
Di ruang ICU, Calina masih terlelap dalam mimpinya. Kali ini Zio yang masuk ke dalam ruang ICU. Karena memang tidak boleh lebih dari dua orang yang masuk untuk menjenguk satu pasien ICU.
Sehingga Naura menunggu di luar. Dan karena hari sudah larut, mungkin perempuan cantik itu juga akan tidur.
Zio membuka tirai, yang ingin ia lihat pertama kali adalah Calina. Dan gadis malang itu masih terlelap dengan posisi yang sama. Zio melangkah lirih, mendekati Calina yang belum menyadari kehadirannya.
Ia tatap dalam wajah cantik natural si bunga desa. Ia kembali mengingat ucapannya pada Naura, jika ia tak ada simpati sama sekali pada Calina.
Namun saat melihatnya tertidur seperti ini. Ada hal lain yang ia rasakan. Hatinya terasa teduh. Namun bibirnya masih enggan untuk mengatakan apapun.
' Maafkan aku, Cal! Untuk saat ini aku tidak bisa melepas mu... '
' Aku tau, aku laki - laki paling biadab di muka bumi ini! Banyak kesalahan yang sudah aku lakukan padamu... termasuk... Malam itu... '
' Bagaimana jika kamu hamil karena kecerobohan ku malam itu? Aku bisa gila, kalau kamu pergi membawa anakku! '
' Siapa yang akan menjaga kalian agar sama - sama tetap sehat? '
' Setidaknya aku bisa melihatmu dan anak kita...Meski aku harus menjadi laki - laki paling egois! '
Hati Zio mulai tidak baik - baik saja. Ia berujar tidak akan pernah mencintai Calina. Tapi bagaimana jika Calina hamil anaknya? Ia tak akan pernah bisa melepaskan Calina. Apapun yang terjadi.
Egois? Mungkin benar jika Zio adalah pria paling egois yang pernah di temui Calina. Menjerat Calina dengan sedemikian gila. Meninggalkan jejak pada tubuh gadis yang ia gemborkan sama sekali tidak mencuri pencuri perhatiannya.
Lama Zio menatap wajah Calina yang masih tertidur. Sampai akhirnya Calina yang terlelap sedemikian jauh, tiba - tiba kepalanya bergerak hendak jatuh dari lengan.
Dan benar, hal itu terjadi. Kepala Calina meleset dari lengannya membuat pelipisnya menghantam tepi ranjang pasien.
"Ah!" pekik Calina reflek menggosok pelipisnya. Namun gadis itu kembali memperbaiki posisinya dan tertidur lagi.
Sedangkan Zio yang masih berdiri dengan melilitkan tangan di depan dadanya reflek tergelak lucu. Namun tak ada suara sama sekali untuk bisa di dengar Calina.
***
Pagi - pagi sekali, bahkan sinar matahari belum menyapa bumi, Zio dan Naura sudah kembali ke kota setelah berpamitan pada Calina dan Mama Reni.
Sedangkan Calina, ia memilih untuk berjalan - jalan di area taman Rumah Sakit, setelah berpamitan pada ibu mertuanya. Yaa.. Meskipun tidak pernah mendapat jawaban dari ibu mertua.
Cuaca yang dingin, membuat Calina masih betah untuk memakai jaket. Ia berjalan jalan santai, juga duduk di tepi kolam ikan koi yang tampak sangat cantik. Terkena sinar - sinar lampu taman yang masih menyala.
Sayu - sayu sepasang matanya melihat siluet yang baginya tidak asing. Tubuh tegap memakai celana pendek dan kaos lengan panjang berjalan dengan gagahnya di lorong rumah sakit.
"Pak Kenzo!" pekik Calina melihat sosok yang ia duga sebagai Kenzo itu.
Cepat - cepat Calina berlari mendekati lorong Rumah Sakit, dimana ia sempat melihat sosok Kenzo. Namun begitu ia sampai sosok itu sudah menghilang. Entahlah masuk lorong yang mana lagi.
Calina menoleh kanan kiri untuk menemukan sosok Kenzo. Namun nihil. Calina berjalan cepat di lorong Rumah Sakit, melewati beberapa ruangan dan lorong - lorong yang lain.
Melihat setiap ke lorong yang ia lewati. Calina tak menemukan tanda - tanda keberadaan Kenzo.
"Kemana beliau?"
Calina memutar badannya karena kehilangan jejak. Saat ia berputar ke belakang, sosol Kenzo keluar bersama seorang pria berjas dokter dari salah ruang yang di ketahui sebagai ruang dokter spesialis bedah.
__ADS_1
Melihat dari ekspresi Kenzo, Calina bisa menduga jika pria itu sedang dalam mode keras. Mungkin ada sesuatu yang mengkhawatirkan pada seseorang yang entah siapa.
Cepat - cepat Calina mendekati keduanya yang kini kembali berjalan cepat di lorong yang mana Calina tadi melihatnya.
' Benar itu Pak Kenzo! ' Seru Calina dalam hati.
' Apa yang di lakukan Pak Kenzo disini? Siapa yang sakit? '
Batin Calina, sambil mulai berjalan lebih pelan mengikuti langkah Kenzo dan Dokter ahli bedah itu. Menjaga jarak aman, agar tak terlihat jika ia tengah menguntit Bos suaminya itu.
Calina terus berjalan, mengikuti langkah Kenzo yang berbelok dan memasuki lorong untuk pasien VIP.
Calina berhenti tepat pada dinding tikungan. Mengintip ke pintu manakah Kenzo akan masuk. Sampai akhirnya Calina mengerutkan keningnya saat Kenzo dan Dokter menghilang di salah satu pintu.
Saat yakin aman, diam - diam Calina memasuki lorong VIP, dan mencari pintu dimana tadi Kenzo tadi masuk. Ia bersikap biasa saja saat ada Suster yang lewat, agar tak terlihat jika dia bukan bagian dari pasien VIP.
"27B," ucap Calina membaca nomor pintu. "Bougenville!"
"Tidak di tutup!" gumamnya melihat kaca persegi panjang.
Calina mengintip dari kaca pintu yang berbentuk persegi panjang vertikal, berukuran 10 x 20 cm. Terlihat di sana ada Kenzo yang menghadap ranjang pasien dengan membelakangi pintu. Namun sama sekali tak terlihat siapa pasien di dalam sana. Karena terhalang dokter yang memeriksa pasien.
' Pak Kenzo benar - benar terlihat sangat tampan dengan pakaian casual seperti itu! Seperti anak muda saja! '
Pikiran Calina mulai terbawa arus lamunan, Yang membuatnya seperti berada di alam mimpi. Hingga ia tak memperdulikan sekitar. Yang ada senyuman simpul dalam angan dan lamunan panjang.
Calina terus memicingkan matanya, berharap dapat menemukan jawaban, siapa yang tengah di jaga oleh seorang Kenzo Adhitama. Kenapa harus Dokter ahli bedah yang memeriksa?
"Maaf, Mbak? Ada yang bisa saya bantu?"
Suara seseorang di belakangnya membuat Calina melompat kaget. Hingga tubuhnya menubruk pintu yang hanya berjarak beberapa senti saja dari tubuhnya.
"A...a..itu!" Calina tergagap sembari menggaruk belakang telinga yang sebenarnya tidak gatal. "Itu, Sus!" menunjuk pintu tak berdosa yang dijadikan alasan saja. "Saya cuma... ma...u memastikan... A.. saya salah kamar atau tidak!" lanjutnya tersenyum kikuk. Menahan rasa malu yang luar biasa.
"Oh..." Suster mengangguk pelan. "Jadi Mbak nya salah kamar atau tidak?" tanya Suster. "Memangnya pasiennya VIP nomor berapa?"
"Ha?" lirih Calina kaget, karena tak akan punya jawaban untuk pertanyaan si suster. "Aa.... Memangnya lorong ini khusus VIP, ya?" tanya Calina pura - pura tidak tau.
"Iya, Mbak. Bisa di baca di bagian depan..." Suster itu menunjuk tulisan yang menempel di depan dinding lorong.
"Oh... Maaf... Maaf! Berarti saya salah!" ucapnya kemudian. "Permisi, Suster!" ujar Calina menunduk dan berlalu dengan dengan sedikit berlari. Tak mau lagi dia menoleh ke belakang. Si Suster pasti sedang menatapnya dengan tatapan aneh penuh tanda tanya.
Atau bahkan mencurigainya sebagai penguntit, atau hendak maling di ruang rawat VIP.
"Haduuh.. Bodoh sekali kamu, Cal!" gerutunya berlari kecil ke arah lorong semula. "Semoga Pak Kenzo tidak mendengar ku tadi! Malu sekali rasanya kalau sampai Pak Kenzo keluar dan melihatku!"
Cerocosnya, sembari memukul - mukul dahinya menggunakan ujung - ujung jari tangannya.
***
"Ada apa, Sus?" suara seorang pria membuat Suster yang menangkap basah Calina mengintip memutuskan pandangannya dari punggung Calina.
"Oh, itu Pak Kenzo... Tadi perempuan itu mengintip di jendela ini! Pas saya tanya katanya nyari kamar seseorang... Tapi entahlah, dia seperti orang bingung." jawab si Suster.
__ADS_1
"Oh..." Kenzo mengangguk datar.
"Mungkin lebih baik jendelanya di tutup saja, Pak.."
"Ya, kamu benar!"
"Apa Pak kenzo perlu bantuan untuk mencari tau siapa yang mengintip tadi?" tanya Suster itu. "Bisa saja kan mereka mata - mata?"
"Tidak usah!" jawab Kenzo datar.
"Kalau begitu saya permisi, Pak!" pamit si Suster.
"Hm.." jawab Kenzo cuek.
Setelah Suster itu berlalu, Kenzo masih menatap ke arah ujung lorong dari mana tadi ia berjalan.
' Aku seperti pernah melihatnya... '
Gumam Kenzo dalam hati.
' Siapa? Dan dimana? '
Lanjut Kenzo bertanya pada ingatannya sendiri.
Kenzo kembali masuk ke dalam ruang rawat, setelah belum yakin akan jawaban yang ia temukan.
"Kenzo..." lirih seorang gadis berambut sebahu dengan warna pirang yang terbaring di atas brankar pasien VIP.
"Jangan banyak bergerak dulu.." jawab Kenzo.
"Kenzo.. jangan tinggalkan aku..." lirihnya.
"Aku di sini." jawab Kenzo masih dari posisi dia berdiri semula.
Sementara di sofa ada seorang wanita paruh baya yang kedua matanya sembab akibat menangis semalaman.
"Sakit, Ken..." rintihnya lirih.
"Aku tau.. Jangan banyak bergerak, dan jangan banyak bicara dulu."
"Tapi, Ken..."
"Kalau kamu terus bicara, aku akan pulang!" ancam Kenzo. "Apa kamu tidak tau, sekarang waktuku harus lebih banyak untuk bekerja dari pada untuk kesenangan ku sendiri!"
Gadis berkulit putih itu terdiam. Tak bisa lagi mengelak akan ucapan - ucapan yang di lontarkan Kenzo padanya.
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...
āļø Hai, Author ingin menyampaikan, bahwasannya terkadang Author udah up. Tapi harus nunggu lolos review terlebih dahulu untuk bisa di baca.
Dan proses review oleh Editor terkadang cepat terkadang juga lambat. Maklum, Editor juga pasti sibuk baca sedemikian panjang kata yang tersusun dalam novel dari sekian banyak Author. š
Oh, ya... Jangan lupa tinggalkan like, komen, vote & ā 5 nya ya kak š Biar Othor semangat Up š
__ADS_1
Salam manis,
Lovallena ā¤ļø