
Jika di kantor ada Zio yang mulai meninggalkan area perkantoran utama perusahaan Adhitama. Maka ada laki - laki lain yang baru saja sampai di sebuah parkiran apartemen.
Langkah tegapnya berjalan mendekati lift yang akan mengantarnya untuk sampai di blok apartemennya berada.
Dialah Kenzo Adhitama. Ia pulang sendiri. Karena Clarice sudah di antar oleh Mang Heru pulang ke apartemen pula.
"Kak!" sapa seorang lelaki dari arah belakangnya.
Kenzo menoleh ke belakang, mengingat suara itu sangat tidak asing di telinganya. Siapa lagi kalau bukan...
"Gilang!" pekik Kenzo melihat adik satu - satunya tengah berlari pelan mendekatinya. "Sejak kapan kamu di sini?"
"Aku sampai di rumah Papa tadi siang!" jawab Gilang. "Dan sengaja datang kesini menunggu kamu pulang kerja!"
Pemuda 31 tahun itu berjalan mensejajari kakaknya. Tinggi mereka sama, postur tubuh pun mirip. Jika dari belakang, orang asing akan mengira mereka saudara kembar. Namun dari segi wajah masih ada beberapa perbedaan.
"Ada apa?" tanya Kenzo datar. "Kau merindukan ku?" lanjutnya sedikit mengejek.
"Hanya ingin bertemu kalian!" jawab Gilang enteng. "Aku dengar .... " Gilang menggantung kalimatnya sembari melirik jail pada Kenzo di sampingnya.
Yang di lirik membalas dengan lirikan sinis. Pertanda kesal akan lirikan adiknya itu.
Keduanya masuk ke dalam lift bersamaan. Saling melempar tatap dari pantulan dinding lift yang nyaris seperti cermin empat sisi. Kemudian sama - sama menyungging senyum tipis. Sembari membuang pandang dengan pemikiran masing - masing.
Namun Gilang, laki - laki itu akhirnya tergelak tanpa suara. Entah apa yang di pikirkannya. Ia hanya selalu ingin tertawa setiap melihat kakak laki - lakinya yang saat ini.
"Terus saja tertawa!" gerutu Kenzo menendang kesal kaki Gilang. "Lama - lama gigi mu pasti kering!"
"Hahahaha!" justru lelaki yang tak kalah tampan dari Kenzo itu tertawa terbahak. Melihat wajah sang Kakak selalu membuatnya tertawa dengan sendirinya.
"Gil! aku tidak akan mengizinkan mu masuk ke apartemen, kalau kamu terus menertawai ku!" sembur Kenzo bernada ketus dan mengancam.
"Hahaha!" sisa - sisa gelak tawa Gilang. "Sorry, Brother..." ucap Gilang merangkul pundak Kenzo dengan hangat. "Aku hanya masih tidak menyangka kamu menjadi seorang Daddy!" ucap Gilang terus menahan gelak tawanya. "Aku pikir kamu akan menjadi.... perjaka tua, misalnya! Hahahaha!" tawa Gilang semakin keras.
Kenzo melirik kesal Gilang yang berdiri di sampingnya dengan kepala yang terus mendongak ke langit - langit lift akibat tertawa terlalu kencang dan lepas.
Ini adalah momen kesekian kali Gilang dan Kenzo bertemu kembali. Setelah satu momen besar di Australia beberapa tahun lalu. Dan terakhir bertemu adalah satu tahun lalu.
Tooeng!
Kenzo menoyor kepala Gilang dengan kesal. Membuat lelaki itu terhuyung ke samping. Hingga ia tempelkan tangannya pada dinding untuk menopang tubuh agar tetap dalam posisi berdiri.
"Daddy Kenzo..." gurau Gilang menahan tawa.
Ting!
Pintu lift terbuka. Sampailah mereka di lantai yang hanya berisi beberapa pintu. Karena lantai yang di tuju keduanya adalah lantai exclusive. Dimana hanya orang - orang berkantong tebal yang mampu membelinya.
Kenzo melangkah keluar lift, begitu juga dengan Gilang. Yang pasti reflek mengikuti langkah sang Kakak.
__ADS_1
Kenzo menempelkan tangannya pada sebuah alat detektor di dekat sebuah pintu. Membuat pintu itu terbuka secara otomatis.
Ruang pertama hanya ada almari tertutup, yang berisi alas kaki dan beberapa sepatu yang sering di gunakan Kenzo dan seisi rumah.
Gilang tersenyum saat melihat sepatu mungil berwarna putih. Ya, sepatu Unicorn yang tadi di pakai oleh Clarice ke sekolah.
"Dimana dia? Kenapa tidak ada yang menyambut Daddy Kenzo?" tanya Gilang dengan wajah menyebalkan yang sering muncul di paras tampannya. Kedua kaki bergantian menurunkan bagian belakang sepatunya.
Gilang Adhitama memang berbeda dengan Kenzo Adhitama. Meskipun memiliki kadar ketampanan yang hampir sama. Gilang lebih ramah dan humoris. Ia lebih sering terlihat tertawa daripada memasang wajah galak.
Berbeda dengan Kenzo yang lebih sering memunculkan kesan dingin. Bahkan nyaris membuat beku siapa saja yang ada di sampingnya. Terutama para karyawan.
"Clarice..." seru Gilang semerdu yang ia bisa. "Clarice..." serunya lagi saat belum mendengar jawaban dari gadis kecil itu.
Gilang melangkah memasuki ruang tamu yang cukup luas. Sepi, tak ada seorang pun di sana. Gilang terus melangkah, meninggalkan Kenzo yang melepas sepatunya.
"Loh, Den Gilang!" seru seseorang dari arah dapur.
"Mbak Irah!" jawab Gilang menoleh wanita paruh baya dengan beberapa helai rambut putih di kepalanya. "Dimana Clarice dan istri Kakak ku tercinta?" goda Gilang melirik Kenzo sembari menahan tawa.
"Nona kecil ada di dalam kamarnya, Den!" jawab Mbak Irah. Wanita dari rumah utama Adhitama yang di tugaskan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah di apartemen Kenzo.
"Tidur?"
"Saya kurang tau, Den... Neng Calina juga di atas..."
"Gilang!" suara dari atas tangga membuat Gilang mendongak ke atas. Dimana terlihat Calina berdiri di balik pagar lantai dua dengan baju sederhananya. Hanya memakai celana pendek di atas lutut dan kaos oblong saja.
"Mas!" sorot mata Calina menoleh ke belakang Gilang. Dimana Kenzo mulai memasuki ruang tamu.
Cepat - cepat Calina turun dari lantai dua. Dengan sedikit berlari.
Biasanya Calina tidak akan melewatkan diri untuk menyambut kedatangan Kenzo. Meski kedatangan Kenzo tidak pernah pasti. Mengingat Kenzo adalah seorang CEO dengan berbagai jenis kesibukan.
"Baru pulang?" tanya Calina meraih tangan Kenzo dan mencium punggung tangannya. "Maaf aku tertidur!"
"Iya.." jawab Kenzo membalas ciuman Calina di tangannya dengan mengecup lembut dahi Calina.
"Eghm! Eghm!" dehem Gilang cukup keras. "Gila! Apartemen semewah ini bisa membuat ku tertelan debu tanpa sengaja!"
Ucap Gilang menyindir sembari celingak celinguk memegangi tenggorokan. Karena risih juga, ia seperti obat nyamuk yang tak berguna di dalam ruangan itu.
"Syirik!" ujar Kenzo lirih.
"Dimana Clarice?" tanya Gilang pada Calina.
"Masih tertidur di kamarnya."
"Galen?"
__ADS_1
"Tidur di kamar kami!"
"Ini sudah mau maghrib! Kenapa masih betah sekali tidur!" gumam Gilang melangkah menaiki tangga dengan setengah berlari. Bersiap menggoda dua manusia kecil yang pasti akan sangat menggemaskan.
Mbak Irah sudah kembali ke dapur. Gilang pun sudah menghilang di telan susunan anak tangga yang meliuk ke atas. Kini tinggallah Kenzo dan Calina di ruang tamu.
Kenzo merengsak tubuh Calina. Menarik pinggang wanita itu untuk menempel sempurna pada tubuhnya. Hingga tak ada jarak sama sekali. Yang ada hanya nafas yang berhembus bersamaan dengan jantung yang selalu berdetak kencang setiap keduanya berdekatan.
Benar - benar serasa seperi dua remaja sedang jatuh cinta! Meskipun sudah bertahun - tahun bersama. Ya, sudah empat tahun lamanya Kenzo dan Calina membangun biduk rumah tangga.
Sangat tidak mudah untuk Calina bisa memiliki hati Kenzo secara utuh. Ada beberapa batu menghujam yang membuatnya kesakitan. Namun ada pula pelangi yang menghiburnya.
Hingga ia keluar sebagai pemenang, dan menjadi satu - satunya istri seorang Kenzo Adhitama.
Satu yang di sayangkan dari kemenangan Calina. Ia enggan di umumkan pada publik sebagai Nyonya Kenzo. Apalagi muncul di perusahaan Adhitama. Dimana hampir 100 % orang - orang di dalamnya tau, jika dia mantan istri Zio Alvaro.
Ia belum siap untuk berhadapan dengan publik. Hanya orang - orang tertentu yang tau tentang pernikahan mereka selain keluarga inti. Salah satunya Mereen Maulidya.
"I miss you..." lirih Kenzo mengecup bibir tipis berlipstik warna nude. Membuat bibir tipis itu terlihat cantik tanpa harus berlebihan.
Bibir tipis yang tertutup rapat, seketika tergelak tanpa suara. Entahlah, meski sudah 5 tahun bersama, rasanya kalimat romantis Kenzo selalu terdengar sangat langka di telinga Calina.
Setiap Kenzo berucap, maka memori akan mengantarkan Calina pada masa lalu. Dimana dulu lelaki itu sangat dingin, ketus dan tidak banyak bicara.
Dan kini, selama tiga tahun terakhir, hampir setiap hari ia akan mendengar kalimat - kalimat manis dari seorang Kenzo Adhitama.
"Selalu saja tertawa..." gerutu Kenzo memicingkan matanya.
"Kamu selalu terlihat menggemaskan setiap mengatakan kalimat itu saat baru pulang kerja!" jawab Calina.
"Salah?"
"Maksud ku, baru juga satu hari tidak bertemu."
Calina menangkup rahang Kenzo, kemudian membalas kalimat Kenzo dengan sebuah kecupan yang sama. Kecupan lembut yang sudah tak terhitung berapa kali ia lakukan pada Kenzo.
"Apa aku masih terlihat seperti Kenzo lima tahun lalu?" tanya Kenzo dengan tangan yang semakin mengerat di pinggang Calina.
"Hemm.... Tentu saja tidak!" jawab Calina. "Yang masih sama seperti dulu, hanyalah wajah mu yang tak sedikitpun terlihat menua!" jelas Calina membelai garis tegas wajah suaminya.
"Aku memang tampan sejak lahir!" sahut Kenzo enteng. Di bantah pun mana bisa, Karena sesuai kenyataan. "Sampai rambutmu ini kelak memutih pun, aku akan tetap tampan!" ujar Kenzo berlaga sombong di depan Calina.
Calina yang sudah mengenal baik seorang Kenzo, tentu hanya bisa tergelak. Di balik sikap dingin Kenzo di luaran sana. Kenzo tetap memiliki sisi lucu dan humoris. Hanya saja tak semua orang bisa memiliki kesempatan untuk melihatnya.
***
Di salah satu kamar di lantai dua, Gilang tengah menajaili keponakan tirinya. Gadis cantik yang lahir hampir lima tahun lalu itu juga mendapatkan kasih sayang seorang Gilang.
"Wake up, baby girl..." bisik Gilang di telinga Clarice.
__ADS_1
Jemari kokoh mengulik pipi gembul si gadis kecil dengan gemas.
...🪴 Happy Reading 🪴...