Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 27 ( Obrolan Yang Mendebarkan )


__ADS_3

Calina duduk melamun di kursi tunggu Ruang ICU hingga matahari terik. Ia masih terus merutuki keusilannya barusan dalam hati. Rasanya sungguh bodoh. Tertangkap basah tengah mengintip ruang rawat pasien VIP. Hal paling konyol yang pernah ia lakukan.


Bahkan sampai matahari condong ke barat, ia masih merasa malu saat mengingat kejadian tadi pagi. Rasanya ingin tenggelam saja ke dalam kerak Bumi terdalam.


Senja telah berlalu, langit mulai berubah gelap, Calina yang lapar segera pergi ke kantin setelah menengok sang ibu mertua.


Duduk sendiri untuk menikmati makan malam di kantin, sesekali Calina terlihat melamun. Entahlah, apa yang di pikirkan si bunga desa itu. Makanan di mangkoknya masih tampak separuh. Mulutnya mengunyah, hanya saja terlihat sangat malas. Tanpa ia sadari, sepasang sorot mata melihatnya dari arah meja kasir.


"Bisa saya duduk di sini?" tanya seseorang menunjuk kursi di depan meja Calina. "Semua kursi penuh!" lanjutnya saat belum mendapat respon dari Calina.


"Oh! Iya, silahkan!" jawab Calina tanpa melihat siapa yang bertanya. Ia hanya sedikit menunduk, menatap kosong soto daging di mangkoknya. Mengaduknya lalu memakannya hanya seujung sendok.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Duarr!


Pertanyaan itu seketika membangunkan kesadaran Calina 100%. Yang lebih mengejutkan adalah suara yang bertanya. Ia sangat mengenali suara itu. Pelan - pelan ia mendongak, melihat siapa yang duduk di depannya.


"Pak Kenzo?" pekik Calina mendelik.


Calina bulatkan matanya lebar. Menatap tak percaya ada sosok Kenzo di depannya. Darah serasa membeku. Kaki hampir saja bergetar kalau tidak di tahan, karena berada di jarak yang teramat dekat dengan seseorang yang... Begitulah....


Dan entahlah, kenapa jantung serasa berhenti berdetak saat itu. Karena tubuhnya hanya bisa diam tanpa bergerak. Bahkan mulutnya berhenti mengunyah. Kelopak mata pun sulit berkedip.


"Tidak ingin menjawab pertanyaanku?" tanya Kenzo datar.


"Oh Maaf, Pak!" ucap Calina, cepat mengembalikan kesadarannya. "Saya hanya tidak menyangka ada Bapak disini!" Calina segera mengusap mulutnya dengan tisu setelah mengunyah dan menelannya cepat.


"Lalu?"


Calina mengerutkan keningnya, "Maksudnya, Pak?"


"Kenapa kamu ada disini? Dimana suami mu?"


"Oh... Ibu mertua saya koma di Ruang ICU, Pak. Jadi saya menjaganya..." jawab Calina ragu.


Ia tata singkat rambutnya yang mungkin berantakan menggunakan jari - jari lentiknya. Malu rasanya bertemu Bos suaminya dalam keadaan acak - acakan seperti itu.


"Lalu?"


Calina kembali mengerutkan kening, "Lalu apa ya, Pak?" tanya Calina bingung selalu di tanya lalu lalu.


"Dimana suamimu?"


"Oh.. Tadi suami saya bekerja! Mungkin malam ini tidak datang!" jawab Calina seadanya.


Kenzo mengangguk datar. Sembari menikmati menu makan malam yang ia pesan.


' Orang seperti Pak Kenzo makan di kantin Rumah Sakit macam ini? '


Calina menggelengkan kepalanya pelan. Tak menyangka prang sekaya keluarga Adhitama mau makan di kantin sederhana.


' Sepertinya... bisa kalau aku bertanya - tanya yang lain! ' batin Calina.


"Kalau Bapak, kenapa ada di Rumah Sakit ini? Ini kan jauh dari ibukota!"


"Memangnya kenapa?" Kenzo bersikap sangat datar.


"Bukankah Rumah Sakit di Ibukota lebih baik dari pada di sini?"

__ADS_1


"Kalau daruratnya di sini, apa harus ke kota dulu untuk mendapatkan pertolongan?" Kenzo melirik Calina sambil terus mengunyah makanannya.


Calina tersenyum kaku, ' benar juga! ' lanjutnya dalam hati. ' bodoh sekali diri ini! ' Akhirnya ia hanya mengangguk pelan.


Calina ragu untuk kembali bertanya. Ia takut terlihat bodoh di depan seorang CEO perusaan besar seperti Kenzo.


Calina memilih untuk lanjut memakan soto dagingnya sedikit demi sedikit. Sesekali ia mencuri pandang pada pria tampan di depannya.


' Cara makannya terlihat sangat tenang.. Apa semua pria tampan cara makannya seperti itu? Seperti Mas Zio juga begitu! '


Pikiran Calina terbawa oleh lamunan tentang sosok Kenzo di depannya. Laki - laki tampan rupawan dan kaya raya. Tanpa bergerak pun, ia sudah menjadi magnet tersendiri untuk kaum hawa. Termasuk Calina yang jantungnya semakin lama semakin berdebar.


"Tidak makan?" tanya Kenzo datar tanpa melihat Calina.


Sementara Calina bingung, ia menoleh kanan kiri untuk menemukan seseorang yang tengah di ajak bicara oleh Kenzo.


"Bapak nanya saya?"


"Memangnya siapa lagi?" jawab Kenzo menengadahkan wajahnya penuh ke arah Calina.


Calina sontak menelan ludahnya dengan sangat susah. Bagaimana tidak, di lihat dengan jelas dari jarak sedemikian dekat, Kenzo terlihat semakin tampan. Tak ada setitik noda pun di wajah itu. Yang ada hanyalah... sempurna...


Apalagi sorot mata Kenzo, sangat memabukkan. Dan ia merasa kembali pada malam itu. Dimana ia menganggap sosol Gilang adalah malaikat penyelamat.


Tersenyum kaku, "Saya sudah kenyang.." jawab Calina.


"Oh!" sahut Kenzo datar sembari meminum air putih di dalam botol miliknya.


"Apa sebelum sekarang kamu sempat melihat ku di sini?" tanya Kenzo.


"Hah!" pekik Calina. "Kapan, Pak?" Calina bingung sendiri. Ia merasa bahwa tadi sempat ketahuan.


Tersenyum kikuk, Calina melihat sorot mata Kenzo. Dari sorot itu ia yakin Kenzo bukanlah orang yang mudah percaya akan kebohongan. Atau bisa jadi Kenzo justru bisa membaca pikiran seseorang?


Tersenyum gamang, "Sebelumnya saya minta maaf, Pak! Tadi pagi saya memang melihat Bapak di salah satu lorong. Untuk memastikan saya mengikuti Bapak, sampai Bapak masuk ke dalam salah satu ruang rawat VIP." jelas Calina.


"Kamu menguntit saya?" Kenzo melilitkan tangan di depan dada sambil bersandar pada sandaran kursi.


"Iya! Eh... Maksud saya..." Calina tergagap sendiri. Melihat ekspresi Kenzo, rasanya bisa jadi ia akan di telan hidup - hidup. "Maafkan saya, Pak!" ucap Calina begitu saja. "Tolong jangan di adukan pada suami saya juga ya, Pak! Please..." Calina mengatupkan kedua tangan di depan dada. Seolah memohon dengan sangat.


"Kenapa kamu seperti sangat takut pada suamimu?" selidik Kenzo.


"Ha?" gagap Calina kembali. "Bukan begitu, Pak.. Hanya saja..." Calina melirik kanan kiri untuk mencari alasan.


"Sudahlah, lupakan!" ucap Kenzo.


Kenzo beranjak dari duduknya. Meninggalkan Calina tanpa permisi tentu saja. Kembali memasuki lorong di mana ruang rawat VIP nya berada.


Calina menatap punggung Kenzo, hingga tak lagi terlihat. Rasanya ia belum puas untuk bisa mengobrol dengan CEO tampan dan kaya raya itu.


"Apa yang kamu lihat?" suara barinton datang dari belakang Calina. Hingga Calina hampir terlonjak kaget.


"Oh, tidak ada, Mas!" jawab Calina menggeleng pelan.


"Habis makan dengan siapa kamu?" tanya Zio masih berdiri di samping.


"Pengunjung kantin yang lain..." jawab Calina datar.


Tanpa berkata apa - apa lagi, Zio memesan makanan dari kasir, dan membawanya duduk di depan Calina.

__ADS_1


"Naura ikut lagi?" tanya Calina saat melihat dua menu yang sama di nampan Zio.


"Hem.." jawab Zio datar.


Calina menghela nafas berat. Namun kali ini ia lakukan tanpa suara sedikitpun. Agar tak terlihat jika sebenarnya ia kecewa dengan kehadiran Naura. Karena secara tidak langsung itu membuatnya kesal atau lebih tepatnya cemburu.


"Dimana dia?"


"Masih di toilet!" jawab Zio sembari memainkan ponselnya. Tentu saja ia menunggu sang istri pertama untuk menyantap makan malamnya.


"Calina.." sapa Naura dari arah belakang.


"Hai, Ra..." balas Calina dengan sedikit memaksa untuk tersenyum.


"Kamu sudah makan?" tanya Naura duduk di samping Calina.


"Sudah, Ra!" jawab Calina datar.


"Ayo, Sayang! Kamu harus makan!" ucap Zio menyodorkan piring Naura. "Kamu tadi bilang lapar, 'kan? Sekarang makan yang banyak..."


Hati Calina serasa semakin di iris. Lebih sakit lagi karena di iris menggunakan belati yang tidak tajam. Sehingga rasanya seperti di siksa terlebih dahulu baru kemudian darah mengucur bersamaan dengan puncak kesakitan.


Miris bukan? Calina yang di akui oleh agama dan negara sebagai istri Zio Alfaro. Tapi orang lain yang di panggil Sayang dan di perhatikan? Di depan mata pula!


Itulah yang di rasakan Calina saat ini. Tersiksa oleh sesuatu yang sulit untuk di jelaskan. Namun rasa sakitnya begitu dalam dan menancap jauh di relung batin.


Naura merasa tidak enak di panggil sedemikian mesra di hadapan Calina. Dulu memang sering dan terasa biasa saja. Tapi sejak semalam, rasanya sangat tidak enak mendapat panggilan itu seorang diri.


"Em.. Iya, Mas!" jawab Naura menarik piringnya.


"Naura, aku kembali ke ruang Mama dulu, ya.. sepertinya aku sudah kekenyangan!" kilah Calina berpamitan pada Naura tanpa melirik Zio sedikitpun.


"Iya Cal.." jawab Naura gamang.


Naura beranjak meninggalkan meja makan yang ia tempati sebelumnya.


Sementara Naura dan Zio sama - sama menoleh mangkuk sisa makan Calina. Dimana soto daging masih ada separuh lebih di sana.


"Padahal makanannya masih banyak..." ucap Naura menoleh suaminya yang hanya mengidikkan pundaknya.


"Kamu sih, Mas! Jangan panggil aku sayang di depan Calina lah!"


"Maaf, Sayang! Sudah terbiasa! Mana bisa di atur! Semua karena kebiasaan!" jelas Zio menjelaskan.


"Tch!" Naura berdecih sembari melihat punggung Calina yang semakin mengecil, dan menghilang di balik dinding tikungan.


Zio pun akhirnya menatap lirih istri keduanya. Namun lagi - lagi, ia menepis rasa bersalah yang baru saja menghampiri hatinya.


Padahal sebelumnya Calina sangat lapar. Entahlah saat sampai di Kantin, laparnya lenyap begitu saja. Justru berganti menjadi sebuah lamunan yang tak berarah.


Kini gadis desa itu berlari kecil setelah tak terlihat oleh suami dan madunya. Menyeka air mata yang menetes tanpa ia inginkan.


Alih - alih berlari ke ruang ICU. Kali ini Calina justru berlari ke belakang Rumah Sakit. Tidak ada tempat duduk di sana. Yang ada hanyalah lorong kosong antara dinding dan pagar yang sepi dan beberapa dedaunan kering yang berserakan.


Ia duduk di atas paving kotor, menyandarkan punggung pada dinding. Kemudian ia dekap kedua lutut di depan dada. Ia rebahkan kepalanya di atas lengan.


DAN MENANGISLAH SI GADIS DESA ...


...🪴 Happy Reading 🪴...

__ADS_1


__ADS_2