Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 118 ( Kecupan Di Pipi )


__ADS_3

Hari terus berlalu sejak hari dimana pertama kali Clarice berinteraksi dengan Vino di lapangan basket. Murid laki - laki yang menjadi idaman Clarice sejak pertama kali memasuki kelas X-3.


Hari - hari untuk berangkat ke sekolah kini menjadi momen yang paling di tunggu - tunggu oleh sang gadis. Ia berharap, berawal dari sore itu akan menjadikan hubungan Cla dan Vino semakin dekat baik.


Tidak harus berpacaran, karena Clarice juga tidak menginginkan hal itu terjadi, setidaknya untuk saat ini. Ia masih tidak bisa jika harus mengkhianati nasehat sang Mommy. Tapi setidaknya ia bisa bersahabat dan berteman baik dengan Vino. Atau mungkin seperti hubungannya dengan Naufal.


Yaitu asal mulanya dulu dia tertarik dengan Naufal. Tapi saking tubuhnya ia memegang nasehat sang Mommy, maka rasa kagumnya berakhir dengan persahabatan yang saling melengkapi dan setia. Dan beruntung keduanya berada di dalam satu kelas untuk ke empat kalinya.


Namun apa yang di harapkan Clarice sungguh jauh berbeda dangan apa yang di dapatkannya selama hampir satu minggu ini. Karena sejak hari itu, Vino masih sama seperti biasanya. Tidak pernah menyapa ramah dan akrab ataupun mengajak ngobrol Clarice selayaknya Arsen yang masih terus mengganggu dirinya.


Padahal Vino terlihat akrab dengan Carren dan juga beberapa anak gadis yang lain. Tapi kenapa dengan dirinya Vino seolah sangat menjaga jarak. Terutama saat di tempat umum. Atau di hadapan teman - ten satu kelas.


Keakrabannya dengan Vino benar - benar hanya terjalin pada sore hari itu saja. Dan tidak terulang kembali sampai pagi ini. Di mana jam olah raga kembali hadir untuk kelasnya.


' Tidak mungkin, kan? jika hari itu aku sedang berhalusinasi? '


' Tidak mungkin, kan? jika saat itu aku hanya bermimpi? '


' Tidak mungkin juga jika saat itu adalah jin yang menyamar menjadi Vino? '


Gumam Clarice di dalam hati. Menatap Vino yang saat ini berjalan di depan sana bersama dengan beberapa anak laki - laki lainnya. Hatinya terus saja resah, karena selalu berharap bisa akrab dengan laki - laki itu.


Jam olah raga yang ia pikir akan membuahkan hasil obrolan dengan Vino pun berakhir dengan biasa - biasa saja. Bahkan tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir masing - masing.


Justru Arsen yang kini merengsek, menghampiri Clarice yang tengah beristirahat di kantin setelah mengganti bajunya dengan seragam sekolah. Seperti sebelumnya, Clarice selalu di anggap sebagai pengganggu.


Tapi jika Arsen tidak terlihat ataupun tidak mengganggunya, Clarice selalu mencarinya. Seolah sesuatu telah hilang. Dan ia akan merasa tidak enak hati.


***


Waktu - waktu terus berlalu. Jam olah raga berulang kali datang. Namun hubungan Clarice dengan Vino masih sama. Sama sekali tidak ada perubahan.


Sampai suatu ketika, di mana kali ini sang Papa yang terlambat menjemputnya pulang sekolah. Karena harus menyelesaikan meeting, di saat sang CEO alias Daddy Kenzo tengah pergi keluar Negeri. Lebih tepatnya ke Australia untuk menyelesaikan urusan penting yang berurusan dengan dua perusahaan raksasa milik Tuan Adhitama.


Dan malam nanti Clarice ingin menginap di rumah Papa Zio. Melepas rindu dengan sang Ayah kandung. Sementara sang Papa tidak mengizinkan untuk dirinya pulang bersama Beni. Selain tidak ada persiapan membawa helm, juga karena sang Papa ingin merasakan mengantarkan dan menjemput sang anak gadis lebih sering. Selagi tidak terlalu sibuk.


Kali ini Clarice memilih untuk menunggu sang Papa di ruang tunggu, atau lobby gedung sekolah. Ia duduk sembari membaca sebuah novel lama, namun tidak sejadul Ketika Cinta Bertasbih.


Novel yang film nya meledak, dan sangat banyak di minati oleh berbagai usia penduduk di Indonesia itu berjudul DILAN. Novel karya Pidi Baiq, yang terbit pada tahun 2014 silam. Kemudian di adaptasi menjadi sebuah film layar lebar dengan judul Dilan 1990 di tahun 2016.


Novel yang menceritakan latar belakang anak sekolah SMA di tahun 1990, membuat Clarice merasa ikut memasuki tahun itu. Di mana pada tahun itu belum ada anak sekolah membawa ponsel. Apalagi ponsel dengan tiga mata seperti yang ia miliki saat ini.


Dan di mana tahun 1990 masih ada angkot. Sementara di jamannya yang mengantar jemput ke sekolah saja harus mereka yang sudah terdaftar sebagai penjemput untuk sang murid. Karena memang tidak ada siswa di sana yang pulang pergi menggunakan kendaraan umum. Taksi Online saja hanya boleh mengantar, kalau menjemput harus mendapat konfirmasi dari orang tua wali murid.


Aturan itu lebih tepatnya untuk Alexander International School, dan mungkin sekolah bertaraf International lainnya. Atau juga sekolah swasta yang sudah maju dan menerapkan sistem seketat itu.


Selain perkara angkot, yang membuat Clarice hanyut oleh jalan cerita nya adalah betapa keren dan gentle nya tokoh Dilan, untuk tokoh utama wanita yang sangat acuh di awal perkenalan. Sementara Dilan terus saja mengejar dengan cara yang sangat unik dan tidak umum.


Namun siapa sangka pada akhirnya tokoh utama wanita berani mengatakan jika ia adalah pacarnya Dilan, di saat mereka bahkan belum resmi berpacaran. Sampai anak laki - laki dari sekolah lain yang hendak menggodanya seketika diam dan tak berani mengucap apapun lagi, selain membiarkan tokoh utama wanita masuk ke dalam kantin untuk menemui Dilan yang sedang mengatur strategi tempur ala anak sekolah pada masanya.


Clarice sampai harus senyum - senyum sendiri membaca novel yang mengisahkan kisah cinta anak remaja di tahun yang bahkan ia belum di lahirkan. Bahkan di saat Papa dan Mommy nya belum di pertemukan.

__ADS_1


Saat asyik membaca novel yang ia beli ketika memasuki toko buku terbesar di salah satu mall, tiba - tiba suara beberapa sepatu yang menghentak lantai tangga terdengar keras di saat gedung sudah mulai sepi. Di tambah dengan suara obrolan yang terdengar lirih, dan sama sekali tidak jelas.


Reflek Clarice menoleh ke arah tangga untuk melihat siapa yang turun dari tangga sana. Kenal kah? atau tidak? Siapapun itu Clarice ingin tau, siapa anak murid yang baru turun di saat semua anak sudah meninggalkan sekolah.


Namun yang turun ternyata Vino dengan seorang gadis yang di ketahui Clarice sebagi Kakak kelasnya, sekaligus gebetan Vino. Yang sering pulang dan berangkat sekolah bersama Vino. Di mana itu artinya orang tua gadis itu sudah mengenal Vino.


Ada sesuatu yang membuat Clarice tidak nyaman, menggelitik di perutnya namun entah apakah itu. Dan yang membuat Cla memilih untuk menunduk adalah....


karena ketika sorot matanya bertemu dengan mata Vino, lelaki itu memang sedang tersenyum tapi bukan tersenyum untuk Clarice, melainkan untuk gadis di sampingnya.


Yang mana mereka tengah mengobrol santai namun terlihat sangat seru. Hingga keduanya terlihat berulang kali tersenyum dan sang gadis berulang kali memukul pelan lengan sang pemuda. Dan Vino pun sesekali menggoda dang gadis dengan mengusap kasar rambut di puncak kepala sang gadis.


Sikap yang sama - sama manis, dan sama - sama membuat Clarice mati kutu karena sudah melihat adegan sedemikian romantis.


Cla yang duduk sembari menatap novelnya, kini tidak tengah membaca barisan huruf  yang berjajar membentuk satu kalimat yang indah. Melainkan  telinganya lah yang tengah bekerja keras untuk mendengar apa yang sedang di bicarakan dua anak muda yang tengah melangkah melintasi dirinya.


"Jadi besok sore bisa atau tidak?" tanya Vino dengan suara lirih, namun masih bisa di dengar oleh Clarice. "Mumpung malam minggu..." ucap Vino dengan nada yang merayu.


"Memangnya kita mau kemana sih?" tanya gadis itu. "Kenapa harus sore?"


Dalam hati Clarice berkata, rupanya mereka tengah mengatur jadwal kencan yang entah di mana. Yang jelas mereka akan berperan layaknya anak muda yang menghabiskan waktu malam minggu bersama.


"Aku akan ajak kamu melihat teman ku yang sedang balapan!"


"Dimana?"


"Di salah satu arena balap liar!" jawab Vino dengan entengnya menyebut kata liar.


"Tidak akan! balapan itu sudah sering di lakukan, tapi setiap nonton aku tidak pernah sampai kedapatan di gerebek polisi. Asal jangan sampai ada kecelakaan atau hal yang berbahaya lainnya!" jawab Vino. "Karena kecelakaan itulah yang bisa menjadi masalah besar."


"Kenapa?"


"Karena jika yang celaka adalah pembalap di bawah umur, sudah bisa di pastikan hukum akan terus berlanjut sampai mendatangkan orang tua dan sebagainya." jawab Vino. "Karena sebenarnya SIM kan turun untuk mereka yang sudah 17 tahun. Itupun tidak untuk balapan. Tapi kenyataannya sudah banyak anak yang kurang dari 17 tahun ikut bermain di sana. Itulah yang menjadikan tempat itu di sebut sebagai arena balap liar."


"Polisi tidak tau jika ada anak di bawah umur yang ikut?"


"Semua bisa di akali, Neha..." jawab Vino menyebut nama sang gadis. "Jadi mau, ya?" tawar Vino lagi ketika keduanya sudah sampai di ambang pintu masuk gedung yang luas.


"Besok pagi aku kabari, ya?" jawab gadis itu yang lagi - lagi bisa di dengar oleh Clarice.


Meski Clarice tidak berhak cemburu, juga tidak berhak ikut campur, tetap saja ada rasa yang berbeda yang menjalar di dalam hatinya.


Sebisa mungkin ia cuek dengan urusan orang lain. Tapi selalu ada saja yang membuat Clarice merasa telah salah sudah memilih duduk di kursi itu.


Kursi tunggu yang di duduki Clarice, berbatasan dengan dinding kaca. Di mana bisa melihat luar dengan jelas. Dan saat kedua siswa itu keluar dari pintu utama yang selebar 2 meter itu, Clarice memilih untuk tetap melihat punggung mereka.


Sebagai gadis remaja yang normal, Clarice ingin merasakan berada di posisi gadis itu. Menjalani cinta monyet yang kata orang sangat mengesankan. Tanpa memikirkan masa depan, di mana saat usia sudah semakin dewasa dan masalah yang di hadapi semakin besar.


Tapi takdir membuatnya tetap menjadi penonton, sampai semester 1  hampir usai. Dan sampai saat ini, Clarice tidak menyangka jika gadis yang menjadi gebetan Vino itu ternyata statusnya belum berubah sampai saat ini. Tetap sebagai gebetan, bukan kekasih.


Gadis di samping Vino menunjuk sebuah mobil yang baru saja datang. Meski Clarice tidak dapat mendengar percakapan mereka lagi, tapi Cla dapat memperkirakan jika itu adalah mobil jemputan sang gadis.

__ADS_1


Dan saat gadis itu hendak meninggalkan Vino, sempat - sempatnya gadis itu tanpa ragu dan malu mengecup pipi Vino singkat. Namun efek dari kecupan itu bagai sebuah sengatan listrik bagi Vino yang kenyataannya hanya bisa diam tertegun ketika mendapatkan perlakukan macam itu.


Tanpa takut dengan CCTV sekolah, gadis itu melakukan hal yang menurut Clarice sangat aneh dan memalukan. Bagaimana kalau ada guru yang memutar ulang CCTV? Atau bahkan bagaimana jika sekarang ada guru yang sedang memantau CCTV?


Apa tidak jadi masalah?


Semua sikap murid di sekolah yang salah atau menyeleweng, selalu bisa di buktikan melalui rekaman CCTV.


Meski mencium pipi kekasih terasa sangat lumrah di jaman sekarang, tetap saja bagi Cla ini sangat berbahaya dan memalukan. Ia bahkan seketika melotot dan mendelik ketika adegan itu tiba - tiba saja berjalan di depan matanya.


Seketika udara dingin di dalam ruangan menjadi panas akibat adegan panas di luar yang efeknya sampai masuk ke dalam ruangan.


' Cih! kenapa gadis itu tidak malu mencium laki - laki di tempat umum? '


' Apa tidak sungkan pada sopir yang menjemputnya? '


Gumam Clarice yang menduga jika yang ada di dalam mobil pasti seorang sopir, atau bahkan ada Papa nya gadis itu.


Namun dengan percaya diri gadis itu melambai pada Vino dan langsung berlari masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka oleh seseorang yang berseragam sopir.


Clarice menarik nafas panjang, dan menghelanya pelan.


' Pada dasarnya semua laki - laki memang menyukai perlakuan semacam itu. Pantas saja jika Vino memilih mendekati Kakak kelas yang sepertinya sudah biasa mencium lawan jenis di manapun mereka berada. '


' Tamatlah masa muda mu, Cla! Tidak akan ada lelaki yang mau dengan gadis cupu seperti mu! '


Batin Clarice menyimpulkan dirinya sendiri. Karena merasa tidak akan pernah berani melakukan hal semacam itu.


gerutu Clarice melirik Vino dengan perasaan yang sulit untuk di artikan. Merasa kecewa karena ada yang bisa mengecup pipi pemuda itu dengan sangat gampang, tanpa perlawan, dan tanpa diberikan jarak. Justru lelaki itu tampak sangat senang dengan apa yang di perbuat sang gadis.


Rasa kecewa pasti ada ketika melihat pipi sang pemuda telah di kecup oleh gadis yang bahkan belum di nyatakan atau di umumkan oleh Vino sebagai kekasih. Dan semua itu terjadi di depan matanya.


"Benar kata Daddy, sebaiknya jangan jatuh cinta ketika masih sekolah. Suka boleh - boleh saja. Tapi jika sampai jatuh cinta, bagaimana? Kenyataannya cinta bisa membuat seseorang menjadi bodoh!" lirih Clarice sembari menunduk, menatap novel Dilan yang sudah ia baca sampai halaman 254.


Dan ia memilih untuk kembali melanjutkan membacanya, tanpa berniat melihat lelaki yang ia idolakan sekarang sedang apa. Dimana di halaman yang tengah ia baca kini terdapat gombalan Dilan ketika berada di dalam pasar, setelah mereka berbelanja sayuran.


Dan lagi - lagi Clarice tersenyum ketika membaca gombalan Dilan yang sangat tidak umum, tapi sangat romantis. Dan tentu saja berhasil membuat pemeran utama wanita salah tingkah dengan pipi yang memerah.


"Adakah, di dunia nyata seorang pemuda seperti Dilan?" gumam Clarice berangan kelak menemukan sosok tampan dan istimewa seperti Dilan.


"Ada!" sahut suara seseorang dari arah pintu masuk.


Merasa tidak asing dengan suara itu, Clarice mendongak dan menatap si pemilik suara yang tak lain adalah Vino. Merasa masih kecewa dengan apa yang ia lihat tadi, gadis itu menghela nafas berat dan panjang.


"Siapa?" tanya nya datar.


Ia tak mengerti kenapa Vino menghampirinya di saat jam sepi saja. Di saat tidak ada siswa lain yang melihat. Dan setelah sekian lama, ini kali kedua Vino menghampiri dirinya, di saat sekolah sudah sepi.


"Aku!" sahut Vino sembari duduk di kursi tunggu yang terbuat dari besi itu.


Clarice memicingkan matanya, "Kamu?" pekik Clarice.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2