
Lobby kembali di bisingkan oleh suara - suara para karyawan yang membicarakan hot news yang baru saja lewat. Dan tanpa mereka sadari, salah satu dari peserta tranding topik telah sampai di lantai dasar.
Pintu lift khusus terbuka, membuat pria itu dan seorang wanita keluar secara bergantian. Dengan meminta wanita cantik nan anggun yang tak lain adalah Zahra keluar lebih dulu, membuat orang - orang tidak menyangka jika ada dirinya di dalam sana.
Dimana dari dalam sana ia bisa mendengar apa yang sedang menjadi pembahasan dengan rating tertinggi di kantor sore itu.
Yaa... meskipun ia harus sedikit memaksa telinganya untuk bisa mendengar apa yang sedang menjadi tranding topik di luar sana. Selain itu, ia juga harus tetap menjaga mental diri sendiri. Jangan sampai menjadi seperti sang adik yang gila karena depresi berat.
"Zahra! Zahra! Zahra!" panggil beberapa karyawan yang ada di depan area resepsionis.
Zahra menoleh dan memiringkan sedikit kepalanya sebagai tanda bahwa ia bertanya 'ada apa?'.
"Pak Kenzo baru saja lewat dengan istrinya!" jawab seorang wanita berambut hitam.
"Dan kata teman - teman, istri Pak Kenzo adalah mantan istrinya Pak...."
Saat wanita lain ikut menyahuti, tiba - tiba saja mulutnya yang terbuka karena menyebut kata 'Pak' terhenti, sehingga bibirnya membentuk huruf O besar. Dan mata membulat lebar melihat ke sisi belakang Zahra yang masih mematung menunggu kelanjutan kalimat dari perempuan - perempuan di meja resepsionis.
Begitu juga dengan yang lainnya. Semua ikut terkesiap ketika melihat Zio keluar dari bilik lift yang memang belum tertutup sejak tadi.
Wajah yang smeula cantik - cantik, kini berubah menjadi pucat pasi.
"Pak..Pak Zio..." gagap sang karyawan dengan nafas yang terengah.
Dan seketika semua ikut pucat, bhakan jika bisa lebih baik saat ini pingsan saja. Dan ruangan lobby yang semula bising, mendadak sepi kembali.
Zio yang tau sedang di bicarakan pun hanya bisa melirik sekilas, dan berpura - pura cuek. Ia berjalan dengan dingin ke arah pintu keluar Lobby. Bagaimanapun ia harus tetap menjaga kewarasannya.
Zio meninggalkan orang - orang yang menunduk ataupun yang mencuri lirikan padanya, juga meninggalkan Zahra yang masih membeku di depan lift khusus petinggi.
Zahra yang tak lagi di sapa sejak Zio keluar dari lift pun merasa tak enak hati. Apa yang terjadi seolah ia ikut tergabung dalam obrolan yang tengah membicarakan dirinya.
Zahra hanya menatap sendu punggung tegap yang mulai menjauh dan semakin menjauh di depan sana.
Rasa bersalah kembali bergelayut di dalam dada janda beranak satu itu. Apalagi tentang masalah tadi siang pun ia belum bisa memberi jawaban. Dan sekarang .... Ya! Begitulah....
Zahra mendekati teman - teman nya yang masih salah tingkah dengan wajah pucat di meja resepsionis. Mungkin mereka merasa bersalah karena tertangkap basah tengah membicarakan kehidupn pribadi seorang General Manager.
Tampak beberapa dari mereka ada yang tersenyum secara terpaksa, ada yang menggaruk kepala mereka yang tidak gatal. Ada pula yang menggigit jari mereka karena berfikir akan mendapatkan masalah besar setelah ini.
"Kenapa kamu tidak kasih kode sih, kalau ada Pak Zio di belakang kamu?" tanya salah satu temannya setelah Zio sudah benar - benar tak terlihat mata.
"Lagian kalian aneh, sudah tau aku keluar dari lift khusus, harusnya kalian berfikir, dengan siapa aku turun?"
Jawab Zahra sesuai dengan kenyataan, bahwa mereka sendirilah yang tidak berhati - hati saat membicarakan seseorang. Apalagi Zio termasuk orang yang memiliki kedudukan di persahaan.
__ADS_1
"Iya, siiih..." jawab beberapa dari mereka.
"Sebenarnya apa yang kalian permasalahkan?"
"Sebenarnya tidak ada sih. Tidak ada pengaruhnya juga dengan kita. Hanya saja... seperti sesuatu yang aneh gitu... Mantan istri GM, dinikahi sang CEO?' gumam salah satu dari mereka, denagn wajh yang mengerut.
"Iya, Ra! yaa... kita semua tau, seperti apa rumitnya Pak Zio, Naura dan Bu Calina pada masa itu. Tapi dengan kenyataan seperti ini, jadi bisa di pastikan, kalau Bu Calina adalah wanita yang beruntung. Mati 50 juta, tumbuh 1 Milyaaarrr!" ucap resepsionis yang mengenali Calina, sembari membuat gerakan tangan yang sangat lebay ketika menyebutkan nominal 1 Milyar.
Ya, yang intinya menunjukkan kedudukan!
Zahra masih berdiam untuk mendengarkan apapun yang sedang di celotehkan teman - temannya di Lobby. Tujuan hnya satu, ingin tau apa pendapat teman - temannya tentang para petinggi perusaahn, selain obrolan terbatas di Grup Chat.
"Atau Bu Calina itu sengaja, ingin memebalas Pak Zio dengan cara mendapatkan cinta Bos nya?" sahut yang lain ikut berasumsi.
"Eh! jangan sembarangan menuduh!" sahut resepsionis yang mengenali Calina.
"Tapi bisa saja begitu, kan?"
"Kalau pun itu kemungkinan besar, bagaimana cara Bu Calina mengenal Pak Kenzo? orang waktu itu Pak Kenzo baru datang dari Australia. " tanya resepsionis yang mengenali Calina. "Kita saja yang setiap hari bertemu tidak pernah di lirik!" gerutunya. "By the way... jangankan kita! Bu Brenda Manager Produksi saja tidak pernah di lirik. Padahal Bu Brenda sangat cantik. Dan jelas - jelas sejak dulu mengejar cinta Pak Kenzo.
"Atau sebenarnya... Pak Kenzo dan Bu Calina sudah punya hubungan sejak lama?" sahut karyawan yang bekerja di lantai atas. "Jadi ketika Bu Calina menjasi janda Pak Kenzo langsung menikahinya?'
"Hah!" pekik semua orang yang ada di dalam lingkaran meja resepsionis.
"Yaa... siapa tau!" jawabnya. "Apalagi kalian tau sendiri Nona Clarice cukup mirip dengan Pak Kenzo!"
Sampai disini Zahra mulai memijit keningnya yang pening akibat gunjingan para teman - teman.
"Tapi Nona Clarice memanggil Pak Zio Papa, loh!"
"Yaaa... aku kan hanya menduga - duga!" jawabnya. "Karena Pak Kenzo sudah membawa Nona Clarice ke kantor ini, sejak Nona Clarice beusia 1 tahun!"
"Kalian bisa tidak? cukup bicara sesuai fakta saja?" sahut Zahra yang mulai merasa geram dengan ocehan teman - temannya. Bagaimana pun ia satu - satu orang di luar circle Kenzo yang sudah mengetahui semuanya. Ia tak ingin nama - nama orang besar di dalam perusahaan itu di hancurkan oleh pernyataan yang tidak sesuai. Alias karangan belaka.
"Please laah... jangan membuat opini dan kesimpulan sendiri - sendiri... kita tidak tau kejadian yang sebenarnya pada masa itu seperti apa!" jelas Zahra sedikit ketus. "Bisa jadi sebenarnya mereka sudah menjalani hari yang sangat rumit sebelum semua itu terungkap di depan publik."
"Kamu kenapa, Ra?" tanya karyawan yang bekerja di lantai atas. "Kamu sepertinay tidak terima dengan apa yang sedang kami bicarakan.."
"Ya, kamu benar! aku memang tidak terima. Bukan aku melarang kalian membicarakan mereka. Hanya saja jangan membuat opini yang bisa membuat kalian di pecat dari perusahaan ini!" jawab Zahra dengan cara singkat namun langsung pada intinya.
Sontak semua membuang pandang dari wajah Zahra dengan salah tingkah. Kembali menyadari jika apa yang di ingatkan Zahra memang ada benarnya. Yang mereka bicarakan bukan sembarang orang di perusahaan itu.
Meski Zahra kalah senior dengan karyawan - karyawan yang mengenal Calina, tapi dia juga termasuk karyawan lama di Adhitama Group. Toh sudah hampir 6 tahun dia merintis karir di perusahaan itu. Jadi ia punya hak pula untuk menjadi penasehat di saat ada teman lama maupun baru melakukan kesalahan.
"Emmm... maaf ya, Ra... jangan bilang pada Pak Zio."
__ADS_1
"Memangnya aku punya hak apa untuk mengatakan pada Pak Zio ataupun Pak Kenzo?"
"Kami lihat... kamu dan Pak Zio sangat dekat. Buktinya kalian turun saja hanya berdua di lift khusus. Aku saja tiidak pernah di tawari untuk naik lift khusus."
"Oh, my God! jadi selama ini kalian juga membicarakan aku dan Pak Zio di belakang ku?" tanya Zahra mulai menatap tidak percaya dengan pasukan gosip yang sudah lama ia kenal.
Sontak semua kembali di buat salah tingkah dengan respon yang di berikan Zahra. Lagi - lagi semuanya ketahuan jika sering menggunjingkan teman sendiri saat tidak sedang bersama mereka.
"Kalian tidak perlu berasumsi sendiri. Kalian bisa tanya padaku langsung, kenapa Pak Zio sering mengajak aku naik lift khusus!"
"Memangnya kenapa Pak Zio sering mengajak naik lift bersama?"
"Karena memang hampir setiap hari kami harus mendatangi ruangan Pak Kenzo bersamaan, untuk menyingkronkan laporan supaya tidak ada miskomunikasi." jawab Zahra dengan terengah. "Kalaupun aku dan Pak Zio terlihat dekat, itu sudah wajar, karena pekerjaan kami saling berhubungan satu sama lain."
"Emmm... bukannya bagaimana ini ya, Ra.. Naura dulu juga begitu. Eh ternyata mereka sudah menikah diam - diam saja."
"Jadi maksud kalian, aku dan Pak Zio ini sudah menikah diam - diam?"
Zahra mulai hampir kehabisan kesabaran. Ingin rasanya menyumpal ulut - mulut penggosip itu.
"Kalian tidak perlu khawatir, kalau sampai aku dan Pak Zio menikah, aku tidak akan diam - diam. Aku akan resighn dari perusahaan ini. Dan aku akan mengundang kalian semua!" jawab Zahra ketus. Menyindir perasaan merka secara tidak langsung.
"Berarti benar, kamu dan Pak Zio ada apa - apa?"
Zahra menarik nafas panjang dan dalam. Kemudian ia hembuskan dengan perlahan untuk mngurai emosi di dalam dada yang hampir saja ia muntahkan.
"Kita tidak pernah tau, apa yang akan terjadi di depan. Untuk saat ini kami memang dekat sebagai rekan kerja. Tidak ada hal yang lain." jawab Zahra lebih lembut dari sebelumnya.
Semua mengangguk mendengar penjelasan Zahra.
"Maaf ya, Ra... kami sering membicarakan kamu dan Pak Zio tanpa kamu tau.."
"Hem... lagi pula aku juga sudah menduganya." jawab Zahra mengangguk pelan. "Ya sudah, lebih baik kita pulang... tunggu saja sampai mereka - mereka mendeklarasikan apa yang sebenarnya terjadi. Kita tidak perlu beramsumsi sendiri." jelas Zahra. "Dari pada nanti kalian mendapat sanksi dari Pak Kenzo! Kalian masih butuh pekerjaan ini, kan?"
"Ya, Ra... tentu saja!" jawab semua bersamaan.
Zahra pun berlalu dengan menarik nafas panjang. Semua terjadi di luar perkiraan Zio. Yang mengatakan siapa yang berani menggunjing istri bos. Nyatanya semua bahan berani membuat pernyataan yang jauh dari keadaan aslinya.
Untung mereka semua masih bisa di sadarkan, batin Zahra.
...šŖ“ Bersambung ... šŖ“...
āļø Maaf ya pembaca setia... Author mengulur tamatnya novel ini, karena novel baru nya belum siap di luncurkan. Masih ada beberapa yang harus di revisi ulang... š
Salam, Lovallena š„°
__ADS_1