
Berbeda dengan Bella dan Reza di sana, Papa Surya mengalami mimpi yang sangat menguras tenaga.
Mimpi yang sempurna.
Teriakan Papa Surya membuat Davina berlari ke kamarnya.
Di buka pintu yang tidak di kunci.
Davina melihat Papanya meringkuk dalam tidurnya, keringat membasahi tubuhnya.
Terdengar gumaman dari mulut Papa yang sedikit terdengar oleh Davina.
Davina mendekati Papanya.
"Maafkan aku sayang, karna kesalahanku kalian harus menderita. Aku yang salah, kenapa gak aku yang dihukum." Tubuh Papa gemetar dalam tidurnya.
Seolah Papa sedang memeluk seseorang, sesekali mengecup seolah bibirnya mengecup sesuatu di hadapannya.
Davina mengeluarkan ponselnya. Dia sengaja tidak membangunkan Papanya. Ingin memiliki bukti untuk dirinya. Menguatkan hatinya dengan fakta yang ada.
"Gara gara aku menolongnya malah aku terjebak dalam masalah ini. Aku sudah bilangkan sayang, aku gak mau membantunya." tangisan Papa membuat Davina mendekat.
Davina ingin mendengar langsung dari mulut Papanya.
"Dia bukan wanita baik sayang, kalau dia baik dia gak mungkin memisahkan kita."
Davina ikut menangis dia tau pasti wanita itu yang di sebut Papanya siapa.
"Kamu memintaku menolongnya, aku tidak bisa menolak. Dia sahabatmu, tapi pisau bagi kita."
__ADS_1
"Aku terpaksa mengikuti semua keinginannya, sampai memindahkan mu ke desa."
"Dia kejam sayang, dia sangat kejam."
Papa mengeratkan pelukan tubuhnya.
Membuat hati Davina teriris perih.
"Aku bersyukur sekaligus sedih karna sampai dia meninggal dunia, dia belum bisa berubah."
"Aku selalu berusaha mengelak ketika dia meminta seluruh aset kalian sayang, tapi kini aku lega. Karna anak anakku sudah besar."
Papa meraba udara, seolah sedang meraba orang yang ada di hadapannya.
"Semua aset yang ku ambil paksa, sudah kembali kepada anak anak. Kini aku hanya berharap bisa segera menyusul mu sayang, kamu masih mau kan bersamaku di alam sana." Di kecup udara dan di peluk erat kembali tubuhnya.
Davina mundur dan bersandar di bahu pintu.
Semua yang menimpa Bella, Glen serta Mama mereka adalah ulah Mamanya. Davina kini yakin, dia harus mengembalikan kebahagiaan orang orang yang telah di rusak mamanya.
"Pah, aku janji. Aku gak akan seperti Mama. Jangan tinggalkan aku sendiri Pah, aku butuh Papa." Davina lari meninggalkan kamar Papanya.
Davina melempar tubuhnya ke atas kasur.
Diambil frame yang ada di meja lacinya.
"Mah, kekacauan ini akan aku selesaikan. Entah apa dan kenapa Mama seperti itu, tapi aku gak mau melihat Papa hancur seperti ini."
Dua tahun Kematian Melati.
__ADS_1
Membuat pukulan untuk Davina.
Tapi ternyata kenyataan ini yang lebih membuat hati perih.
Kenyataan bahwa Mamanya lah orang yang telah menghancurkan semua orang baik di sisinya.
Kini mimpi buruk sang Papa harus berakhir, tekad Davina yang ingin mempersatukan seluruh keluarganya telah membulat.
"Mama Kartika, Mama Sinta, aku mohon maaf atas kesalahan Mamaku. Tapi aku janji, aku akan mengembalikan Papa seperti semula. Dan menyatukan Papa dengan kedua anak kalian."
Davina meneteskan air mata. Dia diam diam menyimpan dua lembar foto Mama Kartika dan Sinta. Di tatap satu persatu.
"Kalian cantik dan juga baik hati. Beruntung sekali Papa memiliki kalian. Mau kah kalian memaafkan Mamaku dan menerimaku Mah." Di usap bergantian kedua lembar foto tersebut.
Malam ini hati Davina remuk.
Kenyataan bahwa dia anak perusak kebahagiaan orang lain.
Kenyataan bahwa dia harus hidup mewah penuh kasih sayang di atas penderitaan yang lain.
Dia menikmati keindahan serta semua fasilitas yang tersedia di saat dia sebenarnya tidak berhak atasnya.
Di putar putar ulang kata kata Papanya di pemakaman Mama Kartika dan rekaman di saat Papanya mabuk.
Davina ingin merasakan apa yang di rasakan Papanya. Papanya yang lembut dan penyayang. Papa yang tak pernah kasar sedikitpun terhadapnya. Berubah setelah peninggalan Mamanya.
Awalnya dia bingung kenapa Papa berubah seperti ini, tapi kini semua terbuka. Papa memberontak pada dirinya sendiri. Menyesali dan sangat menyesali semua yang dia lakukan di masa lalu. Kini penghalang untuk dirinya telah tiada.
"Kembalilah Pah, kembali kepada dirimu sendiri. Orang yang di cintai Mama Kartika. Papa yang aku sayangi. Maafkan aku Pah, mungkin karna wajahku terlalu mirip dengan Mama akhir akhir ini Papa semakin tertekan melihatku."
__ADS_1
"Penderitaan mu telah berakhir Pah, aku akan buktikan aku anakmu tidak akan bersikap seperti Mamaku." Di peluk semua foto yang di tangannya. Menutup matanya.