Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 90 ( Cerita Janne )


__ADS_3

Cukup membuat kaget dan was - was, ketika tiba - tiba ada orang asing yang mengajak bicara, membuat Calina terkesiap. Namun kali ini wanita itu terlihat sangat ramh dan tidak sombong, meski penampilannya sangat memukau. Hingga membuat minder lawan bicaranya.


"Janne?" tanya Calina dengan raut muka bingungnya karena merasa tak pernah mengenal nama itu pula.


Janne tersenyum gamang, "Kita memang tidak pernah bertemu dan berkenalan, tapi Kenzo sering bercerita tentang kamu."


"Mas Kenzo? kamu mengenalnya?"


Kembali terkekeh, "Ya, aku dan Kenzo adalah sahabat baik, Calina. Kami bersahabat sejak kecil." terangnya.


Calina kembali menatap lekat perempuan di sampingnya,kembali memeta raut wajah cantiknya. Dan memperhatikan warna dan panjang rambut yang sepertinya tidak asing.


Dan ya! dia ingat dimana melihat rambut dan dandanan seperti ini. Di restoran mall dekat apartemen. Dimana gadis berambut pirang itu duduk berdua bersama Kenzo di salah satu restoran. Saat itu ia masih hamil sekitar enam bulan. Tak di sangka kembali bertemu saat anaknya sudah berusia tujuh bulan.


Bedanya, gadis itu mendatangi dirinya secara nyata. Bukan lagi suatu kebetulan ataupun hanya sekedar melihat seperti waktu itu.


Dan apa yang ia ingat, membuatnya tersadar jika gadis itu cukup berarti untuk Kenzo. Laki - laki yang ia cintai secara diam - diam. Dan lelaki itu juga yang menobatkan diri sebagai Daddy Clarice, meskipun tidak pernah memintanya secara resmi untuk menjadi pasangan hidup.


Dan rasa sesak di dalam dada semakin menyeruak, saat ingat jika gadis itu pernah berulang kali menyentuh Kenzo di meja makan mereka. Yang bisa saja di artikan jika gadis itu mencintai ataupun mengharapkan Kenzo lebih dari sekedar sahabat.


"Oh.." lirih Calina dengan canggung. "Lalu bagaimana kamu bisa mengenali aku? sementara Mas Kenzo tidak pernah memperkenalkan kita?"


Tersenyum ramah, "Kenzo memang tidak pernah memperkenalkan kita. Tapi aku sering bertemu kalian sedang berbelanja bersama."


"Oh, ya? kenapa tidak menyapa?" tanya Calina mencoba mengakrabkan diri. Meski dalam hati berkata, jika ada pilihan lain, ia akan memilih untuk tidak perlu berkenalan dengan wanita bernama Janne ini.


Selain membuatnya minder, karena penampilan Janne sangat trendy, sedang dirinya pagi ini hanya di balut dengan celana baggypants berwarna putih, dan kemeja polos lengan panjang berwarna mocca tanpa brand ternama. Juga karena wajah Janne terlihat sangat mulus meski usianya terlihat lebih tua darinya.


Kembali tersenyum gamang, "Tentu saja aku tidak ingin mengganggu momen kencan kalian?"


"Kencan?" tanya Calina heran.


"Ya..." Janne mengangguk.


"Tapi kami bahkan tidak ada hubungan apapun selain berteman dekat, dan Clarice yang di minta oleh Mas Kenzo untuk memanggilnya Daddy." jelas Calina apa adanya.


Dan penjelasan Calina benar - benar membuat Janne tertawa sampai terkeekh gemas dan heran.


"Kamu kenapa sangat polos, Calina?" tanya Janne masih dengan sedikit gelak tawa.


"Maksudnya bagaimana?" tanya Calina bingung.


"Yaa.. kamu akan tau nanti, jika waktunya sudah tiba!" jawab Janne kembali memasang wajah serius.


Calina tersenyum kikuk. Ia tak sepenuhnya paham dengan apa yang di ucapkan Janne. Meski dalam hati ia memang selalu berharap untuk bisa kencan dengan seorang Kenzo Adhitama.


Bukan tentang siapa Kenzo Adhitama. Tapi tentang perasaanya yang berharap akan mendapatkan balasan dari sang CEO. Sama seperti wanita di sampiingnya.


Calina menoleh pada Janne, ia ingin sekali bertanya bagaimmana perasaan gadis itu pada Kenzo. Dan sakit apa yang sedang di derita gadis itu? sampai ia pernah mendengar gadis itu merengek pada Kenzo ketika berada di Rumah Sakit waktu itu.


Namun belum sempat ia bertanya, rupanya wanita di sampingnya itu seperti Cenayang. Yang dapat mengetahui isi pikiran seseorang, tanpa harus bertanya terlebih dahulu.


"Saat ini aku aku memang sedang sakit. Aku mengalami cedera tulang belakang..." ucap Janne tanpa melihat pada Calina.


"Tapi kamu terlihat sehat - sehat saja..." ucap Calina melihat Janne dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Jangan lihat luarnya, Calina.."


Calina mengangguk, "Kenapa bisa cedera?" tanya Calina merasa prihatin. Gadis yang tampak sehat itu ternyata memiliki sakit yang tak terlihat di dalam tubuh seksinya.


"Waktu itu Kenzo sedang berkunjung ke Indonesia. Kamu tau, kan? kalau Kenzo tidak sepenuhnya berada di Indonesia?" tanyanya dan Calina pun mengangguk. "Sebagai pengobat rindu, kami memutuskan untuk berlibur, ah bukan berlibur sih.... sekedar jalan - jalan ke Dufan. Kami tidak berdua, ada Gilang dan satu adik laki - laki ku." terang Janne.


"Saat kami bersantai, Kenzo di mintai tolong oleh sepasang kakek nenek untuk mengambil foto mereka di bawah pohon. Meski Kenzo sangat dingin, tentu ia tidak bisa menolak keinginan orang yang sudah tua." terang Janne dengan nada bicara yang santai.


"Jadi Kenzo juga ikut berada di barisan pepohonan. Sementara aku dan yang lain, menunggu di area barisan kursi untuk melepas penat. Dan siapa sangka, pohon yang ada di atas kepala Kenzo tumbang tanpa sebab. Sementara di antara kami, hanya aku yang melihatnya. Jadi aku berlari sekencang mungkin untuk menyelamatkan Kenzo. Ternyata... meski kami sudah berusaha untuk berlari menjauh, masih ada batang pohon yang menimpa punggungku, hingga aku jatuh tengkurap."


Calina tampak masih sangat antusias mendengar cerita seseorang yang ia anggap... RIVAL. Dan kini raut wajah si gadis desa terlihat prihatin.

__ADS_1


"Dan sejak itu, aku mengalami cedera tulang belakang yang tidak mudah untuk di perbaiki. Dan aku tau, Kenzo selalu merasa bersalah padaku." ucapnya tersenyum miris sembari menatap langit pagi yang cerah.


"Untuk itulah, setiap tulang belakang ku terasa sakit, dia pasti sigap mengantar ku ataupun menemani di Rumah Sakit. Seperti waktu Kenzo bertemu dengan mu di Rumah Sakit luar kota."


Calina tersentak dengan penjelasan Janne, yang menyebut Kenzo bertemu dengannya di Rumah Sakit.


"Bagaimana kamu tau, saya dan Mas Kenzo bertemu di Rumah Sakit waktu itu?" tanya Calina dengan mata yang terbelalak.


Janne tersenyum lirih, menatap lekat wajah cantik khas Bunga Desa yang di miliki Calina.


"Kamu harus tau, sebenarnya aku sangat mengagumi Kenzo, bukan hanya sekedar kagum biasa. Tapi aku juga mencintai Kenzo sejak kami kecil."


DEG!


Jantung Calina bagai di hantam puluhan benda berat. Dan berdetak sangat cepat hingga debarannya dapat di rasakan oleh tubuh.


"Saat itu aku bertanya - tanya, kenapa Kenzo sering sekali meninggalkan aku di kamar dalam waktu yang cukup lama. Padahal sebelumnya dia akan lebih banyak duduk di sofa, dan keluar hanya untuk makan," ucapnya.


"Kemudian aku meminta tolong seorang perawat untuk mencari Kenzo, dan memberikan informasi padaku, apa yang sedang di lakukan Kenzo, tanpa sepengetahuan Kenzo. Dan perawat itu mengambil foto kalian yang sedang berjalan di lorong menuju Ruang ICU."


DEG!


Lagi - lagi Calina seperti sedang di sentil oleh sang Rival.


"Maafkan aku..." lirih Calina. "Aku tidak bermaksud merebut waktu Mas Kenzo dari kamu waktu itu." ucap Calina tulus.


Tersenyum sumbang, "It's fine! sejak dulu aku tidak pernah menjadi yang pertama buat Kenzo. Di hanya menganggap ku murni sebagai sahabat! dan aku juga tau, jika tidak ada binar cinta di mata Kenzo untukku!" tegas Janne. "Jadi itu bukan salah kamu.."


Calina sedikit menunduk, melihat gadis mungil yang terlelap entah sejak kapan. Ia terlalu fokus pada obrolan yang di ciptakan oleh Janne. Atau mungkin suara Janne yang lembut membuat sang anak merasa seperti sedang di nyanyikan sebuah lagu panjang tanpa jeda?


Entahlah, setidaknya baby Clarice tidak membuat seseorang yang mengajaknya bicara merasa terganggu.


"Tujuanku datang ke sini, adalah ingin berkenalan sekaligus berpamitan di hari pertama kita berkenalan."


"Maksud kamu?" tanya Calina menatap lekat pada Janne.


"Aku menerima tawaran Kenzo untuk berobat di Amerika. Berhubung aku ada kontrak di sana, jadi lebih baik aku menerimanya dan orang tua ku juga sudah setuju setelah aku jelaskan panjang lebar. Toh kalaupun aku di sini sampai tua juga Kenzo tidak akan pernah melirik ku.." lagi - lagi perempuan cantik itu tersenyum pilu.


"Aku seorang Desainer!"


Calina mengangguk paham. Pantas saja jika Janne terlihat jauh lebih modis dari dirinya, meski usianya lebih muda dari Janne.


"Suatu saat aku akan membuatkan baju yang aku desain khusus untuk princess kecil kalian.." ucap Janne melirik baby Clarice.


"Princess kami? tapi ini anak saya dengan mantan suami saya." terang Calina tak ingin Janne salah paham. "Mas Kenzo meminta di panggilkan Daddy, karena kasian dengan saya yang lahir tanpa di dampingi Ayah kandungnya bayi saya."


Kali ini Janne benar - benar  tersenyum lebih cerah, "Aku sudah bilang, Calina... jangan terlalu polos..." ucapnya kembali terkekeh.


Calina hanya tersenyum, tanpa paham maksud sang wanita.


"Oh ya... aku pulang dulu ya... aku harus kembali ke apartemen! untuk mengemasi barang - barang ku yang ada di sana!" Janne melirik gedung yang ada di belakang mereka.


Sontak Calina mengerenyitkan keningnya. Karena gedung di tunjuk Janne, juga merupakan gedung tempat di mana dia tinggal.


"Kamu tinggal di sini juga?" tanya Calina menatap lekat  Janne.


"Iya, Cal. selama ini kita tetangga, hanya beda lantai saja." jawab Janne terkekeh.


"Oh, ya!" pekik Calina tak percaya.


"Yes, girl!" jawab Janne dengan senyum cerah.


' Pantas saja waktu itu mereka makan siang Mall ini.. '


Gumam Calina dalam hati.


"Kelak kamu pasti akan di pindahkan Kenzo ke lantai yang lebih tinggi."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Calina penasaran.


Namun Janne hanya tersenyum ramah dan manis, "Kelak kamu juga akan tau," senyum Janne terlihat sangat tulus. "Aku pulang dulu, yaaa?" pamit Janne sembari cipika cipiki pada Calina.


"Boleh aku menciumnya?" tanya Janne menunjuk baby Clarice. Dan Calina reflek mengangguk.


"Bye Baby Girl kesayangan Daddy Kenzo..." lirihnya setelah mencium pipi gembul Clarice.


Calina tersenyum saat mendengar Janne menyebut Clarice sebagai kesayangan Daddy angkatnya.


"Bye, Calina!" Janne melambaikan tangan dan mulai berbalik arah.


"Bye, Janne..." balas Calina sma ramahnya.


Janne melangkah pergi meninggalkan area taman, sembari meneteskan jejak berupa air mata yang jatuh setetes demi setetes. Berharap luka di dalam hati juga akan jatuh bersama tetesan air matanya.


Sedangkan Calina menatap punggung Janne dengan sangat pilu. Siapa sangka tubuh seindah itu harus cedera di bagian dalam, karena menyelamatkan seseorang yang ia cintai, namun orang itu tetap tidak bisa membalas perasaannya.


Flashback OFF . . .


Kembali pada sepasang suami istri yang masih berada di ruang kerja sang lelaki dengan posisi duduk yang masih sama. Dan tentunya tanpa mengurangi suasana romantis yang tercipta. Tangan yang semula melilit di bawah dada, berulang kali berpindah posisi.


Dari melingkar di leher sang suami, kemudian bertengger di pundak sang suami. Hingga sesekali mencubit pinggang suami, karena gemas di datangi orang tak di kenalnya, tapi orang itu mengenali dirinya.


Kenzo mendengarkan dengan seksama, bagaimana Calina menceritakan saat Janne tiba - tiba mendatangi dirinya di taman depan gedung apartemen. Dan bagaimana pikirannya dahulu tentang Janne saat tidak sengaja melihat Kenzo dan Janne di restoran.


"Jadi waktu itu kamu melihat aku dengan Janne makan siang?" tanya Kenzo mengulang memori makan siang yang di sebutkan sang istri.


"Ya, tentu saja! dan kalian terlihat sangat akrab."


"Jadi sebab itu, kamu cemberut dan ngambek saat aku mendatangi apartemen kita di bawah dulu?" tebak Kenzo dengan mata yang menyipit.


Seketika Calina tersenyum ala kuda yang membuka mulutnya. Barisan gigi yang putih dan bersih terpampang nyata di depan Kenzo untuk menutupi rasa malunya.


Dan itu membuat sang suami semakin gemas dengan istrinya.


"Oh...." Kenzo mengangguk dengan menahan senyum penuh arti. "Berarti waktu itu kamu cemburu, lalu marah - marah tidak jelas di apartemen..." gumamnya masih dengan anggukan penuh arti.


"Jangan GR yaaa... siapa yang cemburu!" elak Calina. "Saat itu aku hanya jengkel saja... kamu tidak pernah datang ke apartemenku, tiba - tiba muncul di restoran bersama seorang gadis yang terlihat, jika gadis itu menyukai kamu..." jelas Calina dengan bibir yang mengerucut. "Jelas kamu melupakan aku karena  punya gadis lain yang harus di perhatikan!"


"Hanya itu?" tanya Kenzo tak percaya. Kenzo memiliki pemikiran yang luas, tentu ia tak semudah itu percaya dengan penjelasan sang istri.


"Iyaaaaa!!" jawab Calina tepat di depan wajah suaminya.


"Kalau tidak cemburu, kenapa waktu itu marah - marah?" tanya Kenzo. "Dan kalau tidak cemburu, untuk apa kamu meneliti seseorang yang sedang makan siang dengan ku terlihat menyukai ku?" hardik Kenzo dengan pertanyaan yang membuat sang istri serasa mati kutu.


"Yaa... karena...." Calina melirik kanan kiri, mengulur waktu sambil mencari alasan yang tepat.


"Karena kamu mencintaiku, Sayang!" potong Kenzo sembari meraih wajah Calina untuk berhadapan dengannya.


Kemudian dengan rasa gemas yang sudah tak tertahan ia cium bibir manis sang istri tercinta.


"Mas!" seru Calina.


***


Pagi telah tiba. Semua manusia kembali pada rutinitas mereka masing - masing. Ada yang bekerja, ada yang sekolah, ada yang hanya bersantai saja di rumah karena usia yang sudah renta. Atau bahkan ada yang masih tidur karena sedang libur bekerja.


Zio kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan Adhitama Group. Ia merasa lebih lega, setelah kemarin mendatangi makam sang istri yang sangat ia cintai pada masanya bahkan sampai detik ini, Naura masih menjadi ratu utama di hati sang lelaki.


Meski mungkin luas kekuasaan Naura pada hati Zio saat ini sudah sedikit menyempit, karena ada wanita lain yang ia tempatkan di salah satu sisi, meski belum terlalu dalam. Tapi ia yakin untuk menjalin hubungan serius dengan sang wanita.


Kuda besi milik Zio sudah memasuki pagar besi perusahaan. Dengan berjalan pelan, ia menghampiri tempat parkir khusus roda empat yang berada di belakang gedung.


Saat melintas di depan tempat parkir khusus roda dua, seperti ada magnet yang menarik pandangan matanya. Dan magnet itu adalah janda beranak satu yang sedang melepas helm nya.


Zio tersenyum samar, antara miris karena belum mendapat jawaban, juga karena karena mengagumi kecantikan natural sang wanita.

__ADS_1


Zio kembali menghadap depan, saat sorot mata Zahra juga menyadari kedatangan mobilnya. Meski semua kaca di buat gelap, tetap saja ia merasa Zahra bisa menembus gelapnya kaca.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2