
Duduk melamun sendirian, Calina di datangi oleh Kenzo yang juga baru saja selesai sholat subuh. Kenzo hendak kembali ke ruang rawat VIP. Namun ia memutuskan untuk menyapa bunga desa yang malang terlebih dahulu.
Calina sempat terkejut saat melihat Kenzo yang juga keluar dari Musholla. Ia tak menyangka laki - laki dengan kedudukan tertinggi di perusahaan tempat suaminya bekerja itu ternyata juga menunaikan ibadah wajib.
"Pak Kenzo!" pekik Calina membelalakkan mata sontak berdiri dari duduknya.
"Kenapa kamu melamun di sini?" tanya Kenzo sembari memakai sendalnya.
"Em... Tidak ada apa - apa, Pak... Saya hanya bosan menunggu di depan ruang ICU." jawab Calina berbohong.
"Dimana suami mu?"
"Em... Mungkin sudah kembali ke kota untuk bekerja." jawab Calina hanya berdasarkan dugaan saja.
"Oh..."
Kenzo mengangguk, kemudian dengan gerakan tangan ia mengisyaratkan bahwa dia harus pergi.
"Iya, Pak. Silahkan..." jawab Calina.
Kenzo berlalu dari hadapan Calina. Sedang Calina menatap punggung pria berbadan tegap dan gagah itu dengan tatapan kagum. Di balik tampang dinginnya ternyata ia masih mengingat kewajiban.
"Pria idaman..." lirih Calina melamun. Tanpa sadar bibirnya tersenyum tipis. Namun sesaat kemudian ia memukul - mukul kepalanya sendiri dengan pelan. "Yaa ampun Calina... Apa yang kamu pikirkan! Kamu terlalu kotor untuk mengharap seorang kenzo!" gerutunya mengomel pada diri sendiri.
Puas menggerutu, Calina kembali ke ruang ICU. Tampak Naura dan Zio siap untuk kembali ke Ibukota.
"Hati - hati, Ra.."
"Kamu juga, Cal! Jaga diri, ya? Biar nanti malam aku yang jaga Mama. Aku minta Mas Zio buat antar kamu pulang!"
"Tidak usah, Ra! Aku tidak tega meninggalkan Mama Reni..."
"Tapi, Cal..."
"Tidak apa, Ra..." potong Calina.
Akhirnya Zio dan Naura berlalu dari Rumah Sakit. Meskipun Naura bersikap demikian, ia yakin Zio tak akan mungkin mau mengantarnya kembali ke kota. Pasti ujung - ujungnya dia akan naik taksi.
***
Matahari terus bergerak, waktu menunjukkan lewat jam 12 siang. Calina duduk di kantin untuk makan siang. Dari kejauhan ia bisa melihat sosok Kenzo memasuki area Rumah Sakit menggunakan sarung dan peci.
Pastilah dia pulang dari sholat Jum'at di masjid depan Rumah Sakit.
' Benar - benar pria impian! '
Gumam Calina dalam hati. Ia tersenyum tidak jelas di depan piring makan siangnya
Belum selesai Calina makan, Kenzo sudah ada di hadapan masih dengan pakaian yang sama. Pria itu tampak memesan makan siang. Dan dapat di duga, Kenzo duduk di depan Calina lagi siang itu.
"Aku lihat kamu senyum - senyum sendiri!" ucap Kenzo datar tanpa melihat Calina.
Tersenyum malu, "Itu karena saya tak menyangka Pak Kenzo rajin sholat..."
Kenzo mengangkat kedua bahunya, "Sebenarnya tidak juga.. Manusia tempatnya salah. Aku juga tidak selalu bersi kukuh untuk mengutamakan kewajiban. Kadang ada saja yang membuat tubuh ini malas. Atau bahkan karena lebih mementingkan urusan duniawi!"
Calina tetap tersenyum manis. Ia sama sekali tidak kecewa dengan jawaban Kenzo. Karena bisa di bilang, dia sendiri termasuk dalam golongan orang yang di ceritakan Kenzo. Yang tidak selalu menunaikan kewajiban secara tepat dan lengkap.
__ADS_1
"Tetap saja Bapak mengagumkan. Berbeda dengan suami saya..." lirihnya menunduk. Ada sesuatu yang ia simpan. Sesuatu yang tak ingin di sampaikan pada Kenzo atau siapapun juga. Cukup diri rapuh itu saja yang tau.
Di tengah obrolan santai, beberapa perawat berlarian memasuki salah satu lorong. Calina menatap para ahli medis itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
Sampai akhirnya, seorang perawat berlari memasuki area kantin, dan berdiri di tengah - tengah kantin dengan wajah tegang.
Tentu saja itu memancing reaksi semua pengunjung kantin.
"Adakah di sini keluarga Nyonya Reni dari Kota A?" tanya suster itu dengan suara kencang untuk menarik perhatian pengunjung kantin.
Deg!
Jantung Calina bagai di hantam batu besar yang menyesakkan dada. Dengan tangan lemas dan nafas yang nyaris berhenti, ia mengangkat tangan kanannya ke udara. Dengan kaki lemas ia memaksa untuk berdiri.
"Sa...saya.." jawabnya tergagu. Ia yakin ad yang tidak beres.
Reflek Kenzo ikut berdiri. Pasti ada sesuatu yang sangat genting sampai suster harus mencarinya.
Suster itu seketika menoleh ke sumber suara. Setelah tau dimana orang yang ia cari, ia segera mendekat.
"Silahkan ikuti saya, Bu! Ada yang harus kami informasikan!" ucap Suster itu dengan wajah serius.
"Baik!" jawab Calina dengan dada bergemuruh. Dari raut wajah Suster itu, ia yakin ada berita gawat tentang ibu mertuanya yang tidak bisa di abaikan.
Calina berjalan mengikuti langkah Perawat itu. Reflek Kenzo mengikuti langkah Calina di belakangnya. Entah, apa yang membuat seorang Kenzo ingin mengikuti langkah Calina.
Tibalah mereka di ruang ICU, dimana seorang dokter tengah berusaha mengembalikan detak jantung Mama Reni. Di sekitarnya ada beberapa perawat yang sigap membantu sang dokter. Dan berbagai alat kedokteran sudah menempel di beberapa bagian tubuh Mama Reni.
Calina menutup mulutnya yang membentuk huruf O. Menatap tak percaya pada kondisi Ibu mertuanya.
"Kenapa dengan Mama saya, Sus?" tanya Calina lirih.
Calina menatap layar monitor yang semua menunjukkan garis lurus. Seketika ia meneteskan air mata. Air mata itu sudah menggenang sejak ia masuk ke dalam raung ICU. Bahkan sudah panas sejak ia berjalan cepat di belakang Suster.
"Ma..." lirih Calina terisak.
Terlihat Dokter menghela nafas berat, sembari meletakkan sepasang alat pacu jantung.
"Maafkan kami, Nona. Ibu Reni meninggal..." ucap Dokter dengan lirih.
Seketika Calina merasa sesak. Air mata semakin berjatuhan meski tanpa suara tangisan berlebih. Tubuhnya semakin lemas, dan ia jatuh berlutut di lantai.
Dunianya kini benar - benar runtuh. Menatap nanar pada beberapa petugas medis yang mencopot semua peralatan medis yang terpasang di tubuh Mama Reni.
"Maa... Kenapa Mama juga meninggalkan Calina..." lirih Calina tertahan di tengah isakan.
Tangan kekar menyentuh pundak kanan Calina dengan lembut. Namun Calina yang tengah berduka seolah tak menyadari tangan siapa yang menyentuh dan mengusap pundaknya lembut.
"Kuatkan dirimu..." bisik Kenzo dari sisi kiri Calina.
Mendengar suara Kenzo membuat Calina tersadar dari kesedihan. Ia menoleh ke samping, menatap lesu wajah tampan Kenzo.
Dalam kesedihan seperti ini pun, saat melihat wajah Kenzo yang di ingatnya adalah tentang suara Kenzo di malam ia mendorong motornya. Hanya karena menganggap Kenzo adalah Malaikat di malam itu, membuat Calina ingin sekali dekat dengan sang malaikat.
Meski terkadang ia belum yakin bahwa yang menolongnya adalah Kenzo. Karena yang ia kenal pertama kali mengaku bernama Gilang.
"Ayo, berdiri.."
__ADS_1
Kenzo, laki - laki yang sebenarnya tak banyak bercakap dan terkesan angker saat berhadapan dengan para anak buah di perusahaannya itu, kini kembali seperti Malaikat untuk Calina. Melebarkan sayapnya untuk memberi ketenangan perempuan yang statusnya adalah istri orang.
Tuhan seolah sengaja mengirimkan sosok Kenzo untuk selalu ada di sisi Calina, saat suaminya sendiri tak ada untuk sekedar membantunya, ataupun memberi dukungan.
Calina berdiri, dan memberikan jalan untuk beberapa perawat yang siap untuk mengurus jenazah Ibu mertuanya.
"Segera kabari Zio.. Aku akan memberinya cuti satu minggu. Mengingat kalian kehilangan mereka dalam waktu yang dekat."
Calina hanya bisa mengangguk, tanpa bisa menjawab dengan bersuara.
Calina mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Zio. Namun seketika itu ia teringat dan melongo menatap Kenzo.
"Kenapa?" tanya Kenzo.
"Saya baru ingat, kalau saya tidak punya nomor ponsel Mas Zio, Pak!" jawab Calina tertunduk.
"Hah!" pekik Kenzo tak percaya. "Bagaimana bisa? Kalian ini kan suami istri! Mana mungkin tidak punya nomor ponselnya!" amuk Kenzo tanpa sadar.
"Dulu saya pernah punya, Pak. Tapi semenjak ponsel Mas Zio hilang beberapa bulan lalu, saya tidak di beri nomor ponselnya lagi.."
Kenzo mengerenyitkan keningnya. Ia semakin tidak mengerti dengan kehidupan perempuan di depannya. Perempuan yang sebenarnya tak punya kewajiban untuk mendapat perhatian lebih darinya.
Tapi naluri baik seorang Kenzo tentu membuatnya tetap menemani Calina yang sedang berduka.
Bisa saja ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi nomor salah satu manager nya itu. Tapi Zio tak tau jika beberapa hari terakhir ia mengobrol dengan istri salah satu managernya itu.
"Saya cuma punya nomor Naura! Saya akan menghubungi Naura, Pak!" ucap Calina segera mencari nama Naura dari daftar kontak.
Kenzo mengangkat sebelah sudut bibirnya. Hal aneh yang ia temukan dari istri Zio, membuat Kenzo ingin menelusuri lebih jauh tentang sosok Zio.
š "Halo, Cal. Ada apa?" jawab Naura dari sebrang. "Kenapa kamu terisak?"
š "Halo, Ra! Ra, tolong sampaikan pada Mas Zio. Mama Reni meninggal..." ucap Calina menahan isakan.
š "Innalillahi... Sekarang bagaimana?"
š "Sudah di persiapan oleh pihak Rumah Sakit!"
š "Kami akan segera ke sana!" seru Naura dari sebrang sana.
Calina menutup saluran teleponnya. Dan kembali terisak di kursi tunggu. Menunggu sang Ibu mertua yang tengah di persiapkan untuk proses pemakaman.
Di sela - sela itu, ia kembali menghubungi perangkat desa di kampung Zio. Meminta tolong untuk di persiapkan pemakaman sang Ibu mertua.
"Siapa tadi namamu?" tanya Kenzo pada Calina.
"Calina, Pak!" jawab Calina.
"Hem.. Ya, Cal! Aku harus kembali ke ruang rawat. Kamu harus kuat menghadapi kenyataan ini. Satu yang wajib kamu tau, hidup harus terus berlanjut. Meski tanpa orang - orang yang mencintai kita!"
Calina tertegun, terperangah oleh nasehat Kenzo yang menurutnya tak biasa. Ia tak menyangka jika Kenzo sudah menemaninya sampai sejauh ini.
"Saya tau, Pak. Terima kasih sudah menemani saya..." lirih Calina menunduk.
"Hem..." jawab Kenzo datar dan berlalu dari ruang tunggu dimana Calina masih duduk sendiri menunggu kedatangan suaminya.
Calina menatap punggung tegap yang di pundaknya melingkar sarung yang semua ia pakai untuk sholat Jum'at tadi sian
__ADS_1
Kenzo sendiri tentu saja berlalu pergi, karena tak ingin salah satu manager di kantornya itu tau jika ia sudah menemani sosok Calina.
...šŖ“ Happy Reading šŖ“...