
Satu Tahun yang Lalu ...
Hari Minggu... Hari yang panjang dan menyenangkan untuk di lalui bersama teman, sahabat atau juga keluarga. Yang jelas, berkumpul dengan orang terdekat adalah momen yang tepat untuk menghabiskan akhir pekan yang sering terasa singkat.
Beruntung, liburan mereka masih ada beberapa hari lagi untuk bisa menikmati momen santai seperti ini. Setidaknya masih ada sisi waktu tiga hari lagi, sebelum mereka kembali pada rutinitas di sekolah.
Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Dan jalanan yang biasa di gunakan untuk Car Free Day pastilah sudah banyak yang di buka untuk kembali bisa di lintasi oleh kendaraan bermesin. Baik mobil, motor atau juga kendaraan umum lainnya.
Mengendarai motor CBR 250RR miliknya, Arsen memasuki komplek perumahan elit yang sudah sering sekali ia kunjungi sejak memutuskan untuk pindah ke Ibukota. Karena seorang remaja yang tinggal di komplek itu berada dalam satu kelas dengannya sejak duduk di bangku kelas X.
Memasuki pagar besi yang di buka oleh security, Arsen mengerutkan keningnya ketika melihat motor yang nyaris sama dengan miliknya ada di sana. Berjenis CBR, dan hanya beda tipe CC nya saja.
Tentu sang pembalap tau, siapa pemilik motor satu ini.
' Tumben! '
Batin Arsen dalam hati.
Sang pembalap turun dari motornya dan langsung mendekati pintu utama rumah temannya yang tak lain adalah Naufal.
"Mas Naufal ada di kamarnya, Mas!" jawab seorang perempuan dengan berpakaian pelayan yang membuka pintu untuknya.
"Ada siapa lagi?"
"Ada Mas Vino juga..."
"Selain Vino?"
"Tidak ada."
"Oh, okay!" Arsen mengangguk. "Aku langsung naik ya, Mbak!" Arsen menunjuk tangga meliuk yang menggiring siapa saja untuk menaiki lantai dua rumah mewah kediaman keluarga Mahardhika.
"Ya, Mas Arsen... Silahkan!" jawab perempuan yang sudah sangat hafal dengan sahabat-sahabat Naufal.
Maka naiklah pemuda yang menjadi pembalap incaran gadis remaja itu. Menaiki tangga dengan sangat lincah, sang pemuda sampai di pintu kamar yang terbuka. Di salam sana terlihat Vino dan Naufal tengah bermain playstation.
Selain jari yang terlihat bergerak dengan menggenggam stik wireless, juga mulut yang terus saja bergantian bicara dan mengeluarkan ocehan yang tidak karuan, bahkan kemana-mana.
"Tumben kamu datang!" tanya Arsen sembari melompat ke atas tempat tidur Naufal yang super empuk tentu saja. Sang pembalap tengkurap di belakang Naufal dan Vino yang duduk di sofa tanpa sandaran yang ada di bagain bawah ranjang Naufal.
"Karena aku rindu kalian... Apalagi kamu!" jawab Vino terkekeh geli dengan kalimatnya sendiri.
"Kapan pulang dari London?" sahut Naufal bertanya.
"Cih! Rindu!" sahut Arsen menyenggol pundak Vino dengan siku tangan kirinya. "Kemarin pagi!" jawab Arsen pada pertanyaan Naufal.
"Haha!" gelak Vino.
"Dia baru saja putus cinta, Sen!" sahut Naufal yang ikut tergelak ketika mendengar jawaban Vino.
"What?" pekik Arsen singkat, namun tidak ada ekspresi yang kaget berlebihan pada wajah tampannya.
"Ya!" sahut Naufal lagi.
"Sejak kapan putus cinta?" tanya nya sembari menyambar stik PS dari tangan Vino dan melanjutkan permainan Vino tanpa permisi.
Membuat Vino menghela nafas panjang sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, ketika mendapat pertanyaan yang sudah pernah ia jawab ketika Naufal bertanya.
"Malam prom night!" jawabnya malas mengingat malam mengenaskan itu.
Arsen menanggapi hanya dengan mengangkat kedua alisnya. Ia tidak terlalu peduli dengan apa yang menimpa pemuda satu itu. Terutama sejak ia tau jika Clarice menyimpan perasaan untuknya.
"Kenapa putus?" tanya nya kemudian dengan datar.
"Dia selingkuh..." jawabnya terdengar cukup memilukan telinga yang prihatin, namun jelas bukan termasuk telinga Arsen.
Arsen mengangkat sebelah sudut bibirnya mendengar jawaban Vino. "Lagi pula hanya cinta monyet. Aku tidak yakin akan bertahan lama.
"Mas Naufal? di minta Bapak menemui beliau di ruang kerja." ucap seorang pelayan setelah mengetuk pintu kamar Naufal yang memang sejak tadi terbuka.
"Ya!" jawab Naufal menoleh sekilas pada sang asisten rumah tangga di rumahnya.
Kemudian ia beranjak sembari menyerahkan stik PS nya pada Vino dan meninggalkan dua temannya yang sudah terbiasa ia tinggal di kamarnya. Dan lagi ketiganya tak jarang untuk menginap di rumah satu sama lain. Dan itu membuat mereka bagai saudara tanpa ikatan darah.
Setidaknya seperti itulah keakraban mereka sebelum badai topan yang akan datang sebentar lagi.
Vino melanjutkan aksi Naufal yang terlihat di layar TV sebesar 43 inchi itu dan melawan Arsen yang tak kalah jago darinya.
"Harusnya sejak awal aku memang mengejar cintanya Clarice... Dia terlihat jauh lebih baik dari Neha." gumam Vino tiba-tiba.
DEG!
Sontak Arsen menghentikan jemarinya yang bergerak di atas tombol stik PS, dan matanya melirik tajam pada Vino yang duduk di sisi kiri sofa. Mendengar nama Clarice di sebut dalam kondisi yang menurutnya sangat tidak tepat, membuat percikan kecil di dalam dada sang pemuda.
"Apa maksud kamu?" tanya Arsen sembari kembali melanjutkan permainannya. Namun raut wajahnya sudah tidak seramah saat awal ia memasuki kamar Naufal.
"Saat aku memasuki sekolah kita pertama kali, sesungguhnya aku menyukai Clarice. Aku pertama kali melihat nya saat MOS. Hanya saja suatu ketika aku melihatnya di antar oleh seseorang yang aku ketahui sebagi bos Papa ku." Vino mulai bercerita. "Dari situ aku tau kalau dia anak Pak Kenzo Adhitama. Dan itu membuat aku minder untuk mengenal dia lebih jauh."
"Lalu?" Arsen diam-diam menarik nafas panjang yang mengandung keresahan serta emosi di dalamnya.
"Jadi aku tidak berani mengenalnya... Dan aku memilih untuk lanjut mendekati Neha yang sudah aku kenal sejak SMP." ucapnya. "Tapi ternyata dia seorang pengkhianat!" ucapnya meremas stick PS di tangannya. "Padahal sejak awal aku sudah mati-matian menjaga jarak dengan Clarice. Karena dia selalu cemburu setiap melihat ada Clarice di sekitar ku."
"Terus?" tanya Arsen ingin tau semakin jauh.
__ADS_1
"Dan sekarang aku ingin mengejar Clarice saja, aku akan fokus dengan dia. Dia bukan tipe gadis yang pilih-pilih." jawab Vino.
"Cla tidak boleh berpacaran!" sahut Arsen dengan dada yang mulai terasa panas.
"Aku tau dia sekarang belum boleh berpacaran. Tapi tidak ada salahnya untuk memulai pendekatan sejak sekarang, kan?" ujar Vino dengan seulas senyum yakin jika kali ini ia akan berhasil. "Lagi pula kalau aku berhasil mendekati Clarice, aku jadi bisa membalas dendam pada Neha. Biar dia tau, aku berhasil mendekati gadis yang memang sejak awal sudah membuatnya cemburu."
Sampai di sini nafas Arsen sudah terlihat sangat tidak bersahabat. Gigi sudah mengerat dengan kuat. Dari kalimat Vino, sudah bisa di simpulkan jika sang pemuda menginginkan Clarice setelah putus dari Neha.
Tapi ia harus bagaimana? Menghajar Vino karena rencana itu? Tidak mungkin! Apalagi yang ia tau, Cla juga menyukai pemuda satu ini.
"Jadi maksud mu... Kamu akan mencari simpati Clarice setelah kehilangan Neha?" tanya Arsen dengan dada yang mulai kembang kempis. Jemarinya bahkan sudah bermain dengan kasar di atas tombol stik yang ia genggam.
"Yaa... untuk saat ini aku hanya bisa mendekati dia, mencari simpatinya untuk membuat dia mencintai aku pada akhirnya." jawab Vino dengan sangat serius. "Aku yakin dia akan menyukai aku suatu saat nanti. Aku pernah merasa kalau dia cukup mudah untuk aku dekati, jika aku berani pada saat itu."
Arsen meletakkan stik di tangan nya dengan menghentak pada tempat tidur Naufal. Emosi nya meledak tidak tertolong mendengar kalimat Vino yang seolah ingin menjadikan Clarice sebagai pelarian setelah kehilangan Neha yang ia ketahui di sukai Vino sejak masih SMP.
"Kenapa?" tanya Vino langsung menoleh pada Arsen yang terlihat mendadak bersikap tidak bersahabat.
"Sebaiknya urungkan niatmu itu!" ucap Arsen memicing tajam pada Vino yang langsung memundurkan kepalanya heran.
"Apa maksud kamu?" tanya Vino. "Kamu tidak terima aku mendekati Clarice?" tanya Vino. "Kenapa? Kamu cemburu? Kamu menyukai nya juga?" tanya Vino mengerutkan keningnya. "Tapi aku lihat kalian sangat jauh sekarang!"
"Tapi jika seandainya kamu juga menyukai dia, bagaimana kalau kita bersaing secara fair play?" tawar Vino. "Kamu dekati, aku juga mendekati. Siapa yang kalah, harus menjauh sejauh jauhnya!"
Mendengar tawaran ini, Arsen semakin emosi. Dengan dada yang kembang kempis mengikuti nafas kasar yang ia hembuskan, Arsen berucap...
"Ini bukan masalah aku menyukai Cla atau tidak. Lagi pula Cla juga bukan barang untuk di perebutkan dengan cara apapun." ucap Arsen dengan gigi yang mengerat. Namun posisi sang pemuda masih tetap tengkurap di atas ranjang Naufal.
"Lalu kenapa sekarang kamu seperti tidak suka aku ingin mendekati Clarice?" wajah Vino mulai bingung. Melihat ekspresi marah Arsen ia pun seolah ikut tersulut emosi.
"Kau tau..." ucap Arsen lirih dengan menahan genggaman yang sudah ingin memukul mulut salah satu sahabatnya ini.
"Apa?"
"Saat Cla mendengar kau jadian dengan Neha, dia sangat sedih! Sangat! Dan hanya aku yang tau tentang hal ini." ucap Arsen.
"Kenapa dia sedih?" tanya Vino mengerutkan keningnya.
"Karena Cla menyukai mu sejak pertama kali kalian bertemu di sekolah!" ucap Arsen dengan nada bicara yang terdengar cukup angker.
"Ha?" pekik Vino seolah tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Vino. Rasa kemenangan menyelinap begitu saja di dalam hatinya. Ingin tersenyum, tapi tidak bisa semudah itu.
"Kamu yakin, Bro?" tanya Vino.
Bagai menemukan jarum di dalam tumpukan jerami, Vino tidak bisa lagi menahan degupan jantung yang berdetak lebih cepat setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh sahabatnya satu ini.
Pernah menginginkan, namun mundur dengan sendirinya karena rasa tidak percaya diri. Dan ketika berniat untuk maju, justru mendapat berita yang bisa di ibaratkan kejatuhan emas. Tentulah sang Atlit merasa mendapat jalan tikus untuk bisa sampai pada tujuan lebih cepat.
"Tapi aku benci apa yang kamu ucapkan barusan, Vin!" desis Arsen.
"Kenapa benci? Kan bagus kalau ternyata Clarice memiliki perasaan padaku?" tanya Vino. "Aku jadi lebih mudah untuk bisa mendapatkan cintanya." ucapnya dengan dua sudut bibir yang langsung terangkat ke atas. Sudah tidak mampu lagi menahan senyum kemenangan.
"Tapi tidak dengan menjadikan dia sebagai pelarian!" sentak Arsen.
"Kenapa kamu tiba-tiba marah? Kamu tidak suka?" tanya Vino heran, dan senyum yang sempat terbit sekilas ikut lenyap begitu saja. "Aku tidak menjadikan Cla sebagai pelarian!"
"Kalau tidak ingin menjadikan Cla sebagai pelarian, seharusnya kamu tidak mendekati dia saat kamu kehilangan Neha!" hentak Arsen dengan kasar.
"Kamu kenapa jadi begini?" Vino menatap dalam wajah Arsen.
"Aku tidak suka melihat Cla menangis! Tapi aku pernah melihat dia menangis karena kamu!"
"Sen? Jika benar waktu itu Cla menangis karena aku, Ok! Aku minta maaf. Karena saat itu aku tidak tau kalau ternyata Cla menyukai ku." ucap Vino mengubah posisi dengan duduk menyamping untuk mempermudah melihat Arsen.
"Dan sekarang aku sudah tidak menjalin hubungan dengan gadis manapun, kemudian aku berpikir untuk mendekati Cla, harusnya itu normal, bukan?"
"Normal jika kamu sudah tidak menyukai Neha!"
"Aku sudah tidak menyukai Neha, Sen!"
"Kalau kamu sudah tidak menyukai Neha, kamu tidak akan berpikir untuk membalas dendam pada Neha, bodoh!" kesal Arsen berucap dan menahan emosi.
"Tau apa kamu tentang apa yang aku rasakan?" tanya Vino. "Membalas sakit hati bukan berarti aku masih menyukai dia!"
"Aku juga laki-laki, Vin! Aku tau apa yang kamu rasakan!" Arsen menghentak tempat tidur Naufal dengan sangat kasar, hingga membuat Vino memundurkan wajahnya karena kaget.
"Sebaiknya kamu jangan ikut campur, Sen." ucap Vino. "Thanks, sudah memberi tahu aku kalau sesungguhnya Clarice menyukai ku!" ujarnya menepuk pundak kiri Arsen.
"Itu dulu! Kamu harus ingat, waktu yang berjalan juga bisa membuat segala sesuatu berubah. Termasuk perasaan!" desis Arsen.
"Aku tau. Sen! Yang jelas selama Clarice pernah menyukai ku, itu akan membuat aku lebih mudah untuk mendapatkan dirinya." ucap Vino.
Sementara Arsen berusaha menahan emosi, Vino kembali menghadap ke depan, dan bergumam ...
"Dengan begitu, Neha akan tau... Jika aku bahkan bisa mendapatkan cinta seorang Brighta Clarice Agasta, putri Tuan Kenzo Adhitama. Salah salah satu pengusaha terkaya di Ibukota! Neha? Bukan apa-apa!"
BUG!
Bersamaan dengan kalimat itu berakhir, sebuah tinjuan mendarat di pipinya yang putih. Dan seorang Arsenio Wilson sudah berdiri di depannya dengan dada yang kembang kempis menahan emisi yang sudah tidak terkontrol lagi.
"Akkh!" Vino mengaduh tiba-tiba sembari menyentuh rahang atasnya menggunakan ibu jari. Wajah tampannya memicing menahan sakit dan nyeri akibat hantaman tangan Arsen yang terkepal.
"Brengsek!" umpat Arsen setengah tertahan karena sedang berada di dalam rumah Naufal dengan pintu tidak tertutup rapat.
__ADS_1
"Apa-apaan kau, hah!" seru Vino berdiri dan mendorong pundak Arsen dengan cukup kuat. Hati tidak terima di pukul begitu saja tanpa alasan yang tidak jelas.
"Aku tidak suka dengan pemikiranmu!" jawab Arsen menghentak, memicing dan penuh dengan emosi.
"Kenapa tidak suka?" tanya Vino. "Aku menyukai Clarice sejak pertama kali kammi bertemu, dan sebelum aku dan Neha berpacaran. Salah ku di mana kalau sekarang aku ingin mewujudkan perasaan ku waktu itu?"
"Lagi pula kamu bilang Cla juga menyukai ku. Jadi apa salahnya kalau aku sekarang mendekati dia?"
"Salah mu adalah menjadikan Clarice sebagai bahan yang bisa kamu andalkan untuk membalas sakit hati! Aku tidak terima!"
"Kalau memang suka dengan ku, kamu mau apa?" tanya Vino menantang. "Siapa kamu berani ikut campur!" hentak Vino.
Menatap tajam pada Vino, Arsen menarik dan membuang nafas dengan kasar. Kalau memang Cla menyukai dan mencintai sahabatnya ini, memang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain melindungi Cla dengan tetap menjadi penonton. Dan mengawasi jalannya cerita.
"Aku berikan kau satu kesempatan! Jika sampai Cla menangis karena mu! Maka aku pastikan bukan hanya tanganku yang turun untuk membalas semuanya!" ucap Arsen serius.
"Satu tetes air mata Cla yang jatuh karena ulah mu, aku akan membuatmu membayar semuanya dengan merasakan 10 kali tinjuan tanganku." ucap Arsen. "Ingat! Itu untuk satu tetes air mata!"
"Jika Zuria saja bisa di singkirkan seorang Kenzo Adhitama dengan mudah! Apalagi kau!" hentak Arsen. "Setiap kekecewaan yang di rasakan Cla, harus kau bayar padaku!"
"Aku tidak akan membuat Clarice menangis!" yakin Vino ikut menghentak Arsen.
"Akan lebih baik jika bukti yang berbicara! Bukan mulutmu!" sembur Arsen.
"Kau meragukan aku!" hentak Vino kembali mendorong pundak Arsen, namun kali ini dengan gerakan sedikit kasar.
Arsen hanya membalas dengan mengangkat sebelah ujung bibirnya. Mencibir kalimat Vino yang hanya ia anggap bullshit.
"Dan jika kelak ternyata Cla menolakmu, jangan pernah mengulang untuk mencoba mendekati dia lagi!" ancam Vino. "Satu penolakan Cla berlaku untuk selamanya!"
"Bilang saja kalau kau juga menyukai Cla!" sahut Vino tersenyum mengejek.
"Itu bukan urusanmu!" sembur Arsen lagi.
"Cih! Kalau cinta bilang cinta! Dari pada menyesal kalau ternyata dia benar-benar jadi milikku!"
"Itu bukan urusanmu!" ulang Arsen jauh lebih jelas dan di penuhi dengan penekanan. "Jangan membuat aku memilih untuk merebutnya, sebelum kau... berhasil!"
"Ingat itu!" seru Arsen mendorong pundak Vino dengan kasar.
"Malam prom night akan menjadi saksi, dia membalas cintaku! Menangis saja kamu di rumah!" seru Vino menatap tajam Arsen.
Balas menatap tajam, "Satu kali kesempatan!" ulang Arsen tanpa menggubris kalimat terakhir Vino.
Kemudian meninggalkan Vino begitu saja di kamar Naufal. Dada bergemuruh menahan emosi yang tidak karuan. Rasanya ingin sekali memberi tahu Clarice jika Vino memiliki niat yang tidak baik padanya. Tapi ia tak ingin menyakiti hati gadis itu dengan membuat kecewa.
Bagaimana jika ternyata Cla memang masih menyukai Vino? pikirnya.
Arsen menyalurkan emosi yang meletup di dalam dada dengan cara menuruni tangga dengan menghentak kuat.
"Sen? mau kemana?" tanya Naufal ketika berpapasan di anak tangga paling bawah, ketika Naufal hendak kembali ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Balik!" jawab Arsen berhenti sejenak sembari menghela nafas berat.
"Baru sampek sudah balik?" tanya Naufal menatap tak percaya pada Arsen yang biasanya akan betah walau seharian di rumahnya.
"Ada perlu sama Bokap!" kilah Arsen yang tak ingin Naufal tau apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Vino.
"Oh..." Naufal mengangguk percaya, meski ia membaca gurat wajah yang tak biasa. "Okay!" Naufal menepuk pundak Arsen.
Mengangguk sekilas, dan Arsen kembali melangkah meninggalkan rumah Naufal.
Sepanjang perjalanan, yang di ingat oleh pemuda satu ini hanyalah tentang kalimat Vino yang ingin menjadikan Clarice sebagai alat membalas sakit hati Vino. Meski ia tau jika sejak awal Vino memang sudah menyukai Cla, namun terhalang oleh status mereka yang berbeda.
"Satu tetes air mata saja, akan aku balas dengan darahmu, Brengsek!" ujar Arsen ketika menggeber motornya bagai tengah beradu di arena balap.
***
"Kenapa Arsen buru-buru?" tanya Naufal ketika sampai di kamarnya, dan melihat wajah masam Vino yang terlihat melamun di sofa.
"Mana ku tau!" jawab Vino sembari mengembalikan kesadaran dengan berpura mencari ponselnya yang ada di saku celana miliknya.
Naufal bisa membaca ada yang aneh. Namun ketika hendak bertanya lebih jauh, ponselnya justru berdering dan nama Gwen muncul di sana. Sebuah nama yang akhir-akhir selalu ia tunggu untuk muncul di layar ponsel miliknya.
***
Sejak hari itu... sejak detik itu... perang dingin antara Arsen dan Vino berkibar sepanjang tahun ketiga mereka berada di Senior High School.
Tahun terakhir yang seharusnya menjadi tahun kesempatan untuk menjalin hubungan baik sebelum akhirnya berpisah, justru menjadi tahun duka dan penuh dendam bagi Arsen Vino.
Sampai akhirnya malam prom night pun tiba. Dan Arsen yang sudah tau akan rencana Vino, tentu tak ingin menjadi saksi pembuktian Vino.
...🪴 The End! 🪴...
✍️ Sampai jumpa di hari Senin, tgl 24 Juli 2023. Di judul baru, kelanjutan kisah Clarice dan Arsen.
Apa judulnya?
Akan di infokan hari Senin mendatang, setelah episode pertama dinyatakan Lulus Review.
Thank you all.... 🥰
Salam, Lovallena ❤️
__ADS_1