
Menuruni tangga dengan tergopoh - gopoh, karena saat baru saja menutup ruang bermain anak - anak, Mama Shinta di kagetkan oleh seruan Kenzo yang mengatai seseorang dengan sebutan brengsek.
Sebagai Ibu mertua, tentu ia takut jika itu putrinya yang sedang di marahi oleh Kenzo.
Namun semua terasa hening bahkan mati rasa, saat yang ia lihat adalah Zio di hadapan anak dan menantunya.
Sorot mata Mama Shinta yang terbelalak saat melihat ada mantan menantunya di rumah menantunya, membuat Zio tersenyum miring setengah sinis.
Laki - laki tak menyangka, jika Mantan Mama mertuanya yang sempat ia jadikan tempatnya untuk mencurahkan hati, sekaligus orang yang sangat ia hormati, ternyata ikut menyembunyikan semua ini darinya.
Padahal, hanya di hadapan Mama Shinta lah ia berani dan tanpa malu menangisi penyesalannya. Mengungkapkan segala sesak dan rasa penyesalan yang ia rasakan setelah menghilangnya Calina.
"Kenapa Mama Shinta menatap ku seperti itu?" tanya Zio tersenyum sinis sekaligus miris. Seolah menyindir sang mantan ibu mertua yang tega membuatnya seperti orang bodoh di hadapan Kenzo dan Calina.
Meski sudah bukan lagi Ibu mertua, Zio tetap memanggil Mama Shinta dengan sebutan yang sama seperti dulu, yaitu Mama.
Mama Shinta menghela nafas pelan dari bibirnya. Ia tatap mata Calina yang memancarkan betapa ruwetnya hati sang anak gadisnya saat ini.
Kemudian ia tatap menantunya yang masih betah menatap Zio dengan tatapan emosi yang tak terbendung. Pasti ada hal yang memicu Kenzo terpancing amarah. Sampai harus menatap Zio seperti itu. Padahal sebelumnya Kenzo tampak ragu dan bingung jika sampai harus bertemu Zio dalam keadaan seperti ini.
Mama Shinta duduk di salah satu sofa kosong yang ada di ruang tamu. Menatap wajah - wajah yang cukup ia kenali satu persatu. Dan bersiap untuk menjadi penengah di antara kedua belah pihak.
Sebagai orang tua, tentu beliau tau dan memahami seperti apa watak para anak - anak yang kini sudah di sebut sebagai orang dewasa.
"Ceritakan pada Mama, apa yang membuat kamu merasa berat dari kenyataan ini, Nak Zio?" tanya Mama Shinta dengan suara lembut keibuannya.
Zio yang semula membuang pandangan ke arah lain, seketika menoleh dan menatap tajam Mama Shinta. Tatapan itu seolah menunjukkan aksi protes dengan apa yang sudah terjadi di belakangnya.
"Kenapa Mama masih bertanya seperti itu?" tanya Zio.
"Mama ingin tau, dari diri kamu sendiri, Nak!"
Pertanyaan Mama Shinta kembali menarik senyuman miris dari bibir Zio.
"Kenapa Mama menyembunyikan semua ini dari Zio?" tanya Zio dengan sedikit menghentak kecewa, tentu karena pengaruh emosi di dalam dada. "Kenapa Mama tidak memberi tahu Zio, jika Mama sudah menemukan Calina?" lanjutnya dengan raut wajah merah padam menahan amarah.
"Apa karena Mama tau, jika Calina sudah dekat dengan laki - laki yang lebih kaya dari Zio?" tanya Zio, "katakan, Ma!" tegas Zio.
"Atau sebenarnya Mama Shinta sudah tau sejak awal tentang hubungan Calina dan laki - laki itu!" ucap Zio menunjuk Kenzo dengan tidak ada lagi rasa hormat di dalam dirinya. Kalap sudah sang duda tampan.
Mama Shinta masih diam. Ia biarkan sang mantan menantu meluapkan segala sesak di dalam dada yang sedang di rasakannya. Membiarkan dia mengeluarkan segala uneg - uneg yang bahkan di luar nalar manusia biasa.
__ADS_1
Mama Shinta tau, memang tidak akan mudah untuk bisa berada di posisi Zio. Yang mana ia ketahui, jika Zio sudah mencintai Calina sebelum perceraian terjadi. Dan kini mendapati Calina ternyata menikah dengan bos nya sendiri, pasti pula bukan hal yang mudah, bukan?
Jika alasan Calina menunggunya kembali, untuk kemudian berdamai, ia bahkan sudah kembali sejak lama. Tidak mungkin pula Kenzo tak tau, jika dia sudah kembali.
Tapi kenapa semua seolah sengaja di tutupi agar dia tidak tau. Jika bukan karena kebetulan, rasanya tidak mungkin jika dia orang itu mendatanginya untuk kemudian menceritakan semua yang terjadi.
"Katakan sejujurnya, Ma! sejak kapan Calina dan Pak Kenzo punya hubungan?" tanya Zio menatap tajam dan dalam sepasang mata tua Mama Shinta. "Apa sebenarnya mereka saudah lama berselingkuh dan Mama juga menyembunyikan semua dari Zio?" tanya Zio dengan suara yang bergetar saking emosinya. "Katakan, Ma!"
Namun pertanyaan terakhir Zio benar - benar membuat Mama Shinta terhenyak. Bagaimana tidak, itu artinya Zio mengatai dirinya seolah tak bisa mendidik anak agar bersikap baik pada suami dan setia pada pasangan, bukan?"
Mama Shinta menggelengkan kepalnya heran dengan pemikiran Zio yang terkesan pendek. Bukankah mantan menantunya ini seorang General Manager? Kenapa tidak bisa berfikir logis menghadapi masalah rumah tangga dan percintaan?
Mama Shinta dan Calina kembali saling tatap. Satu yang ada di dalam benak mereka. Bagaimana cara membuat si keras kepala ini melunak tanpa jalur kekerasan yang bisa saja akan di lakukan Kenzo. Kini Mama Shinta mengambil alih posisi Calina yang sedari tadi menjadi juru bicara untuk menghadapi Zio.
"Kamu ingat, Zio. Sekitar enam tahun yang lalu, kita sama - sama menangis karena kehilangan Calina." ucap Mama Shinta dengan suara yang lembut dan sehalus mungkin. "Kita, Nak... bukan hanya kamu yang menangis. Dan bukan hanya kamu yang kehilangan Calina. Tapi Mama juga."
"Saat itu Mama juga tidak tau di mana Calina! mencari ke kota pun Mama tidak akan berani berangkat seorang diri. Terakhir, hanya kabar tentang perpisahan kalian yang sampai di telinga Mama. Itu pun dari kamu sendiri, Nak..." ucap Mama Shinta dengan penuh wibawanya sebagai seorang Ibu.
"Dan setelah itu, kamu tidak pernah kembali menemui Mama. Kamu tidak pernah lagi muncul di hadapan Mama. Tentu Mama mengira kamu sudah bahagia dengan Naura, istri pertama kamu."
"Dan Mama ikut bahagia jika memang kamu sudah bahagia bersamanya. Meski dalam hati Mama masih sedih karena Calina belum juga di temukan."
"Setiap hari Mama hanya bisa menangis, menunggu kabar dari Calina, satu - satunya anak Mama." cerita Mama Shinta mengenang masa lalu.
"Sampai akhirnya Calina tiba - tiba pulang dengan kabar yang sangat mengejutkan."
Sampai di sini semua menjadi hening. Mama Shinta menoleh putrinya yang tampak menunduk sedih. Kemudian menatap Kenzo yang menarik nafas dalam menanti cerita selanjutnya. Dan terakhir beliau melihat dua tangan yang saling bertautan, seolah saling memberikan kekuatan satu sama lain.
Mama Shinta kembali melihat pada Zio yang masih menunggu kelanjutan cerita dari Mama Shinta.
Laki - laki itu sepertinya sudah puas untuk menyampaikan keluhannya pada tiga orang di hadapannya.
"Calina mengabarkan..." Mama Shinta menjeda kalimatnya. Beliau tarik nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Jika... jika dia hamil..." lanjut Mama Shinta dengan suara yang bergetar. Karena adegan selanjutnya bisa jadi Zio akan murka. Karena Calina mengajukan perceraian di tengah kehamilan.
Namun yang ada justru Zio tersenyum sinis, setengah mengejek tapi juga terlihat miris.
"Hamil anaknya dia?" tanya Zio dengan gelak tawa culas. "Hasil kabur dari rumahku?" tanya Zio lagi dengan begitu bodohnya. "Hahahaha!" tawa Zio menggelegar, namun terdengar sangat miris.
Tentu jawaban Zio membuat mata Mama Shinta terbelalak lebar. Bagaimana mungkin Zio punya pemikiran semacam itu.
"Apa maksud kamu?" tanya Mama Shinta.
__ADS_1
"Ya tentu saja saat Calina kabur dia pasti ke apartemen Pak Kenzo Adhitama. Kemudian dengan berbagai kesempatan, jadilah mereka memiliki anak di luar nikah!" ucap Zio membuat Mama Shinta semakin menggelengkan kepalanya heran. "Kalau memang begitu, kenapa tidak langsung Mama nikahkan saja saat mereka datang? kenapa baru tiga tahun lalu?"
"Apa yang kamu bicarakan ini, Zio!" seru Mama Shinta sudah tak lagi memanggil dengan sebutan Nak..
"Apa kurang jelas yang Zio katakan, Ma?" tanya Zio. "Jika mereka menikah tiga tahun lalu, kenapa anak mereka sudah lima tahun? apa namanya kalau tidak Calina hamil di luar nikah? Hasil hubungan gelap!"
Mama Shinta semakin dibuat heran dengan perkataan Zio yang semakin jauh dari kenyataan. Beliau sampai mengerutkan keningnya yang sudah sedikit keriput.
"Bahkan bisa jadi mereka adalah pasangan selingkuh! Dasar wanita murahan!" ucap Zio mencibir Calina.
PLAAKKK!!!!
Sebuah tamparan yang merupakan bagian dari persatuan lima jari seorang Ibu, mendarat tepat di pipi kiri Zio. Membuat pipi seorang duda tampan terasa panas seketika.
"Kenapa kamu bisa punya pemikiran sekotor itu, hah?" tanya Mama Shinta menahan gemuruh di dalam dada. "Apa kamu pikir putri ku sekotor itu?" seru Mama Shinta semakin murka. Menatap tajam Zio yang tengah memegangi pipinya.
"Pantas saja putri ku kabur dari rumah mu! Tidak akan ada wanita yang sanggup hidup dengan laki - laki seperti mu, Zio!" ujar Mama Shinta dengan amarah menggebu di dalam dada.
"Kenapa kamu tidak pernah berfikir jika Clarice itu adalah anakmu?" tanya Mama Shinta dengan gigi yang mengerat. "Apa kamu lupa saat secara paksa kamu mengambil kesucian seorang gadis yang tak kau cintai?" ucap Mama Shinta dengan suara yang bergetar.
Bahkan air mata menetes di pipinya begitu saja. Dada kembang kempis menahan gemuruh emosi yang terus terbakar. Ibu mana yang tak marah, ketika anaknya yang baik - baik, dan anaknya yang sudah berjuang melahirkan seorang cucu untuknya, tanpa di dampingi suami.
Dan kini justru mendapat kalimat sejelek itu dari ayah cucunya sendiri?
"Apa kamu lupa seperti apa darah suci putri ku? KAULAH YANG MENGAMBILNYA!!' teriak Mama Shinta hingga menusuk telinga siapa saja yang mendengarnya. "Kaulah pelakunya! Dna sekarang kau mengatakan anak ku selingkuh dari mu? Dasar gila!" sembur Mama Shinta.
Sementara Kenzo dan Calina saling tatap. Calina ingin menghentikan aksi sang Mama. Tapi Kenzo memberi kode untuk tidak menghalangi Mama Shinta mengutarakan apa yang ingin di ucapkan.
"Pantas saja jika suami putri ku mengatai mu brengsek! Karena kamu memang laki - laki BRENGSEK!!" Mama Shinta menekan kata brengsek yang sebelumnya ingin sekali ia hindari.
Tapi perkataan mantan menantunya pada putrinya benar - benar memancing amarah seorang Ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan anaknya.
Sementara Zio, setelah mendengar Mama Shinta kenapa ia tak berfikir jika Clarice adalah putrinya, membuat ia tertegun. Diam menatap Mama Shinta yang masih memarahinya habis - habisan.
' Apa mungkin.... '
Gumamnya dalam hati.
šŖ“ Bersambung... šŖ“
āļø Tebak - tebakan lagi yuk š
__ADS_1
Kira - kira Zio akan sadar atau bagaimana?
Sayang banget loh ini, si Zio. Ganteng - ganteng, tapi bikin kesel! š¤