
š Satu bulan kemudian . . .
Jam pulang kerja untuk Calina telah tiba. Calina memeluk erat sahabatnya, Mereen. hingga gadis itu kebingungan dengan sikap Calina yang tak biasa.
Setiap hari datang dan pulang di waktu yang sama dan di hari yang sama. Tapi tak pernah sekalipun mereka berpamitan dengan seunik itu.
"Kamu kenapa, Cal?" tanya Mereen heran.
"Nope!" jawab Calina terkekeh gemas pada sahabat terdekatnya itu. "Jadi jalan - jalan kan kita?" tanya Calina kemudian.
"Jelas dong! Film action terbaru sudah menunggu kita..." jawab Mereen antusias.
"Came on!" seru Calina tampak sangat bahagia.
Namun bagi Mereen, keceriaan Calina kali ini adalah sesuatu yang mengganjal. Ia menatap Calina yang berjalan keluar meja, dalam diam untuk sesaat. Merasa heran, namun ragu pula untuk bertanya. Menebak pun rasanya akan percuma.
Akhirnya Mereen mengikuti langkah Calina, berjalan berdua keluar dari area lobby gedung menjulang tinggi.
Lepas dari gedung perusahaan milik negara itu, Calina menoleh ke belakang. Ia berhenti melangkah, dan diam untuk sesaat. Berdiri tegak dengan menatap penuh arti pada gedung itu. Gedung yang.... Entahlah.
"Kenapa, Cal?" tanya Mereen membuyarkan lamunan Calina.
"Eh, tidak ada apa - apa, Reen! Ayo!" Calina menarik lengan Mereen dan kembali berjalan ke arah parkiran roda dua.
Menggunakan motor masing - masing, mereka memutuskan untuk menghabiskan sisa sore dan malam untuk berjalan - jalan di mall terbesar di kota, namun cocok untuk segala kalangan.
Mengawali dengan menonton film, lanjut makan malam di mall yang sama, keduanya tampak cukup bahagia.
Mereka duduk berdua di dekat dinding kaca bangunan mall. Sehingga keduanya bebas melihat luar dinding. Selain itu mereka dapat melihat satu balkon ke balkon lain, karena di batasi oleh dinding kaca pula.
Kendaraan berseliweran dengan lampu - lampu yang menyala, bisa dengan bebas mereka saksikan.
Hingga sesuatu mengalihkan dunia Calina. Dari ceria menjadi datar - datar saja.
Di sana, di salah satu balkon restauran. Ada sosok Zio dan Naura tengah makan malam. Melihat mereka jalan berdua, Calina kembali merasa dunia tidak baik - baik saja.
Menoleh ka masa - masa sebelum malam ini. Sejak kembali ke Ibukota, Calina tentu saja tinggal di rumah Zio. Mengkaji sikap Zio, entah pria itu sadar atau tidak, tapi menurut Calina akhir - akhir ini pria itu cukup baik padanya.
Bahkan pagi hari pun, ia mau sarapan masakan Calina. Membiarkan Calina membereskan kamarnya. Dan satu hal yang membuat Calina mengukir senyum pada suatu pagi. Hadiah yang pernah ia berikan lebih dari setahun lalu juga yang di berikan di ulang tahunnya kemarin, sudah tidak ada di tempat biasa.
Dan Calina semakin bahagia lagi, saat ia melihat jam tangan yang ia belikan malam itu melingkar di pergelangan tangan kiri suaminya.
Dengan semua perubahan akan sikap Zio selama satu bulan ini, ia pikir Zio benar berubah dan akan menjadi suami yang adil nantinya. Meskipun ia belum pernah di ajak jalan berdua seperti Naura.
Semakin memandang, semakin sayulah tatapan sepasang mata Calina. Hingga kembali mencuri perhatian Mereen.
__ADS_1
"Ada apa, Cal?" tanya Mereen.
"Tidak.." jawab Calina datar sembari melanjutkan makannya.
Tidak terima dengan jawaban Calina, Mereen celingak celinguk, melihat sekitar. Mencari sesuatu yang membuat sang sahabat tidak seperti beberapa menit yang lalu.
Dan saat menoleh ke belakang, Mereen ikut merasakan sakit hati yang di rasakan Calina. Bagaimana tidak, Zio dan Naura tampak sangat asyik makan berdua. Tanpa berfikir jika Calina makan hanya bersama dirinya.
"Sudahlah, Cal... Jangan pikirkan mereka! Lepaslah dari mereka, Cal!" Mereen mengusap tangan Calina yang berada di atas meja.
"Kamu mendukung sebuah perceraian?" tanya Calina lirih.
Menghela nafas, "sebenarnya tidak mendukung. Hanya saja aku pikir, jika hubungan sudah tidak sehat, untuk apa bertahan?" tanya Mereen. "Bukankah akhirnya kamu yang terus merasakan sakit hati? Sementara mereka?" Mereen melirik ke belakang. Mengarah pada Zio dan Naura di restauran sebelah. "Apa pernah mereka memikirkan kamu?" tanya Mereen, "kalau mereka memikirkan kamu, mereka pasti mengajak kamu untuk jalan bertiga! Bukan berdua seperti mereka sekarang!" kesal Mereka melihat sahabatnya selalu di posisi menyedihkan.
Calina terkekeh, ia justru tersenyum ceria. "Aku tau, Mereen... Sudahlah, jangan lihat mereka!" ujar Calina dengan ekspresi kembali ceria. "Malam ini kita habiskan untuk berdua! Kita bisa pulang malam kalau kamu mau?"
"Jam 12?" tantang Mereen antusias.
Calina tampak berfikir, "Why not!" jawabnya kemudian. "Toh besok hari Sabtu!"
"Yeay!" seru Mereen, "setelah mall ini tutup, kita ke taman kota! Di sana masih ramai, bahkan sampai jam 1 atau 2 pagi!"
"Siap, Bos!" seru Calina.
***
"Jam berapa baru pulang!" suara ketus dari ruang tengah, membuat Calina terlonjak kaget. Apalagi suara itu muncul bersamaan dengan lampu ruangan yang tiba - tiba menyala.
"Mengagetkan saja!" jawab Calina tak kalah ketus.
Ia baru kembali dari jalan - jalan bersama Mereen, dan sampai di rumah tepat setengah satu malam.
"Jawab pertanyaanku!" seru Zio.
"Jalan - jalan sama Mereen!" jawab Calina sekenanya sembari berjalan ke arah kamarnya.
"Aku belum selesai bicara, Calina!" seru Zio mengikuti langkah Calina.
"Apa lagi yang harus di bicarakan?" tanya Calina berhenti, namun ia tak sedikitpun menoleh ke belakang, di mana suaminya berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Jalan - jalan ke mana kamu, sampai jam segini baru pulang?" tanya Zio penuh intimidasi. "Tidak mungkin jika hanya dengan Mereen!"
Tersenyum sinis, "memangnya apa urusan kamu?" tanya Calina cuek. "Mau aku jalan sama Mereen saja. Atau sama Siapapun, atau bahkan berkenalan dengan siapapun! Itu bukan urusan kamu, Mas!"
Zio mendelik mendengat jawaban Calina yang menurutnya seperti jawaban orang mabuk. "Itu urusan aku, Calina! Aku suamimu!" seru Zio.
__ADS_1
"Hahaha.." Calina terkekeh geli. "Suami?" tanya Calina menoleh ke belakang, menatap heran pada Zio. "Ya..ya..ya.. Kamu memang suamiku di buku pernikahan. Tapi dunia nyata?" tanya Calina mengejek. "Di dunia nyata, kamu adalah suami Naura Azalea, perempuan cantik, anggun dan pintar!" lanjut Calina, bergerak seperti orang mabuk pula.
Zio menatap lekat Calina dengan tatapan aneh. "Kamu mabuk?" tanya Zio berharap mendapat jawaban tidak. Karena lagi - lagi Zio khawatir jika Calina hamil akibat malam itu.
"Hah?" pekik Calina. "Mabuk? Memangnya aku kamu yang suka minum lalu pura - pura mabuk dan tak sadarkan diri?" ejek Calina lagi. "Kamu ingat ya, Tuan Zio Alfaro yang terhormat! Tak pernah setetes pun alkohol masuk ke dalam mulutku! Jadi kalau kamu bilang aku seperti orang mabuk, maka sebenarnya itu adalah lelah!" jelas Calina. "Lelah diriku atas dirimu!" seru Calina dengan nada tinggi.
Sontak Zio membulatkan matanya tak percaya. Selama sebulan ini Calina terlihat sangat manis. Bahkan sesekali ia hanyut akan tatapan mata Calina. Tapi apa yang terjadi dengan perempuan itu malam ini?
"Calina!" bentak Zio.
"Apa?" tanya Calina menantang. "Mau menamparku lagi? Tamparlah! Aku tidak akan sakit hati lagi dengan tamparan kamu, Mas!"
Zio semakin mendelik dengan sikap Calina yang membuatnya geram. Zio berjalan cepat ke arah depan. Semakin dekat dengan Calina yang menunggu untuk di tampar oleh Zio yang kedua kali. Tanpa takut, tanpa ragu. Ia siap apapun yang akan dilakukan Zio padanya.
Cep!
Namun bukannya sebuah tamparan yang di dapat Calina. Justru Zio menangkup kedua rahangnya dengan erat, dan mengunci perempuan itu supaya dalam posisi tetap, dna mencium bibir Calina dengan penuh nafsu.
Untuk sesaat Calina hanya diam menerima perlakuan Zio, karena ia masih shock. Namun setelah sadar, ia segera memberontak. Melawan kekuatan Zio dengan cara apapun.
Namun rasanya semua sia - sia, karena sampai lebih dari satu menit, bibir mereka masih berpaut. Zio mencium bibir Calina tanpa ampun, tanpa jeda, meskipun tak ada balasan dari Calina.
"Hah!" Calina mendorong kuat tubuh Zio saat tangan Zio mulai mengendur. Dengan nafas terengah, Calina menatap Zio dengan tatapan benci.
"Kamu gila!" teriak Calina. "Kamu gila!" lanjut Calina mengusap kasar bibir basahnya.
"Kalau aku sampai gila! itu karena kamu, Calina!" jawab Zio.
"Aku benci kamu!" seru Calina membalikkan badan dan berlari ke kamarnya. Calina menutup pintu kamarnya dangan sangat keras. Tak peduli jika seandainya pintu itu akan lepas, hancur atau bahkan rumahnya ikut ambruk sekalipun.
"AKU BENCI KAMU!" teriak Calina dari balik pintu kamar yang tertutup.
Sementara Zio, pria itu mematung di depan kamar Calina. Tak tau harus berkata apa dan bersikap bagaimana. Ia bahkan tak bisa mengerti, jika apa yang baru saja ia lakukan salah atau benar.
"Cal?" panggil Zio lirih.
Namun suara itu tidak akan mungkin terdengar oleh Calina yang kini duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur dan menangis sejadi - jadinya.
# # # # # #
Keesokan harinya, Zio keluar dari kamarnya di lantai dua. Ini hari Sabtu. Keduanya tentu libur bekerja. Meski libur bekerja, biasanya Calina akan tetao bangun pagi untuk memasak. Namun pagi itu....
"Calina!" seru Zio panik.
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...
__ADS_1