Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 108 ( POV KENZO )


__ADS_3

My name is Kenzo Adhitama, putra sulung dari dua bersaudara. Ya, aku hanya memiliki satu adik, dia adalah Gilang Adhitama. Sosok lelaki yang sempat membuat gempar di pernikahan Zio dan Zahra.


Terlepas dari cerita Janne kemarin yang aku bisa menyadari jika di dalam hatinya masih ada aku, mari kita bahas tentang aku saja. Tentang aku dengan masa lalu yang rumit dan tidak mudah untuk di lalui dan juga memalukan. Tapi semua orang memiliki garis takdir masing - masing, dan pasti terjadi juga, bukan?


Semua yang di ceritakan di awal adalah benar adanya. Dan di sini aku akan menceritakan diriku yang tidak terlalu di ceritakan di awal - awal terbitnya novel ini.


Aku, Kenzo Adhitama bukanlah pemeran utama dalam novel ini. Melainkan aku muncul di tengah episode sebagai seseorang yang menolong pemeran utama wanita. Seolah aku ini adalah pahlawan untuk pemeran utama wanita, yang kini memang menjadi istriku.


Jadi aku memang memiliki peran yang dekat dan cukup penting untuk pemeran wanita. Kemudian dengan pintarnya aku mengambil banyak hati para pembaca tentang kehadiranku. Mereka belum tau saja kelicikan apa yang sudah aku lakukan.


Sekarang entahlah, aku bingung dari mana aku harus mengawali ceritaku, semua tentang hidupku yang di ceritakan ya memang seperti itu adanya.


Tapi jika kalian ingin tau lengkap tentang diriku yang tiba - tiba muncul di tengah episode, baiklah mari kita mulai dengan persahabatan ku dengan Janne, kemudian di lanjut dengan pertemuan pertama ku dengan sosok Calina Agasta yang mencuri perhatianku. Hingga ku mantapkan ia sebagai istri dan Ibu bagi anak - anakku.


Aku dan Janne bersahabat sejak kami duduk di bangku Taman Kanak - Kanak. Kala itu aku hanya menganggap Janne sebagai sahabat bersama satu teman laki - laki lainnya. Dan dari persahabatanku dengan Janne, ternyata berlanjut dengan persahabatan Mama Nuritha dan Tante Nayra  yang memang setiap hari mengantar kami ke sekolah, bahkan menunggu kami sampai kami pulang sekolah.


Sejak kecil aku menganggap Janne adalah sahabat perempuan terbaik dan yang paling dekat denganku. Namun siapa sangka semakin bertambahnya usia kami, ia mulai menunjukkan sikap yang tak selayaknya di lakukan oleh hubungan sahabat antara laki - laki dan perempuan.


Peduli, memang harus. Sebagai sahabat memang harus saling peduli, bukan? Tapi Janne? dia terlampau peduli padaku, tapi tidak terlalu peduli pada sahabat yang lainnya.


Dia memilih terluka karena aku. Dia membawakan aku makan siang setiap sekolah dan sebagainya. Dan itu hanya padaku, tidak berlaku bagi sahabat laki - laki yang lain. Itu terus berlanjut sampai kami duduk di bangku Senior High School.


Di bangku itu sebenarnya aku mulai risih dengan sikap Janne yang menurutku berlebihan. Selalu saja menempel, dan akan membuat gadis - gadis yang menyukai ku jera dan mundur sendiri. Tanpa kekerasan sebenarnya, tetapi juga bukan tanpa bertindak apapun.


Meski aku tau, sikapnya menunjukkan jika gadis itu memiliki perasaan padaku, tapi aku tetap acuh. Bukan aku tidak peduli lagi padanya. Acuhku di sini adalah tentang rasa cinta nya padaku, karena aku yang tak ingin menghancurkan persahabatan dengan satu kata cinta.


Saat lulus sekolah, untuk pertama kali ia mengutarakan rasa cintanya padaku. Dan pertama kali itu pula aku menolaknya. Dan hubungan kami tetap dekat. Karena yang aku tolak adalah cintanya, bukan hubungan persahabatan yang kami bangun sejak kecil.


Demi menghindari cintanya terus berkembang padaku, aku memutuskan untuk kuliah di Australia, negara asal Nenekku. Kebetulan ada perusahaan di sana yang memang membutuhkan aku atau Gilang untuk mengelolanya.


Janne hendak ikut dengan ku, kuliah di Aussie dengan mengambil jurusan Designer seperti mimpinya. Meski aku tau, tujuan utamanya adalah untuk kembali dekat denganku. Tentu aku tidak bisa berkata jangan, tapi aku juga tidak mau mengiyakan.


Beruntung kala itu orang tuanya tidak mengizinkan, karena bertepatan dengan Ayahnya sakit. Sang Ibu tidak ingin anak - anaknya terlalu jauh. Dan beruntung, sampai hari di mana aku bercerita Ayah Janne masih ada di dunia ini bersama Janne dan keluarganya.


Seperti yang sudah di ceritakan, Janne mempunyai luka dalam atau cidera yang sulit untuk di sembuhkan akibat menolongku. Jangan tanya seberapa rasa bersalahku padanya, karena aku sampai ingin menangis ketika melihat hasil rontgen panggul Janne. Yang tulang sendirinya bergeser karena menolongku. Dan retak di beberapa bagian.


Entahlah, meski semua itu di lakukan Janne untukku, aku tetap tidak bisa menerima Janne sebagai seseorang yang lebih dari kata sahabat. Bahkan ketika Janne merintih di Rumah Sakit luar kota akibat cidera itu. Hatiku tetap tidak tersentuh oleh rasa cinta yang di berikan Janne.


Gadis berambut pirang dengan panjang sebahu yang aku jaga di Rumah Sakit kelas VIP waktu itu adalah Janne. Sahabatku yang ku sayangi, tapi tak ku cintai. Ya, aku hanya menyayangi dan menghargai kehadirannya. Sayang bukan berarti cinta, kan?


Sayang ku padanya murni rasa sayang dan peduli sebagai sahabat. Bukan untuk saling memiliki satu sama lain. Dan aku menjaganya 24 jam kala itu adalah sebagai bentuk tanggung jawabku, karena dia cidera saat menolongku.


Kalian tentu ingat tentang Rumah Sakit di luar Ibukota yang aku maksud. Ya! Rumah Sakit di mana aku bertemu Calina dan mendapati betapa rumit posisi Calina di dalam kehidupan karyawan ku, Zio Alvaro. Hingga mendapati kecurangan Zio di kantor.


Sekarang, mari kita beralih pada sosok manis, yang aku tau cantiknya adalah asli murni, tanpa pemanis buatan maupun operasi plastik. Dia adalah istriku, si gadis desa yang ku cintai setengah mati. Yang mengajari ku untuk saling mencintai dan setia. Juga satu kehidupan yang apa adanya.


Malam itu, aku memutuskan untuk berjalan - jalan menggunakan motor untuk menikmati udara malam setelah kembali dari Aussie. Sesungguhnya aku tidak boleh naik motor lagi oleh kedua orang tuaku. Tapi aku sengaja nekat untuk membeli motor diam - diam, dan aku simpan di dalam tempat parkir apartemen.


Jika sudah pergi bawa motor, gaya hidupku pun aku ikut dengan motor yang aku kenakan. Alias kehidupan sederhana dan apa adanya. Motorku memang cukup besar. Aku bel dengan harga yang lumayan di kelasnya.


Aku berniat untuk berhenti di salah satu warung kopi sederhana yang ada pinggiran jalan. Aku sudah terbiasa melakukan semua itu saat sedang asyik motoran.


Namum sebelum aku turun dari motor merah ku, aku sempat melihat ke arah depan sana. Dan aku melihat seorang gadis mendorong motornya, dan detik berikutnya perempuan itu tampak berhenti mendorong, lalu duduk di trotoar.


Dengan segala kerendahan diriku, dan meninggalkan embel - embel Adhitama yang melekat di namaku, tentu aku tidak ragu untuk mendekati gadis yang tampak kelelahan itu.


Aku sempat heran, kenapa dari sekian banyak pengendara tak ada satupun yang mendekat untuk membantunya?

__ADS_1


Seolah gadis itu tak terlihat oleh mata mereka, padahal jika di lihat sekilas mereka tidak ada yang buta. Karena beberapa pengendara justru hanya melihatnya atau melewatinya saja. Padahal hari sudah tengah malam dan Ibukota memang tidak pernah sepi.


Dari cara dia mengusap peluh, aku rasa dia sudah terlalu jauh mendorong motor. Akhirnya aku dekati gadis itu dan ku tanya alamatnya.


Dan dari pertemuan pertama itu, aku tidak pernah lupa seperti apa wajah cantik gadis itu. Wajah natural yang belum pernah aku temui sebelum ini.


Atau mungkin sebenarnya banyak tapi aku yang tidak pernah memperhatikan sekitar?


Entahlah, yang jelas bagiku gadis yang mengaku bernama Calina itu berbeda. Namun wajah gadis itu benar - benar tergambar jelas di ingatanku. Aku tidak mungkin lupa jika sampai bertemu dengannya lagi. Aku sangat meyakini itu.


Satu yang jadi masalahku kala itu... Ternyata dia sudah menikah! Dan aku benci akan kenyataan itu.


Tapi ternyata takdir baik berpihak padaku. Pesta ulang tahun perusahaan yang saat itu sebenarnya aku sangat malas untuk datang, akhirnya aku datangi karena paksaan dari Mama. Apalagi aku belum ada satu tahun menjabat sebagai CEO di Adhitama Group. Ini momen yang tepat untuk memperkenalkan diri pada karyawan secara langsung. Karena aku memang tidak suka berinteraksi dengan banyak orang.


Di perusahaan pun hanya petinggi saja yang aku ajak bicara. Itupun hanya menyangkut urusan pekerjaan, bukan urusan pribadi. Terserah jika banyak bawahan yang tidak suka dengan caraku yang seperti ini.


Kembali pada acara pesta malam itu. Aku melangkah bersama kedua orang tua ku memasuki aula yang di gunakan untuk perhelatan pesta perusahaan. Lebih tepatnya berada di lantai tiga gedung Adhitama Group.


Saat aku melangkah di red carpet untuk menuju meja tempat dudukku, sudah biasa jika para karyawan akan menyambut kami dengan berdiri di tepi karpet. Namun saat itu ada satu orang yang membuat aku mengalihkan pandangan dari depan. Dia terlihat jelas oleh ekor mataku.


Ya, meskipun pandangan ku selalu lurus ke depan, tapi ekor mata ku tak pernah lepas dari mengamati sekitar. Semua masih bisa ku awasi melalui ekor mataku. Bahkan mereka yang berkasak - kusuk pun selalu terlihat oleh ku.


Namun aku adalah aku, aku lebih banyak tidak peduli dengan apa yang di bicarakan orang lain. Sekalipun itu kalimat ungkapan jika mereka tidak menyukaiku, aku tidak peduli.


Sosok yang membuat aku menoleh adalah gadis yang pernah aku tolong malam itu, Calina. Seorang gadis yang ternyata sudah bersuami. Aku tak pernah menoleh pada siapapun, tapi aku tak bisa untuk tidak menoleh pada sosok Calina.


Saat itu, jantungku berdebar sangat kencang, namun aku sangat pandai untuk menutupi semua dengan aura dingin di wajahku yang sepertinya sudah tebal. Bahkan saat sorot mata kami kembali bertemu untuk kedua kalinya. Aku seolah tidak memiliki perasaan apapun padanya. Sepintar itu aku menutupi perasaanku.


Wajah yang tergambar jelas di pikiranku selama beberapa waktu terakhir, kembali terlihat di depan mataku. Apalagi ia terlihat sangat cantik malam itu. Sungguh beruntung lelaki yang memilikinya, pikirku.


Tapi untuk apa dia ada di sini?


Atau... suaminya bekerja di kantor ini?


Pikiranku terus berkelana dengan pertanyaan - pertanyaan yang belum aku temukan jawabannya.


Dan seketika aku di buat terkejut, ketika melihat lelaki yang tengah berdiri paling dekat dengan dirinya adalah Zio Alvaro. Nama yang sangat aku kenal sebagai General Manager di perusahaan milik keluargaku. Aku sungguh tak menyangka gadis itu adalah istri Zio.


Dan aku semakin terkejut ketika jam pesta berakhir. Calina dan Zio masih berada di depan lobby, belum pulang karena Zio yang mabuk. Di balik sikap cuek dan acuh ku saat itu, sesungguhnya aku kasian pada Calina. Untuk itu aku meminta supir pribadi ku mengantarnya pulang.


Jika itu karyawan lain, tentu aku tidak peduli mau mereka jungkir balik sekalipun, terserah. Siapa suruh mabuk sampai tak sadarkan diri. Menyusahkan istrinya saja.


Takdir yang aku pikir akan membuat aku hidup tanpa pasangan ternyata salah. Aku yang tidak pernah dekat dengan gadis manapun sampai usia ku di kepala tiga ini, ternyata di pertemukan dengan Calina kembali di tengah malam dalam keadaan dia yang kabur dari rumah.


Setelah kedekatan kami di Rumah Sakit, aku semakin menemukan jalan yang lebar untuk bisa berkenalan lebih jauh dengan Calina.


Tanpa pikir panjang, aku bawa saja dia ke apartemen yang ku sewa. Sebelum ada buaya darat sejenis Zio yang menangkapnya.


Itu adalah pikiran terkotor yang pernah aku miliki. Tapi semua demi apa?


Ya, tentu sekarang kalian semua sudah tau alasannya!


Toh jodoh di tangan Tuhan. Aku hanya berusaha mendapatkan. Dapat ya bagus. Jika gagal ya sudah. Tidak bisa pula terlalu kecewa akan kehendak Tuhan.


Waktu terus berlalu, Calina yang ingin bercerai dengan suaminya, seolah angin segar bagiku yang masih betah menjomblo ini. Aku tidak segan untuk membayar pengacara mahal sekalipun. Yang penting tujuan Calina yang merupakan tujuan diam - diam ku, tercapai dengan mudah. Yaitu, Calina dan Zio bercerai, kemudian Calina menjanda.


Jahat! sungguh jahat pikiran ku ini! Juga sangat licik. Ampuni aku, Tuhan... Tapi seperti yang aku katakan di awal, aku tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan tentang aku.

__ADS_1


Dan mungkin ini bisa di jadikan sebagai pelajaran untuk kalian semua. Jangan pernah menceritakan masalah rumah tangga kalian dengan lawan jenis. Karena jika teman curhat mu itu adalah orang yang diam - diam menyukai mu, dia tidak akan membuatmu berfikir logis. Justru mengarahkan kamu pada jurang perpisahan. Untuk kemudian ia tangkap sendiri.


Maafkan diri yang ternyata sangat buruk ini. Tapi aku tidak bisa untuk tidak melakukannya. Semua terjadi begitu saja. Apalagi setelah sekian lama kami setiap hari bertemu, aku semakin sadar jika aku sangat mencintai Calina.


Aku sengaja tidak pernah mengatakan cinta pada Calina, juga tidak pernah menawarkan pernikahan pada Calina. Karena aku khawatir jika Calina di anggap meminta berpisah dari Zio karena sudah punya aku yang di anggap selingkuhan Calina.


Apalagi setelah tau jika ternyata Calina tengah hamil. Bisa - bisa orang akan menganggap jika itu adalah anak hasil berselingkuh denganku.


Tidak! aku tidak mau Calina di nilai seburuk itu.


Yang harus aku lakukan adalah membuat Calina tetap berada di bawah pengawasanku. Agar tidak ada laki - laki lain yang mendekatinya. Termasuk meminta Clarice memanggil ku Daddy. Jadi jika berada di luar, orang akan beranggapan jika Clarice benar anak ku, dan Calina istriku.


Kalian tau, betapa aku sangat bersyukur ketika banyak orang mengatakan jika Clarice sangat mirip dengan ku? Aku sangat bahagia meskipun gadis kecil itu bukanlah mahakarya ku bersama Calina.


Meski begitu, aku sangat menyayangi Cla dengan sepenuh hati. Aku bahkan tidak segan untuk ikut bergadang jika Baby Clarice rewel tengah malam. Dan sejak bayi pun tak jarang ia tidur bersama ku. Mungkin itulah yang membuat Clarice memiliki garis wajah ku. Padahal tidak ada darah ku yang mengalir di tubuh mungilnya.


Semakin hari usia Clarice semakin bertambah. Dari hari pertama ia di lahirkan aku selalu menyempatkan diri untuk menggendong dan menimangnya sepulang kerja. Sampai akhirnya Clarice berulang tahun yang pertama. Ulang tahun di gelar sederhana dengan mengundang keluarga inti saja. Tak terkecuali aku meminta kedua orang tua ku untuk datang.


Di momen ulang tahun Cla yang pertama itulah, aku melamar Calina secara resmi. Memintanya untuk menjadi istriku, dan menjadi Ibu bagi anak - anak ku. Dan aku berjanji akan menjadi Ayah yang baik untuk Cla.


Halangan dan rintangan sebelum hari pernikahan selalu ada. Tapi aku selalu berhasil meyakinkan Calina bahwa semua akan baik - baik saja. Dan kami akan tetap bersama apapun yang terjadi.


Bahkan Janne saja aku usahakan untuk bisa menjauh dariku. Aku melakukan pencarian tentang pengobatan terbaik untuk sahabat masa kecil ku itu. Sampai akhirnya aku menemukan satu rekomendasi yang baik. Yaitu salah satu Rumah Sakit di Amerika.


Beruntung Janne yang aku tau mencintai ku tidka menolak tawaranku. Meski itu terkesan mengusir atau membuang Janne, aku tidak peduli. Aku ingin Calina tenang, dan aku juga ingin Janne sembuh seperti sedia kala. Agar rasa bersalah ku tidak terus menghantui dengan keinginan Janne yang selalu mengatakan cinta padaku.


Entah dari mana ia tau, jika aku menyembunyikan Calina di salah satu apartemen di gedung yang sama dengan apartemen kami.


Apapun yang ia ketahui tentang aku dan Calina, aku lega ketika ia bersedia berangkat. Dan saat lama ia tak kembali, aku juga bingung. Kenapa aku tiba - tiba seperti tidak peduli dengannya. Padahal dia sudah lima tahun tidak kembali ke Indonesia.


Meniggalkan Janne, satu yang membuat Calina selalu berfikir ulang adalah, ia beranggapan jika kami memiliki derajat yang berbeda. Padahal aku tidak pernah peduli akan hal itu.


Dua bulan kemudian aku memboyong Calina, Clarice dan Mama Shinta untuk pergi ke Aussie. Tujuanku hanya satu, yaitu menikahi Calina di negeri Kanguru itu. Agar tidak terendus media, juga demi kenyamanan Calina yang belum siap muncul di hadapan Zio.


Pernikahan di Aussie juga memang tak begitu meriah, karena Calina yang menolak menikah dengan cara yang mewah.


Aku tidak peduli dengan kemeriahan pesta. yang aku inginkan hanyalah Calina bahagia bersama ku. Apapun yang dia inginkan akan berusaha aku turuti.


Satu persatu kisah hidup kami, kami lalui seperti yang sudah di ceritakan. Kami hidup bahagia, sampai akhirnya aku memiliki anak kandungku dari Calina. Lalu Clarice yang akhirnya memiliki dua pasang orang tua.


Waktu terus berlalu, dan kini anak kami akan berjumlah tiga. Satu perempuan dan dua anak laki - laki.


Kehidupan kami terus berlanjut. Kami bahagia dengan apa yang sudah terjadi. Semua seolah memiliki nilai, pelajaran dan filosofi tersendiri.


Anak ketiga kami lahir saat pesta pernikahan Gilang dang Kayla di gelar sangat mewah oleh Papa dan Mama, baik di Indonesia maupun di Australia.


Di saat pesta Gilang dan Kayla usai, di saat itu pula istriku merasa mulas dan siap untuk melahirkan anak ketiga kami.


Detik demi detik yang kami lalui selama menunggu anak ketiga kami lahir, adalah waktu yang mendebarkan. Setiap detik kami selalu berdo'a agar Ibu dan anak semua sehat dan selamat.


Hingga suara tangis bayi kecil nan mungil terdengar menggema di seisi ruangan. Kucium kembali kening istriku yang sudah berjuang untuk melahirkan anak ketiga kami. Tidak ada kata yang bisa aku ucapkan. Hanya air mata ini yang menetes begitu saja.


Anak ketiga kami bernama Pradygta Adhitama. Ia kami panggil Dygta.


Sedikit banyak inilah kisah singkat hidup kami menjadi keluarga kecil yang berharap akan selalu di limpahkan kebahagiaan dan suka cita tiada tara.


Salam dari ku... Kenzo Adhitama.

__ADS_1


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2