
Bersikap seolah-olah dirinya adalah rekan bisnis kepercayaan Adhitama Group, Afrizal menyampaikan kalimat yang justru membuat security di rumah Kakek Adhitama merasa perutnya sedang di geli tiki. Ingin tertawa, tapi dirasa sangat tidak sopan menertawakan tamu yang baru datang.
Sungguhlah kalimat yang keluar dari mulut Afrizal itu sebenarnya sedang mempermalukan dirinya sendiri. Di kiranya security tak tau apa yang sedang terjadi.
Afrizal dan istrinya turun dari mobil dengan dada yang sama-sama kembang kempis. Memikirkan kalimat terbaik untuk bisa merayu Tuan Adhitama agar membantunya membuat Kenzo membatalkan penarikan saham. Mereka melukiskan raut wajah sebaik yang mereka bisa.
Karena jika sampai hal buruk itu benar-benar terjadi, siang akan menjadi malam untuknya. Dan malam akan menjadi semakin pekat untuk Afrizal dan seluruh keluarganya.
Dengan mengandalkan kepercayaan di masa lalu, Afrizal masih memiliki 75% rasa percaya diri jika sang Tuan Besar Adhitama, sekaligus pendiri Adhitama Group akan membantunya menyelesaikan urusan saham.
Tapi percaya diri tinggallah percaya diri. Dia tidak punya bekal apapun untuk menjadi tameng terkuat di depan tubuhnya. Misalnya hubungan persahabatan sebelum terjadinya kerja sama.
Dua pasang kaki mulai melangkah, memasuki teras rumah mewah yang di desain dengan sangat mewah sejak puluhan tahun lalu oleh arsitek ternama yang di pilih oleh Kakek Adhitama. Dan semua masih tetap sama, hanya terus di perbaiki dan di cat ulang. Belum pernah sekalipun di rubah, demi menjaga keaslian warisannya kelak.
"Daddy siap?" tanya Gita pada sang suami.
"Ya! mau tidak mau, siap tidak siap, kita sudah berada disini. Ini adalah satu-satunya cara yang tersisa untuk bisa kita coba." jawab Afrizal dengan rasa percaya diri yang semakin menurun, seiring dekatnya langkah mereka dengan daun pintu yang di desain sangat megah.
"Baiklah... Mommy percaya pada Daddy!" jawab Gita. "Masa depan keluarga kita ada di tangan Daddy untuk saat ini."
"Kok di tangan Daddy?" tanya Afrizal menoleh sang istri dengan tatapan heran.
"Yaa... siapa lagi kalau bukan Daddy?" tanya Gita sembari menghentikan langkah. Tentu saja itu membuat Afrizal melakukan hal yang sama.
"Kan, Daddy yang jadi kepala rumah tangga. Jadi Daddy lah yang harus bertanggung jawab dengan masa depan kita! Masak Mommy!" lanjut Gita memprotes.
"Tapi Mommy juga harus bertanggung jawab akan hal ini!" sahut Afrizal. "Selama ini Mommy yang meminta Daddy untuk memanjakan Zuria. Dan inilah hasil dari permintaan Mommy!"
Menarik nafas dalam, "Tapi Daddy punya tanggung jawab penuh untuk keluarga. Daddy yang punya hak untuk mengambil keputusan untuk ikut memanjakan dirinya atau tidak. Kenapa jadi Mommy yang di salahkan?"
"Tetap Mommy yang harusnya mendidik Zuria dengan baik!"
"No! harusnya Daddy juga ikut mengajari Zuria untuk bersikap baik pada siapapun juga!"
"Mommy!"
"Daddy!"
Tak kunjung menekan bel, justru pasangan suami istri itu berdebat di depan teras seorang pengusaha kaya raya Ibukota. Membuat security yang berada di pos jaga menatap heran. Meski ia tak bisa mendengar secara langsung apa yang sedang di bicarakan oleh dua orang itu.
Bukan hanya security, tapi juga tukang kebun yang sedang membersihkan dan menyiram taman di jam sore.
Sepasang suami istri memang sering di sebut sebagai cerminan diri. Jadi wajar jika mereka seolah terlihat menyerang diri mereka sendiri.
"Maaf saya menyela, Tuan dan Nyonya." ucap seseorang berpakaian seperti sopir yang tiba-tiba muncul dari sisi kanan rumah. Dan sepasang suami istri itupun akhirnya menoleh pada sang lelaki dengan sepasang mata yang memicing.
"Ada apa?" tanya Afrizal.
"Tuan Adhitama dan Nyonya Nuritha tidak suka ada keributan di rumah ini, wahai Tuan dan Nyonya..." lanjut orang itu.
__ADS_1
Dan apa yang di katakan oleh pria berbaju sopir itu berhasil membuat dua orang yang sama-sama di landa pusing itu diam seribu bahasa. tidak ada yang berani menyela, apalagi mengangkat dagu seperti sebelumnya.
Meski hanya sopir yang memberi peringatan, namun dengan membawa nama yang di sebutkan oleh orang itu, sudah cukup membuat nyali keduanya menciut dan memilih untuk mengakhiri perdebatan.
"Baik, kami minta maaf..." ucap Gita pada sopir itu.
"Silahkan tekan belnya, Tuan!" jawab sang sopir, tanpa membalas permintaan maaf Gita. "Tuan dan Nyonya ada di ruang tengah."
"Baiklah..." jawab Afrizal.
Setelah pria berseragam sopir itu pergi, Afrizal menekan bel yang berada di dekat kusen pintu. Dan tak butuh waktu lama untuk pintu itu terbuka oleh seorang wanita dengan pakaian yang sangat rapi. Namun keduanya sangat tau, jika wanita itu bukan keluarga Adhitama.
"Selamat sore...." sapa Afrizal pada wanita yang tak lain adalah Tika, sang kepala pelayan.
"Iya, Sore..."
"Perkenalkan, saya Afrizal dari ARL express... dan ingin bertemu Tuan Adhitama."
"Saya tau, masuklah!" jawab Tika datar. "Ikuti saya!"
Tika membalikkan, untuk mengantar Afrizal dan istrinya menemui Kakek Adhitama.
Sebelum mengikuti langkah Tika, tampak Afrizal dan istrinya saling tatap satu sama lain, namun tidak ada kata yang keluar dari bibir keduanya. Hanya sebuah kode untuk mengikuti langkah Tika yang di tunjukkan oleh Gita.
Memasuki rumah mewah itu, Afrizal menyusun kalimat yang tepat dan terbaik untuk di sampaikan pada Kakek Adhitama. Ia harus pulang dalam keadaan tetap kaya raya, pikir sang pengusaha expedisi.
"Silahkan!" ujar Tika menunjuk sebuah sofa yang ada di ruang tamu.
"Terima kasih..." jawab Afrizal.
"Ya... saya akan panggilkan Bapak."
Tika memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar, untuk menyampaikan pada Kakek Adhitama.
***
Dengan usia yang sudah tidak lagi muda, Kakek Adhitama berjalan lambat untuk bisa sampai di ruang tamu. Sudah tidak pernah lagi mengenakan jas kerja lengkap, Kakak Adhitama tetap terlihat tampan di usia yang sudah lebih dari 70 tahun. Karena memang Kakek Adhitama menikmati masa tuanya dengan baik.
Tika, sang kepala pelayan sigap mengikuti langkah sang Kakek untuk menemui tamunya di ruang tamu. Sementara Nenek Nuritha memilih untuk menunggu di ruang tengah. Karena Nenek Nuritha sejak awal kurang menyukai Gita.
"Selamat sore, Tuan Adhitama..." sambut Afrizal yang langsung berdiri untuk menyambut Kakek Adhitama. Begitu juga dengan sang istri.
"Ya, duduklah...." jawab Kakek Adhitama menunjuk sofa, dan beliau sendiri juga duduk di salah satu sofa panjang.
"Ada apa, mencari Kakek tua seperti ku?" tanya Kakek Adhitama sedikit menyindir.
Sebelum menjawab, Afrizal menoleh pada Tika yang duduk di kursi kayu yang ada di pojok ruangan dekat meja telepon dengan sebuah vas bunga di meja itu.
"Em... sebelumnya, boleh Ibu yang ada di sana meninggalkan ruang tamu ini, Tuan?" tawar Afrizal yang tidak ingin pembicaraannya di dengar oleh orang lain, siapapun itu. Karena ia akan sangat malu jika ada yang tau dirinya sedang di ambang kemiskinan.
__ADS_1
"Maaf, Tuan! tugas saya adalah menjaga Kakek Adhitama. Apapun alasan yang anda berikan untuk mengusir saya, saya tidak akan pernah pergi dari ruangan ini!" tegas Tika dengan menatap datar pada Afrizal dan istrinya. "Karena kursi ini memang di sediakan untuk saya menemani Bapak dan keluarga lainnya menerima tamu." lanjut Tika penuh penegasan.
"Nah, sudah dengar?" tanya Kakek Adhitama dengan senyuman ramah. "Seperti itulah adanya peraturan di rumah ini. Maklum... kami ini sepasang manusia lanjut usia yang butuh pengawasan, pengawasan dan pengawasan. Karena tidak semua pekerjaan bisa kami lakukan sendiri seperti saat muda dulu.
Afrizal dan istrinya kembali saling tatap satu sama lain, untuk kesekian kalinya.
"Bisa di percepat?" tanya Kakek Adhitama. "Sebentar lagi anak dan cucu-cucu ku akan datang."
DEG!
Sudah pasti itu Kenzo Adhitama beserta keluarganya yang akan datang. Jika mereka datang, sudah pasti ia akan lebih kesulitan untuk memohon pada Kakek Adhitama.
"Begini, Tuan... Saya mendapat laporan dari Asisten saya, jika Adhitama Group menarik semua saham yang di tanam di perusahaan saya." ucap sang pengusaha. "Apa tidak bisa di pertimbangkan lagi, Tuan?" tanya Afrizal menatap lekat Kakek Adhitama yang masih tersenyum samar. "KIta sudah bekerja sama selama belasan tahun. Dan pembagian hasil selama ini juga sesuai dengan perjanjian. Rasanya sangat aneh jika Adhitama Group menarik semua sahamnya."
Tersenyum datar, Kakek Adhitama yang sudah puluhan tahun memimpin perusahaannya itu hanya heran dengan sikap Afrizal yang hanya melihat dari segi pembagian hasilnya saja.
"Aku tau... tapi perusahaan itu sudah aku berikan pada putra ku untuk di kelola. Dan aku percaya putra sulungku bisa membawa perusaan semakin maju, dan itu sudah terbukti dengan perkembangan luar biasa yang di alami oleh Adhitama Group. Dan aku sangat bangga!"
"Dengan segala pencapaian dan kesuksesan yang ia dapatkan, rasanya aku tidak perlu tau lagi alasan apapun, kenapa putra ku sampai mencabut semua sahamnya di perusahaan manapun. Dan aku rasa, aku juga tidak perlu tau, jika seandainya putra ku mendirikan bisnis baru, ataupun menanam saham di perusahaan mana saja. karena aku yakin, anak sulung ku adalah lelaki yang penuh tanggung jawab."
Kata demi kata di sampaikan oleh Kakek Adhitama dengan suara yang penuh dengan penegasan. Meski usia beliau tidak lagi muda, tapi keahlian beliau dalam memberi briefing masih sangat bagus.
"Tapi Tuan, dulu kita sudah sepakat untuk saling percaya, bukan?"
"Kamu benar! Dan aku sangat percaya padamu..."
"Lantas kenapa Adhitama Group menarik semua sahamnya?"
"Bukankah dalam surat perjanjian ada pasal yang menyatakan Adhitama Group bisa kapan saja menarik sahamnya jika memang di butuhkan."
"Iya, itu memang kesepakatan bersama, begitu juga dengan perusahaan yang lain. Tapi yang saya maksud di sini, Adhitama Group menanam modal di perusahaan saya di masa kepemimpinan Tuan Adhitama. Tapi kenapa, setelah di pimpin oleh Pak Kenzo, justru beliau menarik semua sahamnya? Padahal kita sudah sama-sama untung." tanya Afrizal. "Saya rasa sangat tidak mungkin jika Pak Kenzo bisa dengan mudah menarik sahamnya. Seperti... tidak menghargai Tuan Adhitama." ujar Afrizal mencoba untuk menjadi kompor dalam suatu kasus.
Namun Tuan Adhitama justru tersenyum samar, "Jika memang anak ku mencabut semua sahamnya, itu pasti bukan tanpa alasan. Mungkin karena ada masalah yang sukar diselesaikan dan sebagainya...." jawab Kakek Adhitama dengan datar. "Aku sangat mengenal anak sulung ku. Aku yakin, setiap keputusan yang ia ambil pasti sudah di sertai dengan alasan dan pertimbangan yang sangat kuat."
"Bukankah tidak baik untuk sebuah jalinan kerja sama, jika membawa masalah pribadi ke dalam urusan bisnis?" tanya Afrizal.
"Dan bukankan sangat tidak baik, jika sebagai rekan bisnis tidak bisa menghargai rekan bisnisnya."
"Tidak bisa menghargai yang bagaimana maksud Tuan Adhitama? saya sangat menghargai Tuan Adhitama dan juga Tuan Kenzo."
"Ya...aku tau... Tapi aku tidak terlalu puas dengan semua itu.
"Maksud, Tuan?"
Tersenyum datar, "Putra ku bilang... anakmu mengatai istrinya wanita murahan?" tanya Kakek Adhitama.
Sontak Afrizal dan Gita kembali saling tatap satu sama lain, dengan sepasang mata yang membulat. Keduanya sama-sama tidak menyangka jika Tuan Adhitama sudah mengetahui semuanya. Sungguh tidak menyangka sebelumnya jika ia kalah cepat dari rivalnya.
Menarik nafas dengan dalam, dan membuangnya pelan. Kini Afrizal kembali menoleh Tuan Adhitama dengan detak jantung yang tidak normal. Bibirnya hendak terbuka, namun rasanya sangat sulit untuk mengeluarkan suara apapun juga.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...