
Kayla mengatakan sesuatu yang ia anggap sangat tidak baik dan lancang. Yaitu mengambil uang - uang kecil yang memang selalu di masukkan Gilang di dalam saku lemari es.
Karena seorang Gilang Adhitama tentulah terlalu malas jika menyimpan uang kertas dengan nominal di bawah 20 ribuan di dalam dompet dalam jumlah yang banyak. Sebagi solusi ia letakkan di dalam saku almari es, dan menyimpan di dompet secukup nya saja.
Namun Siapa sangka seorang Kayla justru mengambil uang yang biasa akan ia berikan secara suka rela pada cleaning service yang membersihkan apartemennnya. Hal itu membuat Gilang semakin merasa bersalah. Jelas terihat, jika ia tidak menjamin keberadaan Kayla di apartemennya.
Gilang terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
"Itu semua salahku, Kay... Maafkan aku yang tidak peka untuk memberi kamu uang.." lirih Gilang meraih kedua tangan Kayla dan menggenggamnya erat di depan dada. "Maafkan aku..." lirihnya mengulang.
Kayla mendongakkan kepalanya, menatap Gilang dengan tatapan aneh, "Kenapa kamu yang meminta maaf terus?"
"Sejak kamu keluar dari Rumah Sakit, aku menganggap kamu adalah tanggung jawabku, Kay.. Jadi semua kebutuhan kamu adalah kewajiban ku untuk memenuhinya."
"Jangan berkata begitu, Gilang... Dengan berbagai cerita yang kamu ceritakan padaku, dan berbagai motivasi yang kamu sampaikan padaku, sudah cukup membuat aku sadar dan memulai kehidupanku yang baru," jawab Kayla. "Jika bisa aku justru ingin bekerja, hanya saja pendidikan ku teramat rendah. SMP saja aku tidak selesai." lirih Kayla menyesali diri yang depresi berat di usia muda dan berakhir seperti sekarang.
"Tidak perlu memikirkan pekerjaan. Aku masih sangat sanggup untuk membiayai kamu, Kayla..." jawab Gilang meyakinkan sang wanita.
"Tidak mungkin aku terus menggantungkan diri pada orang lain, Gilang... Aku harus maju, dan menjadi diri sendiri. Tidak selalu saja merepotkan orang lain." jelas Kayla.
"Sudah cukup selama bertahun - tahun aku merepotkan kalian dengan biaya Rumah Sakit Jiwa yang seharusnya tidak perlu di keluarkan." Aku Kayla, dengan seluruh rasa bersalahku pada Zahra dan Gilang. Aku tau, selama ini mereka berdua yang membiayai Rumah Sakit Jiwa yang merawatku.
"Setiap orang memiliki pilihan, Kay... dan aku tidak pernah menyalahkan keputusan kamu saat itu. Jika dengan semua itu kamu bisa menjadi lebih baik, dan menjadi pelajaran di masa sekarang, bukankah itu akan lebih baik?"
"Terima kasih, Gilang..." lirih Kayla menatap lekat wajah tampan kebulean sang lelaki. Kalimat yang Gilang sampaikan selalu saja membuatnya merasa tenang dan damai.
Gilang hanya mengangguk, karena ia pun merasa perlu berterima kasih pada Kayla yang bersedia ikut pulang bersamanya dan tinggal di apartemen bersama dengan dirinya.
"Bersiap - siaplah! Aku akan mengajak kamu ke mall, untuk membeli ponsel baru dan apapun yang kamu butuhkan!" ucap Gilang bersungguh - sungguh.
"Aku hanya butuh ponsel, Gilang..."
"Ya, pasti akan aku belikan."
"Terima kasih, Gilang..." seru Kayla nyaris melompat gembira, dan langsung melesat menuju kamarnya untuk bersiap. Untuk pertama kali ia akan pergi jalan - jalan ke mall bersama Gilang. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelum hari ini.
***
"Ini nomor Pak Gilang!"
Sebuah pesan baru tanpa nama pengirim masuk ke dalam aplikasi chat milik Zahra. Meski tanpa nama, tentu ia tau siapa pengirimnya.
"Terima kasih, Pak Zio..."
Balas Zahra pada Zio.
"Sama - sama.."
Pesan yang bahkan tanpa di sertai emoticon apapun itu sesungguhnya di penuhi dengan senyuman oleh dua orang yang mengetiknya. Orang lain memang tidak akan ada yang tau. Tapi Tuhan dan takdir tentu tau segalanya.
Bagaimana dua orang itu tengah senyum - senyum sendiri di meja kerja masing - masing. Sambil memikirkan dengan nama siapa merea akan menyimpan nomor ponsel satu sama lain.
"Arra!"
Zio menyimpan dengan nama yang bahkan berbeda dengan nama asli sang pemilik nomor telepon.
' Pak Zio sajalah! takut ada yang iseng pegang ponselku! '
Gumam Zahra dalm hati sembari mengetik nama atasannya untuk di simpan.
***
"Di mana Calina, Ma?" tanya Kenzo pada Ibu mertuanya, saat ia baru saja pulang dari bekerja.
"Di kamar, Nak Kenzo.." jawab Mama Shinta mendongak lantai dua.
"Oh.." jawab Kenzo mengangguk sembari melonggarkan dasi warna abu - abu bergaris yang ia pakai.
Ia masih merasa heran kenapa akhir - akhir ini sang istri tidak pernah menyambut kedatangannya. Biasanya sang wanita selalu menunggunya di ruang tengah bersama anak - anak. Atau akan segera bergegas turun jika mendengar suaranya mengucap salam. Tapi ini selalu saja dalam posisi tidur di kamar.
"Nak Kenzo?" panggil Mama Shinta pada Kenzo yang hendak naik ke lantai dua.
"Ya, Ma?" jawab Kenzo menghentikan langkah dan menghadap Mama Shinta yang langsung berdiri menghampirinya yang sudah sampai di anak tangga ke lima dari bawah.
__ADS_1
"Mama merasa ada yang tidak beres dengan Calina.." ucap Mama Shinta berdiri di ujung tangga paling bawah, tanpa naik ke anak tangga.
"Ada apa, Ma?" tanya Kenzo panik.
Ia langsung turun dan mendekati Ibu mertuanya. Sebagai suami yang super over protektif, tentu ia akan takut jika ada perubahan pada sang istri. Terutama takut jika yang berubah adalah perasaan sang wanita kepada dirinya.
"Akhir - akhir ini Calina selalu saja menghabiskan waktunnya untuk tidur. Mama sampai merasa aneh," ucap Mama Shinta. "Saran Mama ajak istri kamu ke Dokter, Nak... Mama khawatir ada yang tidak beres."
"Tidak beres bagaimana, Ma?" tanya Kenzo bingung setengah panik. "Dia terlihat tidak sedang sakit, hanya lebih nyaman untuk tidur sepanjang waktu saja katanya."
"Bukan tidak beres, Nak Kenzo... maksud Mama, sepertinya ada yang lain di dalam tubuh Calina."
"Maksud Mama?" tanya Kenzo semakin bingung. Hingga pria itu mengerenyitkan keningnya saking tidak nyambungnya.
Mama Shinta menghela nafas panjang, "Sudahlah, Nak Kenzo... sebaiknya kamu ajak Calina ke Dokter besok." pungkas Mama Shinta karena sang menantu ternyata sangat tidak peka dengan apa yang sedang ia maksdukan.
"Baiklah, Ma..." jawab Kenzo dengan perasaan yang belum lega. Dengan langkah was - was, ia melangkahkan kakinya naik ke lantai dua dimana sang istri pasti tengah tidur, dan anak - anak di ruang bermain bersama baby sitter Galen.
Di dalam kamar, Kenzo langsung masuk dengan membuka pintu sangat pelan, agar jika benar sang istri sedang tidur, suara pintu tidak akan membangunkannya.
Dan yang menjadi titik akhir pandangan matanya adalah tempat tidur berukuran king size, yang biasa ia tempati bersama sang istri. Kadang - kadang juga bersama Galen. Meski bocah dua tahun itu sudah di siapkan kamar tidur sendiri. Dan bahkan terbiasa tidur sendiri dengan di pantau kamera khusus, dan pendeteksi suara khusus.
Kenzo melangkah pelan mendekati sang istri yang tampak tidur dengan sangat lelap. Ia berdiri di sisi dipan, tak mau duduk di ranjang karena khawatir itu bisa membuat sang istri bangun.
' Apa yang lain dari dirimu, Sayang? '
' Kenapa Mama Shinta bilang ada yang lain pada diri kamu? '
' Tidak mungkin kamu kerasukan jin, kan? '
Batin Kenzo terus saja bergumam dalam diamnya. Matanya menatap sayu pada wajah cantik sang istri.
Menghela nafas panjang, kemudian ia segera bergegas uuntuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Kali ini ia membersihkan diri dengan cara masuk ke dalam bathub. Untuk menghindari suara gemericik air dari shower.
Dan saat ia selesai mandi, bersamaan dengan Calina yang menggeliat di atas tepat tidur. Betapa sang istri terlihat biasa saja seperti saat mereka bangun tidur. Namun Kenzo masih bingung dengan apa yang terjadi.
Langkash sang CEO mendekati almari, karena tidak biasa mengambil baju sendiri, tentu ia lupa jika ketika menggeser pintu almari, maka suaranya akan terdengar oleh seisi ruang kamar. Dan saat itulah Calina bangun.
"Mas? kamu sudah pulang?" tanya Calina seketika beranjak dari tempat tidur.
Dan saat Calina sampai di samping Kenzo, maka sang wanita mengambil alih apa yang sedang di kerjakan Kenzo. Dan menyerahkan baju pilihannya.
"Kamu tidur saja... aku bisa sendiri..."
"Sudah, aku sudah puas tidur hari ini."
"Tidur sejak kapan ini tadi?"
"Sejak selesai mandi tadi sore."
"Oh..." Kenzo mengangguk paham.
"Mas, besok di suruh Mama pergi ke Dokter. Katanya aku harus periksa, kenapa aku selalu saja ingin tidur." ucap Calina.
"Ya, Mama sudah memberi tahu ku kok, Sayang!" jawab Kenzo sembari memakai baju - bajunya.
"Kira - kira aku kenapa ya, Mas?"
"Kita akan tau besok..." jawab Kenzo terlihat santai, supaya sang istri tidak khawatir.
***
Gilang tengah membawa Kayla untuk berjalan - jalan di salah satu Mall terbesar di Ibukota. Tentu saja untuk membeli ponsel keluaran terbaru seperti yang di janjikan oleh Gilang pada Kayla. Dan itu artinya ponsel yang sama dengan salah satu ponsel yang di pakai oleh Gilang.
Gilang duduk di samping Kayla yang tengah di ajari cara untuk menggunkan ponsel pintar itu oleh salah satu SPG. Dan saat itulah, ponsel Gilang mengeluarkan suara sebagai tanda notifikasi jika ada pesan chat yang masuk.
"Selamat malam, Pak Gilang... Saya Zahra. Sebelumnya saya minta maaf karena telah lancang meminta nomor ponsel Bapak pada Pak Zio. Tapi menurut saya ini sangat penting."
Pesan singkat yang dikirim oleh Zahra membuat Gilang sontak melirik Kayla yang tampak masih fokus belajar ponsel baru, setelah belasan tahun tidak lagi mengenal dunia gadget. Dalam hati, Gilang merasa jika Zahra akan mempertanyakan tentang Kayla.
"Iya, Ra? ada apa?"
Tanya Gilang membalas pesan saudara kembar Kayla.
__ADS_1
"Saya ingin Pak Gilang menjawab dengan jujur! Apa Kayla terbukti tidak gila, Pak?"
Pertanyaan Zahra yang sesungguhnya kurang sopan itu sontak membuat Gilang terdiam, bukan karena kalimat Zahra yang terlihat tidak sopan, tapi karena dugaanya benar. Ia tau jika Zahra pasti akan menanyakan hal itu padanya. Mengingat sudah satu minggu ia tak memberi kabar pada Zahra.
Itu karena Kayla bilang, dia sendiri yang akan memberi tahukan pada Zahra jika ia memang tidak gila. Sekaligus meminta maaf karena sudah merepotkan selama bertahun - tahun.
Gilang menarik nafas panjang dan menghelanya pelan. Ia bingung mencari jawaban yang tepat untuk membalas pesan Zahra yang ia harap akan menjadi saudara iparnya kelak.
Gilang menatap lekat pada wajah Kayla, ia bingung memberi jawaban pada wajah yang sama namun beda orang tentunya. Hingga sebuah ide terbesit di benaknya, meski akan terlihat menjadi jawaban yang ambigu untuk Zahra.
"Tunggu saja kabar dariku, Ra! aku akan mengabarimu jika waktunya sudah tepat. Untuk saat ini aku hanya ingn memastikan semua baik - baik saja."
Pesan itu ia kirim pada Zahra yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Please, Pak! jangan buat saya mati penasaran. Saya sampai tidak bisa tidur semalam karena tidak sabar ingin menanyakan hal ini kepada Bapak."
Emoticon menangis ia sematkan untuk menarik simpati dari Gilang. Ia sangat berharap mendapat kepastian dari Gilang. Satu - satunya narasumbe yang tau segalanya tentang Kayla.
Gilang kembali menarik nafas panjang membaca pesan Zahra yang sangat menyentuh hati kecilnya. Tentu saja ia tida ingin membohongi saudara kembar Kayla. Tapi pesan Kayla yang ingin ia sendiri yang mengatakan, membuat Gilang ragu untuk berkata jujur.
"Datanglah ke apartemen ku besok!"
Jawaban singkat dari Gilang benar - benar membuat Zahra senang bukan kepalang.
"Kirimkan alamat Bapak ya? besok pagi saya akan datang!"
"Ya, nanti malam akan aku share! Ingat! datang sendiri dan jangan bawa Zio!"
Kalimat terakhir di sematkan emoticon tertawa oleh Gilang. Tentu ia hanya ingin menggoda saudara kembar Kayla yang di kabarkan tengah dekat dengan Zio.
"Siap, Pak! don't worry! Maaf jika saya kurang sopan."
Balas Zahra tidak peduli dengan ledekan Gilang. Yang terpenting saat ini adalah mendapatkan kabar Kayla.
***
Hari sudah berganti. Dan Weekend adalah hari yang paling di nantikan oleh seluruh pekerja kantor. Karena di hari itu, mereka bisa menghabiskan hari untuk berlibur, atau pun sekedar meluruskan kaki dan badan sepanjang waktu.
Namun Calina dan Kenzo tengah mendatangi Rumah Sakit untuk memeriksakan apa yang terjadi dengan Calina. Kenapa ingin tidur sepanjang hari, seolah punggung tidak akan kaku karena terlalu banyak tidur.
Calina duduk di brankar pemeriksaan Dokter umum dari Rumah Sakit terbaik di Ibukota. Sedangkan Kenzo duduk di salah satu kursi depan meja Dokter dengan memasang wajah datar.
"Semua normal kah?" tanya Kenzo dengan datar. "Atau di perlukan tes yang lebih detail untuk mengetahui semuanya?"
"Sebenarnya jika perkiraan saya, Nyonya Kenzo tidak sedang mengalami sakit maupun kelainan yang aneh," jawab sang dokter. "Semua organ tampak tubuh normal, bedanya adalah karena ada organ tubuh lain yang sedang terbentuk. Dan itu sering kali membuat seorang wanita mengalami hal yang tak biasa."
"Maksud Dokter?" sahut Calina.
"Karena saya bukan dokter spesialis kandungan. Jadi alangkah baiknya Tuan dan Nyonya mendatangi dokter kandungan..." jawab sang dokter.
"Kenapa harus dokter kandungan?" tanya Kenzo dengan ekspresi datarnya.
"Karena dari hasil pemeriksaan saya, Nyonya Kenzo tengah hamil muda."
"Hamil?" pekik Calina dan Kenzo bersamaan.
"Ya, Tuan, Nyonya. Prediksi saya Nyonya Kenzo tengah hamil.." jawab sang Dokter dengan wajah yang cukup serius dan meyakinkan. "Saya sudah 20 tahun menjadi Dokter Umum, dan prediksi saya selalu tepat!"
Calina dan Kenzo langsung saling tatap dengan mata berbinar. Keduanya tentu berharap jika kabar yang di sampaikan sang Dokter memang benar adanya.
"Dan semoga kali ini prediksi saya benar!" sahut sang dokter.
"Saya juga berharap demikian, Dok!" sahut Calina.
"Mau saya bantu jadwalkan untuk bertemu Dokter Kandungan hari ini?" tawar sang Dokter.
"Hm.. boleh!" jawab Kenzo.
"Baiklah, Tuan.."
Dan Dokter pun menjalankan tugasnya, sesuai dengan yang ia tawarkan pada Kenzo dan Calina.
"Silahkan Tuan dan Nyonya mendatangi poli kandungan. Nanti akan di panggil oleh sang Dokter."
__ADS_1
"Baik, Dok!" jawab Calina sembari turun dari brankar pemeriksaan.
...🪴 Bersambung ... 🪴...