
Kembali dari rumah Mama Shinta, Zio di penuhi perasaan bersalah. Bukan hanya perasaan, tapi air matanya pun masih betah menggenang di matanya. Hingga ia harus mengemudikan mobil sembari berulang kali mengusap air mata.
Sebelum pulang, ia harus menenangkan Mama Shinta dengan berbagai cara. Meyakinkan sang Ibu mertua bahwa ia akan berhasil menemukan Calina. Ia sendiri yakin jika Calina pasti dalam keadaan baik. Meski kadang perasaan tidak tenang tetap menghampiri.
"Dimana kamu, Cal...."
# # # # # #
Hari - hari terus berlalu, minggu - minggu pun terlewati oleh Zio tanpa bisa menemukan keberadaan Calina.
Saat mendatangi kantor Calina, ia justru mendapati kenyataan yang mencengangkan. Dimana di hari itu, di hari Calina pulang malam. Adalah hari terakhir Calina bekerja sebagai resepsionis bersama Mereen. Dan perempuan itu ingin menghabiskan sore harinya bersama sang sahabat.
Cerita Mereen yang mengatakan jika Calina melihatnya makan malam berdua bersama Naura membuat Calina sedih dan memilih untuk pulang tengah malam. Tanpa peduli pada Zio lagi.
Sama seperti Naura, akhirnya Zio pun justru mendapat semburan panas dari seorang Mereen Maulidya. Hingga gadis itu menangis di hadapan Zio. Entah bagaimana bisa Mereen menangis sejadi - jadinya tanpa ragu. Ia memukuli lengan Zio dengan membabi buta di sertai umpatan - umpatan kasar.
Namun tak sedikitpun Zio melawan atau menghindar. Ia biarkan tubuh gagahnya sebagai pelampiasan perasaan Mereen yang hancur.
Di sisi lain, Naura pun ikut kebingungan. Setiap hari setelah bekerja ia akan pulang ke rumah Zio bersama Zio. Ia khawatir suaminya itu akan bertindak gegabah dan merugikan diri sendiri.
"Seharusnya aku yang pergi, Mas.. Bukan Calina..." ucap Naura pada suatu malam. "Aku yang hanya istri siri kamu, sedang Calina istri sah kamu." lanjutnya terdengar sendu.
"Aku tidak ingin kalian berdua pergi! Aku sudah belajar bersikap adil pada kalian berdua. Tapi ternyata aku masih belum bisa membedakan mana baik dan benar. Aku yang bodoh..."
Naura tak bisa lagi berkata - kata. Satu yang ingin ia harapkan sekarang. Menemukan Calina untuk berbicara dari hati ke hati.
Zio enggan meninggalkan rumah itu untuk tinggal di rumah Naura. Berharap Calina akan datang sewaktu - waktu. Sehingga saat Calina pulang, ia bisa menyambut atau setidaknya ia akan menjadi orang pertama yang tau kepulangan Calina.
Namun hingga satu bulan berlalu, Calina belum juga ada kabar berita. Juga tak pernah muncul di manapun.
Di kantor pun, Zio sering bekerja tidak fokus. Hingga berulang kali harus mengecek dan meminta bantuan Asisten nya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan semua itu tak luput dari pengamatan seorang Kenzo sang CEO.
Sebagai bos, tentu ia tidak nyaman dengan mood Zio yang buruk. Ia tak ingin perusahaannya yang semakin besar itu harus berantakan begitu saja karena salah satu managernya di anggap lengah.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kenzo setelah kegiatan meeting akhir bulan selesai. Di mana di sana hanya menyisakan Kenzo dan Zio saja di dalam ruang meeting berukuran cukup besar itu.
"Maafkan saya, Pak." Zio menunduk dalam penuh rasa bersalah. Baru kali ini ia tak bisa fokus dalam bekerja. Selama ini hidupnya di rasa baik - baik saja. Dan itu berpengaruh pada hasil kinerjanya yang baik pula.
"Apa masalahmu?" tanya Kenzo.
Zio melihat sekitar, menghela nafas sebelum bicara.
__ADS_1
"Istri saya pergi dari rumah, Pak!" jawab Zio menunduk.
Kenzo menanggapi dengan ekspresi datarnya. "Kalian bertengkar?"
"Hanya salah paham.. Saya menanyainya kenapa dia pulang lewat tengah malam? Lalu saya..." Zio menggantung kalimatnya. Seolah ragu untuk bercerita tentang kisah hidupnya saat ini.
"Sudahlah, saya tidak bisa ikut campur untuk lebih dalam. Kamu tidak perlu menceritakan detail masalah hidup kamu." ucap Kenzo. "Yang saya sarankan sebagai bos kamu, kamu harus tetap konsentrasi saat bekerja. Ingat! Perusahaan tidak menolerir pembuat masalah. Masalah di rumah jangan di bawa ke kantor!"
"Dan lagi, jika istrimu pergi meninggalkan kamu... itu pasti karena dia sudah lelah dengan keadaan ataupun sikap kamu."
"Pilihan kamu hanya dua!" Kenzo mengangkat dua jari. "Satu, lepaskan dia supaya dia bisa memilih hidup yang menurutnya lebih baik. Dua, kalau kamu mencintainya... Tentu kamu tau apa yang harus kamu lakukan!"
Zio menatap sepasang mata Kenzo sendu. Ia tau apa yang di katakan Kenzo memang ada benarnya. Tapi untuk membuat Calina kembali di saat gadis itu bukanlah wanita satu - satunya pasti akan terasa berat, bukan?
Di posisi itulah Zio. Tak bisa membuat Calina menjadi satu - satunya wanita yang ada dalam hidupnya. Karena ada yang lebih dulu mengisi hati dan hari - harinya.
"Berat?" tanya Kenzo.
Zio mengangguk, "ya, Pak! Sangat berat!" lirih Zio.
"Wanita hanya menginginkan satu hal dari seorang pria, Zio! Pengertian!" ucap Kenzo. "Kalau kamu mengerti, dia akan bertahan apapun keadaanmu. Kalau dia pergi, itu artinya dia sudah tidak sanggup."
"Bapak benar! Selama ini saya hanyalah pria bodoh yang tidak terlalu memperdulikan perasaan istri saya.."
"Baik, Pak!"
Kenzo berdiri sembari menepuk pundak Zio. Kemudian berlalu dari ruang meeting. Dimana Venom sang asisten sudah menunggunya.
Setelah kepergian Kenzo, Zio masih betah berdiam di dalam ruang meeting meski seorang diri. Duduk di kursi hitam, bersandar ke belakang, dan mendongakkan kepalanya ke atas. Menatap langit - langit ruangan yang berhiaskan lampu - lampu. Ia biarkan lamunan melayang - layang di kepalanya.
"Aku tak akan bisa melepas keduanya..." lirihnya kemudian. "Apa benar, jika Calina memang ingin lepas dariku?" tanyanya pada diri sendiri.
Mengingat kata berpisah membuat dada Zio sesak sendiri. Membayangkan saja sudah berat. Apalagi jika harus benar terjadi.
Ia sungguh menyesali kalimatnya yang terucap saat emosinya meluap kala itu. Dimana ia pernah berkata bahwa akan membuang Calina jika kedua orang tuanya meninggal.
Karena saat mereka benar - benar tiada, ternyata hatinya sudah berubah. Sudah bukan lagi Zio yang membenci si bunga desa. Bukan lagi Zio yang mengabaikan keberadaan istri keduanya. Bukan lagi Zio yang hany ingin menjadikan Naura sebagai satu - satunya wanita di dalam hatinya.
Menit terus berlalu, hingga asisten Zio mengingat Zio bahwa ada berkas yang harus kembal di periksa.
***
__ADS_1
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda, tentu saja dengan kejadian yang berbeda pula.
"Masih masuk angin?" tanya seseorang pada perempuan cantik yang baru saja membuka pintu utama untuknya.
"Sudah tidak.." jawab perempuan menggeleng lemah. "Silahkan masuk..." ucapnya lembut.
"Hemm... Aku bawa makan malam untuk mu.." jawab seorang pria menenteng sebuah paper bag dengan brand restauran ternama.
"Terima kasih..."
"Ya..." jawab lelaki itu sembari memasuki sebuah apartemen yang di desain dengan nuansa klasik. Kecil namun sangat nyaman untuk di tempati oleh seorang diri atau pun keluarga kecil.
"Sebenarnya kamu tidak perlu repot - repot membawa makanan untuk ku. Aku bisa pesan makanan dari restauran di mall sebelah seperti biasanya.."
"Tidak masalah.." jawab lelaki itu santai. "Makanlah.."
Mengangguk pelan, "kamu?"
"Aku sudah makan di sana tadi."
"Jadi aku makan sendiri lagi?"
"Ya..." jawab lelaki sembari mengeluarkan ponselnya.
Mengerucutkan bibirnya, "kenapa kamu tidak pernah mau makan bersamaku?" tanyanya. "Kamu jijik padaku?"
Lelaki itu memiringkan wajah dengan membuka matanya sedikit lebih lebar. Seolah tak percaya dengan pertanyaan yang di luncurkan sang wanita.
"Apa aku terlihat seperti orang jijik padamu?" tanyanya balik. "Kalau aku jijik atau enggan melihat mu, aku tidak akan membawamu ke apartemen ini..." jelasnya datar.
Mengangguk lemah, "iya juga ya..." jawabnya tersenyum simpul. Sepasang pipi terlihat sedikit memerah.
"Makanlah..." ucap pria itu. "Aku menumpang ke kamar mandi." lanjutnya berdiri dari salah satu kursi meja makan yang terbuat dari kayu.
"Iya.." jawab perempuan cantik, dengan rambut hitam bergelombang di ujungnya.
' Untuk apa menumpang? Bahkan tempat ini milikmu... '
Gumamnya dalam hati, menatap punggung tegap kagum, berkata dalam hati.
' Kamu baik, seperti...malaikat ku di malam itu, saat.... '
__ADS_1
Ia tak melanjutkan kalimatnya. Ia takut hanyut oleh sesuatu yang tak boleh ia rasakan. Akhirnya ia kembali pada makan malam yang di bawakan sang lelaki.
...🪴 Happy Reading 🪴...