Cinta Yang Tak Ku Rindukan

Cinta Yang Tak Ku Rindukan
Part 144 ( Wilson's Family )


__ADS_3

Sebelum kembali pada cerita yang sedang berlanjut, mari kita bergerak mundur. Yakni memutar cerita yang ada di dalam rumah mewah seorang pengusaha batu bara, yang di huni oleh sepasang suami istri, dan juga kedua anak laki-laki mereka. Beserta para pekerja yang mungkin berjumlah kurang lebih 20 orang.


Mulai dari Chef, pelayan, Cleaning service, security dan juga sopir. Mereka semua bekerja sesuai jadwal yang di buat oleh Asisten pribadi sang Nyonya Wilson.


Di dalam rumah tiga lantai itu ada dua anak laki-laki beda usia. Si sulung, bernama Axelle Wilson, berusia 21 tahun. Ia adalah salah satu pembalap nasional yang cukup di banggakan. Meski namanya tidak sebesar pembalap international.


Pemuda yang biasa di sapa Axel itu sudah menggeluti dunia itu sejak masih remaja.


Mulai dari balapan liar yang ia lakukan pertama kali secara sembunyi-sembunyi saat masih SMP. Menggunakan motor bebek yang di modifikasi sedemikian rupa. Setelah selesai motor akan di simpan di rumah temannya yang satu frekuensi dengannya.


Dan setelah ia tau jika sang Papa tidak mempermasalahkan, maka rumah nenek pun pada akhirnya bagai garasi motor balap.


Sampai akhirnya ia bisa memasuki sirkuit resmi saat baru duduk di bangku kelas 2 Senior High School. Ketika berhasil mendapatkan SIM resmi dari kepolisian Indonesia. Lebih tepatnya saat ia masih tinggal di Bandung kala itu. Dan bakat itupun akhirnya terus berkembang.


Kemudian setelah selesai Senior, sang pembalap nasional berpindah ke Ibukota dan tinggal di rumah yang sampai saat ini di huni nya bersama keluarga. Semua demi mengejar mimpinya sebagai pembalap nasional yang memang lebih mudah di raih jika ia berada di Ibukota negara.


Selain menjadi pembalap, ia juga tercatat sebagai Mahasiswa semester 5 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Meski tidak terlalu minat untuk kuliah, tapi mau tak mau sebagai anak seorang pengusaha, ia memang harus kuliah untuk melanjutkan dunia yang di geluti oleh sang Ayah.


Karena memang tidak mungkin ia terus berada di dunia yang menantang maut itu. Karena apapun bisa saja terjadi di area sirkuit balap.


Sedangkan si bungsu, yang tak lain adalah Arsenio Wilson, yang biasa di sapa dengan nama akrab Arsen, semalaman pemuda itu merayu kedua orang tuanya untuk mengajaknya pergi ke rumah Clarice menggunakan alasan apapun. Ia baru saja tau, jika ternyata Ibunya adalah sahabat lama Tuan Kenzo Adhitama, Daddy nya Clarice.


"Memangnya kamu tau di mana rumahnya sekarang?" tanya Mama Rania yang duduk di sofa ruang tengah di saat jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. "Yang Mama tau hanya rumah orang tua Uncle Kenzo, Arsen."


"Arsen tau, Ma! Arsen pernah mengikuti Clarice sampai di depan rumahnya..." jawab Arsen bersemangat.


"Tidak salah kamu mengikuti seseorang hanya untuk sekedar tau di mana rumahnya?"


"Itu karena Clarice selalu menolak jika Arsen ingin main ke rumahnya..." jawab Arsen. "Hanya Naufal dan Hanna saja di kelas yang pernah main ke rumahnya."


"Kenapa begitu?"


"Entahlah, Ma..."


"Lalu kenapa kamu tidak langsung muncul saja di depan pintu rumahnya. Dengan begitu mereka tidak akan menolakmu, bukan?" sahut Papa Nathan yang duduk di sofa sebrang.


"Arsen ragu memasuki rumah mewah Tuan Kenzo Adhitama.."


"What!!" pekik Rania sampai terhentak dari sofa dan menghadap sang bungsu, dengan menatap wajah tampan Arsen dengan mata yang terbelalak lebar.


"Mama kenapa sih?"


"Sejak kapan keturunan Wilson minder bertamu ke rumah orang?" tanya sang Mama. "Memangnya sebesar apa rumah Kenzo itu? sampai putra ku minder hanya untuk mendatangi rumah gadis incarannya." gerutu Mama Rania melirik sang suami yang tersenyum samar.


"Entahlah, Ma... aku hanya tidak siap saja. Sebenarnya rumahnya tak jauh berbeda dengan rumah ini." Arsen mendongak menatap langit-langit rumah yang tembus di atas lantai dua. "Hanya di dalamnya yang berbeda. Di dalam rumah itu ada bidadari yang Arsen harap di turunkan untuk Arsen seorang. Walau terlambat sekalipun. Asalkan sampai ke pelukanku..."


"Bicara apa kamu ini!" gerutu Mama Rania pada bungsu yang selalu manja padanya. Ia senggol lengan sang bungsu dengan gusar. "Sekolah saja belum tamat, yang kamu pikirkan malah berharap ada gadis yang jatuh ke pelukan-pelukan!" gerutu Mama Rania gemas pada sang bungsu.


Sebenarnya... Jika Arsen di katakan bungsu... tidak juga.


Karena sesungguhnya ia memiliki adik perempuan, yang meninggal di hari ke tujuh setelah dilahirkan. Peristiwa itu terjadi tepat 12 tahun silam. Dan sejak saat itu sang Mama sudah tidak ingin menambah anak lagi. Karena sudah terlanjur melakukan sterilisasi pasca operasi caesar.


Dan hingga kini, tersisa lah dua anak laki-laki yang menyayanginya setengah mati. Dan juga terkadang sangat manja bagai mereka di usia TK. Meskipun setiap anak memiliki sisi menyebalkan yang berbeda-beda.


"Arsen serius, Ma... Karena Clarice itu sangat berbeda di mata Arsen."


"Memangnya dia secantik apa?" sahut Axel yang duduk di dekat sang Papa sembari menghadap laptopnya.


"Sebenarnya jika di bilang paling cantik di sekolah, tidak juga..." jawab Arsen membandingkan wajah Clarice dengan beberapa gadis yang lebih cantik dan feminim di banding Clarice. Contohnya adalah Carren.


"Lantas?"


"Dia memiliki aura yang sangat berbeda, Kak. Kecantikannya natural tanpa tambahan apapun. Berbeda dengan teman-teman perempuan yang cantik-cantik lainnya. Rata-rata mereka memiliki tambahan di area wajah dan tubuhnya. Seperti make up."


"Tidak semua perempuan itu cantik karena ada tambahan pada wajah dan tubuhnya, Arsen..." sahut sang Mama.


"Arsen tau, Ma... Makanya Arsen bilang, rata-rata." jawab Arsen menekan kata rata-rata. "Sementara Cla itu sangat natural dan apa adanya. Di bonceng motor pun dia mau! Padahal dia anak Kenzo Adhitama! Meskipun anak sambung, itu benar-benar tidak mempengaruhi sikapnya." lanjutnya mengingat momen saat ia membonceng sang gadis dari arena balap di area stadion, sampai Cafe yang sengaja ia cari di lokasi yang jauh dari stadion.


Tentu saja untuk mengulur waktu kala itu.

__ADS_1


"Jarang sekali cewek jaman sekarang yang mau di bonceng pakai motor..." celetuk Axel terkekeh lirih. Karena pembalap satu ini pun di ketahui masih jomblo. Meski ketampanan dan uang yang ia miliki melimpah.


"Nah, itulah yang membuat Arsen merasa kagum dengan Clarice. Dia sangat tidak umum untuk seorang gadis modern di jaman sekarang, ketika mereka menyandang status sosial tinggi."


"Aku rasa dia memang seperti Ibunya." sahut sang Mama. "Aku melihat Calina juga sama seperti putrinya. Wanita itu terlihat cantik natural tanpa operasi plastik ataupun filler apapun juga. Bahkan alisnya pun asli. Bukan sulaman seperti alis Mama." puji Rania mengingat wajah Calina ketika pertama kali bertemu.


"Mama sampai heran, di mana Kenzo bisa menemukan wanita seperti Calina..." gumamnya mengingat pertemuan pertama mereka tadi siang di area parkir sekolah.


"Kelak Mama tidak perlu heran, dimana Arsen menemukan gadis cantik tanpa oplas, seperti Uncle Kenzo menemukan Aunty Calina. Karena Arsen sudah menemukan gadis itu di sekolah." ujar Arsen dengan terkekeh tidak jelas. Membayangkan Clarice kelak akan benar-benar menjadi kekasihnya.


Ucapan Arsen sampai membuat semua orang di ruang tengah menghela nafas kesal dengan kasar. Bagaimana tidak kasar, kalimat Arsen benar-benar out of the box.


"Kamu memang terlalu percaya diri, Sen!" celetuk Axel mencibir sang adik.


"Iya!" sahut Papa Nathan. "Kamu yakin sekali anak gadis Kenzo Adhitama akan menjadi kekasih mu kelak."


"Kalian ini selalu saja meremehkan keyakinan ku..." gerutu Arsen. "Ma... Ayolah ajak Arsen main ke rumahnya..." rengek Arsen dengan merangkul pundak sang Mama dan menempelkan hidungnya di pipi Mamam Rania.


"Memangnya kalau sudah di rumahnya kamu mau apa?" tanya Mama Rania melirik heran pada Arsen.


Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka ikut melirik Arsen dengan tatapan yang sangat heran.


"Setahuku Arsen sangat pandai mendekati gadis manapun!" sahut sang Kakak ketika melihat Arsen tak kunjung menjawab. "Di Bandung saja dia sudah punya mantan 2. Dua-dua nya dulu tidak bisa menolak Arsen."


"Dari mana Kakak tau?" picing Arsen menatap Axel.


"Ditha adalah adik sahabatku...." jawabnya.


"Siapa Ditha?"


"Pacar Arsen saat kelas 3 SMP, Ma..." sahut Axel sebelum Arsen sempat menjawab.


"Oh... cantik?"


"Cantik lah! karena teman ku juga cantik!"


"Jadi sebenarnya dia teman kamu apa pacar kamu?" gurau Arsen.


"Tapi Papa rasa kali ini memang akan sedikit berbeda..." sahut Papa Nathan.


"Oh, ya?"


"Ya! Karena yang di dekati Arsen adalah anak sambung orang paling berpengaruh di kota ini."


"Bukankah itu sama dengan Papa?" tanya Axel.


"Memang... tapi dunia Kenzo Adhitama bukan dunia yang bisa di ajak bercanda seperti Papa. Dia selalu tegas dengan apapun juga. Bahkan putrinya itu di larang untuk berpacaran selama masih sekolah!"


"What!" pekik Axel sesaat menatap sang Ayah, kemudian menoleh pada Arsen dengan menahan gelak tawa. "Hahaha!" Akhirnya meledak lah tawa si tampan Axelle Wilson.


"Jadi intinya... percuma saja kamu dekati dia sekarang! Karena gadis itu akan terus menolak mu sampai kalian lulus sekolah! Hahahah!" Axel tertawa lepas. Menertawai sang adik yang mencintai gadis bukan sembarang gadis.


"Memangnya ada yang lucu?" tanya Arsen. "Lagi pula Arsen tidak perlu mendapatkan cintanya untuk saat ini... Dan tentang apa yang di ucapkan Papa, Arsen sudah menduga itu sejak lama."


"Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Mama Rania.


"Arsen ingin mengukir satu tempat di dalam hati Clarice. Setidaknya, aku memanfaatkan waktu yang ada untuk membuat Clarice tidak akan pernah melupakan aku, di saat kelak ia sudah di izinkan untuk memiliki kekasih..." jawab Arsen serius, menatap lurus ke depan, dan tidak ada senyum bercanda di bibirnya yang pandai melawak itu.


"Dengan begitu, ia akan selalu ingat, jika kami pernah sangat dekat. Dan jika ia jatuh di pelukan laki-laki lain sebelum aku memilikinya, ia tidak akan pernah melupakan aku yang pernah memposisikan diri sebagai lelaki terbaik untuknya, tanpa status pacaran sekalipun."


"Itu akan menjadi cerita yang sangat berbeda untuknya, bukan?" lanjutnya. "Siapa tau, suatu saat Tuhan kembali mempertemukan kami, dan menyatukan kami dalam ikatan cinta yang tulus.


Mendengar kalimat Arsen  yang terdengar sangat serius, membuat tiga orang lainnya yang sebelum ini menertawai Arsen terdiam seketika. Tubuh mereka membeku, dan hanya mata saja yang berkedip. Hingga kemudian tiga orang itu saling tatap bergantian. Seolah tidak menyangka jika Arsen bisa berucap sedemikian serius.


"Kamu yakin, saat itu terjadi masih menginginkan dia?" ragu Axel pada sang saudara muda.


"Aku tidak tau masa depan akan  seperti apa... Tapi yang jelas aku akan tetap selalu ingat dengan Cla. Baru kali ini aku mengenal gadis seunik Clarice."


Arsen menerawang jauh ke depan sana. Membayangkan wajah Cla ada di ujung ruangan sana. Memberinya senyum manis, yang sesungguhnya bahkan belum pernah ia dapatkan.

__ADS_1


"Di mana rumahnya?" tanya Mama Rania tiba-tiba dengan nada serius.


Sepertinya beliau mulai mendukung aksi sang bungsu yang di rasa memang sangat berbeda dari anak laki-laki pada umumnya dalam mendekati seorang gadis.


Mengukir tempat tersendiri. Tidak menempatkan diri sebagai sahabat, tidak juga menempatkan diri sebagai kekasih. Ia hanya ingin mengukir momen terbaik dan terhebat untuk Clarice.


Setelah itu, entah Clarice akan menyebut dirinya sebagai apa. Sahabat? teman tapi mesra? atau... tetap hanya teman yang setiap hari di ketusi oleh sang gadis?


Atau benar-benar akan menjadi kekasih, suatu hari nanti?


Apapun hasilnya, Arsen tidak akan pernah lelah berjuang. Tidak akan pernah menyerah untuk membuat Cla memberi tempat untuk dirinya di hati sang gadis.


"Grand Blue Lagoon, no. 214 Blok A."


***


Dan kini, dengan di antar oleh seorang sopir, Mama Rania dan Arsen sudah tiba di rumah Clarice. Tanpa perlu mencari ataupun bertanya, Arsen sudah sangat ingat letak rumah mewah keluarga Kenzo Adhitama.


Beruntung, Calina sangat open pada Arsen dan Ibunya. Hinga akhirnya kini mereka bisa berkumpul dengan hangat di ruang tamu khusus.


Di beri kode oleh Mama Rania dan Mommy Calina untuk pergi ke tempat yang lebih nyaman untuk keduanya mengobrol, Arsen dan Clarice hanya bisa saling tatap untuk beberapa menit. Clarice tampak berubah menjadi gadis pendiam dan tidak ketus pada Arsen.


Padahal, sebelum ini Cla selalu ketus pada dirinya.


Dan ketika mandat itu terdengar di ruang tamu Clarice langsung berfikir. Kemana ia akan membawa Arsen? Rumah ini memang besar, luas dan juga memiliki banyak fasilitas untuk bisa di nikmati bersama keluarga, teman dan juga saudara jauh.


Tapi saat ini terasa begitu sempit, ketika ia harus memilih satu spot yang bisa ia gunakan untuk menemani tamu yang tak ia undang ini.


"Ajak ke taman belakang saja, Cla..." sahut Mommy Cal memberi ide.


"Memangnya di taman belakang ada apa saja, Aunty?" sahut Arsen berbasa-basi. Demi mencairkan suasana dingin antara dirinya dan juga Cla.


"Di belakang ada gazebo untuk kalian bisa bersantai, ada banyak ikan juga di kolam. Dan juga ada kolam renang." jawab Mommy Calina. "Kalau kamu mau berenang juga bisa. Ada banyak baju ganti baru di ruang ganti yang bisa kamu gunakan."


"Berenang?" tanya Arsen memicing. "A... sepertinya tidak perlu sampai berenang, Aunty..." jawab Arsen dengan senyum kikuk dan malu-malu.


"Yakin?"


"Iya, Aunty... Kapan-kapan saja."


"Baiklah, terserah kamu saja." jawab Mommy Calina.


Jika Arsen menolak, tidak halnya dengan Clarice. Ide dari sang Mommy, membuka memory Calina tentang kelemahan Arsen yang pernah di ceritakan oleh Naufal ketika mereka berada di Cafe, dan Arsen sedang bernyanyi di panggung mini.


"Wow! ide Mommy memang luar biasa!" celetuk Clarice menatap jail pada Arsen. "Lebih baik kita berenang sekarang! Dari pada berenang nanti siang, saat udara sudah panas. Bisa-bisa kita akan gosong!" celetuknya.


"Hah!" pekik Arsen. "Tapi ini masih terlalu pagi, Cla!" sahut Arsen mencari alasan.


"Aah... tidak juga..." Clarice mulai berdiri dengan di sertai seringai yang tertuju pada Arsen yang duduk dengan wajah yang seketika memucat. "Aku akan meminta pelayan untuk membuatkan makanan hangat untuk kita.."


"Kapan-kapan saja lah, Cla..." elak Arsen.


"Sudahlah... jangan sungkan!" Cla mulai berjalan mendekati Arsen. "Ayo!" ujarnya berdiri di samping Arsen.


Arsen menarik nafas panjang. Pikirannya berkelana kemana-mana.


' Bagaimana kalau dia tau aku tidak bisa berenang? aku pasti di tertawakan! '


' Jujur! lebih baik aku bertarung di arena balap! dari pada harus berhadapan dengan kedalaman 150 cm. '


Gerutuan demi gerutuan muncul di dalam hati sang pembalap.


' Siap-siap di tertawakan oleh gadis itu, Arsen! '


"Sudah! Ayo!" Cla menarik tangan Arsen. Dan dengan sangat memaksa ia tarik tangan itu sampai akhirnya berdiri dan mau tak mau akhirnya mengikuti langkahnya.


Sementara Mama Rania yang ia tinggalkan bersama Mommy Calina menatap Arsen dengan seulas senyuman.


' Semoga Clarice bisa membuat mu tidak takut lagi dengan kedalaman... '

__ADS_1


Lirih sang Ibu di dalam hati.


...🪴 Bersambung ... 🪴...


__ADS_2