
Sepulang dari apartemen Kenzo, Zio lebih suka untuk mengajak bicara foto Naura. Memperkenalkan tentang Clarice pada Naura, meski sang istri sudah tiada.
Sebuah layar ponsel yang menunjukkan sebuah foto dirinya dengan Clarice yang sempat ia ambil sebelum berpisah, menjadi bukti, bahwa Clarice adalah nyata adanya. Ia memiliki seorang anak, darah dagingnya sendiri.
"Dia cantik seperti kamu dan Calina, Sayang..." lirihnya pilu, berbicara pada sebuah foto yang menunjukkan betapa sempurna kecantikan sang istri di semasa hidupnya.
"Namanya Clarice..." lanjutnya. "Brighta Clarice Alvaro! Ya, harusnya namanya seperti itu..." ucapnya tersenyum perih karena kenyataannya bukan itu nama aslinya.
Mengenang kembali momen lima tahun yang entah ia sedang apa saat Calina memberi nama untuk anak mereka. Yang jelas ia sudah pindah ke pedalaman jauh di sana.
Meski kecewa karena tak ada namanya di nama Clarice, setidaknya ia bersyukur tak ada nama laki - laki lain di dalam nama anaknya.
***
Keesokan harinya, sepulang dari kerja, Zio langsung melesat menuju apartemen Kenzo. Setelah Kenzo memberi tahunya, bahwa Clarice sudah memahami semuanya. Dan bersedia ikut dirinya.
Meski berat bagi Kenzo, tapi setelah jika sang sang putri tiri akan tetap menyayanginya, maka ia membiarkan Clarice untuk pergi bersama Ayah kandungnya.
Zio sendiri pun sudah mendapat izin dari Kenzo dan Calina untuk pertama kalinya membawa Cla jalan - jalan malam itu. Dan juga menginap di rumahnya.
Sepanjang ia melajukan mobilnya, Zio hanya terus tersenyum membayangkan besok untuk pertama kali pula ia akan mengantarkan Clarice berangkat ke sekolah.
Bahagia? Tentu saja!
Mobil terparkir cantik di parkiran khusus tamu di apartemen Kenzo. cepat ia melesat menuju lantai dimana apartemen Kenzo berada. Hati sudah tak sabar untuk bisa kembali memeluk buah hatinya.
Maka saat sampai di depan pintu, cepat ia menekan bel pintu, seperti yang ia lakukan kemarin siang. Dan saat pintu terbuka, ia di sambut oleh Mama Shinta yang kini kembali menatapnya dengan teduh seperti dulu. Sudah tidak ada lagi kilatan emosi seperti kemarin.
Zio sendiri sudah melupakan tragedi persatuan lima jadi dari Mama Shinta.
"Masuklah, Nak!" ucap Mama Shinta.
"Ya, Ma." jawab Zio dan langsung masuk mengikuti Mama Shinta untuk masuk ruang tamu. "Dimana Clarice, Ma?" tanya Zio langsung pada tujuannya datang ke apartemen sang bos.
"Ada," jawab Mama Shinta. "Duduklah dulu, Calina sedang menyiapkan baju dan seragam sekolah Clarice untuk di bawa. Bukankah malam ini Cla akan ikut bersama kamu?"
Tersenyum senang, "Ya, Ma! malam ini Zio akan membawa Clarice pulang ke rumah Zio."
"Jaga cucu ku baik - baik, Zi!" ujar Mama Shinta tegas.
"Memangnya ada Ayah yang tidak menjaga anaknya?" balas Zio dengan menyindir tak kalah tajam dengan cara Mama Shinta.
Bagaimana pun juga, ketika Clarice memanggilnya dengan sebutan Papa, jiwa kepemimpinan dan rasa tanggung jawab sebagai seorang Ayah, muncul begitu saja di dalam diri Zio.
Mama Shinta menyebikkan bibirnya. Karena memang apa yang di ucapkan Zio ada benarnya.
Tak lama kemudian, terdengarlah suara Clarice menuruni tangga. Sudah tak sabar untuk bertemu, Zio langsung melompat dari sofa dan masuk ke dalam ruang tengah. Di mana Clarice sudah sampai di anak tangga paling bawah.
"Hai, Cantik!" sapa Zio menekuk lutut sembari mengulurkan tangannya untuk meminta Clarice agar masuk ke dalam pelukannya.
"Hai, Papa!" jawab Clarice masuk ke dalam pelukan sang Ayah.
"Siap untuk jalan - jalan bersama Papa?"
"Ya, Pa!" jawab Clarice antusias. "Kita ke Mall ya, Pa? tapi jangan Mall sebelah! Mall yang lain!" pinta Clarice.
"Okay, Sayang! kemanapun kamu mau, Papa akan turuti!" jawab Zio tak kalah antusias dari sang anak.
"Yeay!!" seru Clarice kemudian mencium pipi Zio. Itu sudah menjadi kebiasaan gadis kecil itu untuk mencium orang tuanya.
Dan di saat itulah hati Zio bergetar. Berkata dalam hati, seperti ini rasanya menjadi Kenzo yang di cintai putrinya sejak 5 tahun lalu. Harusnya dialah yang merasakan debaran seperti sejak awal.
Namun Zio tak lagi menyalahkan Kenzo. Semua sudah terjadi, semua sudah berdamai dengan keadaan.
__ADS_1
"Mas Zio?" panggil Calina setelah Cla sudah berada di gendongan lengan kiri Zio.
"Ya?"
"Bacakan dia cerita sebelum tidur! dia suka cerita apa saja. Asal jangan lupa berikan cerita yang mempunyai nilai positif."
"Baiklah, Cal! aku tau," jawab Zio singkat. "Aku pamit dulu!"
"Ya, Mas!" jawab Calina.
"Cla tidak boleh rewel, ya?" pesan sang Ibu pada anaknya.
"Yes, Mommy! bilang pada Daddy ya, Mommy! Cla mau jalan - jalan. Dan cari Mama baru buat Cla!" seru bocah itu dengan polosnya.
Sontak semua mendelik dengan apa yang di ucapkan Clarice, terutama Zio yang sama sekali tidak menyangka jika anaknya memiliki pemikiran macam itu.
Jika Zio mendelik karena sang anak memiliki pemikiran macam itu di hari pertama bertemu. Maka Calina menatap tak percaya pada Cla yang langsung to the point dengan apa yang di ucapkan suaminya semalam.
Merasa sungkan pada Zio? Tentu saja!
Tapi apa mau di kata, bocah 5 tahun mana bisa di ajak kompromi.
Sedangkan Mama Shinta mendelik mendengar ucapan Clarice. Bagaimana mungkin gadis itu mengerti akan hal itu?
Tapi kalimat seperti itu tidak akan keluar jika tidak karena orang tuanya membicarakan hal itu.
Sontak Mama Shinta menatap tajam pada anak tunggalnya, yang seketika tika tersenyum kikuk.
"Mama baru?" tanya Zio pada Clarice.
"Ya!" jawab Clarice dengan polosnya. "Daddy dan Mommy bilang, kalau Mama yang seharusnya menjadi Mama Clarice sudah meninggal. Jadi seharusnya Papa cari Mama baru buat Cla!" ujar Cla lagi - lagi dengan nada yang menggemaskan.
Zio tersenyum lirih, "Kita lihat nanti ya, Sayang?" ucap Zio, kemudian melirik Calina dengan tatapan aneh.
Memang tidak salah jika Calina menceritakan itu semua, hanya saja tidak menyangka akan secepat itu Clarice mengetahui semuanya.
Calina pun tersenyum kikuk saat mendapat tatapan aneh dari Zio. Untungnya Zio tak terlalu ambil pusing.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Zio.
"Yes, Daddy!' seru Cla mengangkat tangan ke udara, "Ups! Yes, Papa!" serunya lagi karena merasa salah menyebut panggilan. "Sorry..." ucap Cla sembari menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan mungilnya.
Zio hanya bisa tersenyum gamang dan getir mendengar permintaan maaf Clarice. Dalam hati kecilnya sungguh menyesali keadaan itu. Tapi semua sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur. Mau tak mau ia harus menjadi orang terakhir yang memasuki sebuah circle. Dimana diri pasti merasa tak terlalu di anggap.
Ia hanya perlu beradaptasi dengan kebiasaan Clarice. Agar gadis itu tak salah sebut panggilan untuk dirinya lagi.
Karena jika dipikir, Ayah mana yang rela cintanya di duakan sang anak. Mengantar anak ke pelaminan saja, terkadang mereka harus menangis terlebih dahulu.
"Maafkan Clarice, Mas..." pinta Calina dengan penuh harap.
"Aku tau..." jawab Zio tanpa menoleh pada Calina.
Dengan menggendong Clarice di lengan kirinya, dan satu koper kecil milik Clarice di tangan kanannya, Zio pergi meninggalkan apartemen Kenzo.
Meninggalkan Calina yang seketika meneteskan air matanya begitu Zio dan Clarice menghilang di balik pintu utama apartemen.
"Sudahlah, Cal... Zio juga berhak atas Clarice, begitu dengan sebaliknya." hibur Mama Shinta.
"Calina tau, Ma..." jawab Calina segera membalikkan badannya, dan memilih untuk naik ke lantai dua, Memasuki kamarnya dimana ada Galen Ray Adhitama yang sedang terlelap. Anak keduanya dari suami kedua.
***
Zio mendudukkan Clarice di kursi penumpang bagian depan. Kemudian ia meletakkan koper kecil milik Clarice di bagasi mobil.
__ADS_1
"Baiklah, Tuan Putri... kemana tujuan pertama kita?" tanya Zio yang sudah duduk di balik kemudinya.
"Ke Mall, Pa! Cla mau bermain di playground!" seru Clarice.
"Baiklah, ayo!" jawab Zio yang sudah berjanji tak akan menolak permintaan apapun yang di inginkan sang buah hati.
Maka mobil putih pun melaju di antara kendaraan yang lain. Sesuai request, maka ia akan membawa Clarice ke Mall yang lumayan jauh dari apartemen Kenzo.
***
"Jam berapa Zio menjemput Clarice?" tanya Kenzo yang baru saja tiba di apartemen.
"Sekitar 15 menit yang lalu, Mas.." jawab Calina lirih.
"Kamu sedih?" tanya Kenzo pada Calina yang tampak tak bersemangat.
"Aku hanya tidak terbiasa tidak melihat Clarice tidak ada di rumah, Mas... rasanya sangat aneh."
"Aku tau, Sayang! tapi bagaimana pun semua ini memang harus terjadi," ucap Kenzo sembari melepas jas kerjanya. "Zio berhak atas Clarice."
"Kamu tidak keberatan, Mas?"
"Kalau di tanya keberatan atu tidak, maka jawaban yang jujur adalah IYA! Tapi lagi - lagi logika tetap harus bekerja, bukan? semua akan semakin buruk kalau kita menjauhkan Cla dari Ayah kandungnya." jawab Kenzo kini duduk di samping Calina mendekap pundak sang istri.
"Kamu benar, Mas... Untung di rumah masih ada Galen..." lirihnya menatap Galen di atas tempat tidur.
***
Kini Zio dan Clarice sudah berada di dalam Mall. Dan lokasi pertama yang mereka tuju, tentu saja playground. Dimana anak - anak bisa puas bermain dengan aman di dalam sana walaupun tanpa penjagaan orang tua.
Meski begitu, Zio tetap memilih untuk ikut memasuki playground. Demi bisa bermain dan tertawa bersama sang gadis kecil. Ia harus terus membangun chemistry, mengingat mereka bertemu di usia anak itu yang sudah lima tahun.
"Papa! Terima ini!"
Clarice melempar bola kecil ke arah Zio, namun karena saking kencangnya Clarice melempar bola, bukannya di terima oleh Zio. Bola itu justru melewati tubuh Zio dan mendarat tepat di punggung seorang wanita yang sedang menemani anak perempuan nya bermain di dalam playground juga.
"Auw!" lirih wanita itu, namun ia tak ambil pusing. Karena paham yang melempar sudah pasti anak - anak.
"Maaf!" ujar Zio mendekati wanita itu. "Anakku tidak sengaja melempar terlalu kencang."
Wanita yang merasa di ajak bicara oleh Zio pun menoleh kebelakang, "Tidak apa - apa, Pak.." ucap wanita itu lembut.
Dan saat wanita itu menoleh, maka yang terjadi adalah...
kedua orang itu membeku dan terbelalak. Seolah tengah berada di ruang freezer berukuran raksasa.
Tak menyangka jika ternyata keduanya saling mengenali satu sama lain. Dan berada di tempat yang sama sekali tidak di janjikan.
"Zahra..." pekik Zio dengan tenggorokan yang nyaris tercekat.
"Pak Zio!" pekik Zahra.
Zahra yang ingat jika Zio tak memiliki anak pin sontak melihat sekitar. Yang mana anak GM nya itu?
Dan sorot mata hanya menemukan seorang gadis yang sangat ia kenali tengah berdiri menghadap Zio. Dan semakin terperangah, saat...
"Papa! Ayo ambil bolanya!"
Teriak Clarice menatap Zio. Ya, hanya Zio laki - laki yang ada di depan anak itu.
Saking bingungnya, Zahra pun menoleh Zio...
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1