
Kalimat kesempatan terakhir untuk Clarice sudah di ucapkan oleh Mr. Faiz. Gemuruh di dalam dada semakin terasa sampai ke tangan yang nyaris bergetar. Tapi nyatanya keadaan tak memperbolehkan hal itu terjadi. Karena akan sangat memalukan untuk yang ke tiga kali.
Sudah cukup bagi Cla mendengar beberapa teman yang terdiam kemudian tergelak lucu saat bola basket yang ia lemparkan dengan bodohnya tadi gagal mengenai wajah tampan sang ketua kelas.
"You can do!" ucap Mr. Faiz memberi Clarice semangat.
Sebagai guru yang mengemban tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah, tentu beliau tidak ingin ada anak didiknya yang gagal. Apalagi sampai tidak pecah telur, alias mendapat nilai nol.
Tapi semua kembali pada Clarice. Seperti apa dia menyemangati diri sendiri. Dan seperti apa usaha yang ia lakukan untuk mengubah nilai.
"I can do!" gumam Clarice lirih, dengan berdo'a dalam hati, agar ada keajaiban datang pagi itu untuk Clarice. Sungguh ia ingin terlihat tidak memalukan hari itu.
Dug... dug... dug...
Suara bola basket yang memantul di lantai lapangan bola basket kembali terdengar. Dan Clarice mulai berjalan pelan ke arah tiang yang menjadi target. Ia memang tampak sangat takut dan gugup. Terlihat dari ia yang seolah takut bola di tangannya terlepas dan memantul tidak mengenai telapak tangannya lagi.
Berhasil kah? atau justru kegagalan yang akan kembali ia dapatkan?
Clarice kembali fokus. Dan kali ini ia bertekad dalam hati, apapun yang di lakukan pemuda di dekat tiang itu, ia tidak akan menoleh. Niat itu begitu kencang tertanam di dalam hatinya kali ini.
Lima kali melangkah, ia segera mengarahkan bola menggunakan kedua tangannya untuk melempar bola ke arah ring. Semua itu bergerak bagaikan adegan slow motion dalam sebuah film layar lebar. Di mana semua mata tertuju pada bola yang sudah melayang di udara, menunggu bola itu mendarat di peraduannya.
Semua orang yang menyaksikan tampak antusias menantikan apa yang akan terjadi pada bola itu. Sementara arahnya sudah benar - benar mengarah pada ring di atas.
Dan yang terjadi adalah...
Bola yang di perkirakan Clarice akan masuk itu justru menubruk papan ring, dan kembali memantul ke arah Clarice. Namun jatuh dan memantul ulang tepat di depan gadis yang seketika berubah menjadi patung ketika bola itu menabrak papan.
Gadis yang tak lain adalah Clarice itu hanya diam dan bernafas. Tanpa ada pergerakan dari tubuhnya sama sekali. Matanya pun enggan untuk berkedip, hanya bola matanya saja yang mengikuti pergerakan bola terakhir yang ia lempar.
Sementara beberapa anak termasuk Vino mulai tertawa karena sang guru bergumam dengan suara yang terdengar oleh hampir semua murid yang ada...
"Lalu bagaimana caranya memecahkan telur ini?" gurau Mr. Faiz menatap daftar nama di tangannya.
Sedangkan sebagian anak perempuan yang belum melempar bola tampak khawatir dan ragu. Takut jika tidak bisa mencetak skor, juga takut di tertawai oleh mereka yang sedang menonton. Seperti yang mereka lakukan pada Clarice yang gagal mencetak skor satupun.
Clarice menatap pada bola terakhir yang kini sudah berada di tangan Vino. Menatapnya nanar, sampai bola di tangan Vino itu terlihat semakin dekat.
"Kamu harus banyak belajar!" gumam laki - laki itu ketika sudah sampai di samping Clarice.
Dengan sangat jelas, Clarice bisa mendengar apa yang di ucapkan sang pemuda. Hingga kesadarannya kembali pulih, dan ia menoleh ke belakang, di mana Vino tengah menata ulang tiga bola untuk praktik itu.
' Dia bicara denganku? '
Gumam Cla di dalam hati. Dan saat Vino membalikkan badan, laki - laki itu kembali tersenyum pada Clarice yang mematung tanpa suara.
"Ayo! pergilah! ganti yang lain." ucap Vino lagi ketika sudah sampai di samping Cla.
Clarice masih terdiam. Lebih tepatnya ia masih tak percaya jika Vino akan mengajaknya untuk bicara. Tapi kenapa harus bicara di tengah lapangan begini?
Dan lagi hanya sekelebat saja, kemudian laki - laki itu berlalu tanpa ingin mendengar jawaban dari Clarice.
Ketika kita mengidolakan seseorang, kita memang bisa berubah menjadi orang yang aneh. Tiba - tiba diam dan membisu. Saking tidak percayanya, jika kita, yang kita pikir mereka tidak akan melihat keberadaan kita, ternyata mengajak kita bicara.
Sungguh keajaiban!
"Carrenina Louis!" seru Mr. Faiz memanggil siswi yang berbaris di belakang Clarice tadi, yang mana kini gadis itu berada di barisan paling depan.
Mendengar nama lain di sebut oleh Mr. Faiz, Clarice segera beranjak dan pergi dari posisinya berdiri. Dengan langkah gontai, Clarice berjalan menjauh dan menghampiri Lia yang duduk di salah satu kursi penonton yang terbuat dari besi yang membentuk garis - garis panjang.
"Tenang... Mr. Faiz pasti memberi kesempatan lagi!" hibur Lia ketika Cla sudah duduk di sampingnya.
"Iya..." jawab Clarice dengan rasa kecewa. Bukan karena gagal mencetak skor. Tapi karena semua itu terjadi di depan mata Vino, siswa yang ia kagumi diam - diam. Juga terjadi di depan Arsen, lelaki yang ia remehkan karena di anggap playboy.
Sementara Carrenina, gadis yang pertama kali di lirik oleh Arsen kemarin itu kini sudah ada di posisi yang tadi di tempati Clarice dan dua siswi sebelum Cla.
__ADS_1
Clarice menatap nanar dan penasaran pada Carren, salah satu teman di tim Cheerleader kelas X yang ia ketuai sejak dua bulan lalu. Dan ia menghela nafas panjang, ketika Carren berhasil memasukkan satu bola ke dalam ring.
Merasa kecewa pada diri sendiri, Cla mengedarkan pandang pada seluruh siswa yang ada di lapangan basket. Ada Naufal yang sedang bermain basket di ring sana. Pemuda itu tampak cukup lihai memainkan bola dan memasukkan ke dalam ring. Postur tubuhnya yang tinggi sangat sinkron dengan apa yang sedang ia lakukan.
Dan Cla tidak heran. Karena Naufal memang sudah mengikuti ekskul basket sejak di Junior High School.
Puas melihat Naufal, Cla mengedarkan pandang ke arah lain. Di mana ia melihat pada sahabat satunya, yang masih menunggu namanya di sebut. Gadis itu tampak biasa saja menatap Carren yang kini gagal di percobaan kedua.
Cla ganti menoleh pada anak laki - laki yang berkumpul di kursi sebrang. Di mana ia dapat melihat jika Arsen kini tengah mengamati pergerakan Carren dengan sangat jeli. Bahkan nyaris tak berkedip.
Clarice tau, Carren adalah gadis yang cantik, dan sangat fashionable. Sangat pantas jika yang menaksir Carren adalah idola sekolah. Dan merasa sangat tidak pantas jika dirinya bersaing dengan Carren.
Maka tatapan Clarice yang semula nanar, berubah menjadi sebuah picingan mata kesal pada pemuda yang dia anggap sebagai Buaya Darat itu.
' Benar - benar anak ini! lirik sana, lirik sini! kampret lu! '
Gerutu Clarice dalam hati.
' Tampan sih tampan! tapi tetap saja buaya gila! '
Omel Cla dalam hati. Entah, apa yang sebenarnya yang di rasakan Cla pada Arsen. Ia mengagumi Vino, tapi juga suka melihat Arsen yang tampannya sangat mendominasi.
Merasa ada yang sedang mengawasi, Arsen menoleh ke lain arah untuk mencari siapa yang sedang mengawasi dirinya. Naluri manusiawi yang di miliki oleh manusia.
Tau, jika Arsen sedang merasa di awasi, Cla langsung membuang pandang ke arah lain. Ia kembali menatap Carren yang sedang menggiring bola mendekati ring, dan gagal! Carren juga gagal memasukkan bola di kesempatan ketiga.
Tapi setidaknya gadis itu berhasil memecah telur di daftar nilainya.
Dan saat itu Clarice ingin menangis saja rasanya. Sembari berfikir apa mungkin hanya dia yang akan gagal memasukkan bola ke dalam ring pagi itu?
Selain memalukan juga akan sangat mengecewakan orang tua nya jika sampai mendengar dirinya mendapat nilai nol.
Raut wajah Clarice semakin masam dan pucat pasi. Ia sudah sangat malas untuk mengikuti praktek itu. Jika bisa, ingin rasanya ia memilih olah raga yang lain saja. Tapi siapalah dia? semua sudah sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Waktu terus berlalu, hingga Hanna pun sudah berhasil mencetak 3 skor dengan di iringi banyak aplouse dari teman - teman yang menonton. Tentu tidak heran, karena dia salah satu pemain tim basket putri. Dan kini Hanna sudah duduk di samping Clarice.
Kecewa boleh, tapi menyerah jangan!
Sepertinya kalimat itu mulai Clarice terapkan saat itu juga. Ketika ia melihat Arsenio Wilson menjadi pelempar bola pertama.
Pemuda yang ia anggap playboy itu ternyata cukup pintar bermain basket. Tidak seperti dugaannya di awal. Meski tidak terlihat jago, toh nyatanya ia memasukkan tiga skor penuh.
Selanjutnya yang di lihat Clarice adalah aksi Vino, sang Atlit kebanggan kelas sekaligus ketua kelas. Tidak perlu di ragukan lagi. Tanpa di hitung dan disoraki pun, lelaki itu akan berhasil memasukkan tiga skor dalam hitungan 3 menit saja. Tanpa perlu menarik nafas panjang untuk menetralkan rasa gugup.
Clarice tersenyum tipis melihat aksi Vino yang memukau. Merasa tak salah mengidolakan lelaki itu.
Namun saat semua bersorak akan keberhasilan Vino, ia pun menyadari diri. Jika diri tidak akan pantas bersanding dengan sang idola.
***
"Waktu tersisa 20 menit sebelum istirahat!" seru Mr. Faiz. "Bagi yang mau mencoba mengubah nilai, bisa tetap di sini! bagi yang sudah genap 3 skor, juga yang tidak ingin mengubah nilai bisa langsung ganti baju!" ujar Mr. Faiz.
Clarice yang merasa dirinya mendapat nilai nol memilih untuk tetap tinggal. Ia akan mengubah skor bersama satu temannya yang gagal. Hanya mereka berdua dari 20 siswa yang bernilai nol. Tapi mereka tidak hanya berdua. Karena teman - teman yang hanya berhasil memasukkan satu skor saja juga ikut mencoba peruntungan kembali.
Namun yang membuat Cla tidak nyaman adalah... Naufal, Hanna, Vino dan juga Arsen serta beberapa teman lainnya, ternyata tidak pergi. Mereka memilih untuk bermain basket di ring yang menganggur seperti sebelumnya. Sedang yang lainnya pergi meninggalkan area lapangan basket. Entah untuk maan, ataupun ganti baju.
Tentu keberadaan Vino dan Arsen sangat mempengaruhi mood Clarice untuk berjuang mengubah nilai. Yang ia do'akan adalah... Semoga mereka berdua tidak menoleh saat ia sedang memburu skor.
Kini Lia lebih dulu mencoba untuk mengubah nilai satunya menjadi lebih banyak. Namun setiap anak hanya memiliki satu kesempatan, dan yang di ambil adalah nilai terbanyak.
Lia kembali melakukan dribel seperti sebelumnya. Dan beruntung gadis itu berhasil mengubah skor menjadi 2.
Selanjutnya adalah Clarice. Sebelum Clarice melakukan dribel, ia melihat sekitar. Dan yang harus ia pastikan adalah tidak ada anak hebat yang sedang melihat aksinya, sehingga tidak perlu ada yang menertawakan dirinya.
Beruntung, semua anak hebat yang di maksud Clarice tengah fokus berebut bola di ring sebelah, yang merupakan tim gabungan laki - laki dan perempuan.
__ADS_1
Clarice bisa dengan leluasa melakukan aksinya memasukkan bola ke dalam ring. Tanpa grogi dan ragu lagi.
Beruntung lagi, dari tiga kali percobaan ia berhasil memasukkan satu bola. Meski merupakan nilai terkecil, setidaknya nol sudah berubah menjadi angka yang terbaca. Setidaknya ia berani menceritakan hasil skor nya yang sangat berarti pada dua pasang orang tuanya.
Waktu terus berlalu, dan semua sudah meninggalkan lapangan basket. Cla berjalan bersama Hanna untuk kembali ke kelas. Di depan sana ada Naufal dan Arsen yang berjalan lebih dulu untuk memasuki ruang loker yang ada di samping kelas.
Cla mengambil paper bag miliknya untuk segera berganti baju. Bersamaan dengan itu Arsen juga mengambil seragamnya yang ternyata lokernya berada tidak jauh dari tempat Clarice.
"Aku tau kamu pasti bisa!" ujar Arsen melirik Clarice di sisi kanannya. "Meskipun hanya satu, setidaknya nilai kamu sudah berubah." ujarnya lagi tanpa melihat Clarice.
Merasa dirinya yang sedang di ajak bicara, Cla menoleh ke sisi kiri. Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan.
"Memangnya kamu tau, aku berhasil mencetak satu skor?" tanya Clarice.
"Tentu saja aku tau!" jawab Arsen sedikit tergelak, sembari kembali mengunci lokernya. "Kamu saja yang tidak sadar sedang aku perhatikan diam - diam!" Arsen berucap sambil tersenyum tanpa melihat Clarice yang mematung dengan paper bag di tangan kirinya, dan tangan kanan masih memegang pintu loker yang masih terbuka.
' Apa Vino juga melihat? '
' Ah! rasanya tidak mungkin jika Vino juga melihat! dia tidak pernah memperhatikan aku selama ini. Selain tadi! '
Gumam Clarice dalam hati. Tatapannya kosong pada ruang sempit yang terbentuk oleh kotak loker yang terbuat dari kayu itu. Tentu ia tak ingin besar kepala dengan merasa di perhatikan diam - diam juga oleh Vino. Si ketua kelas yang konon katanya sudah punya gebetan itu.
"Hai!" seru Arsen. "Kenapa melamun?" tanya Arsen yang kini menyandarkan punggungnya pada loker yang sudah terkunci rapat.
"Oh... tidak ada..." jawab Clarice langsung tersadar dan segera mengunci pintu lokernya.
"Kamu tidak percaya aku perhatikan diam - diam?"
Clarice melirik Arsen dengan mata yang memicing. Sebenarnya apa yang di mau laki - laki itu. Ia merasa Arsen itu anak yang terlalu percaya diri. Meski kadang yang di ucapkan ada benarnya juga.
"Tidak juga!" jawab Cla cuek. Kemudian gadis cantik kesayangan lelaki hebat seperti Daddy Kenzo dan Papa Zio itupun membalikkan badan. Dan berjalan meninggalkan Arsen yang masih betah menatap punggungnya dengan seulas senyum kagum.
***
Selesai berganti baju, Clarice dan Hanna kini sudah duduk di kursi kantin yang berjajar dengan sangat rapi. Kantin istimewa untuk sekolah istimewa yang tak semua anak bisa bersekolah di sana. Hanya merkea yang beruntung yang bisa bersekolah di sana. Entah karena prestasi, maupun karena anak konglomerat.
Duduk berdua Hanna dan Clarice memesan bakso spesial yang sangat mantap untuk mengisi perut ketika selesai olah raga. Tapi bukan pilihan menu yang sehat untuk mengganti lemak yang baru saja di keluarkan melalui keringat.
Tapi mau bagaimana, merkea merasa masih muda, dan masih tidak terpikirkan untuk menerapkan gaya hidup sehat dengan benar.
Yang ada di dalam benak mereka hanyalah makan yang enak sesuai selera, dan juga makan apa yang sedang menjadi trend.
Saat asyik makan, tiba - tiba seseorang duduk di samping kanan Clarice. Lelaki itu menatap Cla yang tampak santai saat makan. Dan terlihat sangat elegan. Tidak buru - buru juga tidak berantakan.
"Enak?" tanyanya.
"Enaklah!" jawab Cla dengan wajah berbinar. "Tidak pesan?"
"Sudah! aku pesan mie ayam!" jawabnya.
Tidak selang berapa lama, datanglah lagi seorang laki - laki yang tiba - tiba dudu di sisi kiri Clarice. Sembari meletakkan semangkuk bakso dan segelas jeruk hangat. Melihat siapa yang datang, Cla langsung melihat sekitar. Akan sangat malas jika harus ribut dengan orang lain. Apalagi dengan kakak kelas.
"Kamu kenapa sih, mengikuti aku terus!" ucap Clarice lirih. "Masih banyak kursi kosong, you know!" sembur Clarice pada lelaki di sisi kirinya.
"Lah? kursi ini di peruntukkan untuk siapa saja yang makan di tempat ini, bukan?" tanyanya.
"Ya, benar!" sahut Hanna tersenyum lucu melihat tingkah Clarice.
"Lalu salah kalau aku duduk di sini?" tanyanya lagi.
"Tidak salah!" jawab Clarice. "Tapi kenapa harus duduk di sampingku? lihat! di samping Hanna juga kosong! bilang saja kamu mengikuti aku!"
"Siapa yang mengikuti mu?" tanya lelaki itu. "Aku mengikuti Naufal! aku tadi ingin duduk di sampingnya, tapi di sana tidak bisa lagi di duduki. Jadi aku duduk di sini.." jawab Arsen dengan santainya.
Namun jawaban Arsen yang santai itu seolah menuang minyak tanah di atas bara api. Clarice yang tidak sanggup melawan debatan Arsen, memilih untuk berdiri sembari membawa mangkok dan gelasnya untuk berpindah duduk di samping Hanna, menghadap pada Naufal. Dengan bibir yang mengerut kesal.
__ADS_1
Arsen tergelak dengan ulahnya sendiri. Clarice sungguh lucu dan menarik. Rasanya menjahili Cla akan menjadi penyemangat dirinya untuk datang ke sekolah.
...🪴 Bersambung ... 🪴...