Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 129 ( Clarice VS Zuria pt. 1 )


__ADS_3

Bergabung dengan teman satu kelas, atau teman satu tingkat saat berada di kantin adalah hal yang lumrah untuk di lakukan. Tak jarang Clarice ataupun kita sendiri melakukan hal serupa saat di kantin sekolah. Apalagi jika sedang ramai-ramainya siswa yang makan di kantin.


Tapi ketika dua siswi dari kelas terendah di sekolah, tengah asyik makan dan mengobrol santai, kemudian ada kakak kelas yang tiba-tiba duduk di hadapan, di saat banyak bangku yang masih kosong, rasanya sangat janggal dan tak biasa.


Dan yang lebih mencurigakan adalah mereka duduk dengan tanpa membawa makanan satu pun. Kakak kelas berjumlah tiga orang itu hanya duduk dan menatap Clarice dengan tatapan yang sangat tidak nyaman untuk di balas sang gadis.


Hingga mau tak mau keduanya menghentikan makan siangnya, dan langsung menenggak minuman masing-masing. Dan bersiap jika saja apa yang ada di benak Clarice benar terjadi.


' Apa ini yang di maksud Vino saat di toilet tadi? '


Batin Clarice bertanya-tanya, namun tentu ia tak mendapat jawaban selama si Kakak kelas masih diam membisu, dan tak kunjung mengungkapkan maksud dan tujuannya duduk di depan Clarice, dan menatap sang gadis dengan tatapan yang mengintimidasi.


Clarice menoleh Hanna, namun rupanya sang sahabat juga tampak kebingungan. Menatap sang Kakak kelas dengan heran, Hanna akhirnya ikut menoleh pada Clarice. Dan dua siswi dari kelas X-3 itu hanya sama-sama bisa mengedikkan bahu mereka.


Namun karena di tatap sedemikian mengerikan oleh sang Kakak kelas, terutama oleh Kakak kelas yang ia ketahui bernama Zuria, anak seorang pengusaha ekspedisi terbesar di negeri ini. Sekaligus pemilik ratusan taxi yang tersebar di kota-kota besar yang ada di pulau Jawa. Clarice membalas dengan tatapan yang datar untuk saat ini.


"Ada apa, ya?" tanya Hanna mengawali perbincangan di meja persegi panjang, dengan jumlah anggota 5 orang yang terbagi menjadi dua kubu.


"Aku tidak ada urusan dengan mu, Atlit!" sahut Zuria tanpa menatap Hanna. Ia justru menyebut Hanna sebagai Atlit. Ya, tentu karena Hanna memang masuk sekolah itu melalui jalur sebagai Atlit yang di rekrut oleh sekolah.


Mata tajam Zuria hanya terfokus pada Clarice yang masih diam membisu.


Gadis yang tak suka mencari masalah itu memilih untuk mendinginkan kepalanya. Supaya tidak mudah tersulut emosi yang mungkin tengah di pancing oleh sang Kakak kelas.


"Lantas?" tanya Hanna yang mulai merasa jika Zuria tengah mengincar sang sahabat.


Semua murid di sekolah itu tau, jika Zuria mengejar Arsenio Wilson. Hanna mulai dapat mengira, apa yang membuat Zuria mendatangi Clarice. Pasti karena postingan Arsen di malam minggu waktu itu yang juga ia ketahui.


"Aku hanya ingin berbincang pada sahabat sejati mu ini!" jawab Zuria masih menatap tajam Clarice yang tepat berada di depannya.


"Ada apa, ya?" tanya Clarice masih dengan nada yang datar tanpa terpancing keadaan yang ada.


Tanpa menjawab apapun, Zuria justru mengangkat gelas berisi jus alpukat milik Clarice yang masih tersisa separuh. Dan dengan tidak tau sopan santunnya, Zuria menuangkan jus kental itu di piring Clarice yang berisi separuh spaghetti milik Clarice.


Membuat Clarice dan Hanna mendelik dan membuka mulut mereka lebar. Dan detik berikutnya, keduanya reflek menutup mulut masing-masing menggunakan tangan mereka.


"Apa yang kamu lakukan!" reflek Clarice setengah menghentak, karena tak terima makanannya di tumpahi jus alpukat dengan sengaja. Karena sudah jelas tidak akan bisa di makan lagi.


Bukannya merasa bersalah, Zuria justru tersenyum culas dan setengah mengejek. Menatap Clarice dengan tatapan yang berkilat kebencian.


"Mau coba spaghetti rasa alpukat?" tanya Zuria dengan senyum sinis yang menyebalkan.


Nafas Clarice terengah hanya dengan melihat ulah Zuria yang di luar nalarnya. Ia benar-benar tak menyangka di dalam dunianya benar-benar ada Kakak kelas yang jahat seperti yang biasa ada di sinetron, ataupun yang ada di film-film layar lebar.


"Kamu benar-benar tidak sopan!" ujar Clarice.


"Kamu yang kurang ajar!" sahut Zuria dengan tegas karena tak terima di bilang tidak sopan oleh sang adik kelas.


"Apa salah ku?" tanya Clarice menatap heran.


Tersenyum sinis, "Kamu dan bahkan satu sekolah tau, jika aku dan Arsen sangat dekat! kenapa justru kamu yang bersama Arsen di arena balap?" tanya Zuria.


"Semua tau, jika aku yang paling dekat dengan Arsen, tapi kenapa justru fotomu yang di posting Arsen di akun instagramnya?" lanjut Zuria setengah melotot.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? itu hanya kebetulan aku ada di sana bersama Naufal!" jawab Clarice apa adanya.


"Cih!" Zuria berdecih kesal. "Apa kamu pikir itu bukan hal yang memalukan untukku, hah!" tanya Zuria setengah membentak namun dengan suara yang lirih.


Tentu saja sang anak pengusaha terlalu malu untuk mengungkapkan kalimat itu. Ia tak mau semakin banyak siswa yang tau masalah apa yang sedang terjadi di antara dirinya dan Clarice. Namun gadis ini tidak akan ragu untuk membuat Clarice malu.


Clarice menarik nafas panjang, kemudian menghelanya dengan perlahan untuk mengosongkan seluruh paru-paru yang baru saja di penuhi oleh udara. Ia menetralkan diri, untuk tidak ikut terbawa emosi yang di ciptakan oleh sang Kakak kelas.


"Dengar ya, Nona Zuria...." ucap Clarice lirih dan sedikit tertahan.


Sungguh, jika bukan di lingkungan sekolah mungkin Clarice sudah meneriaki nama Zuria Agatha.


"Yang meminta untuk mengambil foto itu adalah Arsen! Dan yang memposting foto itu di akun media sosial Arsen adalah Arsen sendiri! bukan aku!" ucap Clarice dengan tegas dan setengah tertahan. "Jadi untu apa kamu protes padaku! protes padanya sendiri!"


Lagi-lagi jika tidak di lingkungan sekolah, ingin sekali Clarice meneriaki gadis itu. Gadis yang di anggap Cla sangat murahan, karena bisa dengan mudahnya merangkul Arsen lebih dulu, ketika mereka bertemu.


Namun rupanya, seperti apapun Cla menahan emosinya, ketegangan yang terjadi antara Clarice dan Zuria tetap terendus oleh beberapa siswa yang berjarak tidak jauh dari mereka.


Hingga Hanna menarik nafas panjang, sembari berdo'a dalam hati, supaya tidak ada guru yang melihat apa yang sedang terjadi. Karena kalau sampai guru melihat aksi semacam ini, bisa jadi dirinya juga akan ikut terseret dalam masalah yang muncul akibat satu postingan seorang Arsenio Wilson.


Tapi sang atlit putri lupa, jika kamera CCTV bertebaran di mana-mana. Dan kemungkinan besar pihak sekolah pasti akan mengetahui apa yang sedang terjadi di area kantin.


"Tetap saja itu karena kau yang kecentilan lebih dulu!" ujar Zuria.


"Aku kecentilan?" tanya Clarice keheranan.


Ia bahkan tidak berani menyapa lelaki yang ia idolakan lebih dulu, jika tidak di sapa oleh sang pemuda lebih dulu. Dan kini ada yang mengatai dirinya kecentilan? Apa itu artinya ia di katai tidak tau malu?


"Ya! apa tujuan mu menonton dia? di saat aku sendiri bahkan tidak tau jika dia adalah bagian dari pembalap yang ada di sana!"


Clarice menggelengkan kepalanya pelan, sembari menarik nafas gusar.


"Atas dasar apa kamu mengatai aku kecentilan!" hentak Clarice.


"Ingat ya, Nona!" desis Clarice. "Aku datang ke arena balap waktu itu bersama Naufal! Dan kau tentu tau, jika Naufal dan Arsen adalah sahabat dekat! Dan Hanna adalah saksi hidup, jika aku dan Naufal adalah sahabat yang sangat dekat!" ucap Clarice dengan gigi yang mengerat.


"Jadi tidak salah, bukan? jika Naufal tau, kalau Arsen ada di antara para pembalap! Dan aku bahkan tidak tau jika sore itu Naufal akan mengajak ku menonton balapan yang di ikuti oleh Arsen!"


"Aku tau jika Arsen adalah sang juara saja setelah acara itu selesai, dan Arsen membuka helm nya!" lanjut Clarice sedikit terengah. "Soal kamu yang tidak tau jika Arsen adalah bagian dari pembalap di sana, itu artinya kamu sama dengan ku! Hanya mengenal nama Arsen! tapi kamu tidak sedemikian dekat dan mengenal jauh sosok Arsenio Wilson!" ucap Clarice. "Kita setara!"


Bukannya sadar diri, Zuria justru tersulut emosi, ketika Clarice menyebutnya tidak mengenal sedemikian jauh sosok Arsenio Wilson. Di mana ia sudah bergembar gembor ria, bahkan tidak ragu untuk mendekati sang lelaki di manapun sang lelaki berada.


"Kau tidak tau sejauh apa hubungan aku dengan Arsen! beraninya kamu mengatai aku tidak mengenal Arsen sejauh itu!" ucap Zuria. "Kamu tau, Daddy ku dan Papa nya Arsen berteman dekat! sekali aku meminta, Daddy tidak akan pernah menolaknya!" ucap Zuria dengan bangga. "Dan aku akan meminta Daddy untuk menjodohkan aku dengan Arsen!"


"Lantas? kenapa tidak segera meminta!" tanya Clarice mengejek. "Atau Arsen sudah menolak mu lebih dulu sebelum kamu meminta?" cibir Clarice tersenyum miring.


Reflek, Hanna pun ikut tersenyum mendengar ucapan Clarice yang seolah benar adanya.


"Jangan ikut tertawa kamu!" sembur teman Zuria yang duduk di depan Hanna.


"Kamu sendiri jangan ikut campur, kalau kamu tidak ingin aku ikut campur!" sembur Hanna pada gadis di sisi kiri Zuria.


Brak!

__ADS_1


Gadis disisi Zuria menggebrak meja, menghentak Hanna seolah tidak terima dengan kalimat Hanna.


Tak mau kalah, Hanna justru membalas dengan dua kali gebrakan, dengan di sertai pelototan mata yang tajam.


"DIAM!" sentak Zuria. "Kenapa malah kalian yang bertengkar?" tanya Zuria menatap sahabatnya dan Hanna bergantian. "Kamu sebaiknya diam dan jangan ikut campur!" ujar Zuria pada Hanna.


"Okay! Aku akan diam!" jawab Hanna. "Tapi aku tidak akan diam kalau sampai kalian menyentuh ataupun menyakiti sahabat ku!" sembur Hanna.


Dan apa yang terjadi di meja mereka, kini sudah sampai menarik perhatian bagian kantin yang banyak di huni oleh anak laki-laki. Termasuk Arsen, Naufal dan Vino. Tiga pemuda yang secara tidak langsung berhubungan dengan Clarice.


Ketiga pemuda itu kini ikut melihat ke arah meja Clarice dan Zuria. Gebrakan Atlit basket rupanya cukup kencang untuk mengaung di area kantin yang luas itu.


Jika Naufal dan Arsen mengerutkan kening mereka, karena tidak tau duduk masalah apa yang sedang terjadi di meja persegi panjang dengan 5 siswi di sana. Maka Vino sebaliknya.


Ia sudah menebak hal ini akan terjadi. Karena ketika sang pemuda mengantar Neha ke kelasnya, XI-IPA 3. Ia sempat mendengar Zuria yang mengomel di depan kelasnya, XI-IPS 2. Tentu saja mengomel karena postingan IG Arsen.


Dan kini sang Atlit putra, hanya bisa menghela nafas. Ia ingin membantu Clarice, tapi ia ragu untuk berurusan dengan orang kaya. Jika Clarice mungkin masih bisa ia tangani, karena ia tau Clarice gadis yang baik. Tapi Zuria?


Vino tak mengenal betul sang Kakak kelas. Ia takut jika di tuntut, atau bahkan di DO oleh sekolah. Mengingat uang bisa memenangkan segalanya. Dan ia sadar sang Papa tidak sebanding dengan mereka,


' Tapi jika sampai Clarice terluka akibat perdebatan ini! aku akan turun tangan! '


Ujar sang Atlit di dalam hati.


Vino menoleh pada Arsen yang terlihat mengamati meja Clarice dengan seksama. Ia tau, jika sang pemuda sedang bingung. Ia tak menyadari jika anak-anak di meja itu bertengkar karena dirinya.


Kembali pada meja Clarice...


Tersenyum mengejek, "Siswa yang masuk ke sekolah ini karena bea siswa Atlit seperti mu, sebaiknya tidak perlu ikut campur!" sembur Zuria. "Sebaiknya jaga nama baikmu, supaya tidak di DO oleh sekolah!" lanjut Zuria dengan nada sedikit congkak pada Hanna.


"Tutup mulutmu! wahai Kakak kelas yang sombong!" sahut Clarice tak terima sang sahabat di peringati dengan cara yang seolah merendahkan posisi siswa Atlit sekolah. "Setidaknya Hanna adalah siswa yang berprestasi! Tidak seperti kalian yang hanya mengandalkan uang orang tua kalian! lalu menyombongkan nya di mana-mana!"


Tak terima dengan peringatan Clarice, kini Zuria kembali menatap Clarice, dan kali ini jauh lebih tajam dari sebelumnya.


"Beraninya kau mengatakan hal seperti itu kepadaku!" seru Zuria dengan nada lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya. "Kau sendiri apa prestasi mu, hah!" seru Zuria lebih kencang dengan mata yang bahkan mendelik menatap Clarice.


"Kau bahkan tidak akan bisa masuk ke sekolah ini, jika bukan karena Ibumu yang murahan itu menggoda dan akhirnya menikah dengan Tuan Kenzo Adhitama!" teriak Zuria lebih kencang.


Sengaja ia lontarkan lebih keras apa yang sejak tadi ingin ia ucapkan untuk membuat Clarice malu, jika ia hanya anak tiri seorang Kenzo Adhitama. Namun yang terjadi adalah ...


BYUUURRR!


Jus jambu dengan warna khas peach mendarat dengan sangat epic di wajah Zuria bagian hidung ke bawah. Membuat sang gadis mendelik tak percaya jika ada yang berani menyiramnya menggunakan jus jambu sisa di minum.


Bahkan dua sahabat Zuria ikut terkena cipratan dari jus jambu. Mereka mendelik bersamaan. Ingin membalas, tapi sudah tidak ada jus lagi di atas meja. Sebelum membalas, ia sudah di buat terkejut lagi oleh gebrakan tangan Clarice di atas meja.


BRAAK!!


Sontak semua siswa yang ada di kantin berdiri dan menatap meja mereka dengan mulut yang terbuka. Sebagian bahkan mulai mengabadikan momen wajah Zuria yang belepotan oleh jus jambu.


Sementara Arsen, Naufal dan Vino mulai berjalan cepat mendekati meja yang kini menjadi pusat perhatian seisi kantin itu. Tak terkecuali para penjaga stand makanan yang ikut menonton adegan yang terjadi.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2