Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 22 ( Kabar Buruk )


__ADS_3

Zio tiba di rumah istri pertamanya, Naura Azalea. Perempuan cantik dan anggun yang di gadang - gadang Zio sebagai satu - satunya wanita yang ia cintai di muka Bumi ini.


Wajah tampannya tampak lesu tak bersemangat, membuat Naura yang menyambut kedatangannya segera bertanya, ada apa gerangan dengan sang suami.


"Aku hanya terlalu banyak minum semalam..." jawab Zio sekenanya.


"Yakin?" Naura menyentuh lembut rahang Zio. Menopangnya dengan kedua tangan bersama jemari lentiknya. Mengamati lebih dekat wajah kusut suaminya.


"Iya, Sayaang!" jawab Zio meraih pinggang Naura untuk di dekap lebih erat. Ia daratkan sebuah kecupan lembut di dahi perempuan cantik itu. Berusaha mengukir senyum meski jelas terlihat jika senyuman itu senyuman yang memaksa.


"Mau langsung makan siang?" tanya Naura mengalihkan fokus dari pertanyaannya yang tak akan pernah terjawab.


"Boleh.." jawab Zio tersenyum samar.


Segera mereka bergegas untuk makan siang yang di buat Naura. Biasanya Zio selalu bersemangat memakan masakan Naura. Tapi kali ini ia tampak makan dengan sangat malas.


Bagaimana pun hati seorang wanita pasti tahu, jika ada yang tidak sedang baik - baik saja pada suaminya. Ada sesuatu yang tengah di sembunyikan oleh sang suami.


Setelah makan siang berakhir, Naura mengajak Zio untuk bersantai di balkon rumah Naura. Mencoba menggali apa yang di sembunyikan sang suami.


Namun sampai setengah jam obrolan, Naura tak kunjung mendapatkan apa yang ia cari. Saat hampir saja berhasil, suara dering ponsel Zio mengalihkan konsentrasi Zio.


šŸ“ž "Halo, Ma?"


šŸ“ž "Selamat sore, Mas? nama saya Lia perawat dari Rumah Sakit Citra Medika."


šŸ“ž "Oh, ada apa, ya? kenapa ponsel Mama saya ada pada anda?"


šŸ“ž "Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan di jalur Bypass bersama suaminya."


šŸ“ž "APA!"


Sontak Zio beranjak dari duduk santainya. Berdiri tegang menghadap langit yang biru. Begitu juga dengan Naura. Samar - samar ia mendengar apa yang di ucapkan sang perawat.


šŸ“ž "Warga membantunya dengan membawa ke Rumah Sakit kami. Saat saya cek daftar kontak untuk menghubungi keluarga. Dari nama yang tertera, sepertinya Mas ini anaknya!"


šŸ“ž "Ya! saya anaknya! bagaimana kondisi Mama dan Papa saya?"


šŸ“ž "Maaf, Mas... Bisakah anda datang ke rumah sakit sekarang? saya tidak bisa menjelaskan melalui telepon. Karena Mama anda juga masih dalam ruang operasi.


šŸ“ž "Baiklah!"


Jawab Zio tanpa basa basi. Ia segera akhiri panggilan.


"Bagaimana, Mas?"


"Papa dan Mama kecelakaan. Kamu mau ikut ke rumah sakit?"


"Tapi bagaimana kalau mereka melihat aku dan kembali murka seperti dulu?"


"Kamu tidak perlu bertemu mereka. Aku hanya ingin kamu memberi support untukku!" ucap Zio sangat sendu.


Naura mengangguk pelan. Ia usap dada suaminya yang terlihat berdebar. Mendapat kabar sedemikian buruk, tentu saja membuatnya panik.

__ADS_1


"Kita juga harus menjemput Calina!" ucap Zio. "Kalau Mama dan Papa sadar, biar Calina yang melihat, bukan kamu."


"Ya, Mas!" jawab Naura mengikuti apapun perintah suaminya.


***


Seperti rencana, Zio, Calina dan Naura berlarian di lorong Rumah Sakit Citra Medika yang berada di luar kota. Jika di perhitungkan, mungkin lokasi Rumah Sakita berada di tengah - tengah antara ibukota dan kampung halaman Zio dan Calina berasal.


"Pasien kecelakaan atas nama Bapak Raihan dan Ibu Reni!" ucap Zio pada sang petugas resepsionis.


"Silahkan ikut saya, Pak!" sahut seorang perawat laki - laki yang berdiri di meja resepsionis.


Tentu saja semua mengikuti langkah cepat sang perawat laki - laki itu dengan raut wajah pilu, panik dan khawatir yang bercampur menjadi satu.


Sampailah mereka di depan pintu yang berjajar dua. Bertuliskan Ruang Operasi. Saat baru saja tiba, bersamaan dengan pintu terbuka dan seorang dokter keluar dari sana.


"Bagaimana orang tua saya, Dok!" tanya Zio panik dengan sedikit menghentak.


Dokter melirik dua wanita yang berada di sisi kanan dan kiri Zio. Dua wanita yang tampak sangat berhubungan dengan pria di depannya.


"Bisa kita bicara berdua di ruang kerja saya?" tanya Dokter sepelan mungkin.


Zio hanya mengangguk pelan. Kemudian mereka segera masuk ke dalam ruang kerja sang dokter.


"Pak Raihan, menghembuskan nafas terakhirnya saat dalam perjalanan ke Rumah Sakit." ucap Sang Dokter penuh penyesalan karena belum sempat menangani korban.


Zio menatap tak percaya pada sang dokter. Tidak mungkin Papa nya meninggal secepat itu. Berulang kali ia gelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Berharap semua ini hanyalah mimpi.


Namun nyatanya ia memang berada di ruang kerja seorang dokter. Berbicara empat mata dengan pria dengan jas putih itu.


Air mata seorang Zio Alfaro menetes begitu saja. Tanpa isakan dan atau bahkan histeris.


"Lala Mama saya?" tanya Zio dengan suara yang teramat bergetar.


"Ibu Reni mengalami benturan yang sangat keras di kepala. Seperti yang Pak Zio setujui di telepon tadi, operasi sudah kami lakukan. Tapi hasilnya... kami tidak bisa menjanjikan..." ucap sang dokter kembali sendu.


Air mata Zio semakin deras mengalir. Saat menjemput Naura, telepon dari Rumah Sakit mengatakan jika Mamanya harus segera di operasi. Ia menyetujui, karena memang darurat.


"Berapa persen kemungkinan Mama saya bisa kembali pulih, Dok?"


Menghela nafas berat, "Kemungkinan hanya 20 sampai 30 persen, Pak."


"Yaa Tuhan..." lirih Zio.


"Bahkan kalaupun beliau berhasil bertahan hidup, kemungkinan besar beliau akan cacat!"


Zio menghapus air mata yang turun bergantian.


"Ibu anda sekarang audah di pindah ke ruang ICU. Semoga Allah masih memberi kesempatan untuk hidup."


Nafas Zio mulai tak beraturan, dan meninggalkan ruang dokter dengan langkah lesunya.


Di luar pintu, dua istrinya sudah menunggu dengan raut wajah cemas. Saat Zio keluar maka keduanya segera mendekat. Bertanya apa yang terjadi.

__ADS_1


"Papa meninggal... Mama masih koma dengan luka berat.." lirih Zio.


Membuat kedua istrinya sontak mengucap innalillahi. Zio memilih untuk memeluk Naura. Menumpahkan kesedihan yang sedang ia rasakan dalam dekapan dan usapan istrinya yang juga menangis.


Naura pun merasa sedih, setahun lebih ia menjadi istri Zio. Tapi belum pernah sekalipun ia bertemu kembali dengan mertuanya setelah pertemuan sekitar dua tahun lalu.


Sedangkan Calina, ia tau jika dirinya bukanlah bagian dari suka dan duka suaminya. Maka ia memilih untuk mundur dan duduk di kursi tunggu. Meneteskan air mata kesedihannya seorang diri.


Bagaimanapun baginya Mertua adalah orang tua keduanya. Yang sama - sama ia cintai dan hormati. Kehilangan dengan cara kecelakaan adalah sesuatu yang memilukan. Membuat siapa saja pasti kecewa karena belum sempat menyampaikan kata - kata perpisahan.


"Pak Zio? mari saya antar ke ruang jenazah!" ucap seorang perawat laki - laki, membuat Zio kembali sadar.


Zio mengangguk, dan dua istrinya ikut berjalan cepat di belakangnya. Hingga mereka sampai di ruangan bertuliskan Ruang Jenazah.


"Papaaaa!" teriak Zio sedikit tertahan, saat wajah pucat sang Papa terlihat jelas di atas brankar.


"Pa..pa.." lirih Calina dengan isakan dan air mata.


Hari itu, kesedihan dan duka menyelimuti Zio dan para istrinya. Kepergian Papa Raihan dan komanya Mama Reni, sudah cukup untuk membuat seorang Zio Alfaro berlinang air mata.


Prosesi pemakaman di lakukan hari itu juga. Di kampung halaman Zio dan Calina. Mama Shinta hadir dalam acara pemakaman itu. Bahkan Naura pun hadir. Namun ia berperan sebagai sahabat Zio dan Calina.


"Cal, bagaimana bisa kamu dan Zio bersahabat dengan perempuan itu?" tanya Mama Shinta saat mereka sudah kembali dari pemakaman.


"Oh, Naura teman kuliah Mas Zio. Dan sekarang Naura teman kerja Calina." kawab Calina berbohong.


"Oh.. Mama lihat mereka sangat akrab!"


"Namanya juga sahabat, Ma..." jawab Calina mengusap lengan Ibunya. Supaya tak kembali bertanya tentang Naura yang memang lebih sering bicara dengan Zio daripada dirinya.


"Dia sudah menikah?"


"Sudah.." jawab Calina datar. "Hanya saja suaminya seorang pilot. Jadi jarang di rumah, termasuk hari ini." Calina kembali berkilah.


"Oh!"


' Andai Mama tau siapa Naura. Mungkin hari ini juga Mama akan meminta Calina pulang... Maafkan Calina, Ma.. akan ada saatnya nanti Calina pulang. Meninggalkan dua orang itu. Tapi untuk saat ini Calina masih ingin tau perkembangan Mama Reni. Bagaimana pun beliau sangat menyayangi Calina... '


Ucap Calina dalam hati.


Sesungguhnya, sore itu Calina sudah berkemas. Bersiap meninggalkan Zio dengan segala keruwetannya. Ia bahkan sudah menyiapkan alasan untuk di ungkapkan pada mertua dan ibunya, kelak, jika mereka bertanya.


Namun tiba - tiba Zio datang dengan kepanikan. Akhirnya ia ikut masuk di kursi belakang mobil Zio. Mengikuti laju cepat sang suami keluar kota.


Dua hari, setelah prosesi pemakaman Papa Raihan, Zio sudah harus kembali bekerja setelah masa libur karena keluarga meninggal habis.


Sedangkan Calina memilih untuk merawat ibu mertuanya. Meminta tambahan libur cuti dari perusahaan ia bekerja selama tujuh hari ke depan.


Lebih baik ia berada di Rumah Sakit, dari pada harus di rumah dan melihat Zio setiap hari. Meskipun kemungkinan Zio akan pulang ke rumah Naura untuk berbagi suka dan duka dengan istri pertamanya.


"Sembuhlah, Ma.." lirih Calina mengusap lengan Mama Reni.


Tubuh ibu mertuanya itu di penuhi dengan selang dan berbagai alat untuk tetap bisa melihat perkembangannya.

__ADS_1


Tiga hari sudah Mama Reni dalam masa koma, tak ada sedikitpun pergerakan yang di temukan Calina. Semua tetap sama seperti saat Mama Reni masuk ICU pertama kali.


...🪓 Happy Reading 🪓...


__ADS_2