Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 157 ( Buah Tangan )


__ADS_3

Masa liburan sekolah telah usai...


Semua siswa siswi Alexander International School telah kembali dengan aktivitas dan rutinitas mereka di sekolah. Kembali bertemu setelah dua minggu lamanya tak bertemu membuat banyak cerita yang di sampaikan satu sama lain.


Karena rata-rata penghuni Alexander International School adalah anak orang-orang kaya dan berkecukupan, jadi sudah biasa jika cerita mereka tentang liburan keluarga mereka di luar negeri. Meski tak jarang yang hanya berlibur di negeri sendiri.


Salah satu destinasi wisata di negeri sendiri yang masih banyak di lirik oleh mereka adalah pulau Bali dan Raja Ampat. Lalu ke puncak untuk beberapa orang.


Dua minggu tak bertemu, maka sejak hari kemarin cerita mereka hanya seputar liburan dan berlibur ke rumah nenek. Atau juga tentang oleh-oleh yang di bawa sedari berlibur.


Hari ini adalah hari kedua mereka kembali aktif di sekolah. Bercerita tentang keseruan berlibur sudah sedikit mereda. Namun satu yang masih mengganjal di hati Clarice. Ia penasaran, kemana perginya Vino selama liburan?


Jika tentang Arsen, Naufal dan Hanna, ia sudah mendengar cerita mereka kemarin. Dan ia sudah mendapatkan satu gelang dari Arsen yang di beli di Los Angeles. Satu box coklat dari Naufal yang ternyata berlibur ke Italia. Dan coklat yang di beli Naufal berasal dari kota Florence. Yang mana coklatnya sudah sangat terkenal di Italia.


Dan dari Hanna, ia mendapatkan sebuah kaos oblong berwarna biru tosca dengan tulisan Jogja. Karena sang atlit perempuan menghabiskan hari liburnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, yang merupakan kota asal sang Ayah.


Clarice sendiri sudah membagikan beberapa Hallyu Merchandise khas negeri ginseng pada teman-temannya. Kaos untuk Naufal dan untuk Arsen. Satu lagi untuk Vino. Tapi kesempatan tidak membuat nya bisa memberikan itu pada sang Atlit laki-laki.


Justru Arsen yang awalnya tidak akan ia beri justru merengek paling pertama. Seolah yakin akan di beri oleh-oleh Clarice. Meskipun memang benar adanya. Hanya saja sang gadis tidak ingin terlihat sudah menyiapkan semuanya.


"Aku tidak membeli apapun untuk anak manja seperti mu!" bohong Cla kemarin saat Arsen memberikan sebuah gelang yang sangat cantik pada dirinya.


Sesungguhnya Clarice tau gelang dari Arsen yang kini sudah melingkar di pergelangan tangan kirinya memiliki harga yang cukup lumayan. Karena ada beberapa bagian yang terbuat dari emas asli. Meski begitu ia tetap saja sok jual mahal di depan Arsen, dan mengatakan oleh-oleh dari Arsen biasa saja.


"Aku yakin kamu pasti membawa oleh-oleh untuk ku, Sayang..." ucap Arsen tepat di depan Hanna dan Naufal. Karena ia pun di panggil anak manja di depan keduanya.


Membuat kedua temannya itu saling tatap dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Bahkan mata Hanna menyipit mendengar Arsen memanggil Clarice dengan sebutan Sayang.


Clarice mendelik mendengar Arsen memanggilnya dengan sebutan Sayang. Apalagi di depan Naufal dan Hanna yang pasti akan mengira mereka memiliki kedekatan khusus.


"Jangan macam-macam ya, kamu..." desis Clarice mencubit lengan Arsen dengan gemas dan kesal. "Jangan panggil akau sembarangan!"


"Auh!" pekik Arsen ketika cubitan Clarice terasa semakin sakit di lengannya. "Makanya... mana oleh-oleh untukku... Atau aku akan terus memanggil kamu dengan sebutan Sayang...." ujar Arsen menatap gemas pada Clarice.


Akhirnya Clarice mengeluarkan dua long sleeve T-shirt berwarna hitam dengan tulisan yang berbeda. Gambar yang di sertai tulisan menggunakan penulisan Korea atau di kenal dengan Hangul itu memang tidak bisa di baca oleh Clarice dan yang lain. Tapi dengan begitu, sangat menggambarkan jika barang itu berasal dari Korea.


"Ini buat kamu, Fal!" ujar Clarice memberikan long sleeve itu pada Naufal.


"Thank you, Cla!" jawab Naufal menerima dengan senyuman.


"Jadi yang ini untuk aku?" tanya Arsen melirik satu long sleeve yang masih di tangan kiri Clarice.


"Yaah!" jawab Cla sedikit sinis dan menyerahkan pada Arsen yang langsung di terima dengan senyum berbinar.


Clarice memang terlihat sangat ketus ketika bicara pada Arsen. Tapi sesungguhnya dalam hati ia sangat senang, karena Arsen terlihat begitu suka dan antusias dengan apa yang ia bawa.


"Biarlah sama dengan Naufal! setidaknya kamu mengingatku!" ujar Arsen menoleh pada Clarice.


Clarice tersenyum kecut. Meski dalam hati ia tidak bisa memungkiri, jika selama di sana memang ia tidak bisa serta merta melupakan pemuda yang secara tidak di sangka-sangka ia bantu untuk lepas dari sebuah rasa trauma.


Apalagi Arsen sering sekali menghubungi dirinya ketika mereka berada di luar negeri. Saling memamerkan aktivitas yang sedang di kerjakan oleh masing-masing.


Khusus untuk Hanna, sebagai sesama penggemar K-POP, Cla memberikan sebuah oleh-oleh yang menggambarkan NCT Dream. Clarice sangat tau jika sang atlit sangat mengidolakan NCT Dream.


Sehingga Clarice memberikan oleh-oleh berupa satu box berbahan kardus coklat tebal yang berisi beberapa benda yang menggambarkan NCT Dream.


Ada satu buah tumblr dengan gambar 7 kepala anggota boyband nya yang di desain menjadi tokoh kartun. Ada 1 buah pouch yang bisa di gunakan untuk menyimpan alat make up, juga mug dengan gambar yang sama. Kemudian ada satu benda yang membuat Hanna histeris ketika membuka box itu.


Apakah itu? Yaitu boneka yang yang di bentuk untuk menggambarkan salah satu member NCT Dream, yang bernama Jaemin.


Hanna sangat gemas dengan satu anggota yang lahir tahun 2000 itu. Hanna sampai reflek berdiri dan memeluk Clarice saking senangnya.

__ADS_1


Bukan ia tidak mampu membeli nya. Hanya saja semua itu sangat berharga ketika sahabat yang memberinya. Yang mana artinya sang sahabat sangat tau apa yang ia suka dan apa yang tak ia suka. Lebih spesial lagi, barang itu di beli langsung saat sang sahabat pergi keluar negeri.


"Thank you, Cla..." seru Hanna melompat dari kursi dan langsung memeluk sang sahabat dengan gemas.


Kemudian Clarice mengeluarkan 4 box coklat kit kat dari paper bag yang ia bawa. Cla membeli coklat Kit Kat itu di Jepang dengan beberapa rasa yang berbeda untuk di bagikan pada teman satu kelasnya. Ada rasa Wasabi, Choco Banana, Sakura dan Apple Vinegar.


Selain Clarice, tentu banyak juga teman-teman yang lain yang membawa oleh-oleh dari tempat liburan mereka. Dan juga untuk di bagi dengan teman satu kelas.


Itu adalah obrolan seru di hari kemarin, dan untuk hari ini setelah istirahat pertama, jam pelajaran kembali berlangsung. Clarice yang duduk di bangkunya, sejak kemarin mencoba untuk mencuri pandang pada Vino.


Clarice merasa Vino kembali menjadi sosok pemuda yang dingin padanya seperti awal-awal masuk sekolah dulu. Sehingga ia kesulitan untuk memberi oleh-oleh berupa T-shirt lengan pendek berwarna biru langit dengan tulisan Korea yang berwarna hitam. Berbeda dengan yang ia berikan pada dua sahabat laki-lakinya.


Merasa bosan dengan mata pelajaran yang sedang di ajarkan, Clarice izin untuk pergi ke toilet seorang diri. Ia butuh waktu untuk me-rileks kan isi kepala dari rumitnya rumus KIMIA ketika dalam perjalanan menuju toilet.


Clarice masuk ke dalam toilet. Hanya untuk mencuci tangan di wastafel dan menatap dirinya dari cermin yang ada di depan tubuhnya yang menampilkan dirinya seutuhnya. Memperlihatkan wajah cantiknya secara nyata.


Clarice menatap dalam dirinya yang terpantul pada cermin. Dan itu membuatnya bisa melihat pada diri sendiri. Meski sangat nyata dan mirip, tapi bagaimanapun cermin tidak akan bisa memperlihatkan diri ini yang sebenarnya, batin Clarice.


Namun betapa ia bersyukur menjadi dirinya sekarang. Betapa beruntung ia karena setiap akhir tahun selalu di ajak untuk menghabiskan hari libur di luar negeri. Tak semua remaja bisa seberuntung dirinya, bukan?


Dan setiap kembali selalu semua anggota keluarga terlihat bahagia dan hubungan keluarga jadi semakin harmonis.


Selain menatap dirinya di cermin, Clarice juga melihat apa yang ada di belakang tubuhnya. Ini lah kelebihan dari sebuah cermin. Ia tidak hanya membantu kita memperlihatkan diri kita, tadi juga memperlihatkan apapun yang ada di belakang kita.


Jika ada orang di belakang kita yang ingin melakukan kejahatan, kita bisa tau ketika kita menghadap cermin. Kita juga bisa melihat ekspresi seseorang yang berada di belakang kita tanpa perlu menoleh ke belakang.


Puas dengan apa yang ia lihat di dalam cermin, Cla merasa sudah cukup untuk me-rileks kan otak yang bosan oleh mata pelajaran Kimia. Maka segera ia memutar badan, kemudian berjalan ke arah pintu utama toilet perempuan.


Membuka pintu utama toilet perempuan, untuk kedua kali ia di kejutkan oleh sosok pemuda yang pernah melakukan hal serupa beberapa bulan yang lalu.


"Kenapa kamu suka sekali mengagetkan aku?" tanya Clarice sedikit menghentak.


Padahal sesungguhnya ia cukup suka dengan semua ini. Sangat jarang sang idola menemui dirinya hanya berdua begini.


Brighta Clarice.


Sebait nama dirinya yang membuat mata Clarice terpaku menatap pada gelang sederhana itu. Bukan bentuk, bukan pula harganya. Yang membuat Clarice tertegun adalah namanya yang terukir di gelang itu. Gelang yang di bawa sang pemuda entah dari mana.


Karena ketika sebuah nama terukir di benda itu, sudah pasti benda itu memang sudah di siapkan hanya untuk sang pemilik nama. Bukan untuk orang lain. Karena jika ada nama yang bukan namanya sendiri, mana mungkin orang tersebut akan menerimanya.


Clarice terdiam untuk beberapa saat. Kemudian menatap Vino yang masih bersandar pada dinding toilet bagian luar.


"Kamu berlibur kemana?" tanya Clarice menatap penuh kekaguman pada wajah tampan di hadapan.


"Bali..."  jawab sang Atlit datar dan singkat.


"Berapa lama?" antusias Clarice.


"Satu minggu," jawab Vino menoleh pada Clarice.


"Kenapa kamu ingat untuk memberikan aku buah tangan?" tanya Clarice dengan menanti tidak sabar akan jawaban sang pemuda.


Menghela nafas cukup panjang dan pelan. Ia tak lekas menjawab. Seolah ada sesuatu yang masih ia tutupi.


Sementara Cla sangat menantikan jawaban dari sang pemuda. Berharap Vino akan menjawab dengan sebuah jawaban yang memuaskan hatinya. Jantung sang gadis sampai berdetak lebih cepat seiring dengan pengharapannya. Namun Vino tak kunjung menjawab.


"Mana mungkin aku melupakan anak Bos Papa ku?" jawab Vino yang justru berupa pertanyaan. "Bahkan Papa terus mengingatkan aku akan hal itu..." lanjut Vino membuat Clarice sontak tersenyum lirih dan hambar.


' Sadarkan dirimu sebelum buah kelapa jatuh di atas kepalamu, Cla! '


Ucap Clarice dala hati.

__ADS_1


"Jadi ini bukan inisiatif kamu sendiri?" tanya Clarice menatap tak percaya pada Vino.


"Sebenarnya sejak awal aku juga sudah ingin memberimu oleh-oleh..." jawab Vino membuat Cla kembali menatap nya dengan tatapan penuh harap.


"Hanya saja aku berfikir, rasanya tidak mungkin jika kamu mau oleh-oleh dariku..." lanjutnya.


"Tentu saja aku mau!" sahut Clarice dengan sangat antusias.


"Benarkah?" tanya Vino menatap Clarice dengan tatapan tak percaya. "Aku lihat oleh-oleh di pergelangan tanganmu itu sangat berharga..." lanjut Vino. "Jauh lebih mahal!" lanjutnya membuang pandang.


Cla menoleh gelang pemberian Arsen yang ia kenakan. Kemudian menatap gelang berbahan kayu pemberian Vino yang memang harganya di yakini Clarice tak seberapa, alias tidak sebanding dengan gelang yang di berikan oleh Arsen yang mengandung emas asli.


"Aku jadi ragu ketika kemarin ingin memberikan gelang ini padamu.." lanjut sang pemuda. "Tapi setelah aku pikir-pikir, kalau aku yang simpan juga untuk apa? Aku membeli dan memesannya khusus menggunakan namamu..."


"Aku tidak pernah memandang harga, Vin..." jawab Clarice.


Terkekeh, Vino seolah tak percaya dengan apa yang di ucapkan Clarice dengan serius itu. Namun ia juga tidak mengatakan jika Clarice hanya membual. Karena memang Clarice bukan tipe pilih-pilih teman. Tangannya kembali merayap memasuki kantong bajunya.


"Dan ini juga untuk mu..." ucap Vino menyerahkan sebuah coklat batang kepada Clarice dengan bungkus berwarna ungu.


"Buat aku?" tanya Clarice tak percaya di berikan coklat yang entah dari mana sang pemuda membelinya.


Yang jelas, Clarice tersenyum dengan dada yang berdebar menerima coklat batang berukuran 5 x 15 cm itu. Clarice merasa sangat beruntung karena hanya dia yang sepertinya di berikan coklat oleh Vino. Senyum di bibirnya sampai tak bisa memudar begitu saja.


"Hemm.. itu coklat dari aku dan Neha."


Deg!


Lanjutan kalimat Vino benar-benar membuat senyum Clarice seketika mengambang dan berangsur menghilang. Clarice bingung sekaligus heran dengan lanjutan kalimat Vino. Ia menatap Vino dengan kening yang berkerut. Menunggu, apakah akan ada penjelasan selanjutnya.


"Maksudnya?" tanya Clarice.


"Aku dan Neha jadian! Dan kami merasa perlu berbagi coklat pada teman-teman lawan jenis tertentu. Yang di anggap dekat kami masing-masing. Ternyata Neha menyertakan namamu dalam daftarnya. Karena aku pernah bilang main ke rumahmu bersama Naufal, Hanna dan Arsen." ucap Vino tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Jadi coklat ini semacam menjelaskan pada mereka bahwa kami tidak lagi sendiri." lanjutnya tanpa tau jika penjelasannya kali ini adalah sebuah goresan untuk sang gadis. "Alias kami resmi berpacaran." lanjut Vino dengan anda yang terdengar datar dan santai, tapi juga menggambarkan jika ia sangat bahagia untuk saat ini.


Clarice membeku, menatap tak percaya pada Vino. Senyum di bibirnya sudah lenyap tak bersisa. Dan jantungnya terasa berdetak dengan sangat cepat akibat kalimat yang tak pernah ia perkirakan akan ia dengar sebelumnya. Namun tubuhnya terasa begitu lemah dan lemas seolah tidak bertulang untuk sekedar berkata oh ataupun sejenisnya...


"Aku harap kamu juga segera menemukan sosok yang menurutmu terbaik untuk kamu..." lanjut Arsen.


Kalimat Vino sontak membuat tubuh Clarice yang membeku seolah kembali bernyawa. Dan akhirnya sang gadis tersenyum lirih, sumbang dan miris. Terlihat dari senyumnya yang sangat kaku dan tidak tulus.


"Jadi maksud kamu, dengan aku mendapatkan coklat ini, itu artinya aku... tidak boleh lagi dekat denganmu?"


"Bukan tidak boleh dekat... Coklat ini hanya sebatas tanda informasi saja..." jawab Vino.


Clarice tergelak hampa. "Tapi aku tidak membutuhkan apapun untuk tau jika kamu dan Neha sudah berpacaran." Clarice menyodorkan coklat itu kembali pada Vino. "Lagi pula kita tidak ada hubungan apapun yang bisa di jadikan alasan orang mengatakan kita punya hubungan dekat." jelas Clarice dengan hati yang sedikit runtuh dari posisi seharusnya.


"Aku tau... ini hanya simbol saja. Dan itu sudah menjadi kesepakatan aku dan Neha. Jadi please, jangan tersinggung. Coklat ini sudah menjadi hak kamu..." Vino mendorong coklat itu sampai kembai ke sisi Clarice.


"Tapi..." Cla tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Meski ia tau tidak boleh bersedih apalagi menangis. Karena sejak awal ia memang hanya mengidolakan sang Atlet tidak untuk mengharap yang lain.


"Aku mohon terima lah... Aku ingin Neha percaya kalau aku sudah melakukan apa yang dia inginkan."


Clarice menggenggam coklat itu meski tidak terlalu erat. Menggoyangkan coklat itu dengan pelan.. Cla ingin mengucap sesuatu, tapi entahlah. Semua terasa sulit untuk di ucapkan. Lidah terasa sangat kaku.


"Semoga kamu bahagia, Vino..." ucap Cla. Hanya itu kalimat yang bisa terucap dari bibir Clarice.


"Thanks, Cla!" jawab Vino datar.


Clarice membalikkan badannya, hendak kembali ke kelas. Sang gadis berjalan dengan pelan dan wajah yang teramat sedih. Ingin sekali rasanya sang gadis menangis.

__ADS_1


Bersamaan dengan Cla yang mulai meninggalkan area toilet, muncullah Arsen dari pintu kelasnya seorang diri. Arsen sepat tertawa ketika melihat Clarice. Namun saat menyadari ada yang tidak beres pada Cla, tawa itu lenyap begitu saja.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2