Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 146 ( Kolam Renang 1 )


__ADS_3

Siapa saja bisa memiliki trauma pada sesuatu karena suatu alasan yang mungkin memang terdengar sangat menakutkan bagi orang itu. Dan untuk membuat semua itu terasa kembali normal seperti sedia kala tidak selalu mudah untuk di lakukan.


Karena mungkin memang banyak faktor yang mempengaruhi. Salah satunya saking parahnya tragedi tersebut, sehingga menimbulkan rasa takut yang berlebihan.


Apalagi jika tidak orang yang tepat yang bisa membantu memulihkan semua itu menjadi perasaan normal dan biasa saja.


Seperti Author ini yang trauma naik sepeda, karena pernah jatuh di turunan jalan raya 13 tahun yang lalu. Sampai menimbulkan luka yang teramat parah, dan hingga detik ini luka-luka itu masih membekas, tidak bisa di hilangkan. Seiring dengan diri yang tidak lagi berani naik sepeda apapun alasannya hingga detik ini.


Dan kurang lebih seperti itu pula yang di alami oleh Arsenio Wilson. Pemuda 16 tahun yang di akui memiliki ketampanan maksimal di sekolah dan di manapun ia berada. Sangat layak menjadi pusat perhatian ketika ia menjadi murid baru di sekolah elit sekelas Alexander International School.


Selain tampan dan kaya raya, ia juga memiliki kelebihan yang tidak semua anak muda berani melakukannya. yaitu balap motor.


Namun di balik garangnya ia di arena balap, siapa sangka ia memiliki rasa takut, lebih tepatnya trauma dengan yang namanya kedalaman air.


Pernah tenggelam saat masih kecil, di saat dirinya belum benar-benar pandai dalam mengatur nafas di dalam air, membuat dirinya selau merasa kehilangan arah dan kesadaran ketika memasukkan kepala ke dalam kolam renang.


Untuk itu, ketika membaca kedalaman kolam yang bahkan melebihi tinggi badannya, sudah pasti tubuhnya akan merasa lemas. Saat di sekolah saja ia selalu membolos di saat jam pelajaran olah raga tiba di bab Berenang.


Tapi keadaan yang di alami saat ini memaksa dirinya untuk mau tak mau harus mengganti baju casual nya menjadi celana berenang. Melepas baju dan sepatunya mahalnya, kini sang pemuda sudah memakai celana renang pendek dan sebuah kaos dalaman berwarna putih.


Semua itu ia lakukan demi menuruti gadis cantik yang sangat mencuri perhatiannya ketika pertama kali berkenalan secara pribadi di mall Metropolitan. Gadis cantik bernama Brighta Clarice Agasta yang memang layak untuk di perjuangkan itu memang tidak terlalu di sadari keberadaannya oleh banyak pemuda di sekolah.


Entah karena memang Clarice kalah cantik dengan yang lain, atau bisa juga karena mereka minder dengan siapa Clarice jika di rumahnya, yakni sebagai Nona Muda di keluarga Kenzo Adhitama. Dan banyak orang tau tentang siapa pemilik nama itu.


Namun apa yang menjadi misi Arsen tidak akan semudah itu ia dapatkan, meski dia anak seorang pengusaha batu bara dengan kekayaan melimpah sekalipun. Bukan karena tidak sepadan, tapi karena apa yang di ajarkan keluarga Kenzo Adhitama, mempengaruhi semua misi nya yang harus membuatnya berjuang sampai waktu yang tidak bisa di tentukan.


Karena Nona Muda yang sedang di kejarnya itu menerapkan keyakinan dalam diri untuk tidak berpacaran ataupun menjalin hubungan sebelum selesai masa Senior High School nya. Dan itu benar-benar di pegang teguh oleh sang gadis.


Padahal pemuda yang di anggap Cla sebagai bocah tengil dan buaya darat itu bisa dengan mudah mendapatkan gadis cantik yang mungkin lebih cantik dari Clarice tanpa syarat. Hanya dengan menunjuk satu nama gadis saja, sudah bisa di pastikan gadis tersebut tidak akan menolaknya. Namun sampai saat ini belum pernah di lakukan oleh sang pemuda.


Lebih tepatnya sejak ia merasa jika ia tertarik dengan sosok jelita, Brighta Clarice.


Dan detik ini ia tengah berjuang dengan misinya. Yakni mengukir sebuah tempat di dalam hati Clarice. Salah satunya dengan sering bermain ke rumah Clarice.


Sesungguhnya ia ingin membuat momen di setiap fasilitas yang di miliki rumah seorang Kenzo Adhitama bersama Clarice, kecuali di area kolam renang tentu saja. Tapi takdir membuatnya harus mengukir kenangan pertama kali di tempat yang membuat harinya terasa gelap dan tidak berguna itu.


Karena mungkin yang ada hanyalah momen memalukan, karena akan ketahuan jika ia tidak bisa berenang dan takut dengan kedalaman.


Tapi demi Clarice, kini ia mulai melangkah mendekati area kolam renang bersama gadis di sisi kanannya yang berjalan dengan penuh semangat. Tanpa ia ketahui jika ada seringai yang terbit di bibir manis sang gadis.


Dengan kaki telanjang, keduanya kini berjalan di tepian kolam setelah Cla meminta untuk di buatkan cemilan dan minuman pada salah satu pelayan yang melintas. Arsen berjalan di depan, dan ia hendak menuju kolam renang yang dalamnya hanya 1 meter saja. Namun Clarice dengan sigap menarik lengan sang pemuda, hingga mau tak mau Arsen harus berhenti melangkah.


"Kamu mau kemana?" tanya Cla menahan Arsen untuk tidak terus melangkah, di saat keduanya berada di garis kolam yang kedalamannya bertuliskan 175 cm.


"Em..." Arsen melihat kanan kiri untuk menemukan jawaban yang tepat. "Aku hanya sedang ingin berendam di sana!" Arsen menunjuk kolam dengan kedalaman 1 meter.


"Sudah besar masih mau berendam di sana?" tanya Clarice dengan mata memicing, meski sesungguhnya ia sudah tau kenapa Arsen begitu.


Namun satu yang di kejar Cla, sampai kapan Arsen akan menutupi semua itu darinya. Tentang ia yang trauma dengan kedalaman. Tentang sang pembalap yang memiliki cerita buruk dengan kedalaman. Cla ingin seperti Naufal yang di ajak bercerita untuk saat ini. Meski nyatanya sang pemuda masih diam di saat sudah berada di tepi kolam.


Tapi entah jika di luar rumah ini. Masih kah Cla bersikukuh untuk tidak berdekatan dengan pemuda yang punya banyak penggemar itu. Atau setelah ini ia akan berubah pikiran dan justru menjadi Clarice yang seperti saat bersama Naufal?


Entahlah, biarkan waktu berjalan dengan sendirinya, dan memberikan jawaban terbaik nya.


"Memangnya kenapa?" tanya Arsen.


"Bukankah di kedalaman 200 cm lebih seru?" tanya Clarice dengan menahan gelak tawa, ketika melihat wajah Arsen terlihat mulai memucat.


"Aku..." Arsen menggaruk belakang kepalanya yang sesungguh nya sangat-sangat tidak gatal. "Aku hanya..."


Ah, Tuan Muda Wilson memang sedang di landa panik yang tak tertolong. Berani kah ia mengakui kekurangannya di bidang satu ini?

__ADS_1


"Kenapa?" selidik Clarice tak mau menyerah begitu saja.


"Sudahlah, sebaiknya kita melakukan pemanasan!" Arsen mencoba untuk mengubah topik, demi melindungi harga diri yang masih berusaha ia jaga sampai saat ini. Ia sangat takut jika traumanya ini akan menjadi bahan ejekan Clarice.


"Jawab dulu lah!" keukeh Clarice.


"Ayo pemanasan!" elak Arsen menghindari kejaran pertanyaan Clarice sembari melakukan pemanasan.


Pemuda yang hanya tau tentang teori tanpa pernah praktek secara langsung di kolam renang ini mulai menggerakkan kepala dan tangannya ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Juga mengangkat dan menekuk lututnya ke atas sampai ke depan perut secara bergantian.


Jika di lihat secara sekilas, tentu sang pemuda seolah terlihat seperti atlit renang handal saat ini. Meskipun sesungguhnya di dalam dadanya sedang bergemuruh karena ingin kabur saja rasanya. Tapi gadis di sisi kirinya memiliki magnet yang tidak di miliki gadis lain.


Tanpa di rencana dan tanpa di sadari, tenyata Clarice mengikuti gerakan sang pemuda. Ketika Arsen mengangkat kaki, ia pun melakukan hal yang sama. Dan itu membuat Arsen tersenyum samar, dan membuat acara pemanasan bukan lagi pemanasan, melainkan bisa di sebut dengan... pembakaran. Karena sangat lama, sampai Clarice memicing tajam pada Arsen.


"Sen?" panggil Clarice.


"Hem?" jawab Arsen sembari menekuk pinggul ke depan. Menyentuhkan tangan kanan pada ujung kaki kiri, sedang tangan kirinya berada di atas. Beberapa detik kemudian berganti, tangan kiri di ujung kaki kanan, sedang tangan kanan berada di atas, menunjuk langit.


"Apa kamu sehat?" tanya Cla ketika masih membelakangi Arsen.


"Kalau aku tidak sehat, tidak mungkin aku ada di rumahmu," jawab Arsen. "Memangnya kenapa?" tanyanya.


"Kenapa pemanasan untuk berenang saja sampai harus berkeringat begini?" tanya Clarice keheranan, tapi tetap saja mengikuti gerakan Arsen yang sudah membuatnya ingin mendorong Arsen pad kolam di depan mereka.


Arsen membuka matanya lebar, melihat ke sisi kanan, membuang muka dari sang gadis. Aksinya telah terbaca oleh Clarice. Meski beruntung posisi yang sedang di ambil tengah membelakangi Clarice. Tapi tak mungkin posisi itu di lakukan lebih dari 8 detik, bukan?


' Haduh! apalagi yang harus aku lakukan? '


Lirihnya dalam hati.


' Apa Mama tidak ingin pulang? '


' Oh my God! '


Oh Arsenio yang tampan... Mana mungkin hal itu terjadi?


"Apa ini terlalu lama?" tanya Arsen.


Membuang nafas kasar sembari berdiri tegak dan menatap lurus ke depan. Clarice mulai sadar jika dirinya tengah di bodohi oleh seorang Arsen.


"Kamu benar-benar kurang ajar! kamu sengaja, kan?" hentak Clarice kembali berkacak pinggang menghadap Arsen yang mulai bergerak untuk berdiri tegak.


Arsen kembali menggaruk kepala nya yang tidak gatal, melainkan sudah ada bintik keringat di sela-sela rambutnya akibat terlalu lama pemanasan di bawah terik matahari.


"Ayo kita beradu! siapa yang paling cepat sampai di ujung sana, maka akan di traktir oleh yang kalah makan siang di kantin besok!"


"Aku akan mentraktir mu!" sahut Arsen merasa hal ini lebih baik dari pada harus ketahuan tidak bisa berenang. "Dan kita tidak perlu beradu!"


"Aku mulai yakin kalau kamu tidak pernah mandi!" jawab Cla. "Bagaimana kalau penggemar mu itu tau, jika idolanya tidak pernah mandi?"


"Jangan bercanda ya! aku hanya sedang tidak ingin berenang! Tapi kalau mandi, sudah pasti iya lah!"


"Ya terus? kita sudah berganti baju renang begini, masak iya tidak jadi berenang? Kamu tidak kasihan dengan ku yang sudah capek-capek berganti baju?"


"Emm... kasian sih..." jawab Arsen bimbang.


"Kalau begitu ayo beradu!" ajak Clarice meraih tangan Arsen untuk berdiri sejajar di tepi kolam.


"WAIT, WAIT, WAIT, WAIT!!!" teriak Arsen ketika Clarice memaksa tangannya untuk maju beberapa langkah ke depan.


"Apa lagi?" tanya Clarice menoleh Arsen yang mendelik menatap kolam renang, dengan bernafas bagai tengah di kejar hantu.

__ADS_1


"Hah, hah, hah!" suara nafas Arsen yang memburu membuat Clarce ingin sekali tertawa. Tapi setengah mati ia mencoba untuk menahannya.


"Kamu ini kenapa sih?"


"Aku di sana saja!" ujar Arsen sembari berlari cepat mendekati kolam yang hanya sedalam 1 meter saja.


"ARSEN!" teriak Clarice menatap punggung yang mulai menjauh.


' Anak ini sungguh keras kepala! tinggal bilang jika takut kedalaman saja apa susahnya! '


Gerutu Cla dalam hati.


Tak berniat mengejar Arsen, Cla memilih untuk menghadap kolam renang, dan mengambil ancang-ancang untuk masuk ke dalam kolam.


Dari sekian meter jarak di mana Arsen kini berdiri di tepi kolam, ia dapat melihat betapa Clarice terlihat sama sekali tidak takut dengan dunia air.


Di balut dengan baju renang ketat berwarna hitam dan pink, di tambah dengan rambut hitam bergelombang, membuat tubuh Clarice yang tinggi dan runcing terlihat semakin memikat sepasang mata Arsen. Semakin merasuk ke dalam hati, dan berkata bahwa sang gadis memang... cantik.


Rambut yang masih kering itu terhempas oleh angin, hingga bergerak-gerak kecil. Membuat wajah cantik semakin mempesona.


Perasaaan itu semakin nyata terasa di dalam relung hati yang pernah dua kali di hinggapi oleh dua gadis yang berbeda saat masih tinggal di kota Bandung.


Clarice mengambil ancang-ancang dan Arsen  tak sedikit pun mengalihkan pandangan dari sang gadis. Ketika tubuh runcing itu meluncur di kedalaman 175 cm Arsen sontak terhenyak. Memperhatikan dengan seksama ketika sang gadis menghilang dari daratan dan muncul kembali sambil berayun menuju ujung sebrang.


Menggunakan gaya bebas Clarice bisa mencapai ujung sebrang dengan cukup cepat. Dan terlihat sangat santai di ujung sana. Sementara Arsen yang melihatnya hanya bisa menahan nafas sampai sang gadis kembali muncul di tepi kolam sana.


' Aku akan benar-benar di tertawakan kali ini. '


Gerutu Arsen dalam hati.


"Ayo melompat!" teriak Cla di ujung sana.


Namun Arsen hany menggeleng pelan. Mana mungkin ia akan melompat ke dalam sana. Sungguh tidak mungkin.


Namun sang gadis akhirnya justru kembali masuk ke dalam air, dan justru berenang ke arah dirinya.


Dari jarak sejauh itu, Clarice terlihat begitu cepat untuk tiba di posisi Arsen.


"Mau masuk sendiri atau aku dorong?" tanya Clarice yang tiba-tiba sudah di depannya.


"Aku akan masuk sendiri!" jawab Arsen sedikit ketus.


"Ya, masuklah cepat!" ajak Clarice yang tubuh hingga rambutnya sudah basah oleh air kolam renang.


Dengan gusar, Arsen melangkah mendekati kolam renang. Kemudian dengan kaki yang nyaris bergetar, Arsen duduk di tepi kolam. Ia sengaja menjaga jarak dari Clarice, supaya tidak di tarik paksa oleh sang gadis.


"Lompat lah! ngapain duduk?" tanya Clarice.


"Aku..." Arsen tidak bisa dan tidak mau menjawab.


Belum selesai menjawab, Clarice justru berjalan mendekat menuju Arsen yang masih duduk di tepian kolam.


"STOP!" teriak Arsen dengan mata mendelik. Hingga membuat sang gadis reflek berhenti.


"Kenapa?"


"Aku akan turun sendiri!"


Clarice mengulum senyum di bibirnya, sungguh perut sang gadis bagai tengah di geli tiki. Ketika melihat Arsen menggerakkan kaki turun ke dalam kolam, namun mata sang pemuda kembali mengamati luasnya kolam.


"Aku hitung sampai 3! Jika tidak turun aku akan menarik kaki mu!" ujar Clarice.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2