Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 172 ( Kisah di Tengah Pesta )


__ADS_3

Resah sudah sang gadis ketika aplikasi chat Arsen tidak bisa di hubungi.


"Arsen... Kenapa kamu tidak bisa di hubungi?"


Clarice berganti pada aplikasi berbagi foto yang sering di singkat dengan sebutan IG. Mencoba untuk menghubungi dari layanan chat dan telepon sana. Namun sayang, Cla bahkan tidak lagi menemukan nama Arsenio Wilson di dalam kolom pencarian.


"Ada apa ini?" gumamnya mulai merasa panik. "Kenapa IG Arsen menghilang?"


Tangan Clarice mulai kembali gemetar. Ketika mengingat aplikasi chat Arsen tidak bisa di hubungi, dan akun sang pembalap di aplikasi satu ini juga menghilang begitu saja.


Akhirnya Cla mencoba untuk menggunakan cara terakhir. Yaitu menghubungi secara manual melalui nomor ponsel.


Namun sayang, bukannya tersambung pada sang pemuda, justru suara seorang wanita yang mengabarkan jika nomor yang dihubungi tidak bisa.


"Arsen...." lirih sang gadis mulai kehilangan akal. "Pasti ada yang tidak beres!"


Berpikir sesaat, kemudian cepat ia menyambar kunci mobil mini cooper miliknya di gantungan kunci. Tanpa mengganti bajunya, tanpa mencuci muka atau bahkan mandi terlebih dahulu, Cla langsung melesat membawa mobilnya meninggalkan kediaman Kenzo Adhitama. Tanpa menjawab pertanyaan seorang kepala pelayan yang melihatnya buru-buru dalam kondisi yang tidak sewajarnya Nona Muda berdandan untuk pergi.


Mengenakan kaos oblong yang baru saja di berikan oleh Arsen, juga jam tangan berwarna sweet pink yang masih melingkar di pergelangan tangan kirinya. Rambut berantakan sisa hairspray semalam di biarkan tergerai begitu saja. Dan yang paling tidak masuk akal, ia masih mengenakkan hotpants yang tertutup oleh kaos oblong London.


Mengemudikan mobil merah miliknya di jalanan Minggu yang tidak terlalu ramai oleh kendaraan bermesin, Clarice terbawa ulang pada suasana tidak karuan yang semalam ia lewati di aula sekolah yang segera ia tinggalkan setelah merasa tidak enak hati karena mengecewakan banyak orang, terutama Vino.


Meninggalkan momen yang mungkin memang tidak akan pernah terjadi lagi secara sama sampai kapanpun juga.


Flashback On ...


MC menyuarakan seolah-olah dirinya tengah tersenyum senang dengan kejutan yang di berikan oleh Vino. Di tembak di hadapan banyak teman sekolah adalah momen luar biasa yang mungkin akan terasa sangat spesial bagia sebagian orang.


Tapi bagi Clarice?


Gadis satu ini justru tengah tersenyum secara terpaksa. Kaku, garing dan sulit untuk di pahami oleh Vino. Padahal sesungguhnya ia tidak ingin berada di momen seperti ini.

__ADS_1


Clarice memang sangat gugup saat itu, tapi bukan karena sang Atlit yang menyatakan cinta padanya. Cinta yang dulu pernah ia impikan. Dan cinta yang dulu ia pikir tidak akan pernah untuknya. Tapi karena ia bingung harus memberi jawaban yang seperti apa agar tidak mengecewakan banyak orang, dan tanpa membat Vino malu karena sudah di tolak di hadapan banyak teman yang semua sudah saling mengenal.


Semua teman sudah bersorak meminta dirinya untuk menerima cinta Vino yang terlihat sangat tulus dan serius. Semua orang seolah mendukung dirinya dan Vino untuk meneruskan kisah mereka.


"Jika kamu mau... terimalah bunga ini, Cla...:"


Selesai berucap, kini Vino dan seisi ruangan menunggu jawaban dari Clarice. Jawaban yang entah Clarice harus bagaiman. Sang gadis tidak terlalu pintar untuk berbicara menggunakan mic seperti ini.


Menerima mic yang di sodorkan oleh MC perempuan, Cla memegangnya dengan nyaris meremas kuat gagangnya.


"Ayo.. di jawab." bisik sang MC dengan seulas senyum.


Menarik nafas panjang dan menghembusnya pelan, Cla mulai menetralkan segala perasaan yang di rasakan selama beberapa menit terakhir.


"Vino?" panggil Cla lirih. "Jika kamu bilang aku tidak melihat mu di awal-awal kita memasuki sekolah ini, maka kamu sudah salah besar dan salah paham."  ucap sang gadis berusaha untuk bersikap datar.


"Aku melihat mu, dan aku juga mengagumi dan menyukai segala sesuatu tentang dirimu kala itu. Tanpa aku tau kamu adalah anak Uncle Beni."


"Namun..." Cla kembali menarik nafas panjang.


Dan hal ini membuat Vino dan beberapa orang lainnya ikut menahan nafas mereka. Apa kira-kira yang akan d sampaikan oleh sang gadis?


"Seiring berjalannya waktu... Ketika kamu sudah jarang bahkan tidka pernah lagi dekat dengan ku, aku mulai menyadari... Jika tidak semua yang kita inginkan bisa menjadi milik kita. Dan apa yang aku impikan tidak selalu bisa terwujud."


Cla kembali menghela nafas tenang, dan diam sejenak.


"Dan kini... aku mulai sadar... Jika yang perasaan ku padamu kala itu hanyalah sebuah rasa kekaguman semata, dan... bukan cinta." Cla menggeleng lemah.


DEG!


Setidaknya inilah yang di rasakan oleh pemuda yang masih berdiri dengan membawa bucket bunga.

__ADS_1


"Apa maksud kamu, Cla..." tanya Vino.


Cla mengedipkan matanya beberapa kali. Berusaha menetralkan segala perasaan yang sesungguhnya sedang berantakan dan tidak karuan.


"Aku pernah merasa... bahwa diriku mencintai kamu. Bahwa diriku menyukai kamu. Tapi ketika kamu pergi bersama Neha, Aku sadar... Jika aku tak lebih dari sekedar mengagumi kamu... Kagum yang pernah ku anggap sebagai cinta."


"Karena rasa kecewa itu rasanya hanya sesingkat itu. Menguar dengan sangat cepat. Sangat berbeda dengan saat aku kehilangan senyum seseorang yang selama ini aku anggap tidak terlalu penting di dalam hari-hariku..."


"Awww...." reflek seisi ruangan yang tidak menyangka akan jawaban Clarice.


"Siapa?" tanya Vino mulai bernada sedikit sarkas. Mungkin karena nafasnya yang kini tersengal karena tidak menyangka jika dirinya akan di tolak seperti ini.


"Kamu tidak perlu tau... Vino..." jawab Clarice lembut karena takut sang pemuda akan sakit hati dan bertindak nekat.


"Katakan, Cla..." pinta Vino dengan sedikit memelas. "Jika dia ada di sini, aku akan meminta padanya untuk menjagamu dengan sangat baik..."


"Dia tidak ada di sini..." jawab Cla sekena.


Karena setau nya Arsen memang tidak ada di aula sejak tadi, bukan?


Vino meremas bucket bunga di tangannya dengan sangat kuat. Jemarinya sudah biasa memukul bola voli, menggiring bola basket dan menghempas air kolam dengan sangat mudah. Sehingga cukup kuat jika hanya untuk menghancurkan bucket bunga saja.


"Maafkan aku, Vino..." ucap Clarice dengan perasaan yang di penuhi dengan rasa bersalah.


"It's okay... aku bisa menerimanya..." jawab Vino dengan lugas.


Flashback Off ...


Kembali pada Clarice yang kini sudah memasuki komplek perumahan Arsen. Ia harus segera meluruskan segala sesuatu yang sangat salah. Ia tak ingin Arsen menganggap dirinya dan Vino telah berpacaran.


"No! Aku dan Vino tidak ada hubungan apapun, Sen!" pekiknya dalam hati.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2