
"Menurut resepsionis Zio sudah datang, Pak Kenzo. Dan sudah dalam perjalanan ke ruangannya bersama Nona Clarice." info dari Venom untuk sang Bos.
"Baiklah, biarkan saja..." jawab Kenzo yang hanya ingin tau kabar putrinya. Apakah sudah sampai di antor, atau masih di luar. Karena bagaimanapun tak akan tenang melepas seorang anak pada mereka yang tidak terbiasa dengan anaknya.
"Kamu harus memastikan keamanan dan kenyamanan Clarice, Kak!" ujar Gilang yang masih di ruang kerja Kenzo. Sebagai seorang Paman, tentu ia tak kalah khawatir dari sang Kakak. Meskipun Paman tiri sekalipun.
"Hmmm. .. aku tau.."
"Calina jadi datang?"
"Jadi! tidak lama lagi dia pasti datang. Mang Heru sudah menjemputnya." jawab Kenzo.
"Venom, tunggu Calina di Lobby dan antar kesini!" titah Kenzo karena ini kali pertama Calina mendatangi kantornya.
"Siap, Pak!"
Sebentar lagi dunia akan tau siapa istri seorang Kenzo Adhitama. Dan semua orang akan tau, siapa Ayah kandung Clarice. Tabir yang tertutup rapat selama bertahun - tahun akan terbuka lebar setelah ini.
***
Sementara di bawah sana, wanita berbaju merah yang tak lain adalah Calina Agasta mulai menaiki tangga depan Lobby sembari menggandeng tangan mungil Galen yang menolak untuk di gendong sang Mommy.
Seorang Security menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia sangat mengenal siapa yang sedang berjalan mendekati pintu yang ia jaga. Ia bekerja paling lama di banding yang lain. Tentu ia tau siapa Calina dan siapa anak kecil yang bersama Calina.
Pertanyaan demi pertanyaan menyeruak di dalam kepalanya. Belum terjawab kenapa Nona Clarice memanggil Zio dengan sebutan Papa. Sudah di hadapkan lagi dengan mantan istri Zio yang menggandeng tangan Galen, yang ia ketahui sebagai anak bungsu Bos nya. Lebih gila lagi, Calina keluar dari mobil sang CEO.
' Tidak mungkin kan, jika Pak Zio rujuk dengan istrinya diam - diam? Tapi... Bu Calina keluar dari mobil Pak Kenzo.... Kenapa semua jadi rumit untuk di uraikan... '
Pikir Security senior itu.
Sedangkan di dalam benak dua security yang masih baru, kehadiran Calina di anggap sebagai kejutan. Yang mana semua orang sudah menyimpan rasa penasaran sejak beberapa tahun yang lalu siapa istri Pak Kenzo? Kenapa Pak Kenzo tida - tiba datang ke kantor dengan anak sebesar itu?
Dan saat ini, untuk pertama kali wanita itu menampakkan dirinya di perusahaan. Terlihat dari Galen yang sangat akrab dengan Calina. Bahkan berulang kali ia bisa mendengar jika Calina memanggilnya, Nak.
"Daddy di dalam sana, Mommy!" seru Galen cukup keras, menunjuk bagian dalam gedung.
Dan apa yang di ucapkan Galen menjawab pertanyaan dua security baru. Bahwa wanita berbaju merah adalah istri Kenzo.
Sedangkan security lama masih tak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar.
' Itu berarti ... '
"Selamat siang, Bu..." sapa dua security yang yakin jika Calina adalah istri Bos Kenzo. Yang artinya mereka pun juga harus menghormati wanita tersebut. Sama seperti menghormati Bosnya.
"Siang...." jawab Calina dengan sangat ramah.
Sementara security satunya masih terpaku dengan apa yang ia lihat. Hingga bibirnya tak bisa mengucapkan salam pada Calina.
Calina menyempatkan diri untuk tersenyum pada security senior yang yang masih membeku karena mengenali dirinya. Dan sang security segera sadar saat temannya menyenggol lengannya dengan cukup kasar.
"Pssst!" desis Security yang tidak mengenal Calina.
Sontak security itu pun reflek tersenyum hormat pada Calina yang segera berlalu dan masuk ke dalam pintu kaca yang terbuka otomatis.
"Ada apa dengan mu? kenapa tidak fokus begitu?'
"Ada yang aneh.." jawabnya bergumam.
"Apa?"
Namun security senior hanya menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
***
Tak hanya berhenti di depan Calina membuat beberapa karyawan menganga tak percaya. Yang di dalam Lobby pun terjadi hal yang nyaris sama. Resepsionis yang sudah bekerja bertahun - tahun di buat heran dengan kehadiran Calina di kantor dengan menggandeng tangan mungil Galen Adhitama.
"Bu Calina!" pekik Resepsionis yang mengenali Calina sebagai istri Zio.
"Selamat siang..." sapa Calina menghampiri meja resepsionis.
"Siang, Bu.." jawab dua perempuan itu bersamaan.
Sementara karyawan yang mengenali Calina sontak berdiri, karena tau jika Calina adalah mantan istri General Manager di sana. Mereka pernah bertemu dalam acara ulang tahun perusahaan.
Dan sekarang menggandeng tangan Galen, jelas dapat di prediksi jika Calina bukan sembarang orang di perusahaan itu.
Melihat sikap temannya yang seolah menaruh hormat penuh pada Calina, tentulah ia ikut berdiri dan memberi hormat yang sama pada Calina.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu Calina?" sapa resepsionis senior.
"Saya ingin bertemu de..."
"Bu Calina? sudah di tunggu Bapak di ruangannya!" suara Venom memotong kalimat Calina.
Sontak Calina menoleh ke sisi kiri, dimana Venom tampak baru keluar dari lorong lift.
"Oh, baiklah.." jawab Calina mengangguk.
"Mari ikuti saya, Bu..." ujar Venom.
Sebelum mengikuti langkah Venom kembali memasuki lorong, Calina menyempatkan diri untuk tersenyum pada resepsionis yang mengenali dirinya.
Dan tentu di balas dengan senyuman super ramah oleh sang resepsionis.
"Bu Calina.. dia mantan istri Pas Zio.."
"What!" pekik resepsionis junior. "Sebenarnya ada apa ini? gosip apa yang belum kita ketahui tentang orang - orang di dalam sana?"
"Mana aku tau.." jawab resepsionis senior. "Melihat dari apa yang ada, apa mungkin jika Bu Calina sekarang adalah istrinya Pak Kenzo?" gumamnya menarik kesimpulan saat Venom lah yang menjemput kehadiran Calina.
"Tapi bagaimana bisa? apa sebelumnya semua saling mengenal?"
"Aku juga tidak tau... hanya saja jika di telaah, dengan usia Nona Clarice sekarang di hitung dengan kasus itu berlangsung..." resepsionis senior mencoba untuk mengingat - ingat kembali tahun terjadinya masalah itu, dan momen - momen yang tercipta setelahnya.
"Jika Nona Clarice memanggil Pak Zio dnegan sebutan Papa, apa mungkin jika Nona Clarice adalah anak Pak Zio?" Senior menarik kesimpulan.
"Ah! yang benar kamu?" sahut junior. "Selama ini Pak Kenzo terlihat sangat menyayangi Nona Clarice. Dan lagi mereka memiliki garis wajah yang sama..."
"Lalu?" tanya senior.
Dan di jawab dengan sebuah gelengan kepala oleh junior.
"Cepat tanya ke grup! tidak perlu menunggu ada yang menyebarkan berita ini?'
"Hemmm... kamu benar!" sahut junior.
✉️ "Aku baru saja mendengar Nona Clarice memanggil Pak Zio dengan sebutan Papa.. ada yang tahu kenapa?"
Ketik junior di dalam grup whatsapp yang hanya terdiri dari beberapa wanita dengan jabatan menengah ke bawah.
✉️ "Aku juga! Nona Clarice berada di dalam ruangan Pak Zio sekarang.."
Balas lainnya yang berada satu lantai dengan ruangan Zio.
__ADS_1
Sontak Zahra yang tergabung dalam grup pun menatap pintu ruangan Zio. Ia pun baru saja bertegur sapa dengan Clarice. Clarice kembali mengingat jika semalam mereka berada di dalam playground yang sama, dan berlanjut dengan makan malam bersama. Bahkan Nona kecil itu menanyakan tentang Felia.
' Kini semua akan tau rumitnya kehidupan kamu, Pak Zio.. ' lirih Zahra dalam hati.
***
Sementara di dalam ruangan Zio...
Sesuai dengan rencananya, Clarice mengacak - acak ruang kerja Zio dengan di sertai berbagai pertanyaan yang membuat Zio sampai kehilangan kata - kata untuk menjawab.
"Jadi Papa itu anak buahnya Daddy?" tanya Clarice dengan polosnya. Sama sekali tidak ada niat untuk merendahkan sang Ayah kandung.
"Ya! kamu benar, Sayang!" jawab Zio dari singgasananya.
Meski ia sibuk, sepasang mata sesekali ia sempatkan untuk menatap Clarice yang tampak asyik mengacak - acak sebuah album foto perusahaan yang di cetak seperti majalah. Di dalam lembaran itu, ada profile dan visi misi perusahaan. serta di sebutkan nama dan jabatan. Dari sang pendiri perusahaan hingga para petinggi yang sedang bertugas saat ini.
"Ini foto Papa sejak kapan?' tanya Clarice melihat foto Zio dengan jas hitam dan kemeja biru muda yang membuatnya terlihat sangat gagah.
Zio terdiam untuk sesaat, setiap mengingat masa itu, sama sja dengan membuka lembaran kelam.
"Itu foto saat Papa dan Mommy masih bersama.." jawab Zio pilu dan lirih.
"Clarice belum ada?"
"Tentu saja belum, Sayang.."
Clarice manggut - manggut seolah benar - benar mengerti dengan keadaan yang terjadi pada masa itu.
Bosan dengan foto - foto yang ada di dalam majalah itu Clarice turun dari sofa dan mendekati sang Ayah yang sesekali mengecek ulang laporan dari para jajaran yang berada di bawah pengawasannya.
"Aku mau duduk dengan Papa.." pinta Clarice yang sudah berada di sisi iri Zio.
"Kemarilah.."
Zio mengangkat tubuh mungil sang gadis kecil dan meletakkan di pahanya sebelah kiri.
"Ini yang namanya bekerja?" tanya Clarice menatap layar laptop yang di penuhi kurva - kurva yang tak ia pahami sama sekali.
"Ya, Sayang... dan sebentar lagi kita akan menemui Daddy Kenzo untuk memberikan laporan ini bersama Aunty Zahra!"
"Mamanya Felia?"
"Yes, Baby..." jawab Zio.
"Papa?' panggil Clarice menatap sang Ayah dengan lekat dan serius. Bersikap seperti orang dewasa meski diri masih sangat mungil dan menggemaskan.
"Hm?" jawab Zio menoleh sang putri dengan memutus pandangannya dari layar laptop.
"Papa menikah saja dengan Mamanya Felia. Dia sangat baik. Tadi juga dia sangat ramah pada Cla.."
Zio terdiam mendengarkan permintaan Clarice yang menurutnya cukup berat juga untuk Zio wujudkan. Tentu saja Zio berfikir, akankah Zahra menerima dirinya yang memiliki masa lalu sangat suram?
Menghela nafas berat setengah kasar, "Jangan membicarakan itu dulu, ya?" pinta Zio. "Bukan suatu hal yang mudah untuk menikah, Sayang.. banyak yang harus di pertimbangkan." jawab Zio mencium pipi gembul sang anak gadis.
"Okay, Papa!" jawab Clarice.
"Papa siapkan file ini dulu, ya? setelah itu kita ke ruangan Daddy Kenzo bersama Mamanya Felia."
"Okay, Papa!"
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1