DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
MENSION REZA


__ADS_3

Sudah lebih dari dua tahun kepergian Bella dari rumah ini. Kamar yang dulu di tempati olehnya kini di biarkan kosong, semua isi bahkan sabun mandi tidak boleh di keluarkan. Reza menginginkan wangi Bella tetap ada di dalam kamar itu.


Clara sedang mengandung, tiga bulan setelah Bella pergi. Reza menjadi liar, Papa Abraham kembali keluar negeri bersama Mama Syarina. Clara kini tinggal di Mension Reza.


Walau belum ada ikatan resmi, Clara bersikap seperti Nyonya rumah di sana. Semua keperluan dan kebutuhan dia yang mengatur.


Reza yang terus mencoba mencari di mana Bella hingga saat ini, mengacuhkan apapun yang di lakukan Clara selama dia tidak menyentuh kamar Bella.


"Sudah aku bilang, jangan pernah masuk ke kamar ini. Kami tuli Clara? Apa mau mu, keluar!!!." aku melihat Clara yang akan memasuki kamar utama milikku.


"Kamu kenapa si, sayang. Ini sudah setahun berlalu, Bella sudah pergi. Entah hidup atau mati dia di sana." ucapnya ketus. Aku ingin sekali meremas bibirnya jikalau dia bukan wanita hamil.


"KELUAR!!!" bentakan ku membuat tubuhnya mundur dan bergetar.


Dia pergi dengan mata yang berkaca kaca. Aku sedikit menyesal membentaknya, wanita yang selama ini ku lindungi kini harus merasakan kepedihan dan penyesalanku. Andai kala itu aku bisa memilih antara dirimu dan dirinya.


Tapi jika hal itu terjadi kali ini, akan ku pastikan aku akan dengan tegas memilih Bella.


Hatiku hancur, hidupku hampa tanpanya.


Wajahnya yang selalu menghiasi pandanganku, suaranya yang selalu membangunkan tidurku, tawanya yang menghiburku. Aku sangat merindukanmu, sayang. Pulanglah Bella..


Aku duduk bersimpuh di tepi tempat tidur. Ku tatap gambar Bella yang terpajang di dinding.


Foto kami menikah, pernikahan yang singkat. Hanya beberapa hari pernikahan kami berjalan secara resmi. Tapi bodohnya aku malah meninggalkan pengantinku di hari yang penting itu.


"Bella, sayang.. Pulanglah.. Aku merindukanmu.. Maafkan aku, sayang.. Aku mohon.."

__ADS_1


Penyesalanku tiada guna dan terus menggerogoti hidupku. Perusahaan yang ku rintis di ambang kehancuran. Satu anak cabang ku mengalami defisit.


Setiap kali ada tender besar, aku selalu di kalahkan oleh perusahaan Bella. Perusahaannya berkembang pesat walau tanpa dirinya. Aku terlalu lelah, semua yang ku terima kali ini ada buah dari perbuatan ku sendiri.


KRING ...


"Kenapa, Lee?"


"Maaf, Tuan. Tuan harus segera kembali ke kantor. Rapat kali ini, agak pelit di hadapi. Para pemegang saham mulai memanas, Tuan."


"Baiklah, tunggu sebentar."


Semenjak anak cabang defisit, pemegang saham mulai memanas. Mempertanyakan kinerjaku, apa aku harus kerja sendiri. Sedang kalian menikmati hasilnya, sial!!.


TUT ...


"Aku hancur!!!." aku melayangkan tinjuku di atas kasur.


***


"Aku bingung sama, Reza. Sudah bertahun tahun di tinggalkan masih menangis kesepian. Masih tidak memberiku muka. Bukankan dia menginginkan anak, aku sudah berikan. Hanya karna Bella, kamar sebesar itu di biarkan kosong dengan sia sia." gerutu ku.


Aku enggan sekali hamil, aku juga tidak tau ini anak Reza atau bukan. Tapi dengan kehamilan ini, aku bisa hidup mewah di mension ini.


Aku muak melihat Reza yang setiap hari meratap di kamar itu, aku berharap dia tidak akan kembali dan mungkin mati.


Aku duduk di tepi balkon, melihat mobil Reza keluar dari gerbang.

__ADS_1


"CK.. instingnya tajam sekali. Pulang hanya karna aku mau masuk ke dalam kamar itu, atau jangan-jangan ada yang melaporkan niatku." aku mengusap perut ku yang membuncit.


"Kapan kamu akan lahir, sungguh membuat ku tidak nyaman."


Usia kandunganku sudah masuk lima bulan. Setiap melakukan pemeriksaan, Reza tidak pernah membiarkanku pergi sendiri. Dan di rumah ini, semua gerak gerik ku di awasi. Aku yakin bukan Reza yang memintanya, melainkan mertuaku.


"Eh, bukan mertua. Baru calon, mungkin saat anak ini lahir mereka akan memanggilku menantu. Itu pun kalau ini anak Reza, tapi apapun caranya ini harus menjadi milik, Reza.


Aku teringat ucapan Papanya Reza, Om Abraham saat aku masuk ke rumah ini.


"Kamu yakin anak itu milik, Reza?."


Saat itu aku tidak berani menjawab, aku sedang dalam posisi menjadi gadis lembut yang "terbiasa" tertindas.


Tapi saat itu Reza membantuku bicara, Reza sangat yakin ini miliknya. Padahal aku sendiri tidak yakin. Yah walaupun begitu, aku bersyukur dia tetap ada di pihak ku hingga saat ini.


Secara diam diam, aku mencari di mana Bella. Aku tidak ingin dia kembali, jika dia memiliki niat untuk kembali. Maka jangan salahkan aku tidak sungkan.


Aku harus menjadi Nyonya Lincoln, menantu dari keluarga Abraham.


Aku sudah jenuh berkeliaran di luar sana, walaupun kebutuhanku selalu terpenuhi oleh Reza dan beberapa lelakiku. Tapi aku butuh status tinggi untuk kehidupan sosialku. Aku tidak ingin terus menjadi kekasih untuknya.


Aku tidak perduli, Om dan Tante menerimaku atau tidak. Kau hanya butuh Reza menerimaku dan memberiku status sosial.


"Nyonya Lincoln.. Bukan kah itu indah di sebut." aku tertawa menepuk tanganku.


Membayangkan saat aku keluar berbelanja, di sana akan ada yang memanggilku dengan sebutan "Nyonya Lincoln."

__ADS_1


Mereka akan menunduk dan tersenyum tanpa berani menatapku. Aku akan mendapatkan apapun yang aku inginkan, semuanya.


__ADS_2