels muncul di sana.


Sampai Calina terdiam pada satu postingan. Ya, postingan yang sama dengan yang ada di akun @kenz_1.


"Berarti benar! Inilah mereka!" ucapnya. "Aku menemukan kalian!" serunya gembira dengan sorak yang tertahan. "Tinggal satu pertanyaanku! Siapa yang menolongku malam itu?"

__ADS_1


Calina berfikir cukup keras. Di lihat dari postingan Gilang, memang benar jika mereka memiliki postur tubuh yang sama. Postingan Gilang juga menunjukkan beberapa kali ia berpose di atas motor. Hanya saja sepertinya berada di luar negeri.


Seharian penuh di pakai Calina untuk mencari tahu lebih jauh tentang dua nama yang sangat ingin ia kenal. Untuk mencari tau dengan pasti siapa yang menolongnya malam itu. Baginya, pria itu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuknya.


***


Malam kembali hadir, untuk kesekian kalinya Calina memastikan kondisi sang Mama mertua. Ia duduk di kursi samping brankar pasien.


"Ma? jika Mama ingin Calina tetap menjadi menantu Mama, bangunlah..." ucap Calina lirih. Ia tak peduli jika Suster yang bertugas mendengar apa yang ia ucapkan kali ini.


"Mama pasti tau, seperti apa sebenarnya sikap Mas Zio pada Calina..." lanjutnya mengusap lembut punggung tangan Mama Reni yang tidak terpasang selang infus.


"Mama pasti juga tau, jika Calina hanyalah musibah untuk Mas Zio..." lanjutnya semakin pilu. "Kehadiran Calina hanya menghancurkan kebahagiaan Mas Zio dengan seseorang, Ma..."


Tanpa terasa setetes cairan bening mengalir dari pelupuk matanya yang sudah basah sejak tadi, tanpa bisa ia bendung lagi.


"Jika bukan karena dua Mama yang Calina miliki, pasti Calina sudah pergi, Ma... Calina lelah... Calina tak sanggup lagi... Setiap hari Calina berusaha untuk mencari perhatian Mas Zio, tapi apa yang Calina dapat?" tanya Calina miris. "Hanya kecewa, Ma..." lanjutnya terisak.


"Mas Zio tak pernah menganggap kehadiran Calina. Setiap hari yang ia bahas hanya orang lain. Setiap hari yang ia unggulkan selalu orang - orang yang ia cintai." ucap Calina. "Apa salah jika Calina merasa lelah?" tanyanya. "Apa salah jika Calina menyerah?"


Air mata masih terus menetes. Beberapa lembar tosu sudah basah dalam genggaman Calina.


"Calina hanya perempuan biasa, Ma.. Calina juga ingin bahagia.. Calina juga ingin merasakan di cintai oleh pria yang Calina cintai..."


"Calina sama sekali tidak menyesali perjodohan ini. Yang Calina sesalkan hanyalah Calina yang gagal meraih cinta Mas Zio."


"Bangunlah, Ma..." lirih Calina. "Jika Mama bangun, setidaknya Calina masih punya alasan untuk tetap bersama Mas Zio."


Tetes air mata Calina semakin deras. Ingin rasanya ia memiliki tempat curhat seperti dua Mamanya. Bukan hanya sahabatnya saja yang tau kehidupan pilu yang ia alami selama ini.


Suara isakan yang sedari tadi memenuhi ruang ICU itu, perlahan menghilang. Berganti dengan keheningan. Karena tanpa terasa Calina terlelap dengan kepala yang bersandar di lengannya yang menempel pada tempat tidur pasien.


Malam itu semakin larut, tangan berkulit putih merayap di pundak Calina yang terlelap. Gadis itu telah lelah menangis. Menangisi nasib yang tak kunjung sesuai harapannya.


"Kamu berhak bahagia, Calina..." ucap pemilik tangan itu.


...🪴 Happy Reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2