Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 48 ( Teka Teki 5 Tahun )


__ADS_3

šŸ„ Lima Tahun Kemudian . . .


Kaki mungil seorang gadis kecil melompati tangga depan sebuah lobby perusahaan besar. Langkah kecilnya tampak selalu gembira saat di ajak memasuki gedung bertingkat - tingkat itu.


Sepatu putih bergambar tokoh kartun Unicorn membalut sepasang kaki mungilnya. Seragam sekolah Taman Kanak - Kanak terbaik di Ibukota, masih melekat di tubuh setinggi 105 cm itu.


Rambut hitam lurus yang panjangnya hanya sampai di bawah telinga, dengan poni full dahi, lalu dua jepit kecil dengan hiasan berbentuk buah tomat merah menempel di sisi kanan dan kiri. Membuat gadis itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan.


Semua karyawan tau siapa dia, semua karyawan tau seberapa penting mengambil hati gadis kecil itu. Meskipun mereka semua karyawan tak tau siapa Ibunya.


Tangan kanan dengan jari - jari mungil di genggam oleh laki - laki berjas hitam dengan sepatu coklat yang mahal. Dialah orang yang paling di hormati di gedung itu.


Sehingga apapun yang di lakukan gadis kecil itu hanya akan mengundang ekspresi gemas bagi yang melihatnya. Siapa yang berani membenci orang - orang terdekat bos mereka? Tidak ada, bukan? Yang ada mereka akan berlomba - lomba bersikap ramah pada gadis kecil itu.


Sementara di tangan kanan sang CEO ada paper bag berukuran sedang yang isinya tentu saja milik sang gadis kecil. Entah apa.


"Be careful, girl..." ucap lelaki itu.


"Yes, Daddy!" jawabnya girang.


Langkah sang CEO yang biasanya selalu terlihat lebar, kini terlihat mengimbangi langkah mungil gadis kecil itu. Membuat sang CEO belajar lebih bersabar untuk bisa sampai di ruang kerjanya.


"Selamat siang, Pak Kenzo!"


Sapa beberapa karyawan yang ia lewati. Entah itu Security, resepsionis maupun karyawan lain yang bertugas di lobby.


"Hemm!" jawabnya datar.


Kemudian karyawan itu akan berganti melambaikan tangannya dengan sopan pada gadis dengan pipi gembul di samping sang CEO.


"Hai, Tante!" jawab sang gadis kecil yang selalu terlihat ceria dan murah senyum itu.


Gadis kecil itu, terus mengikuti langkah lelaki yang ia panggil Daddy itu hingga memasuki sebuah lift khusus.


"Daddy, apa Uncle Venom ada?" tanyanya dengan suara mungil yang khas.


"Ada, dia sedang Daddy tugaskan mengerjakan banyak pekerjaan!" jawab sang Daddy tersenyum melihat ke bawah, dimana putri kecilnya yang tingginya hanya separuh lebih sedikit dari tubuhnya.


"Yaahh... Padahal mau aku ajak main kalau Daddy nanti sibuk..." keluhnya terdengar sangat menggemaskan.


Tersenyum kecil, "hari ini biar Daddy yang menemani Clarice bermain, okay?"


"Daddy tidak sibuk?"


"No! Daddy hari ini hanya perlu mengontrol beberapa pekerjaan!"


"Yeeaayy!" sorak gadis kecil sembari melompat - lompat girang di atas lantai lift.


sang CEO memasuki pintu ruang kerja bersama gadis kecil bernama Clarice itu. Segera, gadis kecil itu berlari ke jendela kaca yang cukup besar. Dimana ia bisa melihat Ibukota dari ketinggian sekian puluh meter.


Gadis itu selalu menyukai pemandangan itu. Sejak pertama kali ia di bawa ke kantor, sang Daddy tak segan untuk menunjukkan keindahan Ibukota. Hingga kini gadis itu bahkan sudah hafal akan gedung sekolah Internasional nya yang terlihat tak jauh dari gedung milik sang Daddy.

__ADS_1


Padahal jika berjalan kaki di jalan raya untuk sampai di gedung itu, pastilah mengundang peluh.


Kaki kokoh sang CEO ikut mendekati jendela, berjongkok tepat di belakang gadis mungilnya untuk menyamai tinggi badan si gadis kecil. Tangan kiri mendekap perut mungil. Tangan kanan menempel pada dinding kaca.


"Daddy, aku tidak bisa melihat Miss Angelia dari sini..." ucap Clarice seketika mengukir senyuman di wajah dingin sang CEO.


"Mungkin Miss Angelia sudah pulang..."


"Oh, ya?" tanya Clarice.


"Hem... Maybe." jawab sang CEO mencium pipi gembul Clarice.


"Daddy, aku tidak bisa melihat Mommy dari sini!" ucapnya lagi.


"Haha..." gelak kecil yang CEO terdengar cukup renyah, dan akan mengundang tanda tanya besar bagi yang tak pernah melihat CEO itu tersenyum, apalagi tertawa.


"Mommy ada apartemen... Gedungnya ada di belakang dinding itu." menunjuk dinding belakang kursi kerjanya. "Dan jaraknya cukup jauh." jawabnya menjelaskan.


"Oohh... Hihihihi!" kikik gadis kecil itu. "Daddy, nanti waktu pulang kita beli kentucky di sana, ya!" ujarnya menunjuk sebuah restauran cepat saji dengan nama gerai yang terpajang cukup besar.


"Ok, girl!" jawab sang Daddy yang tak pernah menolak keinginan putri kecilnya.


"Yeay!" serunya lagi.


"Sekarang kamu main? Atau mau apa?"


"Aku mau menggambar, Daddy!" jawabnya.


Sang CEO beranjak, mengambil selembar kertas putih, beserta crayon 56 warna yang memang tersedia khusus untuk gadis kecil itu.


"Mau menggambar dimana?" tanyanya.


"Di sana!"


Clarice berlari dan duduk di lantai, meminta sang Daddy meletakkan kertas dan crayon du lantai. Tepat di depan dirinya kini duduk.


"Okay, girl!" jawab sang Daddy menuruti.


Ruang kerja yang luas, serta hanya dia seorang yang menempati, tentulah membuat ruangan itu tersisa banyak. Membuat gadis kecil bernama Clarice, bisa bermain di sudut mana saja yang ia mau. Sesuka hatinya, tanpa sekalipun mendapat larangan dari sang Daddy.


Selama bukan file penting yang di sentuh Clarice, tentu sang CEO hanya akan mengawasi agar tidak ada bahaya yang mengancam gadis kecilnya. Terjatuh daru sofa misalnya.


***


Beberapa saat kemudian pintu di ketuk dari luar, membuat sang CEO berseru untuk meminta sang pengetuk masuk ke dalam ruangannya.


"Masuk!"


Pintu terbuka oleh seorang sekretaris pribadinya. Dimana wanita itu langsung berucap.


"Pak Kenzo, beliau sudah datang..." ucapnya.

__ADS_1


Kenzo diam sesaat, "suruh masuk!" perintahnya.


"Baik, Pak!" jawab wanita berumur sekitar 30 tahunan.


Langkah tegap yang di iringi sepatu dan jas kerjanya memasuki ruangan, dengan menutup kembali pintu ruang kerja Kenzo.


"Selamat siang, Pak!" sapa lelaki itu menunduk hormat. Dengan posisi masih beridiri.


"Hem!" jawab Kenzo datar. "Duduk!" perintahnya ketus bahkan tanpa melihat lelaki itu.


"Terima kasih, Pak!" jawab lelaki itu sembari duduk di kursi depan meja kerja Kenzo.


"Hem.." jawab Kenzo.


"Pak Kenzo, sebelumnya saya ingin mengulang permintaan maaf saya. Maafkan saya yang telah melakukan kecurangan di perusahaan ini." ucapnya menunduk. "Dan saya berterima kasih, karena bisa kembali bekerja di sini."


"Hemm... sekali lagi berulah, bukan hanya dua rumah mu yang saya sita! Tapi kau akan aku pecat secara tidak hormat!" ancam Kenzo tegas bahkan nyaris berteriak.


"Daddy!" pekik Clarice dari sofa ruang kerja Kenzo. Ia kaget ketika mendengar Daddy nya membentak bawahan di depannya.


Sontak dua lelaki itu menoleh ke arah sofa. Dan melihat gadis kecil itu menatap lekat dua lelaki dewasa di meja kerja.


"Sorry, girl..." ucap Kenzo.


Sementara lelaki di hadapan Kenzo masih menatap lekat Clarice. Ia baru sadar jika ada sosok selain mereka berdua di dalan ruangan itu. Dan gadis itu sangat ....


"Kau dengar atau tidak apa yang aku ucapkan!" tanya Kenzo sinis menatap bawahannya.


"Saya dengar, Pak!" jawab lelaki itu kembali menghadap Kenzo. Meski dalam benaknya ia masih bertanya - tanya, kenapa ia tak pernah mendengar berita pernikahan Kenzo. Selaku CEO utama.


Kenzo menatap lelaki di depannya dengan tatapan tidak suka. Ia benci melihat cara lelaki itu menoleh dan menatap putrinya.


"Kalau sudah selesai bicara, keluar!" usir Kenzo terang - terangan.


"Ba.. Baik, Pak!" jawabnya lelaki itu segera berdiri. Menahan rasa ingin tau tentang gadis kecil di ruangan bosnya itu.


Membalikkan badan untuk kemudian berjalan mendekati pintu utama ruangan. Namun saat berjalan ke arah pintu, ia sempatkan untuk kembali menoleh gadis kecil yang juga menoleh padanya sekilas. Sorot mata sempat bertemu untuk beberapa detik.


Hingga gadis itu kembali fokus pada gadget di tangan kirinya. Serta memakan snack yang di bawakan sang Daddy dari luar.


Kenzo menarik nafas panjang akan apa yang ia lihat di depan mata. Entah apa yang ia rasakan di dalam dada.


...🪓 Happy Reading 🪓...


āœļø Karena novel ini memang tidak di buat berseason, jadi kita bisa langsung lompat - lompat tahun. Biar tidak monoton juga.


Lalu bagaimana semua bisa terjadi? šŸ¤”


Tunggu terus update nya ya kakak 🤩


Salam, Lovallena 🄰

__ADS_1


__ADS_2