
Kami tiba di depan sebuah restoran rumahan, saung saung kecil yang mengelilingi sebuah kolam air pancur. Kami menuju saung kecil di sudut yang berada di taman bunga mawar.
Wah.. gak nyangka banget ada tumpukan bunga mawar warna warni yang harumnya semerbak. Sepertinya di taman belakang rumah juga harus di tambah jenisnya.
Warnanya cantik tersusun, dari warna merah hingga kuning. Bunga melati bersusun yang mekar besar menghembuskan aroma menenangkan. Ah.. nyamannya.
"Sayang, kita duduk disini saja ya, gimana?." tanya Mas Gaga yang pasti aku segera mengangguk semangat.
Dia tahu kesukaanku, aku tidak akan menolak dengan wewangian alami dari bunga.
"Bibi mau kemana, disini aja bersama." Mas Gaga meminta Bibi duduk bersama saat melihat bibi menggendong Edwi ke saung sebelah tempat kami duduk.
"Tapi Tuan, nanti makannya terganggu sama Non kecil." ucap Bibi.
"Gak apa apa, Bi. Kita disini makan bersama, jadi jangan sungkan. Dan biarkan Nona kecil kita bereksperimen seperti biasa. Bibi sudah bawa makanan untuk Edwi kan?." tanyanya.
"Sudah, Tuan." Bibi merapihkan makanan untuk Edwi.
"Bi, pilihlah makanan duluan." pinta Mas Gaga. Aku tersenyum menatap Mas Gaga yang memperlakukan Bibi seperti keluarganya. Ya memang Bibi sudah seperti keluarga bagi kami.
"Sini Edwina biar aku yang pegang dulu, Bi. Bibi bisa pilih makanan dulu." aku meraih Edwina.
"Mih-mih... i- kan mih-.. " tunjuk akuarium besar yang berisi ikan laut yang kecil kecil.
"Iya, sayang. Itu ikan Nemo, dori dan teman temannya. Edwi suka ikan ya, cantik.." gemas ku sama tingkahnya.
Mas Gaga memilih makanan bersama Edward.
"Kamu mau makan apa, sayang?." tanyanya padaku.
"Lihatlah.." menyodorkan daftar menu.
Wah, sesuai suasana. Menunya rumahan banget, teringat masa kecilku di panti dulu.
Aku memilih, tumis daun pepaya, pepes peda, sambal Pete, sayur asem dan tentu lalapan.
"Bibi sudah pilih?." aku menyodorkan daftar menu.
"Sudah, Bu. Saya jadi kangen kampung kalau lihat menunya. Jadi tadi saya mesen agak banyak. Hehe" tawanya riang.
"Saya juga banyak, Bi." tawaku.
"Syukurlah, kalian suka tempat pilihanku. Semoga sesuai juga makanannya, ya." ucap Mas Gaga.
__ADS_1
"Iya Mas makasih, ya. Kamu kok tahu ada tempat makan seperti ini di tengah kota?." aku meletakkan Edwina di kursi makan bayi yang di bawakan pelayan.
"Terimakasih, Mbak. Ini pesanan kami." aku menyerahkan buku menu.
"Sebentar, Mbak. Edward, kamu sudah pesan?." hampir aku lupa Edward tidak pernah makan makanan ini. Apa dia sudah memilih untuknya makan.
"Sudah, Mom." jawabnya cuek.
Aku mengecek pilihan Edward, aku gak yakin kalau dia makan makanan rumahan akan di makan olehnya.
Oh ternyata, ayam bekakak dan tumis kangkung.
"Baiklah, terimakasih Mbak." aku menyerahkan menu pesanan kami.
"Terimakasih, silahkan di tunggu." pelayan itu meninggalkan kami.
Bibi menyuapi Edwi dengan kentang goreng yang sudah di siapkan. Aku bersandar pada Mas Gaga yang sedang memotret asal Edward. Ya karna putraku itu tidak akan mau di potret jika di sadar.
"Oh iya, sayang. Wanita itu ada kirim pesan lagi?." tanyakan padaku.
"Tidak, Mas." jawabku menyerahkan ponselku.
"Syukurlah, jangan di pikirkan ya. Jika dia kirim pesan yang lain segera beritahu Mas, ya." dia meletakkan ponselku tanpa membukanya.
"Kamu seneng gak di ajak kesini?." tatapannya penuh harap akan pujian.
"Sudah aku jawab ya, Mas." manjaku.
"Daddy, Mommy. Teruslah bermesraan di hadapanku. Aku jadi ada ide untuk masa depan pernikahan." ucap ketus Edward.
Kami tertawa bersama, Bibi sampai tersendat minum.
Uhk ..
"Den.. masih kecil kok sudah mikir masa depan pernikahan. Aya aya wae.." tawanya kelakar.
"Tentu, Bi. Karna semua perlu planning yang tepat, untuk membahagiakan istriku nanti. Aku gak mau monoton seperti, Daddy." ucapnya tanpa ekspresi.
Ya Allah ini anakku!!! Usianya baru enam tahun.
"Edward, anak Daddy yang tampan. Kamu baru usia enam tahun, masih terlalu dini untuk memikirkan pernikahan." nasehat Mas Gaga.
"Betul, sayang. Kamu belum waktunya memikirkan istrimu." tawaku.
__ADS_1
"Aku kan bilang planning, Mommy. Bukan saat ini dan aku tidak mau pernikahanku menjadi yang pertama atau kedua." ucapannya membuat hatiku bergetar.
Suasana yang tadinya ceria tiba tiba murung. Ya itu kesalahanku, pernikahanku gagal sekali. Mengakibatkan Edward memiliki ayah lain selain Daddy-nya. Sehingga Edward mengalami banyak masalah sebelumnya. Mungkin trauma yang aku goreskan di hatinya terlalu besar, sehingga itu menjadi pacuan hidupnya.
"Maafkan, Mommy. Maafkan Mommy, sayang." memeluknya dengan erat, airmataku tak terasa menetes.
"Kenapa Mommy minta, maaf? Ini tujuanku, karna aku tidak ingin menjadi seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab. Aku akan menjaga wanita dan anak anakku seperti Daddy menjaga kita." dia memeluk erat tubuhku. Ada getaran samar dari tubuhnya, dia menahan tangisnya.
Oh, Anakku... Maafkan, Mommy.
Kami bertiga berpelukan erat, " Edward anak Daddy, jangan pernah jadi penyimpan dendam, Nak. Daddy yakin, kamu bisa menjalani ini dengan baik. Karna Allah yang memberi kamu dan Mommy kehidupan ini. Daddy bersyukur dengan adanya masalalu, Daddy bisa menjadi bagian dari kehidupan kalian di masa ini dan depan." mengecup kepala kami bergiliran.
"Nak, jika hati Edward sakit, jangan di tahan. Bicaralah pada Mommy, menangis lah bersama Mommy. Jangan menjadi dewasa di depan, Mommy. Kamu masih kecil, sayang. Jangan memendam rasa tanggung jawab yang belum saatnya. Isilah harimu dengan ceria, main bersama teman, jangan terlalu memaksa diri menjadi kuat, Nak. Menangis bukan berarti kita rapuh dan lemah." aku menyesal selama ini, selalu menganggap anakku belum mengerti luka yang di torehkan Ayah kandungnya. Ternyata dia terlalu pintar dan cepat mengerti. Aku menganggap dia anak kecil yang belum memiliki perasaan mendalam.
"Permisi Ibu, Bapak.. Makanannya sudah siap." pelayan datang membawa baki.
"Oh iya silahkan, Mbak." kami melepas pelukan kami. Mengusap air mata Edward yang membasahi pipinya.
"Aku gak nangis, Mom." dia menangkis tanganku.
"Iya iya baiklah.." aku tersenyum.
Mas Gaga mengusap kepalanya. "Sekarang kita makan, makan yang kenyang. Oke." ajaknya.
"Iya, Den. Kapan kapan liburan ke desa. Main layangan, kelereng, petak umpet, berenang di kali malemnya makan ngeliwet. Asik dah pokoknya, Den. Di kota mah gak ada anak main kaya gitu." saran Bibi.
Ah,, bener juga. Aku jadi ada ide.
"Ya bener, Bi. Nanti liburan semester kita suatu tempat. Mas masih inget desa waktu
aku hamil, Edward?" aku menatap Mas Gaga.
Mas Gaga nampak mikir sebentar, "Masih, Sayang." jawabnya.
"Oke kalau gitu, kita liburan kesana. Nanti aku kabarin Mpok disana." ucapku mantap.
"Ya oke, itu ide bagus. Kita makan dulu sekarang. Nanti keburu dingin nasi liwetnya." ajak Mas Gaga.
"Yuk, Bi. Di makan.." ajakku ke Bibi. Ternyata Bibi sudah lagi makan.. Aku tersenyum.
"Sudah dari tadi, Non." tawanya. Edwi sudah tertidur karna sudah kenyang. "Mantep banget, liwetnya." celoteh Bibi.
Aku mengangguk, "Ini, sayang. Nasi liwet cobain." aku memberikan nasi liwet ke Edward. Dia tampak bingung, penasaran baru kali ini melihat.
__ADS_1
"Coba, Den. En-nyak..." Bibi sambil mengunyah.
Kami tertawa melihat Bibi yang lahap.