
"Di mana Kakak Cla?" tanya Galen dengan suara khasnya pada Kenzo saat malam telah larut. Dan bocah laki - laki itu justru baru bangun dari tidurnya yang sejak sore tadi.
"Kakak Cla tidur di rumahnya Papa nya. Namanya Papa Zio." sahut Calina yang tidur di samping Galen.
"Kakak Cla punya Papa?"
"Ya, Sayang... Kakak Cla punya Daddy dan juga punya Papa." jawab Kenzo apa adanya.
"Kalau Galen punya Papa atau tidak?"
Sontak Kenzo dan Calina saling tatap, dan reflek mengulum senyum mereka masing - masing. Pertanyaan anak - anak memang seringkali membuat orang dewasa harus berpikir untuk memberi jawaban sekaligus alasannya.
"Galen cukup punya Daddy saja tidak perlu punya Papa." jawab Kenzo memeluk putra kecilnya itu.
"Tapi Galen juga ingin punya Papa seperti Kak Cla...'
"Kalau Galen dan Kak Cla punya Papa sendiri - sendiri, terus siapa yang akan menemani Daddy?"
"Kan ada Mommy..."
Lagi - lagi Kenzo dan Calina terlibat adu tatapan kemudian di lanjut dengan sebuah gelak tawa.
"Kalau Daddy cuma di temani Mommy, yang ada Galen akan punya adik banyak!" jawab Kenzo dengan terkekeh gemas.
Calina pun ikut tergelak mendengar jawaban sang suami yang pasti akan sulit di artikan oleh anak berumur dua tahun seperti Galen.
'Kenapa begitu?" tanya Galen dengan polosnya.
"Yaa... karena begitu! hahaha!" Kenzo semakin terbahak dengan obrolannya sendiri pada sang putra. Calon penerusnya di Adhitama Group.
Tak kalah dari Kenzo, Calina pun ikut terpingkal saat melihat ekspresi Galen yang polos, kemudian melihat ekspresi Kenzo yang mesum.
Galen bingung melihat Daddy dan Mommy nya tertawa lepas, setara menurutnya tak ada satupun yang perlu di tertawakan.
"Galen tidak di ajak tidur di rumahnya Papa Kak Cla?" tanya Galen tiba - tiba.
"Tentu saja tidak boleh, Sayang!" sahut Calina dengan masih ada sisa tawa. "Kan rumah Galen ada di sini!"
"Tapi Galen jadi tidak punya teman main..." rajuk Galen dengan wajah cemberutnya.
"Main sama Daddy, ya?" tawar Kenzo sembari setengah mati menahan tawa diperutnya.
"Tapi lebih seru main sama Kak Cla!"
"Besok Kak Clarice sudah pulang, kok. Sekarang main sama Mommy dan Daddy dulu, ya?" rayu Calina.
"Baiklah!" jawab Galen sedikit kecewa.
***
Sedangkan di tempat lain, Gilang berhasil membuat Kayla mengakui dirinya sudah tidak lagi depresi atau gila sejak beberapa tahun yang lalu. Namun kekejaman di masa remaja yang pernah ia alami membuat dirinya lebih memilih untuk tinggal di Rumah Sakit Jiwa dan berpura - pura gila.
"Waktu itu aku memilih untuk kabur, karena di Rumah Sakit ada pasien baru. Dan aku mengenal buruk laki - laki itu."
"Siapa?"
Kayla terdiam. Ia kembali menatap jendela ruang tamu yang sudah menunjukkan suasana Ibukota yang gelap. Bintang sudah bertebaran di sekitaran bulan yang bersinar terang.
__ADS_1
"Apa dia yang membuatmu trauma di masa remaja?"
"Aku belum bisa menceritakan semua itu, Gilang..." jawab Kayla menatap kosong keluar jendela.
"Lalu kenapa kamu mau kembali, saat secara paksa membawamu kembali ke Rumah Sakit?"
"Karena saat kamu mengantarku, aku mendengar seorang perawat bilang, kalau pasien itu di pindah ke Rumah Sakit Jiwa di luar pulau, guna mendekati keluarganya yang ada di sana.."
Gilang memutar memory yang telah lama terpendam. Ia ingat, saat akan berangkat ke Rumah Sakit Kayla menolak bahkan dengan menjerit. Namun saat selesai pemeriksaan, Kayla tampak diam dan menurut.
"Jangan pernah menganggap aku orang lain, Kay..." lirih Gilang meraih tangan Kayla yang terasa sangat lembut. "Kamu pasti bisa merasakan, bukan? kalau akau selalu tulus sama kamu?"
"Aku tau, Gilang... terima kasih atas semua itu." jawab Kayla membalas rengkuhan tangan Gilang dengan rengkuhan lembut. "Tapi semua itu terlalu sakit untuk di kenang, ataupun di ceritakan kembali."
"Untuk saat ini aku tidak akan memaksa kamu, Kay... tapi aku mohon... buat dirimu siap untuk menceritakan semua itu kepada ku." ucap Gilang. "Aku akan selalu menunggu waktu itu tiba."
Kayla menoleh pada Gilang, menatap teduh wajah tampan yang sudah dua hari setia menemaninya. Untuk membuktikan tentang apa yang sangat di yakini pria itu. Bahkan sampai membatalkan niatnya untuk kembali ke Australia.
"aku tau..." lirihnya setelah menghela nafas panjang.
"Kamu tidak ingin jujur pada Zahra?" tanya Gilang.
"Setelah aku siap, aku pasti menemui dia..." jawab Kayla. "Aku juga sangat ingin menggendong keponakan ku.."
"Ya, keponakan kamu memang sangat cantik."
"Hemm.." tersenyum manis. Setuju dengan pernyataan Gilang yang mengatakan Felia cantik.
"Besok aku ingin menemui Kakak ku. Aku sudah rindu juga dengan kedua keponakan ku."
"Ya... pergilah..." jawab Kayla mengangguk lemah.
"Tidak akan..."
***
Kembali pada Zio yang sedang gelagapan ketika di tanya sang anak gadis tentang siapa sosok Zahra.
Dan semakin tertegun ketika mulut kecil nan mungil itu bertanya apakah Zahra calon Mama nya.
Sungguh pertanyaan yang belum bisa ia jawab untuk saat ini. Karena untuk saat ini hubungan mereka tak lebih dari rekan kerja. Meski ada celah yang mulai terisi dengan perasaan yang lain. Perasaan yang tak ia rasakan kepada rekan kerja wanita lainnya.
"Apa Aunty itu calon Mama Cla?"
Mobil terus melaju ke arah rumahnya. Namun pertanyaan Clarice terus saja terngiang di telinga Zio. Seolah mengejar untuk segera di jawab oleh sang Ayah.
"Aunty itu namanya Aunty Zahra," jawab Zio. "Dia juga bekerja di kantor. Mungkin Clarice lupa atau tidak mengenali karena terlalu banyak Aunty di sana." jawab Zio menoleh sekilas pada Clarice yang masih asyik dengan ice cream di dalam cup nya.
"Tapi Papa dan Mamanya Felia seperti orang pacaran..." ucap Clarice lagi - lagi membuat Zio tertegun.
"Memangnya Clarice tau apa itu pacaran?"
"Kalau ada anak laki - laki dan perempuan duduk berdua itu namanya pacaran..." jelas Clarice berdasarkan pandangannya sendiri.
Zio terkekeh geli, "siapa yang bilang pada Clarice?"
"Teman - teman di sekolah." jawab Clarice. "Mommy dan Daddy juga bilang, supaya Cla tidak terlalu sering bermain dengan teman laki - laki. Kata Mommy lebih baik berteman dengan anak perempuan, asal merek baik."
__ADS_1
Zio kembali terkekeh mendengarkan jawaban bocah lima tahun di sampingnya. Namun ia juga bangga dengan cara Kenzo dan Calina memberi pemahaman pada anaknya.
"Sayang...?" panggil Zio lembut. "Kalau ada laki - laki dan perempuan duduk berdua, belum tentu mereka itu berpacaran..."
"Lalu?"
"Ya... bisa saja mereka hanya berteman. Atau justru rekan kerja seperti Papa dan Mama nya Felia." jawab Zio. "Dan yang kami bicarakan juga bukan tentang berpacaran, tapi mengenai sesuatu yang mana anak - anak belum memahaminya."
"Tapi Felia tadi bilang, kalau Papa nya sudah meninggal, dan dia ingin seperti Clarice. Punya Daddy dan juga punya Papa."
Zio tertegun mendengar apa yang di jelaskan putrinya. Jika di terawang, memang kehidupan ini rumit dan selalu ada saja yang di kurang kan.
Ada yang tidak punya Mama, lalu ingin punya Papa. Begitu juga sebaliknya. Dan ada yang punya keduanya, tapi kehidupan tidak terasa bahagia,. Ada saja kurangnya.
Termasuk dirinya yang selalu lupa akan bersyukur. Hingga ia hanya menjadi manusia yang di penuhi dengan rasa menyesal di masa sekarang.
Dan saat ini yang menurutnya sangat kurang adalah, seharusnya dia, Calina dan Clarice hidup bahagia.
' Andai jika waktu bisa ku putar... pasti ku perbaiki hubungan kita, Cal... tidak akan ada satu tahun mu yang aku penuhi dengan kebencianku padamu. '
Zio kembali mengenang masa sulit yang ia berikan pada Calina. Namun semua sudah terjadi dan tak dapat di ulang kembali.
"Pa?"
"Ya?"
"Clarice mau, kalau seandainya Papa dan Mamanya Felia menikah..." ucap Clarice tiba - tiba.
Zio terdiam dalam hening. Pikirannya kini hanya di penuhi dengan permintaan Calina. Rasanya ia tak ingin membahas lagi. Karena ia pun ragu untuk menjalin hubungan kembali. Takut mengecewakan mereka.
***
Zio tiba di rumahnya, dan lekas mengajak Clarice untuk masuk ke dalam rumah. Ia sudah tak sabar ingin memperkenalkan Clarice pada Naura. Ya... meskipun itu hanya melalui foto.
"Cantik... seperti apa yang di bilang Mommy!" tanggap Clarice saat melihat foto kecil di atas nakas.
"Clarice sudah tau siapa namanya?"
"Emmm..." Clarice mencoba untuk mengingat - ingat siapa namanya. "Lupa! hehehe" Clarice tersenyum lebar.
Zio pun ikut tersenyum, "Namanya Mama Naura.."
"Oh iya! Mama Naura! Mommy sudah memberi tahu, tapi Clarice lupa!"
"Tidak masalah, Sayang... sekarang sudah malam, ayo kita tidur di kamar Papa!"
"Cla tidak punya kamar sendiri di sini?"
"Cla mau punya kamar sendiri di rumah Papa?"
"Ya, setiap hari Cla tidur sendiri!"
"Baiklah, besok akan Papa siapkan kamar sendiri untuk Cla di sebelah kamar Papa." jawab Zio. "Cla mau karakter apa untuk jadi temanya?"
"Unicorn!" jawab Cla antusias menyebutkan karakter favoritnya.
"Baiklah, Tuan putri, satu kamar Unicorn akan di siapkan untuk putri Papa yang paling cantik!" ujar Zio sembari menggendong Clarice dan membawa bocah kecil itu naik ke lantai dua.
__ADS_1
Sepanjang malam, rasanya Zio tak ingin melepaskan pelukannya pada gadis kecil yang menjadi malaikat cinta, saat cinta dari orang - orang terdekatnya terlah pergi satu - persatu.
🪴 Bersambung .... 🪴