
Mas Reza pulang dari kantor seperti biasa. Dia sekarang memiliki kebiasaan baru, setelah mandi akan sibuk dengan ponselnya di balkon sana. Aku tau alasan hobby barunya itu.
"Mas, ada yang mau aku tanya." ucapku saat dia sedang fokus. Dan beralih memandangku.
"Apa sayang, duduklah." pintanya.
Aku duduk di sisinya, "Mas, gak mau jelasin apapun tentang keterlambatan Mas di hari pernikahan." aku menatap matanya mencari kebenaran ucapan Papa kalau dia akan melepaskan kekasihnya.
Wajahnya tampak terkejut walau sedikit yang tergambar.
"Kok di bahas lagi, kan Mas sudah bilang kalau, macet." ucapnya tanpa memandang mataku.
"Yakin cuma macet. Bukan karena hal lain."
Mas Reza resah, menggeser posisi duduknya sedikit kebelakang. Meletakkan ponselnya dan meraih cangkir dan meminum teh.
__ADS_1
"Kalau memang cuma macet, ya gak usah grogi gitu, Mas." ledekku dengan terus menatap matanya.
"Kamu mikir apa, sayang. Udah ah Mas mau tidur, capek." dia beranjak dari duduknya meninggalkanku masuk ke kamar.
Baiklah, Mas. Jika ini yang kau inginkan, sakit dan perih hati ini akan kurasakan sendiri. Lemas tubuhku melihat sikapnya yang sekarang, setelah menikah yang kedua kali secara meriah. Bukan keromantisan yang tercipta malah kehampaan yang ku rasa. Baru tiga hari, Mas. Baru tiga hari kita mengadakan pesta meriah, tapi ini yang kau berikan. Janji yang diucapkan oleh mu, terasa sangat manis dan nyata kala itu. Membuat aku terbuai dengan bodohnya. Jika sekali ini aja kamu jujur, Mas. Mungkin masih bisa pisau ini tidak menusuk terlalu dalam.
Bahkan di saat anak yang katanya kau nanti hadir dalam rahimku, kau sama sekali tidak tau, Mas. Dan tidak ada menyadari kehadirannya. Kalian semua terlalu sibuk dengan diri sendiri.
Aku menangis dalam diam ku, berharap ini semua mimpi yang buruk untukku. Dan berharap di saat aku bangun nanti semua rasa ini akan hilang. Aku mengusap bulir air mata yang tak tertahan mengalir keluar.
Badan gemetar karna emosi dan sakit hati, terasa ringan tubuhku.
Aku melangkah masuk ke kamar. Aku harus istirahat karena aku tidak sendiri saat, ini. Aku mengelus perutku dan berangsur ke tempat tidur. Aku menatap wajah Mas Reza yang sudah terpejam, entah tidur atau hanya pura pura. Karna beberapa malam ini, saat aku terbangun untuk ke kamar mandi. Dia selalu tidak ada di sisiku, dia tertidur di sofa dekat jendela. Mungkin sekarang dia sedang berjaga jarak denganku. Bukan dia yang akan kau akhiri Mas, tapi aku yang akan mengakhiri.
"Aku tau, Tuhan. Engkau memberiku kekuatan lebih untuk menghadapi cobaan ini. Karna aku wanita, kuat." aku memejamkan mataku, berharap rasa sakit malam ini tidak mempengaruhi hati dan kesehatanku.
__ADS_1
Aku terbiasa hidup sendiri, aku terbiasa bersama Mama. Aku yakin, aku mampu memberikan kebahagiaan untuk anakku tanpa siapapun. Seperti selama ini, aku tidak pernah bertanya tentang Papa ku kepada Mama, sampai Mama mengatakannya sendiri.
"Ma.. Aku rindu... Sekarang di perutku sudah ada cucumu, Ma. Doakan kami selalu sehat bersama." aku membisikan doa untuk Mama seraya mengelus perutku hingga terlelap.
THING ...
Aku terbangun karna mendengar suara denting benda seperti kaca yang beradu.
Ku lihat ternyata Mas Reza sedang menelpon di depan jendela. Tanpa di tangannya secangkir kopi di minumnya. Aku samar mendengar pembicaraan mereka, penuh canda dan hangat. Senyuman yang terukir di wajahnya terlihat jelas kebahagiaannya. Ya maklum kekasihnya sudah kembali dari luar negri setelah sekian lama. Cinta Lama Bersemi Kembali.
Aku menutup mataku dengan paksa, menghapus bayangan kebahagiaan mereka.
Aku memaksa untuk tidur segera, tapi itu percuma karna hati tak ingin menutup.
Panggilan "Sayang" selalu di lontarkan Mas Reza kepada kekasihnya. Aku harus bertahan, harus. Aku membulatkan niatku agar tidak mengganggu mereka memadu kasih.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, sayang. Secepatnya aku kesana ya, setelah pekerjaan di sini sedikit lenggang." janji suamiku pada kekasihnya dengan senyuman yang terukir indah.
"Terimakasih, Mas. Cintamu padaku teramat manis, sehingga menjadi pahit untuk di rasakan. Akan aku beri kalian kesempatan untuk bersama, secepatnya." batinku menangis mengucapkan ini, tapi aku harus yakin bahwa pernikahan ini tidak akan membawa kebahagiaan bagi siapapun. Aku kan melepaskannya.