
"Aku... Aku hanya..."
Clarice tergagu ketika Arsen mencercanya dengan beberapa pertanyaan yang sulit untuk di jawab. Tidak mungkin juga kan, jika ia menceritakan pada Arsen, bahwa sesungguhnya ia mengidolakan sosok Malvino Lubis sejak pertama kali bertemu di kelas X-3.
Bisa jadi Arsen tersinggung, atau bahkan akan menghancurkan persahabatan yang sudah di jalin dengan baik oleh mereka semua. Karena sedikit banyak Cal mungkin merasakan juga, jika Arsen berusaha untuk mendekatinya. Namun sang gadis menganggap perasaan Arsen hanyalah bentuk kepedulian pada dirinya.
Selama ini, Clarice menyimpan perasaan yang tak biasa itu seorang diri. Tak pernah sekalipun ia ungkapkan atau ia ceritakan pada siapapun juga, termasuk Hanna sekalipun.
Clarice menatap dalam sepasang mata Arsen yang menatapnya dengan lekat. Clarice tau, ada rasa peduli yang tak bisa di ungkapkan di dalam bola mata sang pemuda. Ada sesuatu yang terpendam di dalam sana yang tak ingin ia urai.
Arsen yang teramat peduli dengan Clarice, tentu merasa khawatir dengan apa yang ia lihat. Wajah Clarice sungguh tidak seperti biasa. Melamun saat berjalan di koridor bukanlah hal yang pernah lihat selama berada di ini.
Pelan namun pasti, kedua tangan sang pembalap terangkat. Menangkup wajah cantik nan mungil di hadapannya.
Setengah wajah Clarice bagai tenggelam di dalam tangkupan tangan Arsen yang pasti lebih besar dari tangan Clarice. Meski mereka hanyalah remaja 16 tahun, yang mungkin beberapa bulan lagi akan mengadakan pesta sweet seventeen.
"Jangan menutupi apapun dari ku, Clarice... Aku tidak akan pernah keberatan jika kamu ingin berbagi kesedihan atau apapun juga padaku!" ucap Arsen tegas dan penuh penekanan, meski dengan nada suara yang sangat lembut di antara dua pasang mata yang saling menatap satu sama lain.
Namun mata pemuda yang menatap Clarice dengan tatapan yang dalam membuat sang gadis yakin jika apa yang di ucapkan sang pemuda adalah satu keseriusan yang tidak perlu lagi untuk di ragukan.
Ingin rasanya Clarice berbagi cerita pada Arsen tentang perasaan-perasaan yang tumbuh di usianya yang sudah menginjak remaja ini, namun memiliki larangan untuk tidak menjalin hubungan dengan lawan jenis kecuali pertemanan atau persahabatan.
Alih-alih percaya, Clarice justru kembali dengan aksi yang sering ia lakukan. Menepis segala sesuatu yang ia rasakan terhadap sang pembalap tangguh itu. Bahkan menepis kekagumannya pada sang pembalap muda.
"Kamu mencuri kesempatan untuk bisa menyentuh wajahku, kan?" tuduh Clarice membuat suasana yang semula serius, kini kembali seperti sebelum-sebelumnya. Penuh dengan ketegangan, keketusan dan jauh darai kata romantis. "Lepas!" perintah Clarice sedikit menghentak manja.
"Ck!" Arsen berdecih tepat di depan wajah Clarice yang menurutnya selalu berusaha untuk terlihat menyebalkan di depan matanya. "Kamu benar-benar menguji diriku, Clarice..." desis Arsen lirih dengan tatapan yang memicing tajam, namun tidak menggambarkan emosi yang menggebu.
"Lepas, Arsenio Wilson...." keukeh Clarice.
"Ceritakan dulu, kenapa kamu seperti orang yang sedang melamun?" tanya Arsen. "Seperti anak muda banyak pikiran saja kamu .." ujar Arsen sedikit mengejek.
"Aku tidak melamun..!" kilah Clarice. "Jadi singkirkan tangan kotor mu itu dari wajahku!" ketus Clarice membulatkan matanya pada Arsen.
"Janji untuk cerita setelah ini!" paksa Arsen.
"Tidak mau! Lepaskan tanganmu, Arsenio..." keukeh Clarice. "Kamu lupa? koridor ini di pantau oleh CCTV?"
"Aku tidak peduli... paling kita akan masuk ruang BK kembali bersama!" jawab Arsen dengan entengnya.
"Kamu gila, Sen!" seru Clarice sedikit tertahan. "Lepas!" Cla mulai memukul perut Arsen bagian samping dengan genggaman tangannya.
Namun alih-alih melepaskan, Arsen sama sekali tidak peduli pada pukulan Clarice yang sama sekali tidak terasa sakit baginya.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tanya Arsen tak sedikitpun melepas tangannya yang menangkup wajah Clarice. Ia justru tersenyum tipis. Seolah menantang dengan cara yang yang tidak umum.
Arsen sama sekali tidak peduli dengan CCTV yang merekam aksi mereka. Bahkan mungkin telah merekam pembicaraan mereka walaupun samar. Karena keduanya memang bicara dengan intonasi yang cukup lirih.
"Aku akan menggigit mu!" jawab Cla dengan gigi yang mengerat, seolah tengah menggigit sesuatu. Matanya memicing tajam untuk memberi kesan menyeramkan pada Arsen.
"Menggigit bibirku?" tawar Arsen dengan sengaja menggoda Clarice. Ia bahkan mendekatkan wajahnya pada wajah Clarice yang sontak mengerutkan keningnya.
Si polos Clarice tentu tak paham, untuk apa dan kenapa harus bibir yang di sebut oleh sang pemuda. Kenapa tidak bagian yang lain. Misal lengan, tangan atau telinga sekalipun.
Clarice sebisa mungkin menarik wajahnya mundur karena tidak nyaman dengan posisi wajah sedekat itu. Meski hanya bisa sedikit mundur saja, menjauhkan wajah cantiknya dari wajah tampan seorang Arsenio Wilson. Yang mana pasti banyak gadis ingin menyentuh wajah tampan satu ini.
"Menjijikkan sekali..." lirih Clarice membayangkan sesuatu yang yang tidak seharusnya bersentuhan.
"Jadi menurutmu kalau bibirmu menyentuh bibirku itu menjijikkan?" tanya Arsen semakin menggoda.
Clarice mendelik mendengar jawaban Arsen yang semakin membuatnya tidak percaya sekaligus tidak paham. Cla menatap tak percaya dengan apa yang di ucapkan Arsen.
"Kamu gila?" tanya Clarice menatap tajam Arsen.
"No!" jawab Arsen masih memegang kuat rahang Clarice. "Menggigit bibir seseorang itu menyenangkan, Clarice..." bisik Arsen sangat lirih.
"Kamu pernah?" hentak Clarice dengan mata yang mendelik lebar.
"Tidak!" Arsen menggeleng cepat. "Kamu mau jadi yang pertama aku gigit?"
"Never!" jawab Cla dengan sangat tegas walau lirih. "Lalu, bagaimana kamu tau kalau itu menyenangkan?" tanya Clarice seperti sedang menginterogasi seseorang.
"Dari yang aku lihat... begitu..." jawab Arsen dengan santai dengan senyuman nakal.
"Kamu pernah melihat?"
"Pernah." jawab Arsen dengan enteng dan datar.
__ADS_1
"Di mana kamu melihat hal aneh semacam itu terjadi?"
Arsen tergelak, merasa gemas dengan kepolosan Clarice yang luar biasa polos. Bagaimana mungkin hal semacam itu di sebut aneh. Meskipun ia sendiri memang belum pernah merasakannya.
"Hal aneh?" tanya Arsen. "Jadi menurut kamu menggigit bibir orang yang kita sukai atau bahkan kita cintai itu hal aneh?"
"Ya!" jawab Clarice seadanya. "Memangnya apa gunanya?" Clarice memicingkan matanya sebelah.
"Hihihi!" Arsen tergelak lirih. Jika tidak sedang di koridor, pasti sang pemuda sudah tertawa lepas.
"Itu bukan aneh, Clarice..." gemas Arsen.
"Lalu?"
"Itu sesuatu yang menyenangkan..." jawab Arsen menatap bibir tipis Clarice yang berwarna merah muda alami, dan hanya di balur lip gloss tipis saja.
Bayangan di kepala normal sang pembalap tentu sudah liar kemana-mana. Hanya saja ia masih tau diri untuk saat ini.
Clarice yang teramat polos itu mencibir dengan gerakan bibir. "Menyenangkan bagaimana... kamu benar-benar sudah gila, Sen!" sembur Clarice.
"Haha! Ya, kamu memang benar! AKu sudah gila." jawab Arsen terkekeh dengan tangan yang masih menangkup rahang sang gadis.
"Hih!" kesal Clarice. "Lepas!" ucap sang gadis menyingkirkan tangan Arsen dari menangkup wajahnya secara paksa.
Arsen melepas tangannya yang menangkup wajah Clarice dengan terpaksa. Dan wajah yang semula mendung itu kini terlihat kembali normal. Cantik, ketus dan terkadang menggemaskan bagi seorang Arsen. Karena ia menjadi satu-satunya pemuda yang selalu di beri sikap ketus oleh sang gadis.
"Jangan coba-coba bicara yang tidak-tidak padaku, yaa..." ucap Clarice dengan sedikit mengancam. "Kamu harus banyak-banyak belajar dari Nauval! DIa tidak pernah membahas yang aneh-aneh seperti kamu! Dan apa yang dia lihat juga pasti tidak aneh-aneh seperti kamu!"
"Hahahah!" Arsen kembali tergelak tertahan. "Nauval memang tidak pernah membahasnya di depan kamu... tapi bukan berarti tidak pernah lihat, Clarice Sayaang..." gemas sang pembalap.
"Tau dari mana kamu?" sembur Clarice tidak terima.
"Kami biasa nonton bersama!" jawab Arsen berbisik. "Kadang di rumah ku, kadang di rumah dia!" jawab Arsen.
Cla memicingkan matanya, tak ingin semudah itu mempercayai apa yang di bicarakan sang pembalap.
"Yang penting menghindari CCTV di rumah kami..."
"Parah kalian!" sembur Clarice mendorong perut Arsen hingga Arsen mundur satu langkah ke belakang.
"Cla... itu normal! semua anak laki-laki melakukan semua itu..." bisik Arsen supaya tidak terdengar oleh CCTV.
"Baiklah! Tapi jawab dulu pertanyaanku... Kenapa kamu terlihat melamun dengan wajah yang sangat mendung..." tanya Arsen kembali menjadi pemuda yang serius.
Namun yang di tanya hanya bisa menghela nafas panjang, tanpa berniat untuk menjawab dengan serius pula. Selain itu, ia juga masih kesal dengan bahan pembicaraan Arsen sebelum ini.
"Apa ini?" tanya Arsen mengangkat tangan Clarice yang menggenggam.
"Bukan apa-apa!" jawab Clarice menarik tangannya secara paksa sebelum Arsen berhasil membuka tangannya.
Cepat-cepat sang gadis memasukkan benda yang ia genggam ke dalam saku rok sekolahnya yang panjangnya hanya sampai 10 cm di atas lutut itu.
"Lalu ini coklat dari siapa?" tanya Arsen menunjuk coklat di tangan kiri Clarice.
"Kenapa kamu penasaran sekali?" tanya Clarice menyembunyikan coklat dengan bungkus ungu itu di balik punggungnya.
"Di sekolah tidak ada coklat seperti itu..." gumam Arsen terus berusaha untuk menyelidik lebih jauh. Apakah coklat itu ada hubungannya dengan raut wajah Clarice yang tidak biasa.
"Yaa ampun, Arsen.... Please! Kenapa kamu kepo sekali dengan apapun yang aku bawa!" gemas Clarice.
"Aku hanya ingin tau... kata orang, rasa sedih itu bisa sedikit di kurangi dengan memakan coklat. Apa kamu memang memakan coklat untuk mengurangi rasa sedih kamu?" tanya Arsen menyelidik.
"Ya, kamu memang benar! Aku makan coklat ini supaya tidak bersedih..." jawab Clarice asal.
"Kenapa kamu sedih?" sahut Arsen dengan kembali menatap wajah Clarice lebih dalam.
"Tidak semua masalah harus di ceritakan pada orang lain, Arsenio.." jawab Clarice.
"Tapi tidak ada salahnya untuk di ceritakan, Clarice..." paksa Arsen.
"Huuuhh...." Clarice membuang nafas dengan kasar. "Sudahlah! aku mau kembali ke kelas!" ujar Clarice. "Bukankah tidak boleh meninggalkan kelas lebih dari dua murid?" tanya Clarice mengingatkan. "Kenapa kamu keluar?"
"Ya... itu benar!" jawab Arsen mengangguk. "Memangnya siapa lagi yang berada di luar kelas selain kita?" tanya Arsen pura-pura tidak tau.
"jangan pura-pura tida tau ya kamu..." jawab Clarice.
Dan Arsen pun kembali tergelak singkat. "Memangnya kemana Vino?" tanya Arsen. "Apa dia sengaja membolos pelajaran Kimia?"
__ADS_1
"Tidak! dia di toilet!" jawab Clarice.
Arsen pun menatap toilet. Tidak ada lagi siswa yang terlihat keluar atau masuk ke dalam toilet. yang ada hanya kelebat mirip Vino yang tadi ia lihat. Koridor pun tengah kosong. Hanya ada mereka berdua.
' Padahal Clarice dan Vino meninggalkan kelas sejak tadi, kenapa Vino baru masuk ke dalam toilet? '
Batin sang pembalap.
' Apa mereka mengobrol terlebih dahulu? Apa yang mereka bicarakan sampai harus berlama-lama di toilet! '
Jiwa sang pembalap sedang di kuasai rasa ingin tau yang tak terhingga. Meskipun ia tidak terfikir sama sekali jika ada rasa yang di pendam oleh Clarice untuk sang Atlit, tetap saja Arsen penasaran.
"Kamu mau ke toilet? pergilah!" ucap Clarice menggeser tubuh Arsen yang menghalangi jalannya.
"Tidak! sebenarnya aku hanya mencari mu... Kenapa meninggalkan kelas lama sekali!" jawab Arsen.
"Kamu memang benar-benar kurang kerjaan!" dengkus Clarice langsung melangkah maju dengan cepat. Menuju ke kelasnya kembali dan meninggalkan perasaan gundah yang baru saja ia rasakan sebelum bertemu Arsen.
"Cal?" panggil Arsen.
Namun sang gadis memilih untuk tidak peduli dengan panggilan yang menurut Clarice pasti tidak penting.
Arsen tergelak, namun ia biarkan Cla meninggalkan dirinya tanpa menjawab panggilan terakhirnya. Dan kini iapun berjalan menuju ke toilet.
***
"Ngapain di toilet lama sekali, Vin?" tanya Arsen ketika mendapati Vino duduk jongkok di samping wastafel sembari memainkan ponselnya.
"Malas sekali pelajaran Kimia." jawab Vino mendongak pada Arsen.
"Sama! Aku juga!" sahut Arsen yang langsung ikut mengambil posisi untuk berjongkok di depan Vino.
"Kamu sendiri?" tanya Vino.
"Aku tadi berfikir kamu dan Clarice sengaja membolos di jam Kimia. Kenapa tidak ajak aku? eh pas aku keluar Clarice balik ke kelas!"
"Memangnya Clarice berani sengaja membolos di jam pelajaran?" tanya Vino. "Setahuku dia tidak pernah melakukan itu."
"Yaa memang tidak pernah..." jawab Arsen. "Aku hanya heran saja, kenapa kalian lama sekali ijin keluar kelas?" Arsen mencoba untuk menggali informasi dari Vino. Mungkin saja sang atlit tau, kenapa Clarice tiba-tiba terlihat bersedih.
"Tidak ada..." jawab Vino. "Aku hanya bosan di kelas. Bertepatan dengan Clarice yang keluar dari toilet perempuan. Lalu mengobrol sebentar."
Sejak awal, Vino sudah menduga jika Arsen memiliki perasaan pada Clarice. Ia sudah menduga jika Arsen muncul pasti akan mengajak bicara sang gadis terlebih dahulu. Dan itu sudah terbukti dengan lamanya ia menunggu Arsen untuk muncul di toilet.
Apalagi kemarin ia mendapat bukti yang tidak bisa di ganggu gugat. Yaitu oleh-oleh dari sang pembalap untuk Clarice. Dari sekian banyak murid perempuan di kelas, hanya Clarice yang di berikan oleh-oleh berupa gelang dengan bentuk yang berbeda.
Ada bagian dari gelang yang di berikan Arsen pada Clarice yang terbuat dari emas asli. Yaitu bagian hiasannya yang membentuk huruf C L dan A. Seolah gelang itu di pesan secara khusus untuk sang gadis. Dengan harga yang tidak biasa.
Dan yang membuat Vino merasa minder adalah gelang itu benar-benar di kenakan oleh Clarice bersamaan dengan sebuah jam tangan yang biasa di gunakan oleh sang gadis.
"Apa sejak di toilet tadi... Cla sudah bersedih?" tanya Arsen.
"Bersedih bagaimana?" tanya Vino tidak paham.
"Ya... aku tadi melihatnya bersedih saat dia kembali ke kelas. Sampai tidak sadar dia berjalan menabrak ku!" jawab Arsen.
Vino mencoba untuk mengingat-ingat setiap ekspresi dari sang gadis saat bersamanya. Dan ia merasa ekspresi Clarice tampak biasa saja. Tidak ada raut wajah yang sedih dan sebagainya.
"Setahuku dari tadi dia tampak biasa saja." jawab Vino seadanya. "Aku hanya mendengar dia mengaduh saat berjalan kembali ke kelas."
"Mengaduh bagaimana?"
"Iya.. Dia seperti merasakan sakit. Tapi aku lihat dia tidak tersandung dan sebagainya." jawab Vino serius.
Arsen berfikir sembari menimbang jawaban Vino dan jawaban Clarice yang tadi. Namun sang pembalap merasa tak menemukan jawaban yang saling bersangkutan.
"Aku pikir tadi dia ke kantin untuk membeli coklat!" gumam Arsen. "Aku melihat dia membawa coklat. Tapi setahuku coklat seperti itu tidak di jual di kantin sekolah ini..."
"Oh, coklat yang di bawa Clarice itu aku yang memberikan..." jawab Vino.
"Sialan!" umpat Arsen reflek. "Jadi itu oleh-oleh dari kamu?" tanya Arsen. "Kenapa hanya Clarice yang si beri? Aku dan yang lain?"
Pertanyaan Arsen yang seolah tidak terima karena tidak di beri coklat itu sesungguhnya adalah sebuah protes atau bentuk dari rasa cemburu, kenapa hanya Clarice yang di beri. Seolah-olah Clarice adalah seseorang yang spesial untuk sang Atlit.
"Itu bukan oleh-oleh, Sen!" jawab Vino.
"Lantas?" Arsen memicingkan matanya. Ia harus tau, kenapa Vino hanya memberi Clarice.
__ADS_1
Kira-kira seperti apa reaksi Arsen mendengar jawaban Vino?
...🪴 Bersambung ... 🪴...