DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
CEMBURU?


__ADS_3

"Sayang,, sudah lah.. Lupakan itu semua, walau Mas tahu itu berat. Tapi bukan kah mereka memang dari awal sudah melepas kalian?." Mas Gaga merangkul ku di dalam mobil.


"Iya, Mas. Aku tahu kok, hanya saja.. perasaan ini tidak bisa di bohongi. Aku tidak pernah bisa membayangkan jika Edward ada di sana dan mengerti tentang perasaan ini." Aku membenamkan wajahku di dadanya.


"Mas yakin, Edward tidak perduli dengan itu semua. Mas percaya dan tahu betul sifat yang ada pada anak sulung kita, masa Ibunya gak paham.. Dia bukan anak yang perduli dengan hal ini." mengusap kepalaku.


Aku tidak terpikir, benar juga. Selama ini bahkan Edward enggan memanggil Om Abraham, kakeknya. Untuk apa aku khawatir, malah jika aku seperti ini. Seolah olah aku yang enggan di lupakan, aku kehilangan akal untuk memikirkan hal tidak bermutu. Aku jadi malu dan canggung untuk menatap Mas Gaga sekarang, pasti dia berpikir aku cemburu!.


"Ya benar, Mas. Aku kenapa harus berpikir sempit seperti itu. Selama ini Edward pun tidak membutuhkan mereka, untuk apa aku malah berharap mereka membutuhkan Edward. Maaf ya Mas..." aku memeluk suamiku erat.


"Iya sayang, tidak masalah. Perasaan itu biasa muncul, sayang." kecup rambutku.


Sampai di rumah aku di sambut tawa riang Edwina yang sedang berada di gendongan Edward.


"Mom.. Adik bayi sudah lahir?" pertanyaan Edward membuatku teringat kembali pemandangan tadi di rumah sakit. Aku mengangguk.


"Syukurlah, tadi aku mendengar kabar dari Mikola. Om, Tante dan Mikola sedang menuju kesini, katanya Om Reza menelpon mereka." Edward memberikan kabar yang aku belum tahu.


"Oh, iya." aku menoleh ke Mas Gaga yang sedang bermain dengan Edwina dalam gendonganku.


"Ya, baguslah.. Biar bagaimanapun Mikola adalah kakak dari bayi itu. Jadi sudah sewajarnya mereka bertemu, lagipula ibunya kan sedang berjuang di dalam ruang operasi." jawaban Mas Gaga sedikit dingin.


Mungkin dia tidak nyaman aku terlalu memikirkan keluarga mereka.


Aku menghirup nafas dalam..


"Ya benar, ya sudah kita masuk. Kalian sudah makan?" tanyaku pada kedua anakku.


"Da- dah Mam.. " celoteh Wina dengan wajah gemasnya.


"Wah, pintarnya anak Mommy..."

__ADS_1


Kami menikmati waktu bersama untuk bermain hal hal kecil bersama kedua anakku.


Sambil menikmati cemilan di temani teh hangat.


"Yang.. Jadi kita main ke desa.." aku bersandar di dada bidang Mas Gaga yang sedang memperhatikan kedua anak kami.


"Ya jadi.. Kan kamu terus yang menunda.." jawabnya mengelus kepalaku.


Ya memang aku yang menunda rencana liburan kami, karna terus terpikirkan tentang bayi Clara. Tapi saat ini sepertinya tugasku selesai, aku tidak ingin terus berlarut pada keluarga mereka. Keluargaku juga membutuhkanku.


"Maaf Mas.. Kita atur Minggu ini bisa, Mas? Kebetulan Edward juga sedang libur semester kan, kita bisa tenang berlibur tanpa mengganggu belajarnya." ucapku.


"Ya sayang, nanti Mas bereskan dulu pekerjaan yang mengharuskan Mas hadir, selebihnya nanti biar Ricardo yang menanganinya." Mas Gaga menyetujui.


Aku mengangguk, "Perlu mengabari Mpok disana gak, Mas?" tanyaku.


"Sepertinya gak usah, sayang. Biar jadi kejutan aja, lagipula kalau kita memberitahu mereka. Mereka pasti akan kewalahan menyiapkan sesuatu yang merepotkan mereka." ungkap Mas Gaga.


"Sayang, bisa gak Mas memohon satu permohonan.." tatapnya dengan penuh harap.


"Mau apa, Mas?." aku sedikit cemas dan berdebar. Tidak biasanya Mas Gaga berbicara seperti ini.


"Mas, mohon.. Mulai sekarang jangan terlalu larut dengan masalah mereka. Mas bukan tidak suka sikap kamu dan ketulusan kamu untuk mereka, tapi Mas gak mau kamu sakit hati. Dan... Mas selalu merasa gak nyaman di saat kamu sedang bersama dengan keluarga itu. Maafkan Mas yang berpikiran sempit, tapi Mas gak mau terus menekan perasaan, Mas." tatapnya penuh harap dengan sorot mata yang menusuk hatiku.


Ya benar, aku terlalu egois memikirkan mereka dan mereka. Sedangkan aku melupakan perasaan suamiku. Walaupun hatiku sudah tidak ada rasa apapun pada Reza, tapi hati suamiku pasti tidak nyaman. Aku terlalu sibuk memikirkan kondisi Clara yang sedang sekarat, tapi aku malah terus membuat hati suamiku terluka.


Aku memeluk erat Mas Gaga.


"Maafkan aku, Mas. Aku minta maaf, karna tidak mengerti perasaanmu. Aku terlalu egois.." dia memelukku dan mengecup kepalaku.


"Terimakasih sayang, maafkan perasaan Mas yang tidak bisa mengerti ini."

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala, "Aku yang tidak mengerti Mas, aku yang menyakiti perasaanmu. Maafkan aku ya, Mas. Terimakasih kamu sudah sabar terhadapku."


"Ya, sayang. Tetaplah menjadi orang baik yang tulus, sayang." ucapnya.


"Iya, Mas. Dan kalau aku menyakitimu, tolong bicara seperti ini padaku ya, Mas. Aku akan berusaha untuk menjaga jarak dengan keluarga mereka, hanya sebatas orang luar." ucapku meyakinkan hatiku.


"Iya sayang.. Terimakasih sudah mengerti perasaan Mas, ya."


Berbuat baik memang bagus, tapi kita tidak tahu perbuatan baik kita benar tanpa menyakiti orang lain atau tidak.


Kini aku belajar untuk berbuat baik sesuai isi hatiku, tanpa terlalu dalam dan tidak menyakiti suamiku. Selama ini memang aku terlalu dalam mencampuri urusan mereka, sampai menghabiskan waktu lama. Aku terlalu larut dalam kesedihan, tanpa tahu orang yang ada di sisiku merasakan sakit akibat perbuatan ku.


Mereka masalalu, bagian yang telah berlalu dalam hidupku. Sudah seharusnya aku menjauh, membatasi diri dengan kehidupannya. Memang benar, "Kita tidak bisa berhubungan baik, apalagi menjadi keluarga dengan, Mantan." Itu akan menyakiti perasaan orang yang ada di sisimu saat ini.


Aku hanya menganggap mereka keluargaku, karna saat aku sendiri merekalah yang ada di sisiku. Terlepas dari hubunganku dengan Reza, aku menghargai Om dan Tante seperti keluarga. Apalagi mereka mengenal baik mendiang ibuku dan ayahku.


Tapi...


Aku menatap wajah Mas Gaga dengan dalam. Wajahnya dari samping yang sedang menatap serius kedua anak kami.


Tapi, kini ada hati yang perlu ku jaga. Aku tidak ingin menyakitinya apalagi kehilangannya. Aku menatap kedua anakku, apalagi mereka.. Kedua anak luar biasa bagiku, cahaya dalam hidupku. Putra kecilku yang telah menjalani kehidupan yang pahit dari dalam rahim, dia yang kehadirannya tidak di ketahui ayah kandungnya.


Mereka bertiga yang harus ku jaga, mereka adalah keluargaku. Yang akan selalu ada di sisiku.


"Mam - mam a- a... " suara Edwina menghamburkan lamunanku.


"Iya sayang... putriku tercantik.." aku mengangkat tubuh mungil yang bulat. Pipinya bulat hingga nyaman sekali di tekan tekan.


"Lihat, Mom. Pipinya sudah seperti burger.." ungkap Edward.


Kami tertawa menertawakan perumpamaan yang di ungkapkan Edward. Dia melambangkan pipi chubby adiknya seperti burger.

__ADS_1


Anak gadisku kegirangan, dia belum mengerti yang di ucapkan kakaknya. Mungkin menurutnya itu pujian.


__ADS_2