Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 166 ( DUFAN 3 )


__ADS_3

Di dalam rumah hantu yang di beri nama The Conjuring House, Clarice dan Hanna saling bergandengan tangan satu sama lain. Sama-sama merasa bukan kekasih dari dua lelaki yang ada di depan dan belakang mereka, tentu keduanya memilih untuk memeluk satu sama lain.


Dari pada memeluk Arsen, yang di anggap oleh mereka jika gadis cantik di luar sana adalah kekasihnya. Tentu tak enak hati untuk memeluk sang pemuda.


Memeluk Vino?


Secara normal, Hanna memang ingin memeluk pemuda itu. Karena sejak kelas X dulu ia sudah tertarik pada sang pemuda. Apalagi keduanya sama-sama berasal dari siswa berprestasi non akademik. Membuatnya sering bertemu di kelas, maupun di ruang meeting.


Hanya saja ia merasa tidak bisa semudah itu mengutarakan apa yang di rasakan. Dan hebatnya, semua rasa itu ia simpan tanpa ada yang tau jika ia memendam rasa sedemikian dalam pada sang Atlit, melampaui Clarice.


Bahkan Clarice sendiri tidak pernah ia beri tau jika ia menyukai salah satu murid laki-laki di kelas, yang sesungguhnya di sukai pula oleh Clarice pada masanya.


Bayangkan jika salah satu cerita terlebih dahulu, apa yang akan terjadi? Jika tidak erat dalam persahabatan bisa di pastikan akan saling menjauh, bukan?


Sedangkan Clarice, memang gadis cantik satu ini berusaha sebisa mungkin untuk tidak memeluk laki-laki. Tidak pernah hilang dalam ingatan, betapa ia merasa bersalah ketika di marahi oleh sang Ibu karena berpelukan dengan pemuda yang kini ada di depannya di kolam renang.


Tapi ketika semakin jauh langkah ke empat anak muda itu memasuki rumah hantu, maka nuansa yang di hadirkan semakin menyeramkan. Apalagi keduanya belum pernah memasuki wahana uji nyali satu ini.


Dan tokoh hantu utama dari film The Conjuring 2 itu akhirnya muncul di ruang yang teramat tidak terduga oleh Cla dan Hanna. Tanpa tanda-tanda, hanya suara seram yang terdengar, k etika hantu satu ini muncul.


Hingga tanpa di harapkan, keduanya porak poranda dengan sendirinya. Keduanya sampai berputar di tempat, sebelum akhirnya berlari ke sembarang arah hingga tangan keduanya terlepas begitu saja di ruang yang teramat gelap, dengan sangat-sangat minim cahaya.


Keduanya sampai di ruang yang teramat gelap, tanpa tau jalan untuk lanjut ke ruang selanjutnya. Membalikkan badan, yang terdengar justru suara seram berasal dari arah tadi keduanya berasal, di sertai dengan kelebat asing. Membuat keduanya kembali terpencar dan tak lagi berada di daerah yang sama.


"AAAA!" jerit Hanna dan Clarice terdengar tak jauh berbeda untuk oktaf kepanikan.


"Hann?" panggil Cla sambil menutup mata.


"Cla? Kamu di mana?"


Keduanya bisa saling memanggil dan mendengar, tapi tidak tau kemana harus melangkah untuk bisa menemukan satu sama lain.


Wuusss.....


Suara tiupan angin terasa di sisi kiri Clarice. Tentu saja membuat sang gadis semakin teriak histeris.


"AAAAAA!!!!"


Clarice berteriak sembari menutup matanya, dan kedua telapak tangan menutup telinga. Menghindari desiran angin itu kembali terasa di sisi tubuhnya.


Di tengah kepanikan, tiba-tiba saja tubuh sang gadis yang hendak berlari ke sembarang arah justru menabrak sesuatu. Karena gelap, tentu sang gadis tidak tau jika ia akan menabrak sesuatu, apalagi ia berlari sambil menutup mata.


Namun sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran, ia sungguh dapat memperkirakan jika yang ia tabrak adalah tubuh manusia.


Hanya saja... apakah itu tubuh manusia, atau...."


"AAAAA!!!!" jerit Clarice ketika menganggap tubuh yang ia tabrak adalah sosok hantu jadi-jadian yang sedang mengejar dirinya. Hendak mundur dan menghindar, ternyata tubuh itu justru menariknya ke dalam dekapan.


Alih-alih semakin takut, justru setelah ia menjerit, seketika rasa takut seperti berangsur luruh. Ketika tiba-tiba tangan dari pemilik tubuh melingkar di punggungnya dengan hangat dan terasa seperti tengah melindungi dirinya. Mendekap semakin erat, bahkan seolah meminta Cla untuk merebahkan kepala di bahunya.


Dan Cla hanya bisa mengikuti langkah sosok yang masih memeluknya itu untuk bergeser dari posisi awal. Cla menurut tanpa menimbulkan suara apapun. Seolah yakin jika yang memeluknya adalah orang yang baik, tapi siapa?


Yang terdengar saat ini hanyalah suara-suara menyeramkan yang muncul dari sound-sound kecil yang bertebaran di ruangan itu. Dan sesekali hantu samaran berseliweran, tapi sama sekali tidak membuat Arsen takut atau panik.


Di tengah ketakutan, di tengah kepanikan, suara yang teramat lembut terdengar begitu menyejukkan hatinya.


"Ini aku...."

__ADS_1


Suara berbisik yang sangat lirih itu hanya bisa di dengar oleh Clarice yang masih menutup matanya. Dan suara ini, suara lembut ini, ia sangat tau dan mengenali suara ini. Suara ini adalah suara yang ia rindukan selama hampir dua tahun lamanya.


Dan itu membuat aliran darah di dalam tubuhnya seolah berhenti. Bahkan nafasnya pun sempat terhenti sesaat, untuk memastikan ia tidak salah dengar. Kemudian tersengal tak beraturan saat mencium bau parfum yang sempat ia hirup ketika duduk di anak tangga.


Clarice membuka matanya, menamatkan pandang pada sosok yang tak terlihat di hadapan. Tangannya yang menutup telinga terlepas, dan dengan gerakan yang sangat pelan, tangan kanan Clarice bergerak mengarah pada pundak orang itu.


Karena berada di dalam dekapan sang seorang laki-laki, Clarice tak bisa bergerak dengan leluasa. Posisi wajahnya menghadap leher pemuda itu, karena tinggi badan yang berbeda.


Tangan Clarice meraba leher orang yang memeluknya, kemudian merambat ke atas secara perlahan. Dan berhenti di pipi kiri sang pemuda.


"Arsen...?" panggil Clarice sangat lirih dan hanya bisa di dengar oleh keduanya.


"Hmm?" sahut Arsen dengan sangat lirih pula.


"Benar kamu, atau... hantu?" jantung Clarice masih seperti di pompa cepat saat ini.


"Ini aku, Cla... Arsen..." bisiknya dengan sangat dekat dengan telinga Clarice. Meyakinkan sang gadis jika ia tidak salah lagi. Dan itu membuat desiran darah di dalam tubuh terasa aneh bagi sang gadis jelita.


Dada Clarice naik turun karena nafasnya seketika tersengal begitu yakin siapa yang sedang memeluknya di dalam gelap seperti ini. Ingin berbahagia, tapi takut ini hanya mimpi, atau hanya akan terjadi untuk saat ini. Dan akan berakhir setelah semua keluar dari wahana gelap ini. Kemudian menjadi Arsen yang sangat dingin.


Tubuh ini, posisi ini, pernah mereka lakukan pada satu waktu di dalam kolam renang. Ketika Arsen berhasil menekan rasa trauma hampir dua tahun yang lalu. Meski harus berakhir dengan kemarahan Mommy Calina.


Tapi saat ini... momen ini adalah momen yang di rindukan oleh sang gadis yang sudah lama tidak di beri perlakuan hangat oleh sang pemuda.


"Tidak perlu takut... semua ini hanya tipuan..." bisik Arsen dengan sedikit menunduk ke bawah. Tentu ia tau seperti apa posisi keduanya saat ini. Tentu ia bisa mengira setinggi apa Clarice saat ini.


"Tapi..." Clarice menggantung kalimatnya. Bibirnya seolah tak sanggup untuk mengatakan apapun juga.


Akibat rasa tidak percaya karena benar-benar di peluk oleh seorang Arsenio Wilson. Tangan yang semula meraba pipi sang pemuda, kini sudah turun dan melingkar di tubuh Arsen. Jari tangannya mengunci tepat di punggung bagian bawah sang pembalap. Membuat momen pelukan itu semakin erat, tanpa celah.


Kini tanpa peduli dengan penjaga monitor CCTV yang sedang bekerja entah di bagian ruang yang mana, Arsen dan Clarice berpelukan erat, sangat erat. Untuk sesaat mereka tidak peduli jika aksi keduanya kali ini akan di rekam oleh penjaga CCTV, atau bahkan di viral kan sekalipun.


Keduanya memilih untuk tidak peduli. Karena belum tentu setelah ini mereka akan kembali memiliki kesempatan semacam ini.


Clarice merebahkan kepalanya di pundak sang pemuda dengan mata tertutup, wajahnya menghadap leher kanan Arsen. Meluruhkan semua rasa takut akan kegelapan, juga hantu jadi-jadian yang seperti terus saja mengejarnya. Hingga Arsen dapat merasakan nafas Clarice yang tersengal karena takut, juga dapat merasakan dada Clarice yang kembang kempis karena rasa takut yang di alami sang gadis.


Arsen mengusap punggung dan rambut bagian kepala belakang Clarice dengan lembut. "Kita cari jalan keluar..." bisiknya lagi terdengar sangat menenangkan dan meyakinkan.


Dan Clarice yang masih memejamkan mata di pundaknya, mau tak mau harus mengangguk, dan mengakhiri momen yang masih sangat nyaman untuk ia nikmati. Hanya saja kenapa harus terjadi di tempat dan waktu seperti ini?


Kenapa tidak di tempat yang sangat nyaman dan syahdu. Di pantai yang sepi misalnya...


Ah! Anak muda memang banyak yang di inginkan.


Momen singkat yang terasa lama akibat semua terjadi bagai gerakan slow motion itu harus berakhir, karena keduanya mulai sadar jika tidak seharusnya mereka mencuri kesempatan untuk berpelukan di tempat seperti ini. Karena meski gelap, tetap saja ada mata yang mengawasi melalui kamera tersembunyi yang bekerja dalam diam.


Kalau benar di viral kan oleh penjaga CCTV pun, belum tentu keduanya akan sanggup menghadapi tutur nasehat dari kedua orang tua masing-masing.


***


"Vin?" panggil Hanna ketika mendengar suara Vino memanggil namanya dan nama Clarice bergantian.


"Han?" panggil Vino menemukan Hanna di antara gelap yang hanya disinari oleh cahaya merah kecil yang menyorot tajam.


"Vin! dimana jalan keluar?" Hanna meringsek pada Vino dan mengajak pemuda itu untuk keluar dari ruangan yang seolah mengunci dirinya dalam ketakutan. Apalagi banyak manekin seperti mayat yang seolah bangun dengan sendirinya.


"Di mana Cla?" tanya Vino mengabaikan ajakan Hanna untuk segera keluar.

__ADS_1


"Aku tidak tau, Vin! kami terpencar arah! AAAA!" teriak Hanna ketika kembali melihat sesuatu berkelebat di belakang Vino.


"Ayo, keluar, Vin! Mungkin Cla sudah bersama Arsen!" seru Hanna menarik lengan Vino dengan paksa untuk segera mencari jalan keluar.


Hanna dan Vino tentu tidak tau di mana keberadaan Arsen dan Clarice, karena Arsen yang sengaja menggeser posisi awal Cla supaya tidak semudah itu di temukan oleh Vino yang di yakini sang pembalap pasti mencari keberadaan Clarice.


Arsen pun sempat mendengar ketika Vino memanggil nama Clarice. Dan itu membuat sang pemuda memilih untuk bergerak cepat.


"Ayo!"


Akhirnya Vino mengiyakan ajakan Hanna untuk segera keluar dan meninggalkan ruangan yang minim pencahayaan itu. Karena semakin lama akan terasa semakin pengap karena tidak terbiasa.


***


Kali ini Cla dan Arsen berjalan berdua mencari pintu keluar, dengan Cla yang memeluk lengan Arsen. Kepala ia tekuk ke lengan pemuda itu untuk menutup mata dan menghindari melihat kejutan-kejutan dari hantu apapun yang selanjutnya akan muncul.


Arsen rupanya lebih cepat untuk bisa menemukan jalan keluar. Sehingga ia bawa Clarice dalam pelukan untuk bergerak lebih cepat.


Tidak bermaksud mencurangi Vino dengan sengaja membawa Clarice menjauh dari sang Atlit. Hanya saja Arsen sendiri merindukan harum lembut sang gadis yang sudah lama tak ia hirup dengan posisi sedekat ini.


Dan sampailah kedua anak muda di pintu keluar dengan Clarice yang berteriak kencang. Dan saat berhasil di luar pintu, Clarice tertawa lepas. Menertawai ketakutannya sendiri selama di dalam sana.


Tanpa melihat Arsen, sang gadis terlihat bernafas lega dengan bibir yang tertawa pelan menghadap pada antrian yang ada di depan pintu masuk. Dan ia sudah tidak menemukan sisa temannya yang tadi berada di kloter belakangnya.


Puas mengekspresikan rasa leganya, Clarice kembali menoleh pada pintu keluar yang masih tertutup. Pintu yang masih menjebak Hanna dan Vino di dalam sana.


kemudian matanya menoleh ke sisi kanan. Di mana, di sana ada sosok yang kini terbukti benar, seorang Arsenio Wilson. Sinar matahari menerpa sendu pada wajah tampan yang selalu terlihat memukau apapun keadaannya.


Pemuda itu berdiri dengan santai. Dan sejak mereka keluar, ia hanya menatap pada Clarice yang merasa lega dengan apa yang baru saja mereka lewati.


Dua sorot mata mereka bertemu, beradu dalam satu garis lurus yang membuat jantung keduanya semakin berdetak kencang.


Kembali terlintas di dalam ingatan masing-masing akan apa yang baru saja terjadi di dalam sana. Sebuah pelukan


yang dulu juga pernah mereka lakukan tanpa sadar. Dan itu kembali terulang, tanpa ada yang akan memarahinya.


Karena dua Ibu masing-masing tidak ada yang tau. Dan kini keduanya memilih untuk tidak peduli dengan CCTV yang mungkin merekam pelukan mereka.


Sebuah pelukan hangat yang sesungguhnya terdapat rasa ingin di dalamnya. Rasa ingin untuk memeluk satu sama lain dalam waktu yang cukup lama.


Clarice menatap Arsen dengan lirih dan rindu, kemudian tersenyum tipis pada sang pembalap. Sedangkan Arsen tersenyum lirih menatap Clarice.


Belum puas keduanya senang mengingat apa yang terjadi barusan, pintu keluar terbuka secara tiba-tiba. Hanna dan Vino keluar dari dalam sana dengan gerakan Hanna yang seperti melompat buru-buru.


"Hah! Akhirnya!" seru Hanna merasa lega bisa keluar dari rumah hantu itu.


"Kalian lama sekali!" ujar Clarice terkekeh melihat ekspresi Hanna.


"Kalian yang terlalu cepat!" sahut Hanna dengan canda tawa.


Berbeda dengan dua gadis yang saling melempar ejekan, dua anak muda justru saling tatap dengan kilat emosi yang sama-sama terbakar di dalam dada.


Vino ingin sekali rasanya meninju wajah tampan Arsen yang melempar senyum culas pada dirinya.


Tapi keduanya terpaksa harus menahan semua itu ketika berada di depan siapapun juga. Terutama sang pemeran utama, Clarice.


...🪴 Bersambung ... 🪴...

__ADS_1


__ADS_2