
Orang tua Clarice dan orang tua Arsen telah tiba lebih dulu di banding dengan orang tua Zuria. Dan dua keluarga yang sudah datang langsung mengambil tempat duduk sendiri-sendiri.
Dengan sengaja Daddy Kenzo mengambil sofa yang bisa membuat dirinya menghadap langsung pada sang pem-bully putri dan istrinya. Maka kali ini saatnya ia beraksi dengan dengan segala kekuasaan yang ia miliki.
Padahal untuk sekelas Kenzo Adhitama tanpa melakukan apapun, dengan berdirinya ia di dalam ruangan itu sudah membuat lawannya mati kutu. Apalagi jika di tatap seperti ini. Belum lagi lawannya hanyalah anak SMA yang baru 17 tahun. Di mana kehidupan mereka masih di penuhi dengan gaya dan sok yes.
Beruntung bagi Kenzo, pem-bully istrinya adalah anak Afrizal, seorang pengusaha yang sahamnya berasal dari para pengusaha besar. Jika saja Zuria anak Jonathan Wilson, mungkin ia tidak bisa melakukan penekanan melalui tatapan semacam ini. Karena mereka sama kuat dan memiliki nama yang sama besar di Ibukota.
Saat Daddy Kenzo membaca apa yang di kirimkan oleh Venom, bibir tipisnya tersenyum sinis, nyaris tak terlihat. Dan sorot matanya melirik Zuria dengan tatapan bak singa yang mengintai mangsanya.
Daddy Kenzo tentu tau jika Zuria bukanlah tandingannya. Gadis itu hanya terbawa oleh emosi yang menggebu dan pemikiran yang belum stabil. Kemudian membanggakan harta orang tuanya.
Saat sedang menatap Zuria dengan tatapan yang membuat Mommy Calina berulang kali menoleh pada sang suami, pintu kembali di ketuk oleh seseorang yang baru datang. Inilah yang harus di hadapi Kenzo. Langsung pada akarnya.
"Silahkan masuk, Tuan Afrizal dan Nyonya Afrizal!" ucap Mr. Faiz yang membuka pintu ruang BK dan mendengar kamat maaf dari tamu terakhir yang di undang secara mendadak hari itu.
"Terima kasih, Sir.." jawab Afrizal dan sang istri bersamaan.
Sepasang suami istri itu melihat pada seisi ruangan. Dan dapat ia lihat, anak-anak yang tadi adu mulut dengan putrinya kini sudah bersama orang tua masing-masing.
Dan kini ia tau secara nyata, mana yang namanya Kenzo Adhitama. Anak pengusaha kaya raya yang sudah di nobatkan untuk melanjutkan gurita bisnis Adhitama Group. Anak Tuan Adhitama yang menjadi salah satu penanam modal terbesar di perusahaan yang ia bangun.
Meski selama ini ia hanya melakukan pertemuan dengan Venom, atau langsung pada Tuan Adhitama yang memang masih terjun di balik layar sesekali.
Kini masuklah sepasang suami istri yang belum apa-apa jantungnya sudah berdetak kencang, bagai baru saja di sambar petir dengan kecepatan cahaya yang mampu menumbangkan pohon besar sekalipun.
Berdiri di antara tamu yang ada, yang pertama kali di lakukan Afrizal adalah menyapa teman kuliahnya, Nathan dan istrinya. Yang mana mereka sudah duduk besama Arsen. Pemuda yang ia ketahui di sukai oleh anaknya. Berulang kali sang putri meminta untuk di jodohkan dengan pemuda tersebut.
Namun Afrizal masih sangat ragu. Mengingat Jonathan bukan berasal dari sembarang keluarga. Meski ia berteman, tapi tidak menutup kemungkinan jika Afrizal dan istrinya akan menolak permintaan perjodohan yang ingin ia ajukan.
Apalagi JOnathan dan istrinya termasuk orang tua yang membebaskan putranya untuk berekspresi dan mendalami passion masing-masing. Tidak terkecuali mencari pasangan sendiri. Siapapun yang di cintai putranya pasti akan mereka restui, kalimat Jonathan yang pernah di dengar oleh Afrizal.
Maka keinginan sang putri yang ia sayangi itu, masih tetap menjadi sekedar keinginan yang sulit ia wujudkan meski ia pernah memberi harapan pada sang putri.
"Nathan?" sapa Afrizal pada sang sahabat.
"Hemm..." Nathan mengangguk dengan seulas senyuman datar. Sedikit banyak orang ini ikut ambil bagian dalam keadaan yang membuatnya harus membubarkan rapat mingguan.
"Selamat siang, Tuan Kenzo Adhitama..." sapa Afrizal pada sang CEO yang duduk bersama keluarganya dengan ekspresi wajah dingin dan datarnya.
Dan ketika Afrizal menyapanya, maka Kenzo hanya mengangguk dingin satu kali, tanpa ada senyuman yang ia terbitkan. Justru aura seram dan mencekam yang ia tunjukkan pada sang pengusaha ekspedisi dan taxi.
Afrizal dan istrinya saling melempar tatap untuk sesaat. Keduanya paham apa yang ada di dalam benak satu sama lain.
Bersiaplah untuk masa depan yang mungkin akan berbeda... Sedikit banyak itulah yang ada di dalam pikiran mereka.
__ADS_1
"Silahkan duduk, Tuan Afrizal..." ucap Mrs. Maria yang juga bangkit dai kursinya dan ikut bergabung duduk di sofa single.
Begitu pula yang di lakuan oleh Mr. Faiz. Sang guru olah raga duduk di dekat meja monitor CCTV. Guna untuk menunjukkan kembali bukti pertengkaran jika memang di butuhkan.
Afrizal dan istrinya mengikuti yang lain. Yaitu duduk mendampingi sang putri. Dan menempatkan Zuria untuk duduk di tengah.
"Sebelum kita mulai membahas kasus yang menimpa anak-anak kita, perkenalkan, nama saya Faiz, saya menjabat sebagai guru olah raga di sekolah ini. Dan saya juga biasa mendampingi Mrs. Maria untuk menyelesaikan kasus yang menimpa anak-anak." ucap Mr. Faiz dengan menunjuk Mrs. Maria sang guru BK.
"Untuk itu saya mewakili Mrs. Maria dan seluruh jajaran guru serta kepala sekolah, saya sampaikan... selamat siang kepada Tuan Kenzo dan Nyonya, Tuan Jonathan dan Nyonya, juga Tuan Afrizal dan Nyonya." ucap Mr. Faiz membuka musyawarah.
"Siang..." balas Nathan yang memang terlihat cukup ramah dengan siapa saja.
Sedangkan Kenzo mengeluarkan satu desisan yang nyaris tak terdengar oleh mereka semua, "Hmm..." gumamnya.
Sedangkan Afrizal, pria itu mengangguk beberapa kali. Dia sungguh merasa jika dirinya yang akan menjadi pesakitan disini. Maka ia tak bisa untuk terlalu banyak tingkah hari ini.
Dan untuk para Nyonya, tentulah mereka menjawab dengan lengkap dan sopan, "Siang juga, Mr. Faiz!" jawab ketiganya bersamaan.
Menghela nafas berat, Mrs. Maria mulai untuk menyampaikan tujuannya memanggil ketiga pasang orang tua murid.
"Sebagai guru, tentu kami berharap tidak ada murid yang berselisih paham, ataupun saling beradu di lingkungan sekolah," ucapnya. "Untuk itu Alexander International School memasang CCTV di seluruh area seolah, demi menghindari kasus bullying dan sebagainya. Bahkan di setiap pintu kelas memiliki CCTV demi menghindari kasus yang tidak di inginkan, seperti pencurian dan sebagainya. Untuk itu anak kelas lain, di larang keras untuk memasuki kelas yang bukan kelasnya selain atas izin guru kelas.
"Dan apa yang terjadi di kantin siang ini, terpantau oleh kami melalui CCTV, ketika saya melihat Clarice menyiram wajah Zuria dengan jus," lanjut Mrs. Maria. "Untuk itu saya langsung memutar ulang video menggunakan speaker nya sekaligus. Saya yakin ada masalah yang tidak mungkin mereka selesaikan berdua saat itu juga. Karena tidak mungkin seseorang menyiram muka orang lain tanpa alasan, kami langsung mendatangi kantin. dan sampailah kita semua berkumpul di sini." ucap sang guru BK dengan sangat hati-hati.
"Tapi sekali lagi kami mengingatkan, jika membuat keributan di sekolah adalah kesalahan berat. Dan itu artinya hukumannya juga bukan hukuman yang ringan..." ujar Mrs. Maria.
"Aku rasa pembuat masalah harus mendapat hukuman yang lebih berat!" tandas Daddy Kenzo menatap dingin pada Zuria dan orang tuanya yang duduk dengan tegang.
"Maaf jika Tuan Kenzo, menganggap anak saya sebagai pembuat onar," ucap Afrizal. "Saya sadar dan tau jika putri saya yang mendatangi Nona Clarice lebih dulu, dan masalah muncul dari situ. Dan saya akan memberi nasehat akan hal itu kepada putri saya..." lanjutnya.
"Lantas?" tanya Kenzo dingin.
Sebagai CEO yang pandai membaca gerak tubuh, Kenzo tau bukan ini yang di maksudkan oleh Afrizal. Tapi ada sesuatu yang ingin ia ucapkan.
"Nona Clarice menyiram muka anak saya lebih dulu. Bukankah itu juga kesalahan yang besar, Tuan?" tanya Afrizal yang tak ingin sang putri di anggap memiliki salah terbesar. Sebagi Ayah ia memang berusaha membela sang putri, Meskipun kali ini ia tau jika semua itu akan sia-saia.
"Kamu tau?" tanya Kenzo. "Air tidak akan mendidik jika tidak di masak menggunakan api?" tanya Kenzo dengan ekspresi wajah dinginnya.
Semua diam mendengar peribahasa yang sedang coba di jelaskan oleh seorang Kenzo Adhitama. Bahkan sang guru sendiri tidak berani menyela untuk saat ini.
"Dan anakku tidak akan menyiram wajah anakmu, jika anak mu hanya diam tanpa memercikkan api!" lanjut Kenzo dengan suara seperti seseorang tengah berbisik.
Afrizal menarik nafas panjang. Ia memang sudah tau akan kalah sejak awal. Tapi melihat sang putri di hukum berat seorang diri rasanya juga tidak akan tega. Apalagi Zuria adalah anak gadis satu-satunya yang sangat ia sayangi.
Apa yang di ucapkan Kenzo memang ada benarnya, dan itu membuat Mommy Zuria menunduk dalam. Ia tau, tidak akan semudah itu keduanya berani mendebat Kenzo.
__ADS_1
"Maaf, saya menyela! Sebagai guru, kami tidak ingin masalah remaja yang sebenarnya sangat sepele ini terus berlanjut." ucap Mr. Faiz. "Kami harap kita semua bisa mendamaikan anak-anak kita."
"Dan tentunya mereka akan tetap mendapatkan sanksi akibat dari semua ini."
"Saya harap pihak sekolah akan memberikan hukuman yang setimpal dan seadil-adilnya." pinta Afrizal membuat Kenzo kembali mendelik dan menatap tajam pada Afrizal.
"Dan saya rasa anak saya tidak terlalu bersalah di sini..." sahut Jonathan. "Semoga anak saya juga mendapat keadilan."
"Tapi dia yang membuat saya kesal, Om!" seru Zuria.
"Soal kekesalan kamu terhadap Arsen itu adalah urusan kamu dan perasaan kamu, Zuria..." jawab Papa Nathan dengan bijak.
"Banyak orang menganggap postingan Arsen kemarin adalah hal lumrah. Dan hanya perasaan kamu saja yang merasa bermasalah postingan itu." lanjut Jonathan.
"Apa Om tidak tau kenapa saya sampai marah dengan postingan Arsen?" tanya Zuria memelas.
"Om tau... Om tau apa yang sesungguhnya kamu rasakan pada Arsen. Tapi saya bukan tipe orang tua yang mengekang anaknya. Saya biarkan Arsen berkelana dengan perasaannya selma masih di batas wajar. Om biarkan Arsen mendekati siapapun yang ia ingin dekati. Asal jangan menyakiti gadis yang sedang bersamanya..." lanjut Jonathan.
"Gadis yang bersamanya dalam hal ini adalah, gadis yang berstatus sebagai kekasihnya. Bukan sekedar teman dekat, atau bahkan Kakak kelas sekalipun..." jelas Nathan membuat Zuria bungkam seribu bahasa.
"Hukuman memang akan di berikan seadil-adilnya, Tuan. Dan kami sebagai guru BK sudah menentukan...." ucap Mrs. Maria dengan nada yang cukup terdengar mencekam di telinga para siswa yang sedang bermasalah. "Mohon untuk tidak ada yang menyela terlebih dahulu sampai saya selesai membacakan hukuman untuk anak-anak."
Semua yang ada di ruang BK menatap Mrs. Maria dengan penuh tanda tanya. Semua menatap tegang dan penuh harap agar anak mereka tidak di hukum yang berat.
"Zuria Agatha, siswi kelas XII-IPS 2, di berikan sanksi berupa skors selama... 4 hari." ucap Mrs. Maria. "Brighta Clarice Agasta, siswi kelas X-3, di berikan sanksi skors selama 2 hari. Dan Arsenio Wilson, dari kelas yang sama di berikan skors sebanyak 1 hari."
"Tidak bisa begitu, Mrs. Maria!" sahut Zuria dengan nafas terengah, dan mata melihat sang guru dengan tegas, meski masih menyimpan rasa takut.
"Saya tidak terima dengan hukuman yang di jatuhkan untuk saya sebanyak dua kali lipat dari Clarice!" lanjut Zuria. "Dia juga bersalah karena menyiram wajah saya, Mrs!"
"Itu sudah adil! pembuat masalah memang harus di hukum lebih berat!" sahut Kenzo datar.
"Tapi saya tidak terima, saya di skors sampai 4 hari, Tuan! Lusa adalah ujian tengah semester! Itu artinya saya tidak bisa mengikuti ujian!" ucap Zuria pada Kenzo dengan nada setengah membentak.
"Harusnya Clarice juga sama seperti saya! Karena membuat saya jadi kotor begini!"
Cara Zuria menyampaikan protesnya membuat Kenzo yang semula menganggap masalah ini santai, seketika menarik nafas panjang. Darah panas mulai naik ke kepala. Seumur hidup baru kali ini ada anak remaja yang meneriaki dirinya.
' Berani sekali bocah ini meneriaki aku di hadapan banyak orang... Siapa kamu berani meneriaki aku, hah? '
Kenzo menyeringai kejam. Dia sangat tidak suka membuang waktu untuk masalah yang sesungguhnya bisa di buat mudah.
' Baiklah... Game is on...'
...🪴 Bersambung ... 🪴...
__ADS_1