
Gaun putih yang ku kenakan menjadi saksi pernikahan ku.
Sebenar tak ingin terlalu mewah karna melelahkan pastinya, tapi baik keluargaku maupun keluarga Mas Reza bersikeras pada keinginan mereka. Aku hanya mampu mengikuti.
Davina yang tersenyum bahagia mungkin lebih bahagia di banding aku. Entah kenapa sejak semalam hatiku risau tak karuan.
Pernikahan yang ku tunggu rasanya menjadi hambar, bagai sayur tanpa garam.
"Mbak Bella cantik, banget." teriaknya melihatku keluar dari ruang ganti. Sedikit berjingkrak seperti anak kecil. Gemesnya.
Aku mengangguk tersenyum.
"Wah, pengantin sudah siap.." suara Papa dari punggungku.
"Kamu cantik, sekali. Persis Mamamu.." mata Papa berlinang tapi senyumnya mengembang sempurna.
Aku meraih tangannya yang ada di bahuku dan menciumnya.
"Terimakasih, Pa."
"Papa aku juga, cantikan ?" teriak kecil yang menggemaskan dari Davina membuat kami tertawa.
"Iya, sayang. Kalian cantik sekali, anak Papa siapa lawan." Papa merangkul bahuku dan Davina.
Cukup membuat sedikit lebih tenang hatiku yang risau tak menentu.
"Mbak.." teriak Glen.
Aku menoleh kearahnya, ada Sisi di sampingnya. Dengan bergandengan tangan, pasangan ini sungguh mesra. Gaun yang senada dengan jas membuat terlihat seperti sepasang pengantin.
__ADS_1
"Wah wah, wah.. Aku kalah cantik denganmu, Si." godaku membuat wajah Sisi merona.
Sisi melepas gandengan tangannya, "Tidak, mungkin. Hari ini yang jadi ratu adalah kamu mana mungkin kalah cantik, dariku." Sisi merangkul dan mencium pipiku.
"Arg, riasan.." teriakku memegang wajahku.
"Akh lebay, kamu." tawa kami bersama.
Aku di gandeng Papa dan Glen di sisi kanan kiri ku.
Davina dan Sisi ada di belakangku melangkah menuju altar pernikahan.
Kami sempat menunggu karna Mas Reza belum hadir. Nampak sekali asisten pribadinya panik, aku hendak bertanya tapi di tahan oleh Glen.
"Biar aku saja, Mbak." cegahnya. Aku mengangguk.
Entah apa yang mereka bicarakan, Mama Syarina dan Papa Abraham terlihat resah.
Glen terlihat kesal membentak dan mengumpat kepada asisten Mas Reza.
Glen mendekati Papa Abraham.
Dari jauh aku menerka tampak jelas Papa Abraham meminta maaf pada Glen sedangkan Mama Syarina seperti menangis.
Hatiku tambah risau tak karuan.
Ada apa sama Mas Reza. Dia baik baik saja kah, atau ada masalah.
Papa Surya mendekati Papa Abraham. Kini mereka berbicara agak santai seperti yang terlihat dari jauh olehku.
__ADS_1
"Aku akan bertanya pada, Glen. Kamu tenang aja ya, Bell." ujar Sisi, aku mengangguk.
Davina menggenggam tanganku, memberiku kekuatan walau dirinya sudah sedikit gemetar.
Tanpa mendengar kami hanya bisa menyaksikan mereka dari jauh.
Tak lama Sisi kembali.
Wajahnya murung.
Aku langsung bertanya.
"Ada apa, Si ?" tanyaku penasaran.
Sisi menggelengkan kepalanya. "Gak apa, Bell. Reza sedang di perjalanan, macet." ucapnya.
Tapi aku tau pasti dia berbohong. Raut wajahnya muram dan ada sisa linangan air mata di netra nya.
Aku mengangguk karna percuma jika aku bertanya, mereka hendak menyembunyikan semuanya. Biar ku tanya Mas Reza langsung nanti, pikirku.
Tak lama Mas Reza datang dengan tergesa-gesa. Ku melihatnya di ambang pintu, merapihkan jasnya dan sedikit mengusap rambutnya.
Ah, benar macet. Buktinya sampai Mas Reza kalang kabut gitu.
Tapi berbeda dengan pandangan mata yang menyorot Mas Reza.
Ada apa dengan Papa, Papa Abraham, Mama Syarina, Sisi dan juga Glen.
Kenapa mereka nampak ingin menelan hidup hidup Mas Reza.
__ADS_1
Sorot matanya tajam, tangan mengepal serta rona wajah yang memerah. Ada kekesalan dan kebencian di balik tatapannya.
Dengan penuh pertanyaan di hatiku. Pernikahanku tak berasa selesai. Ijab kabul serta tradisi yang harus di jalankan berlalu begitu, saja.