
Mama Shinta meluapkan segala emosi yang menyeruak di dalam dada. Saat di depan matanya sendiri ada seseorang yang mengatai sang putri telah melakukan kesalahan, berupa pengkhianatan pada suaminya sendiri. Dan di tuduh hamil anak orang lain, saat masih menjadi istrinya.
Yang lebih parah adalah, yang mengatakan hal itu tak lain dan tak bukan merupakan mantan menantunya sendiri.
Hingga akhirnya beliau harus berdiri dari duduknya dan memberikan satu tamparan keras yang beliau layangkan pertama kalinya untuk sang mantan menantu. Siapa tau manusia keras kepala itu akan sadar setelahnya.
Meski begitu sesak di dalam dada rupanya belum juga berkurang. Masih terus melolong, meminta untuk di teriakkan pada sang mantan menantu.
"Selama satu tahun lebih kamu menganggap putri ku tidak berarti untukmu, dan kau mengambil sesuatu yang tujuannya hanya untuk mempermalukan putriku! lantas sekarang kau menuduh anakku berselingkuh?" tanya Mama Shinta dengan gigi yang mengerat dan dada yang masih terus bergemuruh. Jantung tuanya bahkan masih harus terus bekerja keras untuk tetap bisa stabil.
"Apa saat itu kamu tidak berfikir? apa yang kamu lakukan padanya bisa membuat dia hamil?" Mama Shinta terus menghajar Zio dengan berbagai pertanyaan guna membuka pikiran lelaki sialan itu, pikir Mama Shinta.
Zio masih terus diam sembari memikirkan dan mencerna setiap barisan kata yang di lontarkan Mama Shinta. Dua pemikiran terus bertabrakan di dalam kepala sang duda tampan.
Ada yang mencoba untuk melawan argumen Mama Shinta. Ada pula yang ingin mempercayai Mama Shinta. Tapi sekelebat pandang ia teringat, jika Clarice cukup mirip dengan Kenzo.
Zio pun melirik Kenzo sekilas, untuk ia bandingkan dnegan wajah Clarice yang ia kenal.
"Apa kamu juga tidak berfikir, bagaimana nasib Calina saat ia harus mengetahui kehamilannya setelah suatu perceraian terjadi?" suara Mama Shinta masih terus menggebu. "Apa kamu tidak berfikir! hamil tanpa di dampingi seorang suami adalah hal terberat yang di alami seorang wanita?"
Kali ini Zio menoleh Mama Shinta. Menatap lekat wajah yang sudah di penuhi garis keriput. Meski begitu Ibu si Bunga Desa itu tetap terlihat cantik natural, meski tanpa make up tebal.
"Jika memang yang ia kandung adalah anakku, dan ia merasa berat karena harus menjalani seorang diri, kenapa Calina tidak pernah mencari ku?" tanya Zio tanpa melihat satu orang pun yang ada di dalam ruangan itu. Ia hanya kembali menunduk sambil menahan gejolak di dalam dada.
Mama Shinta menghela nafas berat, sekaligus membuang arah pandangnya ke sekitar untuk sesaat. Kemudian Mama Shinta kembali duduk di sofanya. Lelah sudah rasanya memberi penjelasan pada mantan menantunya yang tampan, pintar namun blo'on terhadap pemahaman hubungan rumah tangga.
Mama Shinta kembali menarik nafas panjang, dan menghelanya perlahan. Beliau harus mengurangi emosi yang meletup di dalam dada. Diri serasa tak mau jika harus terus menerus mengutarakan emosi. Jantung sudah tua. Jangan sampai beliau harus mati karena serangan jantung, akibat mantan menantu kirang ajarnya ini.
"Kenapa semua diam?" tanya Zio lirih dengan menatap satu persatu mata yang ada di ruang tamu.
"KARENA KAMU BODOH!" seru tiga orang sekaligus, dengan rasa geram sendiri - sendiri. Sehingga suara terdengar sangat kencang dan nyaring di dalam ruang tamu Kenzo.
Jika pada momen santai mungkin apa yang di lakukan Mama Shinta, Calina dan Kenzo akan mengundang tawa. Tapi di momen serius seperti ini justru membuat ketiganya menggeleng heran.
__ADS_1
Sedangkan Zio sendiri, setelah mendapat serangan dari tiga kekuatan sekaligus, ia tersentak kaget. Hingga kepalanya sedikit mundur kebelakang. Kemudian kembali menatap satu persatu wajah dengan heran.
"Di mana bodohnya aku?" tanya Zio.
Mama Shinta yang geram, akhirnya kembali berdiri. Mendekati Zio, dan kemudian menyentuhkan ujung jari telunjuknya tepat di dada Zio.
"Di sinilah letak kebodohanmu!" ucap Mama Shinta dengan penuh penekanan. Dengan emosi yang mulai berangsur mereda.
"Hitung kembali! Kapan kalian melakukan itu? Kapan kalian bercerai? Dan berapa usia Clarice sekarang?"
Zio menatap Calina yang seketika membuang pandang ke arah lain begitu sorot mata Zio sampai di matanya.
Zio terus menatap Calina sembari mengingat momen. Di mana semua itu terjadi di malam pesta perusahaan. Tentu ia tak lupa hari Sabtu malam Minggu yang paling dekat dengan tanggal jadi perusahaan.
Sementara pesta perayaan itu akan datang kembali sekitar tiga bulan lagi.
Zio terus mencerna logikanya. Masih terus menimbang dan mencari bukti lain.
Sementara dalam hati Kenzo terasa panas dingin saat mendengar Mama Shinta mengingatkan Zio tentang kapan mereka melakukannya.
Dan mungkin lebih miris karena mereka yang melakukan, tapi dialah yang merawat hasilnya. Sejak di dalam kandungan sampai berusia 5 tahun.
"Kalian tidak membohongi aku, kan?" tanya Zio tiba - tiba. "Clarice benar anak ku?" tanya nya dengan suara uang bergetar menahan gejolak emosi dan ragu.
"ZIIOOOO!" teriak Mama Shinta gemas dan kesal tepat di telinga Zio yang sekita melompat dari sofa tempat ia duduk.
"Zio tidak tuli, Ma!" protes Zio menggosok telinganya yang terasa nut nut akibat teriakan sang mantan Mama mertua.
"Kalau kamu tidak tuli, harusnya sekarang kamu sadar!" dengkus Mama Shinta.
"Di mana salahnya Zio, Ma?" tanya Zio. "Jika memang hamil adalah perjuangan yang berat harusnya dia mencari ku, kan?" lanjutnya. "Nyatanya tidak satupun dari kalian yang memberi tau aku tentang semua ini. Dan justru aku di buang jauh keluar kota. Sampai aku harus butuh perjuangan untuk bisa bertemu Zhika!" ujar Zio tegas menyindir hukuman yang di berikan Kenzo padanya.
Mama Shinta dan Calina saling pandang untuk sesaat. Kemudian Calina menarik nafas, bersiap untuk menjawab.
__ADS_1
"Kita baru saja bercerai dengan cara yang tidak baik - baik, Mas. Tentu saja aku tidak mau melihat mu, entah sampai kapan!" sahut Calina.
"Oh..." terkekeh culas. "Yakin hanya itu alasannya?" tanya Zio dengan tatapan mencibir. "Bukankah kamu tidak mencari ku, karena sudah ada bos besar yang menemani mu? Yang sudah menganggap anak kita sebagai anaknya juga!" Zio melirik sinis pada Kenzo.
Seketika semua menjadi bungkam. Tentu saja apa yang di ucapkan Zio memang ada benarnya. Tapi tentu tidak serta merta menjadi alasan utama.
"Benar kan apa yang aku katakan?" tanya Zio sembari menghempaskan tubuhnya kembali di sofa.
"Clarice tetap butuh sosok Ayah, Mas! Dan saat itu aku tidak bisa memberikan itu dari kamu. Karena aku masih sangat membencimu! Dan hanya Mas Kenzo satu - satu nya laki - laki yang menyayangi Clarice sepenuh hati! Seperti anaknya sendiri!"
Zio tersenyum sinis setengah miris sembari menundukkan kepalanya dalam. Dan saat itu hanya keheningan yang ada.
Calina, Kenzo dan Mama Shinta saling tatap satu sama lain. Seolah bertanya kenapa dia begitu?
"Sebegitu menyedihkannya kah diriku?" gumamnya sendiri. "Harus menjalani hukuman sedemikian sakit dan berat... Di ceraikan istri dalam keadaan menyesal. Di susul meninggalnya Naura... Sampai tidak di berikan hak ku sebagai Ayah untuk anakku sendiri..." lirihnya dengan setetes air mata yang jatuh begitu saja.
Melihat buliran yang jatuh itu, membuat tiga orang lainnya merasa terenyuh dan merasa bersalah.
"Aku tidak bisa membayangkan jika sampai kita semua bertemu di kantor..." lirihnya lagi. "Sebagian besar tau jika Calina adalah mantan istri ku, kemudian di nikahi bos ki sendiri...." tersenyum miris. "Betapa malunya diriku..."
"Untuk itulah Calina dan Kenzo menyembunyikan semuanya, Zio..." jawab Mama Shinta. "Calina tidak akan muncul sebelum kami siap..."
"Tapi kenapa Clarice harus di munculkan di kantor?" tanya Zio mendongakkan kepalanya. "Semua orang bertanya siapa Ibunya! Dan saat foto ulang tahun Clarice tersebar, aku seolah mengenali sosok Ibunya yang tak terlihat jelas sekalipun. Hanya saja aku tak tau jika itu adalah Calina!"
Zio terus melayangkan protes yang membuat Kenzo dan Calina hanya bisa menarik nafas dalam, dan menghembuskannya pelan.
"Apalagi Clarice sangat mirip dengan Ayah tirinya!" lanjut Zio menatap wajah tampan Kenzo yang membeku. "Bagaimana orang akan percaya jika Clarice adalah anak ku?"
Keheningan kembali tercipta. Memang semua merasa heran, kenapa Clarice bisa sebegitu mirip dangan Kenzo.
"Satu yang sangat mirip dengan mu, Mas..." ucap Calina tiba - tiba.
Semua menoleh kepada Calina, seolah bertanya, apa yang mirip dari Calina dengan dirinya?
__ADS_1
...🪴 Bersambung... 🪴...