
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Setelah mengabari Naufal semalam, bahwa ia mendapat izin dari sang Papa. Kini Clarice mempersiapkan diri. Ia sudah mandi sejak setengah jam yang lalu. Dan kini sudah berada di depan meja rias untuk merapikan diri sekaligus menunggu kedatangan Naufal, yang sedang dalam perjalanan.
Rumah Naufal dan Clarice berada dalam satu wilayah. Hanya beda perumahan saja. Jika perumahan Naufal ada di komplek elite, di mana penghuninya rata - rata orang kaya, atau bahkan setara dengan Daddy Kenzo.
Maka rumah Clarice atau Papa Zio ada di perumahan biasa. Di mana penghuninya berasal dari golongan menengah ke atas. Meski tidak menutup kemungkinan banyak dari merkea yang mampu dan kaya. Hanya saja terlanjur nyaman tinggal di perumahan itu.
Di beritahukan oleh Naufal jika akan pergi menggunakan motor, maka kini Clarice sudah siap dengan celana jeans ketat, dan hoodie lengan panjang dengan penutup kepala, sudah melekat di tubuhnya. Penampilan yang simple dan sesuai dengan karakter Clarice yang tidak terlalu feminim, tapi juga tidak tomboy.
Rambut hitamnya yang bergelombang di biarkan tergerai. Supaya saat memakai helm nanti kepalanya tidak sakit oleh ikat rambut yang terkadang menyembul di belakang kepala.
Sepatu kets berwarna putih sudah membungkus kaki mulusnya yang putih bersih, dengan kuku - kuku bening asli. Tanpa polesan warna dari cat kuku.
Dan kini Nona cantik siap untuk di jemput sang pangeran yang datang dengan membawa kuda besinya.
Menuruni tangga bersamaan dengan Felia yang konon katanya akan di jemput oleh seorang teman perempuan, Clarice menyempatkan diri untuk bertanya.
"Memangnya kamu mau kemana, Fel?" tanya Clarice.
"Pergi dengan teman - teman, Cla!" jawab Felia. "Tapi aku belum tau mereka mau mengajak aku kemana." jawab Felia yang kini sudah berdandan rapi, tak kalah modis dari Clarice. Bedanya adalah yang ada di dalam tas selempang kecil mereka.
Jika tas Felia berisi ponsel Iphone 12, dan dompet yang berisi satu kartu ATM dari sang Papa yang isinya mungkin tak seberapa.
Maka di dalam tas Clarice ada Iphone 14, dan sebuah dompet yang berisi dua kartu dari sang Daddy dan sang Papa. Dimana jika di jumlah, saldonya cukup untuk membeli 4 buah Iphone 14. Karena Clarice termasuk anak yang hemat. Sehingga tabungannya semakin tebal sejak masih duduk di bangku SMP. Ketika ia pertama kali mendapat uang jajan sebanyak yang di dapat oleh Galen saat ini, di tambah dari sang Papa, yang saat itu hanya 1,5 juta saja.
Beruntung, perbedaan yang tak terlihat itu tak membuat Felia merasa iri. Maupun membuat Cla lebih merasa mampu di banding Felia.
"Kenapa kita bisa sama?" gumam Clarice. "Naufal juga begitu, aku tanya kita mau kemana? jawabnya kemana saja, yang penting pakai celana! karena kita naik motor!" ucap Clarice menirukan jawaban yang di berikan oleh Naufal semalam.
"Hahahah!" Felia tertawa dengan cara Clarice menirukan cara bicara Naufal yang menurutnya lucu dan polos. "Kamu terbiasa berteman dengan anak orang kaya. Jadi harus pakai kode pakai celana atau free. Beda dengan aku. Kalau kami sangat jarang pergi bawa mobil, meskipun semua punya mobil milik orang tuanya!" jawab Felia. "Tapi naik motor itu lebih seru loh, Cla!" lanjutnya.
"Iya, aku tau!" jawab Clarice. "Makanya aku senang kalau Naufal ngajak pergi naik motor, pasti seru!"
"Ya, kamu benar!" jawab Felia.
"Kalian pergi sekarang?" tanya Papa Zio yang memang sengaja menunggu kedua putrinya turun dari lantai dua di ruang tengah.
"Ya, Pa!" jawab kedua anak itu mendekati Papa Zio yang tengah bersantai dengan Mama Zahra.
"Hati - hati ya, Kak!" ucap Mama Zahra memperingati kedua anak gadisnya.
"Iya, Ma..." jawab keduanya bersamaan. Dan bergantian bersalaman dan mencium pipi kedua orang tuanya.
"Hati - hati ya, Kak?" ucap Papa Zio yang selalu khawatir melepas kedua anak gadisnya.
Tapi mau apa di kata, mereka sudah 16 tahun. Di mana di usia itu masih di penuhi dengan rasa penasaran akan dunia di luaran sana, tanpa menimbang baik buruknya. Dan tentu saja sedang mengejar kata gaul atau kekinian.
Karena jika terlalu di kekang juga yang ada mereka akan memberontak dan bisa jadi akan lebih gila dari ini. Maka yang bisa orang tua lakukan adalah menasehati, mengawasi dan memberikan contoh yang baik.
"Ingat! jangan pulang terlalu malam. Justru semakin cepat semakin baik."
"Siap, Papa!" jawab keduanya sembari melangkah ke arah ruang tamu.
Sementara di luar sudah ada seorang anak perempuan menggunakan motor matic yang sedang menunggu Felia. Melihat sahabatnya sudah menunggu Felia segera meraih helm nya di atas almari sepatu dan langsung mendekati sang sahabat.
"Aku pergi dulu ya, Cla!" pamit Felia melambai pada saudara tirinya sembari memakai helm nya.
"Iya!" jawab Clarice ikut melambaikan tangan.
Bersamaan dengan Felia yang naik motor motor matic temannya, maka muncullah Naufal dengan motor CBR250RR berwarna merah yang di padu dengan warna hitam miliknya. Dari motornya saja sudah bisa di prediksi sekaya apa pemiliknya.
Lalu yang di bonceng sudah pasti akan sangat bangga dan merasa percaya diri. Karena jelas, uang sakunya sudah pasti tebal.
Saat Naufal berhenti, Felia dan sahabatnya menyempatkan diri untuk menyapa Naufal yang memang sangat tampan di mata anak seusia mereka. Apalagi motor yang di bawa kelasnya bukan kaleng - kaleng.
Naufal yang ramah reflek mengangguk dan tersenyum. Apalagi ia tau jika yang menyapa adalah saudara tiri Clarice, sang sahabat.
"Hai!" sapa Clarice mendekati Naufal yang masih duduk di atas motornya.
"Siap?" tanya Naufal.
__ADS_1
"Ya!" jawab Clarice. "Memangnya kita mau kemana?"
''Nonton balapan motor!" jawab Naufal santai, sembari membantu Clarice memakai helm.
"Balap liar?' tanya Cla.
"Bisa jadi begitu."
Setelah Cla berpikir sejenak, maka kini keduanya sudah berada di atas motor sebagai tanda Cla setuju untuk menuju lokasi yang di katakan oleh Naufal. Dan mulai melaju untuk keluar area perumahan.
***
"Wow ramai sekali!" seru Clarice melihat sebuah jalanan beraspal yang mengarah ke stadion sepak bola di penuhi dengan banyak sekali anak muda yang sudah berjajar. Juga mereka yang sedang antri untuk masuk.
Ada yang bergerombol dengan kawan - kawannya masing - masing, ada yang tampaknya datang bersama kekasih masing - masing. Ada pula beberapa orang dewasa yang juga ikut melihat.
Stadion berada jauh di lahan kosong sana. Dan untuk sampai ke sana harus melintasi jalanan beraspal yang lebar dan sejauh hampir 1,5 km, yang khusus di buat untuk bisa sampai di stadion. Jalanan yang di buat cukup lebar dan luas. Dan area itu sudah biasa di gunakan untuk melakukan aksi balap liar.
Meskipun liar, setidaknya tidak di lakukan di jalanan yang di lalui oleh warga maupun orang lain yang tujuan mereka lewat tidak untuk menonton aksi balapan yang banyak di ikuti oleh anak muda dengan skill yang bersaing.
"Kamu baru pertama kali ke sini?" tanya Naufal. Keduanya masih di atas motor, berhenti di tepi jalan untuk cek lokasi dan melihat situasi terlebih dahulu.
"Iya... aku sering lewat sini, tapi baru kali ini aku melihat tempat ini ternyata di gunakan untuk balapan!" jawab Cla yang masih duduk di jok belakang.
"Setiap sabtu malam minggu ada?" tanya Clarice melihat banyaknya orang yang sudah mulai mengambil posisi di dalam sana.
"Tidak! hanya hari sabtu ke dua saja biasanya ada beginian." jawab Naufal yang masih santai dengan posisinya. Bahkan siku tangan sang pemuda dengan santainya berada di atas lutut Clarice sebelah kiri.
Orang lain pasti akan menganggap jika mereka adalah sepasang kekasih yang sedang berkencan di area balap liar. Tanpa mereka ketahui jika mereka sebenarnya hanyalah sahabat yang selalu berusaha untuk saling melengkapi satu sama lain.
"Lumayan sih, untuk hiburan murah meriah di akhir pekan!" gumam Clarice.
"Hemm... kamu benar!" sahut Naufal.
"Kenapa tadi tidak ajak pacar kamu?" tanya Clarice.
"Pacar?" tanya Naufal seperti samar menyebut sebutan itu.
"Dia bilang break dulu!" jawab Naufal dengan suara yang sedih dan memilukan.
Clarice tertegun dengan mata yang membulat, "Kamu putus?"
"Tidak..." jawab Naufal dengan tatapan kosong ke arah stadion. "Dia hanya meminta kami break, entah sampai kapan."
"Memangnya sejak kapan kalian break? kenapa aku baru tau?"
"Satu minggu yang lalu."
"kenapa tidak cerita?"
"Aku tidak ingin kamu merasa menjadi terbebani dengan cerita - cerita ku. Dan aku tidak mau sore ini kamu merasa hanya aku jadikan sebagai pelarian."
"Oh my God!" pekik Clarice. "Sejak kapan aku merasa menjadi pelarian kamu? bahkan kamu punya pacar pun aku masih sering kamu ajak jalan - jalan, bukan!" jawab Clarice sedikit menggebu. "Aku lebih menganggap mu sebagai saudaraku di banding dengan sahabat ku! Jadi untuk apa sungkan!"
Menghela nafas panjang, mengingat tentang kekasihnya yang meminta break.
"Iya... aku tau!" jawab Naufal melirik Clarice dengan tatapan yang sendu?"
"Entahlah! ingin fokus persiapan ujian katanya."
"Ada - ada saja!" gerutu Clarice.
"Lagi pula, dia tidak pernah mau nonton beginian. Takut di datangi polisi." ucap Naufal tersenyum miring.
"Hah?" pekik Clarice tergelak lucu. "Yang sabar, ya... dia kan pilihan kamu, bukan pilihan aku ataupun orang tua kamu." hibur Clarice setengah bercanda.
"Apaan sih!" gerutu Naufal. "Mau masuk sekarang?" tanya Naufal kemudian.
"Boleh!"
__ADS_1
Meraka pun akhirnya ikut masuk ke dalam barisan motor yang sedang antre untuk bisa masuk ke dalam sana. Dengan membayar tiket sebesar 25 ribu rupiah per satu motor, keduanya bisa masuk dan memposisikan motor mereka di tepi jalan untuk bisa melihat lebih dekat siapa yang akan beraksi di tengah jalan untuk menunjukan kebolehan mereka menggunakan motor masing - masing.
"Berapa CC motor yang di gunakan sore ini, Bang?" tanya Naufal pada sang penjaga tiket.
"250 CC!" jawab singkat pria berusia sekitar 25 tahun itu.
"Oh, okay!"
"Mau ikut?" tanya penjaga itu setelah melihat motor yang di pakai oleh Naufal.
"Tidak, Bang! cewek yang ku bawa dilarang ikut balapan!"
"Oh! okay!" jawab penjaga melihat Clarice yang diam di belakang Naufal. Yakin, sang penjaga diam - diam pasti mengagumi kecantikan Clarice.
"Yup!" jawab Naufal mulai membawa motornya maju, memasuki palang pintu khusus.
Naufal memposisikan motornya di barisan yang berjarak kurang lebih 300 meter dari titik start. Menghadapkan motor ke depan, Naufal dan Clarice sama - sama tidak turun dari motor Naufal. Itu juga yang di lakukan oleh beberapa pasang muda - mudi.
Mengenai uang tiket yang di bayarkan oleh penonton tadi, adalah untuk di berikan kepada pemenangnya. Dengan pengambilan juara 1, juara 2 dan juara 3. Sekaligus untuk uang kontribusi penggunaan jalanan area stadion yang pastinya akan di penuhi dengan sampah.
Karena selain ada yang datang untuk menonton, juga ada pedagang kaki lima yang datang untuk mengais rejeki dari mereka anak muda yang uang jajannya sudah pasti lebih.
Apalagi melihat kendaraan yang di pakai oleh mereka. Rata - rata semua kendaraan mahal, dan belum lagi biaya yang harus di keluarkan untuk motor - motor yang di modifikasi. Sudah pasti membutuhkan biaya lebih.
Mengenai hadiah, percayalah! yang di kejar oleh mereka bukanlah uang hadiah tersebut. Melainkan eksistensi dan embel - embel juara yang akan melekat di nama mereka.
Karena sebagian besar dari mereka adalah anak orang mampu dan kaya raya. Terbukti dengan jenis kendaraan yang mereka gunakan. Dan dari modifikasi motor mereka masing - masing.
Terlihat di ujung start, sudah ada beberapa motor dengan CC 250 terparkir. Itu adalah motor yang siap untuk beradu. Ada sekitar 12 motor yang siap beradu. Dan beberapa motor tampak ada yang sudah di modifikasi, dari segi ban.
Tak kalah dari itu, di sebelahnya ada beberapa anak muda laki - laki yang tampak berkumpul untuk mengambil nomor lotre untuk bermain di babak penyisihan.
Dari jarak sekian meter itu, Clarice seperti melihat seseorang yang tidak asing di matanya. Dia tengah ikut bersama pemuda yang lain untuk mengambil nomor lotre. Namun secepatnya pemikiran itu ia tepi, dan menganggap jika dirinya hanya berhalusinasi semata.
Beberapa menit kemudian, terlihat palang pintu di tutup rapat. Karena balapan akan segera di mulai. Dan smua penonton mulai riuh karena tidak sabar untuk melihat aksi para pembalap.
Sementara Clarice celingukan di barisan penonton. Mencoba untuk menemukan Vino yang ia dengar tengah mengajak Neha untuk menonton balapan liar. Namun jalanan ini sangat panjang, rasanya tidak akan mungkin menemukan pemuda itu dengan mudah.
Clarice mengedikkan bahu kecil, ketika merasa benar - benar yakin tidak menemukan pemuda itu.
"Apa hanya di sini lokasi balap liar yang dekat sekolah kita?"
"iya," jawab Naufal. "Meski begitu banyak pengunjung yang berasal dari luar Ibukota."
"What!" pekik Clarice tak percaya.
"Iya, entah itu untuk mengikuti lomba, atau sekedar menonton karena sekedar hobi melihatnya."
Clarice menggelengkan kepalanya pelan. Ternyata segila itu mereka semua dengan dunia balap liar.
Terlihat dari start sudah ada dua motor besar yang siap bertarung untuk unjuk kebolehan masing - masing bersama pemilik mereka.
Di sinilah yang mereka cari, harga diri, pengakuan diri dan juga nama besar. Harga diri benar - benar di pertaruhkan bagi mereka yang mengikuti balap. Karena tak jarang sorakan akan terdengar jika merkea melakukan kesalahan.
Dua motor yang terlihat akan memulai babap pertama penyisihan adalah CBR250RR vs Ninja 250. Dua motor tersebut sudah di bawa oleh panitia untuk parkir di tengah jalan, lebih tepatnya di garis start. Dan semua semakin tidak sabar untuk melihat siapa pemilik motor dengan harga yang cukup fantastis untuk di miliki anak muda.
Dua anak muda mulai berjalan mendekati motor dan menaiki motor masing - masing. Suara tepuk tangan saling bersahutan di sepanjang jalan menuju stadion. Pertandingan di lakukan satu ali putaran. Jalan yang di gunakan sejauh 1 km, jadi 2 km adalah jarak yang harus di tempuh untuk satu kali permainan.
Ketika seorang gadis yang membawa bendera mulai maju dan menghadang dua pembalap, semua anak muda yang semula duduk seketika berdiri untuk bisa melihat seperti apa aksi mereka berdua di titik start dengan helm teropong masing - masing.
"Tiga!" seru ketua panitia menggunakan Megaphone.
"Dua!" teriak nya lagi membuat dua pemain muli memasukkan satu gigi.
"SAA...TUU!"
Dan naiklah bendera hitam dan putih yang membentuk kotak - kotak dan di barengi dengan geberan sang petarung. Melajulah dua motor 250 CC dengan semakin cepat.
' Kenapa aku tidak asing dengan gestur dan mata yang menaiki CBR? '
__ADS_1
Gumam Clarice di dalam hati. Melihat pemain yang menggunakan CBR250RR dengan teropong merah yang di sertai warna hitam membentuk kilatan api.
...🪴 Bersambung ... 🪴...