
Jika di dalam mobil ada Daddy Kenzo yang sedang cemburu, namun akhirnya luluh juga dan kini tengah makan siang berdua di salah satu rumah makan yang ada di pinggiran jalan.
Maka pagi hari itu di Alexander International School ada Clarice yang sedang malas melihat satu anak yang selama ini justru selalu ia lihat secara sembunyi-sembunyi.
Mengagumi sejak pertama kali ia memasuki Senior High School, dan kini harus kecewa karena yang ia idolakan tak seindah yang terlihat ketika di sekolah.
Sang pemuda yang ia anggap setia, karena sejak awal masuk sekolah hanya terlihat mengejar Neha sang kakak kelas, tenyata mengejar gadis lain, atau bahkan mungin sudah memiliki gadis lain di luaran sana.
Meski seperti apapun rasa kecewa yang sedang ia rasakan, nyatanya ketika sang pemuda kini tengah berdiri di depan kelas untuk mengerjakan soal fisika yang di berikan oleh guru di papan tulis dan harus di kerjakan di depan, Clarice tetap melihat sang pemuda. Meskipun akhirnya selalu membuang muka, ketika mengingat apa yang terjadi hari sabtu itu.
Menghela nafas, Clarice merasa sangat bosan melihat laki-laki yang ada di depan. Akhirnya ia pun berdiri, dan mengangkat tangan kanannya.
"Miss, izin ke toilet!" ucap Clarice dengan masih berdiri di bangkunya.
"Ya, silahkan..." jawab guru Fisika yang sedang mengajar.
Dan keluarlah Clarice dari bangkunya untuk langsung menuju pintu keluar tanpa menoleh Vino yang masih mengerjakan soal di depan tulis.
***
"Huh!" Clarice menghela nafas berat, ketika berdiri di wastafel yang ada di dalam toilet khusus untuk murid perempuan.
Cla menatap pantulan dirinya pada cermin besar dengan tiga buah wastafel yang ada di atas meja marmer.
' Jadilah seperti Mommy yang memilih untuk tidak berurusan dengan lawan jenis yang menyangkut perasaan, Cla! Karena semua akan sia-sia. '
' Papa dan Mommy yang menikah di usia matang saja bisa bercerai. Apalagi sekedar hubungan anak sekolah di tengah gempuran jaman yang seperti ini. '
Puas memandangi diri dari pantulan cermin toilet, Clarice mencuci tangan untuk bersiap kembali ke kelas.nya yang berjarak sekitar 50 meter
Melangkah keluar, Clarice tidak memperhatikan sekitar. Karena ia merasa tengah sendirian sejak tadi. Lorong pun terdengar sangat sepi.
"Sudah?"
Cla melompat kaget saking shock nya, ketika baru saja membuka pintu utama toilet, dan muncul lah suara yang seolah sengaja menunggu nya keluar dari dalam toilet di sisi kanan pintu.
"Apa yang kamu lakukan!" tanya Clarice sedikit menghentak karena saking kagetnya.
"Menunggumu..." jawabnya santai sembari tetap bersandar pada dinding toilet.
"Kamu masih waras, kan?" tanya Cla. "Untuk apa menungguku di toilet?"
Tersenyum tipis, "Tentu saja aku masih waras, dan justru sangat sehat!" jawabnya.
"Lalu... untuk apa menunggu ku di sini?" Cla memicingkan matanya.
Kemudian mata lentik Cla mengamati sekitar. Lorong lantai dua saat ini terlihat sangat sepi. Hanya ada dirinya dan sang pemuda yang berdiri di sisi pojok lorong. Di mana pintu utama toilet laki-laki dan perempuan saling berhadapan. Maka di antaranya lah kini keduanya berada.
"Aku ingin tau..." ucapnya namun tak di lanjutkan.
"Ingin tau apa?"
"Apa hubungan kamu dengan Arsen?"
"Arsen?" pekik Clarice yang tak percaya dengan pertanyaan pemuda yang tak lain adalah Vino itu.
"Ya!" jawab Vino. "Aku lihat kamu dan Arsen sangat dekat!"
"Apa alasan kamu menganggap aku dan Arsen sangat dekat!"
__ADS_1
"Setiap hari saat di sekolah, kalian pasti ada momen untuk berdua. Dan yang paling membuat aku penasaran adalah... kenapa kamu bisa menemani Arsen di arena balap liar sabtu kemarin?"
DEG!
Cla benar-benar tidak menyangka jika sebenarnya Vino tau bahwa dirinya juga ada di arena balap bersama Arsen.
"Menemani Arsen di arena balap?" tanya Cla bingung. "Kamu melihatku?" tanya Clarice dengan dada yang berdegup. Karena setau nya kala itu, Vino sama sekali tidak melihat e arah dirinya.
"Pertama, aku tau kamu datang bersama Naufal! dan kedua aku melihat postingan dari Arsen yang menunjukkan fotonya bersama mu di akun instagram miliknya. Bahkan dua foto di story WA nya." jawab Vino. "Dan sebagai sesama lelaki, aku paham seperti apa watak dan sifat Arsen. Dia tipe laki-laki yang tidak akan semudah itu membagikan fotonya dengan seorang gadis di dunia maya! Apalagi follower Arsen ribuan. Dan semua adalah follower asli, bukan follower fiktif."
Vino mencecar Clarice dengan berbagai pertanyaan juga pernyataan-pernyataan yang membuat Clarice memicingkan matanya dengan dahi yang berkerut. Setelah merasa Vino benar-benar diam, barulah Cla menarik nafas panjang sebelum berbicara.
"Sebenarnya... aku dan Arsen tidak memiliki hubungan apapun." jawab Clarice apa adanya. "Tapi kalau kamu melihat aku dan Arsen seperti ada hubungan yang tak biasa, apa yang menjadi masalah kamu?" tanya Cla dengan nada sedikit ketus. "Apa hubungannya dengan kamu?"
Sepertinya efek dari apa yang ia lihat di hari sabtu waktu itu masih berimbas sampai saat ini. Padahal semua hanya hubungan yang tidak jelas. Tapi kenapa semua jadi rumit dan seolah olah apa yang terjadi adalah cinta segitiga.
Vino tergelak tanpa suara, "Aku hanya ingin tau..."
"Untuk apa ingin tau?" tanya Cla sengaja memojokkan Vino yang menurutnya sangat aneh untuk saat ini.
"Entahlah... aku hanya merasa ingin tau apa hubungan mu dengan Arsen. Karena aku yakin sebentar lagi kamu pasti akan di geruduk fansnya Arsen!"
Clarice semakin memicingkan matanya tidak paham. Di geruduk fans Arsen yang bagaimana? kenapa? Hanya karena sebuah foto bersama?
Oh my God! segila itu fans nya Arsen!
"Apa yang maksud kamu?" tanya Cla penasaran.
"Tunggu saja nanti!" jawab Vino mengedikkan bahunya dan bersiap untuk kembali ke kelas.
Clarice semakin kesal dengan sikap aneh Vino. Dan saat itu juga terbesit di dalam benaknya untuk membahas tentang gadis yang bersama Vino sore itu.
Mendengar kalimat Clarice yang aneh, Vino langsung menghentikan langkah kakinya. Ia berfikir, kenapa harus di geruduk oleh Neha dan teman-temannya?
Dan dua detik kemudian Vino kembali menoleh ke belakang, kembali menatap Clarice dengan tatapan yang heran. Jika tadi ia yang membuat Cla memicingkan mata dan mengerutkan keningnya, maka sekarang dirinya yang memicingkan mata dan mengerenyitkan keningnya menatap Clarice.
"Memangnya kenapa aku harus takut dengan Neha dan teman-temannya?" tanya Vino dari posisi yang belum berubah. "Apa hubungannya?"
Clarice tersenyum miring, mengungkap keburukan seseorang seperti halnya menguliti kulit ayam untuk melihat dagingnya asli atau tidak. Maka Clarice akan segera mengungkapkan apa yang ia ketahui tentang Vino di sini. Sebelum ia melihat perang dunia ketiga yang mungkin saja aan terjadi.
"Aku juga melihat kamu dengan seorang gadis di arena balap sore itu," ucap Cla. "Dan gadis itu bukan Neha. Siapa dia? gadis mana lagi yang kamu dekati selain Neha?" tanya Cla dengan seulas senyum mengejek. Seolah berkata pada Vino, untuk bersiap-siaplah jika Neha mengetahui semuanya.
"Kalau Neha tau, bukan hanya Neha yang akan mencincang buaya darat seperti mu! Tapi juga the genk yang ia gawangi itu!"
Namun alih-alih mendapatkan apa yang membuatnya tersenyum mengejek, justru pemuda di depannya itu tergelak tanpa suara mendengar penjelasan Clarice. Karena jika sampai gelak tawa itu di sertai suara, sudah pasti lorong akan di penuhi dengan suara tawa Vino yang meledak hebat.
Bisa-bisa seluruh penghuni di lantai dua akan keluar dari kelas masing-masing dan menatap heran pada Vino dan Clarice. Kemudian bertanya, ada apa gerangan?
Dan tentu itu membuat Clarice terheran-heran. Senyum di bibirnya seketika lenyap secara perlahan. Dan berganti dengan menatap Vino dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa kamu tertawa?" heran Cla.
Vino yang masih tergelak pun berjalan mendekati Clarice, supaya obrolannya tidak terlalu terdengar keras dari kelas yang paling dekat dengan toilet. Karena ia juga harus menahan tawanya yang masih sulit untuk di tahan.
"Jadi kemarin kamu juga melihatku?" tanya Vino.
"Ya, tentu saja!" ketus Cla mencibir.
"Apa yang sedang kamu lihat?" tanya Vino yang kini berdiri berhadapan dan hanya berjarak satu langkah saja. Senyum di bibirnya masih samar-samar terlihat.
__ADS_1
"Kamu menyuapi gadis itu makanan, dan juga berbagi minuman dari gelas yang sama!" jawab Clarice menatap tajam pada sepasang mata Vino.
"Lalu apa yang kamu simpulkan dari semua itu?"
"Kalian berpacaran!" jawab Clarice sesuai dengan kesimpulan yang ia lihat kemarin.
"Haha!" Vino tertawa sekilas dan langsung menghentikan suara tawanya. Dan ia menahan suara di tengah tawanya sampai perutnya terasa sakit.
"Hanya dengan menyuapi dan berbagi minum, lalu dengan posisi ku yang duduk berhadapan berdua, lantas kamu mengira kami berpacaran?" tanya Vino di tengah gelak tawanya. "Pikiran dari mana itu, Nona Clarice...?"
"Kalau bukan berpacaran, lalu apa?" tanya Cla.
Tidak lagi menjawab, Vino memilih untuk menekan rasa ingin tertawanya. Kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mengotak atik sekilas, dan langsung menghadapkan layar ponsel Iphone 11 itu pada Clarice.
"Lihat ini!" ucap Vino.
Dan Clarice pun menatap layar ponsel Vino dengan mengerenyitkan keningnya, kemudian matanya mendelik setelah memahami apa yang di maksud oleh Vino.
Tau jika Cla sudah memahami foto pertama yang ia tunjukkan, Vino menghadapkan kembali layar ponselnya pada diri sendiri. Kemudian mengotak atik lagi, setelah itu ia hadapkan kembali pada Clarice yang masih penasaran dengan kebenaran yang belum ia temukan buktinya.
"Paham?" tanya Vino lagi setelah dua detik kemudian.
"Kalian sepupu, atau saudara?" tanya Clarice seolah tak percaya dengan dua foto yang di tunjukkan Vino tadi.
"Kalau kami, kenapa? tidak percaya aku dan dia itu saudara kandung?" tanya Vino.
"Iya!" jawab Clarice yang sebenarnya ragu dengan jawaban nya sendiri.
Karena foto pertama menunjukkan foto Vino bersama gadis yang kemarin ia lihat dan juga ada Neha tengah duduk bertiga di salah satu Cafe. Yang artinya Neha sudah mengenal gadis yang bersama Vino kemarin. Apalagi mereka terlihat akrab. Dan saat foto bersama juga Vino tampak merangkul pundak gadis itu.
Sedang foto kedua menunjukkan foto dirinya dan gadis itu ketika masih berusia sekitar 10 tahunan. Wajah mereka tak jauh berbeda, sehingga masih sangat mudah untuk di kenali.
"Coba bukti yang lain!" pinta Clarice sedikit menghentak lirih. Ia tak mau menerima begitu saja apa yanng ia lihat.
Sepertinya dua remaja itu lupa, jika waktu terus berjalan, dan jam pelajaran Fisika di kelas X-3 belum usai. Masih ada guru yang harus ia perhatikan ketika memberikan materi. Dan mungkin saja sang guru kini sudah menyadari jika ada dua muridnya yang menghilang entah kemana.
"Oh my God..." lirih Vino menggelengkan kepalanya pelan. Ia masih heran dengan Clarice yang tak semudah itu mempercayai dirinya.
Akhirnya sang pemuda kembali mengotak atik ponsel miliknya. Untuk bisa menemukan foto yang jauh lebih real dan lebih mudah untuk di pahami sang teman perempuan, jika dia dan gadis yang bersamanya kemarin adalah saudara kandung.
"ini!" Vino kembali menunjukkan sebuah foto, saat ia foto bertiga dengan sang Kakak laki-laki yang juga merupakan seorang atlit dulunya, dan kini tengah mengabdi pada negara sebagai seorang TNI Angkatan Udara. Lalu gadis yang di anggap Clarice sebagai kekasih Vino, duduk di samping Vino.
"Namanya Mariana Lubis! usia kami hanya beda satu tahun, dan sekarang dia masih kelas IX SMP Bhakti Mulya. Itulah yang membuat kami terlihat seumuran." ucap Vino memberi penjelasan. "Dia sangat manja padaku, dia sangat cemburu jika aku atau kakakku memiliki kekasih, jadi dia selalu bertingkah seolah di adalah kekasih kami saat berada di luar rumah." jelas Vino lebih jauh.
"Meski begitu dia tidak pernah melarang kami untuk berpacaran, asal mereka di kenalkan padanya." ucap Vino kembali. "Dan Neha sedikit banyak sudah mengenal Mariana, karena dulu kami satu sekolah!"
Clarice terdiam mendengar penjelasan Vino yang masuk akal. Karena jika di telusuri lebih jauh maka anak gadis satu-satunya memang kebanyakan selalu manja, seperti dirinya yang selalu manja pada sang Daddy, dan sang Papa.
"Masih tidak percaya? aku perlihatkan foto keluarga kami!" ucap Vino kembali menggeser layar berulang kali, hingga sebuah foto kembali muncul di layarnya. Dan segera ia tunjukkan pada Clarice yang membeku.
Kali ini sebuah foto dengan formasi satu keluarga lengkap. Kedua orang tua Vino, sang kakak laki-laki, dirinya dan Mariana.
"Sekarang percaya, kan?" tanya Vino.
Sementara Clarice masih mengamati satu persatu wajah orang yang ada di dalam foto keluarga itu. Dan saat melihat salah satu orang yang ada di dalam foto itu, mata Clarice membulat lebar hingga menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Kamu anaknya Om Beni?" tanya Clarice menatap tak percaya pada Vino.
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1