Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 53 ( Kamu Sudah Menikah? )


__ADS_3

Sabtu yang janjikan Zio lewat sambungan telepon pada seorang Dokter telah tiba. Zio melajukan mobilnya di jalan raya Ibukota saat jam menunjukkan pukul 8 pagi. Mobil putihnya berbaur dengan kendaraan yang lain, meski tidak satu tujuan. Rumah Sakit Jiwa terbesar di Ibukota menjadi tujuan utama Zio di pagi itu.


Langkah kaki telah sampai di lobby khusus penerimaan tamu atau pengunjung. Zio segera mengajukan permohonan untuk bertemu Dokter psikiater yang sedang bertugas.


Maka, ia pun bertemu dengan Dokter yang ia maksud di ruang praktik khusus sang Dokter. Ini bukan kali pertama atau kedua mereka bertemu. Tapi sudah berkali - kali.


"Bagaimana Zhika, Dok?" tanya Zio. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


Pertanyaan pembuka yang di lontarkan Zio mengawali percakapan dua laki - laki beda profesi itu.


"Beberapa hari yang lalu, Zhika mengamuk hebat, sampai kami semua kewalahan." jawab sang Dokter. "Namun setelah mengamuk, dia mendatangi pojok halaman belakang rumah sakit. Entah apa yang di lakukan di sana. Yang kami tangkap, dia seolah berbicara dengan seseorang."


Zio memicingkan mengerutkan keningnya mendengar cerita Dokter yang memakai nama dada Irwan Athatur.


"Sampai sekarang dia sering masih di sana."


Zio menatap lekat Dokter Irwan, seolah berkata, benarkah?


"Apa sebelumnya dia tidak pernah mendatangi tempat itu, Dok?"


"Tidak!" jawab cepat Sang Dokter. "Baru sejak beberapa hari lalu. Dan itu pun ia tak mau di temani siapa pun. Siapa pun yang datang pasti di minta pergi olehnya, termasuk sesama pasien. Baik secara kasar maupun terus menghindar."


"Saya khawatir, jika dia terus menyendiri dan menjauhi kami semua, justru akan membuatnya depresi akut. Mengingat dia juga melawan orang - orang yang sama seperti dia."


"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok?"


"Jika tidak keberatan, saya mohon Pak Zio bersedia untuk membujuk Zhika. Supaya tidak selalu menyendiri."


Tanpa berfikir ulang, Zio langsung menganggukkan apa yang di minta sang Dokter.


"Mari saya antar!" ucap Dokter Irwan berdiri dari duduknya. Mengarahkan Zio untuk mendatangi halaman belakang.


Langkah dua lelaki dengan usia yang tak jauh berbeda terus melangkah di lorong Rumah Sakit Jiwa. Melewati orang - orang yang memiliki kelainan jiwa yang tengah asyik dengan dunia mereka sendiri.


Bagi Zio yang sudah sering mendatangi tempat itu, tentu tidak akan merasa risih atau takut pada orang - orang seperti mereka. Apalagi adiknya sendiri berada di dalam sana.


Langkah Zio berhenti tepian halaman. Beberapa meter di sana, di pojok halaman dengan dinding pagar setinggi tiga meter, di bawah pohon besar, sosok gadis yang merupakan adik kandungnya tengah duduk menyendiri.


Dari kejauhan ia bisa melihat, jika sang adik tengah berbicara. Padahal ia tengah sendirian.

__ADS_1


Cepat - cepat Zio melangkah mendekati Zhika setelah mendapat kode dari sang Dokter. Sementara Dokter Irwan memilih untuk mengamati dari kejauhan terlebih dahulu.


"Hai, Zhika..." sapa Zio mendekati adiknya yang duduk di atas rerumputan. Ia berjongkok dengan menggunakan satu lututnya sebagai penopang tubuh selain dua kakinya.


Namun gadis berkulit putih dengan rambut hitamnya itu justru berputar, membelakangi sang kakak.


"Zhika..." panggil Zio menyentuh pundak adiknya.


Lagi - lagi Zhika tak mengindahkan panggilan sang Kakak. Ia justru seolah menyahuti pertanyaan orang lain. Meski tak ada siapapun di depannya.


Zio menunduk, ia pun tak tau harus berbuat apa. Ia sudah sering mencoba untuk membujuk sang adik agar menurut. Namun selalu gagal.


"Papa..." kata yang keluar dari bibir Zhika membuat Zio terbelalak. Menatap lekat wajah Zhika bagian kiri. Ia tak menyangka jika Zhika akan memanggil sang Papa.


"Papa..." ucapnya lagi.


Zio segera mendekat, dan kembali duduk di hadapan Zhika. Menatap lekat wajah cantik yang tak terurus dengan baik.


"Kami ingat Papa?" tanya Zio.


"Papa..." lagi - lagi hanya kata itu yang muncul dengan jelas dari bibir tipis sang adik.


"Zhika... Papa dan Mama sudah meninggal. Apa kamu seperti melihat mereka?"


"Zhika... Apa kamu suka duduk di sini karena melihat Papa ataupun Mama?" tanya Zio, "jika kamu melihat Papa ataupun Mama, itu hanya bayangan mereka. Papa dan Mama sudah meninggal. Kita hanya berdua di dunia ini. Tidak ada siapa - siapa lagi yang akan mencintai kita selain kita sendiri."


"Papa, Mama..."


Zio memejamkan matanya dalam. Sayu - sayu hatinya merasa terenyuh. Sejak adik perempuannya dinyatakan gila, baru kali ini ia mendengar sang adik menyebut Papa dan Mama nya.


"Zhika... Kita masuk ke dalam sana, ya?" ucap Zio. "Tempat ini kurang baik buat kamu."


Zhika tak menjawab. Kali ini dia hanya diam, matanya menatap lurus ke depan, dengan tatapan yang kosong.


Namun Zio mencoba untuk menarik tangan sang adik. Sedikit berat, karena Zhika menolak. Namun pada akhirnya Zhika menurut. Tubuhnya berdiri dengan tegap, kemudian mengikuti arahan sang Kakak.


Zio membawa sang adik untuk mendekati bangunan rumah sakit. Dokter Irwan yang melihat, merasa lega karena Zio berhasil membawa gadis yang sudah beberapa hari terakhir tak mau meninggalkan pojok Rumah Sakit.


Zio mengantar Zhika ke kamarnya sembari memberi nasehat. Meskipun ia tak yakin sang adik akan paham.

__ADS_1


Dengan bantuan seorang perawat wanita, Zhika di bersihkan dan di mandikan dengan baik oleh sang perawat.


"Dok, saat di sana tadi, Zhika menyebut Papa dan Mama. Sungguhlah baru kali ini saya mendengarnya."


"Anda yakin, Pak Zio?"


"Tentu!" sahut Zio cepat. "Dia mengucapkan dnegan sangat jelas."


"Saya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah ini."


Beberapa saat berlalu, setelah Zhika kembali bersih dan tertidur di kamarnya. Zio memilih untuk meninggalkan Rumah Sakit. Ia berjalan sendiri keluar dari kamar Zhika, dan kembali berjalan ke arah lobby.


Di lobby Rumah Sakit Jiwa...


"Pak Zio!" sapa seseorang dari arah pintu masuk lobby.


Zio yang berjalan menunduk karena hatinya resah akan kondisi sang adik, segera mendongak, guna melihat siapa yang menyapanya.


"Kamu!" pekik Zio melihat seorang perempuan menggandeng tangan anak perempuan berusia sekitar tiga tahun, berjalan ke arahnya.


"Apa yang Pak Zio lakukan di sini?"


"Em..." Zio bingung harus menjawab apa. Namun tak mau pula berbohong. "Menjenguk adik ku!" jawabnya kemudian.


"Adik Pak Zio ada di sini?" tanyanya.


"Emm.. iya!" jawab Zio. "Sejak ia berusia 14 tahun."


Perempuan itu mengangguk pelan, tanda mengerti.


"Kalau kamu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Zio balik.


"Oh, saya menjenguk seseorang!"


"Oh..." kini giliran Zio yang mengangguk. "Siapa dia?" tanya Zio menunjuk gadis mungil, dengan rambut di ikat menjadi dua.


"Ini anak saya! Namanya Titania Felia Putri. Panggil saja Felia!"


"Kamu sudah menikah?" tanya Zio sedikit tak percaya. Namun kenyataan di depan matanya, jelas membuktikan jika perempuan itu sudah menikah.

__ADS_1


"Bukan sudah, Pak! Tapi pernah menikah!" jawab perempuan yang tak lain adalah Zahra.


...🪴 Happy Reading 🪴...


__ADS_2