
Clarice keluar dari kamarnya untuk bergabung di meja makan yang ada di ruang makan lantai bawah. Karena waktu makan malam sudah tiba. Maka kini keluarga Kenzo Adhitama telah lengkap untuk mengisi perut mereka sebelum tidur malam nanti.
Sesi makan malam adalah waktu yang tepat untuk berkumpul. Karena ketika waktu itu tiba, seluruh keluarga telah usai dengan kesibukan wajib mereka di luar sana.
Aktivitas di luar telah usai dan siap mengistirahatkan diri mereka sebelum kembali beraktivitas esok hari. Seperti sekolah, bekerja dan juga yang lainnya.
Sering kali momen seperti ini akan menjadi waktu yang tepat bagi semua anggota keluarga untuk berbagi cerita dan juga menceritakan apa yang mereka alami selama satu hari penuh tadi. Atau juga rencana esok yang ingin mereka kerjakan.
Momen ini di anggap sangat penting bagi Daddy Ken dan Mommy Cal, karena menjadi kesempatan bagi mereka untuk mendengarkan cerita anak-anak mereka.
"Daddy?" panggil Clarice ketika makan malam telah usai.
"Hm?" jawab Daddy Kenzo langsung menoleh sang putri sambung yang duduk di samping istrinya sembari mengusap bibirnya menggunakan tisu.
"Daddy, tadi di sekolah raport hasil ujian tengah semester sudah di bagikan. Nanti Daddy tanda tangani, ya?" ucap Clarice.
"Okay.." jawab Daddy Kenzo dengan santai.
"Galen juga!" sahut Galen yang duduk di depan Mommy Calina.
"Dygta juga!" sahut Dygta.
"Iya.." jawab Daddy Kenzo dengan santai.
Beginilah Daddy Kenzo, tak pernah menanyakan ranking berapa anak-anaknya di sekolah. Berapapun nilai anak-ana, beliau yakin jika nilai itu sudah di dapat dengan kerja keras masing-masing.
"Dapat ranking berapa, Kak?" tanya Dygta pada Clarice yang duduk di depan.
"7 di kelas. Dan 21 di sekolah!" jawab Clarice sedikit ragu jika adiknya yang bertanya.
"Masih bagus Galen dong!" sahut Galen.
"Memangnya ranking berapa kamu?" tanya Clarice.
"1 lah!" jawab Galen dengan bangga. "Dan peringkat 3 di sekolah!"
"Serius?" tanya Clarice terbelalak. Menatap tak percaya pada adik yang ia anggap sangat pecicilan itu.
"Ya iyalah!" jawab Galen kembali merasa bangga dengan menepuk dadanya pelan. "Kamu peringkat berapa, Dyg?"
"Peringkat 2 di kelas!" jawab Dygta. "Dan peringkat 7 di sekolah!"
"Wah... Kenapa kalian selalu lebih unggul dari aku..." gumam Clarice mengerucutkan bibirnya. "Padahal aku sudah berjuang untuk mendapatkan nilai yang bagus! Tapi selalu saja kalah dengan kalian..."
"Nilai kalian di sekolah tidak menentukan kalian di masa depan..." sahut Daddy Kenzo yang tak suka jika ada anaknya yang berkecil hati.
Terutama Cla. Karena semua tau jika Cla bukan darah dagingnya. Maka jika Cla berkecil hati, ia takut jika Cla merasa berbeda dari kedua adiknya.
"Dulu teman Daddy ada yang sangat badung, keluar masuk ruang BK. Ayahnya berasal dari Jambi, dan Ibunya berasal dari Jakarta. Dia tidak pernah mendapat ranking, dan cenderung selalu berada di peringkat terakhir. Tapi ternyata setelah lulus sekolah pengalaman hidup membuat dia menjadi pribadi yang luar biasa."
"Lama kami tidak berjumpa, dan tak di sangka kami bertemu kembali saat menghadiri undangan rekan bisnis di Aceh sekitar satu tahun lalu." jelas Daddy Kenzo.
"Ternyata sekarang dia adalah pemilik sekaligus pengelola salah satu perkebunan kelapa sawit terbesar di pulau Sumatra yang ia rintis sendiri dengan bermodalkan 1 hektar perkebunan kelapa sawit dari sang Kakek. Dan kini sudah menjadi puluhan hektar kebun kelapa sawit yang ia miliki."
Semua memperhatikan ketika Daddy mereka berbicara. Begitu juga dengan Mommy Calina yang tau tentang cerita Daddy Kenzo. Karena ia ikut menemani kala itu.
Sedang Daddy Kenzo sendiri selalu suka memberikan cerita-cerita yang penuh makna pada anak-anaknya.
"Jadi jangan pernah berkecil hati, jika nilai yang kamu dapat lebih kecil dari yang di dapat oleh adik-adik." ucap Daddy Kenzo mengakhiri cerita.
"Iya, Daddy!" jawab Cla merasa tenang dan nyaman, karena Daddy Kenzo yang merupakan pengusaha kaya raya dan terkenal itu tidak pernah menuntut dirinya untuk menjadi yang terbaik di kelas. Tidak pernah pula membanding-bandingkan nilainya dengan nilai para adik-adik.
Meski demikian tidak akan membuat dirinya bersantai begitu saja. Ia harus terus berjuang dan berjuang untuk mendapatkan nilai yang tak kalah bagus dari adik-adiknya.
Kadang kala ia memang merasa berkecil hati dengan kemampuannya. Adik-adiknya yang merupakan anak kandung Daddy Kenzo selalu memberikan laporan nilai yang bagus. Sementara dirinya yang bukan anak kandung Daddy Kenzo selalu memberi laporan nilai yang rendah.
Jika memang keturunan itu berpengaruh, maka setau Clarice, Papa Zio juga orang yang sangat pintar. Tapi kenapa dia tidak sepintar Papa Zio?
__ADS_1
Entahlah... tidak ada yang tau akan hal itu. Yang jelas setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing.
"Daddy?" panggil Clarice untuk kedua kalinya.
"Ya?" jawab sang Ayah.
"Apa Daddy memberi izin pada Zuria untuk mengikuti ujian?" tanya Cla ragu, namun ia sangat penasaran. "Karena Zuria ternyata masuk peringkat 100 besar. Jika Zuria tidak ikut ujian tengah semester selama 2 hari, pastilah Zuria berada di nomor peringkat 120.
Menarik nafas panjang, Daddy Kenzo sudah bisa menduga jika hal ini pasti akan terjadi. Jika pertanyaan ini akan muncul dari Clarice. Menghela nafas pelan Daddy Kenzo mulai bercerita.
"Sesungguhnya Daddy paham apa yang kamu katakan di ruang kerja Daddy waktu itu ada benarnya. Kemudian Daddy berunding dengan Uncle Venom, dan juga Papa Zio. Kemudian Uncle Venom memberi ide untuk memberi izin Zuria mengikuti ujian dengan satu syarat." jawab Daddy Kenzo menatap lekat sang putri.
"Syarat apa, Daddy?" tanya Cla.
"Zuria harus mengerjakan soal ujian di kantor, di ruang tamu khusus di lantai tempat Daddy kerja. Dan Uncle Venom yang menjaga dia selama mengerjakan soal ujian." terang Daddy Kenzo.
"Sampai ujian selesai?" tanya Clarice seolah tak percaya dengan jawaban sang Daddy.
"Iya!" jawab sang Daddy Kenzo dengan yakin. "Tak satu menit pun Venom meninggalkan Zuria yang mengerjakan soal ujian tepat di depan matanya. Hanya ada mereka berdua di sana. Dan Uncle Venom pun tidak melakukan apapun selain mengawasi Zuria yang selalu berakhir dengan keringat dingin."
Clarice membuka mulutnya lebih lebar, tak menyangka syarat yang di berikan pada Zuria selangka itu. Clarice membayangkan gugupnya Zuria yang mengerjakan soal ujian di depan orang seperti Venom. Asisten pribadi Daddy kenzo yang dinginnya tiada lawan.
' Tapi bagus juga... dia tetap masuk 100 besar walau melaksanakan ujian dengan cara seperti menjadi tawanan Mafia. '
Gumam Clarice dalam hati.
"Cla pikir... Daddy tidak akan memberi kesempatan pada Zuria..." ucap Clarice kemudian.
"Daddy hanya menimbang permintaan kamu, anak Daddy tersayang..." jawab Daddy Kenzo menatap penuh kasih pada putri sambung yang sudah ia temani sejak masih dalam kandungan.
"Cla jadi penasaran seperti apa wajah Zuria menyelesaikan soal ujiannya tanpa bantuan siapapun juga..." gumam Clarice menyangga dagunya dengan tangan kirinya. Membayangkan ekspresi Zuria yang sering menyebalkan itu.
"Venom bilang... Zuria tampak tenang di awal, dan selalu berkahir dengan tegang. Bedanya ia tidak bisa melirik ke kiri ke kanan untuk mencari bantuan." jawab Daddy Kenzo. "Uncle Venom menjaga ujian Zuria dengan sangat baik."
"Hahahaha!"' Clarice tertawa mendengar jawaban sang Ayah.
"thank you, Daddy!" seru Clarice senang karena permintaannya lagi dan lagi di turuti oleh sang Ayah.
# # # # # #
Setelah pembagian raport ujian tengah semester kala itu, Zuria di kabarkan telah menghilang dari Alexander International School. Meninggalkan sekolah itu hingg tidak ada yang tau kemana sang gadis pindah sekolah.
Kabar tentang perusahaan ekspedisi ARL Express pun, kini berubah nama menjadi Lion Express. Konon katanya sisa saham ARL di jual pada pihak tertentu. Dengan di tariknya saham Adhitama Group, nama ARL Express kian tenggelam. Demo karyawan terjadi di mana-mana, karena gaji yang tak di berikan sesuai dengan kesepakatan. Hingga akhirnya perusahaan berpindah tangan.
Lantas perusahaan taksi nya?
Usaha satu ini masih berjalan, hanya saja jumlah mobil dan karyawannya semakin menipis. Di sebabkan oleh beberapa mobil dan fasilitas terjual untuk menutupi kekurangan.
Namun tak ada yang tau kemana mereka tinggal sekarang. Rumah tiga lantai dengan kemegahannya itu telah berpindah tangan. Dan kini di huni oleh orang yang berbeda.
Dua bulan setelah berlangsungnya Ujian tengah semester, di laksanakan kembali ujian tengah semester, selama satu minggu lamanya. Dan kini musim libur sekolah telah tiba. Akhir tahun siap di isi dengan libur selama dua minggu oleh para siswa Alexander International School.
Selama dua bulan berjalan itu kehidupan Clarice tampak seperti biasa. Bedanya setiap akhir pekan Arsen selalu muncul di kediaman Kenzo Adhitama. Dengan alasan berlatih renang bersama Cla. Terkadang ia datang sendiri, dan terkadang membawa Ibu dan bahkan Ayahnya.
Dan itu membuat keluarga Adhitama dan keluarga Wilson kini semakin akrab dan dekat. Bahkan Jonathan Wilson sepakat untuk menanam saham di bisnis perbankan yang di dirikan oleh Kenzo Adhitama di jalan Kapten Tendean.
Dengan bergabungnya dua pengusaha dengan kecerdasan masing-masing ini akan membuat bisnis perbankan akan semakin cepat besar dan meluas.
Bahkan CEO yang memegang khusus perbankan ini rupanya sudah di tentukan dengan baik, atas kesepakatan bersama.
Lalu perasaan Arsen pada Cla, apakah masih sama?
Daddy kenzo yang tau jika sesungguhnya Arsen mempunyai rasa cinta untuk Clarice, tak lantas membuat sang Daddy menjauhkan Arsen dari putrinya. Tidak juga merestui semudah itu niat sang pemuda meski orang tua kini telah menjadi rekan bisnis.
Pada satu kesempatan. Daddy Ken mengajak bicara Arsen secara pribadi. Dan semua di sampaikan secara gamblang oleh Daddy Ken, jika Cla tidak di izinkan untuk berpacaran. Setidaknya sampai di nyatakan lulus Senior High School.
It's okay! Arsen sudah tau mengenai satu ini.
__ADS_1
Lantas bagaimana dengan perkembangan Arsen dalam berenang?
Sang pemuda mengalami kemajuan yang cukup pesat. Terbukti kini ia sudah mampu bertahan beberapa menit di dalam air. Ia juga mulai berani belajar mengayunkan kaki di dalam air dengan berpegangan pada pipa besi.
Dan itu membuat keluarga Wilson sangat berterima kasih pada Clarice yang dengan telaten membuat Arsen mengalahkan trauma nya pada kedalaman. Bahkan kini Arsen selalu berlatih di kedalaman 125 cm sampai 150 cm.
Meski orang tua Arsen tau, jika Clarice sering memarahi Arsen. Namun tak membuat keduanya merasa jengkel pada Clarice. Rania dan Nathan justru terkekeh melihat putra nya di marahi seorang gadis yang menjadi incarannya.
Dan mereka merasa gemas dengan sikap Arsen yang terlihat tidak emosi ataupun jengkel ketika di omeli Clarice. Justru terkesan pasrah ketika sang gadis mengomel.
Hari itu, hari pertama mereka menjalani liburan semester. Arsen dan kedua orang tuanya mendatangi rumah Kenzo. Tujuan para orang tua adalah untuk berdiskusi tentang peresmian beberapa hal.
Salah satunya penetapan CEO pengganti Kenzo di Adhitama Group, dan juga penetapan CEO perbankan yang di naungi oleh keluarga Adhitama dan keluarga Wilson yang akan segera beroperasi.
Tidak hanya keluarga Wilson yang datang. Tapi juga keluarga Zio Alvaro yang juga datang untuk meeting.
Jika Daddy Ken, Papa Zio dan Papa Nathan mengobrol di ruang kerja dengan dua orang lainnya, yang tak lain adalah Venom dan Asisten pribadi Jonathan. Lalu Mommy Calina, Mama Zahra dan Mama Rania sibuk untuk membuat makan siang.
Tak lupa juga ada Galen, Dygta dan Zhian yang sedang berada di kamar Galen untuk bermain PS 5 milik Galen.
Maka ada pula Clarice, Arsen dan Felia yang lagi-lagi berada di kolam renang. Ketiganya sudah mengenakan pakaian renang. Tapi ketiganya belum ada yang masuk ke dalam kolam renang melainkan masih mengobrol santai di tepi kolam.
Clarice mencoba untuk mengenalkan Arsen dengan Felia, agar ketiganya tidak terlihat kaku dan tegang. Sehingga untuk selanjutnya mereka akan mengobrol santai.
"Aku punya tetangga yang bersekolah di SMA Bhakti Mulya..." ucap Arsen setelah obrolan cukup panjang.
"Siapa namanya?" tanya Felia yang sesungguhnya sejak tadi seolah terhipnotis oleh ketampanan seorang Arsenio Wilson.
"Haris!" jawab Arsen tanpa menoleh Felia. "Dia kelas XI. Mengambil jurusan IPA!" jawab Arsen. "Kamu kenal?" tanya Arsen.
"Aku sekedar tau, tapi kami tidak mengenal satu sama lain." jawab Felia masih menatap wajah Arsen yang ada di sisi kirinya.
Dan Arsen memang terlihat begitu tampan ketika di lihat dari sisi samping. Semua juga pasti akan mengakui tentang satu hal ini.
Bagaimana rambut hitamnya membalut kepala, dna di tata dengan sedemikian rapi dan cool.
"Dia wakil ketua OSIS saat aku MOS sampai detik ini!"
"Iya, dia juga bilang kalau dia wakil ketua OSIS." sahut Arsen.
"Aku pikir komplek rumah mu itu hanya di huni oleh orang-orang yang pasti akan memasukkan anak-anaknya di sekolah International saja." sahut Clarice. "Ternyata ada juga yang sekolah swasta."
"Dia memang tetangga ku, tapi bukan anak tetangga ku." jawab Arsen menoleh Cla yang duduk di samping kirinya, karena posisi Arsen berada di tengah dua gadis cantik.
"Lalu?"
"Dia anak pelayan di rumah itu. Kemudian tetangga ku menyekolahkan Haris di sekolah itu. Sekaligus menjamin kebutuhan Haris. Sebagai ganti, Haris juga bekerja di rumah itu. Sebagai apa saja."
"Sebagai apa?" tanya Clarice.
"Apapun yang bisa dia kerjakan di kerjakan oleh Haris. Sebagai ungkapan terima kasihnya." jawab Arsen.
"WOW!" seru Felia. "Baik juga ya mereka..." gumamnya kemudian.
"Yaa... begitulah..." jawab Arsen. "Sekarang ayo kita turun! Aku harus segera bisa berenang! Lusa kamu berangkat keluar negeri, bukan?" tanya Arsen menoleh Clarice.
"Ya, kamu benar!" jawab Cla. "Aku ingin mengenal Korea Selatan!" jawab Cla menatap langit biru di atas sana.
"Sayangnya Papa dan Mama harus ke Los Angeles, sekaligus karena ada urusan! jadi aku berliburnya ke negeri Paman Sam!" kelakar Arsen merasa sedih harus berpisah dengan Clarice.
"Ya sudah, ayo!"
Arsen turun ke dalam air. Tapi kedua gadis di sisi kanan dan kiri tak kunjung turun. Dan Arsen memicing pada Clarice yang masih melihat langit. Membayangkan jika ia akan segera mengunjungi negeri asal drama favoritnya.
"Ayo!" seru Arsen menarik kedua tangan Clarice yang bertumpu di sisi kanan dan kakinya.
"AAAAA!!!" teriak Clarice karena kaget dengan ulah Arsen.
__ADS_1
...🪴 Bersambung ... 🪴...